Revenge of The Hidden Heir

Revenge of The Hidden Heir
Hilangnya Nama dari Daftar Silsilah


__ADS_3

Marvin menatap Alesa dengan serius "sayang kita harus bicara"


Alesa yang melihat wajah sang suami, menyetujuinya dan mereka berdua masuk kedalam kamar.


Keduanya tampak duduk ditepi kasur "aku sungguh tidak bisa menutupi semua ini dari Leo." ucap Marvin sambil menundukkan kepalanya.


"Kita juga tidak bisa mengatakan kebenaran ini pada Leo, jika itu terjadi maka entah reaksi apa yang akan diperlihatkan oleh Leo, aku tidak ingin dia kecewa terhadap kita," ucap Alesa sambil mengelus punggung Marvin.


"Hal ini akan bisa membuatku menjadi gila," ucap Marvin sambil meremas rambutnya dengan kasar.


Alesa yang melihat itu sedikit terkejut, pasalnya mereka sudah melewati berbagai kesulitan, tapi tidak pernah sekalipun Alesa melihat Marvin begitu sangat frustasi.


"Sayang, kendalikan dirimu, kita sudah lama bisa melewati situasi seperti ini, sekarang kita juga pasti bisa mengatasinya, maafkan aku, karena aku kita menjadi ... " Alesa tidak mampu melanjutkan perkataannya, ia meneteskan cairan bening di pipinya dan memeluk Marvin.


Marvin tidak kuasa melihat istrinya menangis, ia pun merasa bersalah karena sudah membuat Alesa menitikkan air mata "tidak sayang, ini bukan salahmu, tapi semua karena aku yang tidak becus sebagai kepala keluarga" ucap Marvin sambil menangkup wajah Alesa, lalu membalas pelukan Alesa dengan erat.


"Ayo kita bersama-sama melewati rintangan ini" ucap Marvin sambil tersenyum sambil menengadahkan kepalanya.


#Flashback On


beberapa tahun yang lalu...


Saat itu Alesa masih berusia 23 tahun, dan Marvin 25 tahun.


Keduanya bertemu di sebuah taman, mereka berkenalan dan saling mengenal satu sama lain.

__ADS_1


Keduanya yang sudah sangat mengetahui sifat


satu sama lain, tampak sepakat untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.


Alesa mencoba untuk mengajak Marvin untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.


Alesa saat itu ingin meminta restu kepada keluarganya untuk menikah dengan Marvin, tapi seluruh keluarga Alesa menentang keputusan Alesa.


"Tidak!, apa yang kamu lihat dari dia?, dia bahkan tidak memiliki latar belakang apapun!" ucap Liana dengan sangat marah.


"Ma, aku sangat mencintainya, tolong restui hubungan kami," ucap Alesa sambil berlutut di hadapan Liana.


"Tidak Alesa!, sampai kapanpun mama tidak akan pernah mengakui dia sebagai menantu mama!"


Marvin yang melihat perdebatan itu tidak bisa berbuat apapun, ia melirik satu persatu anggota keluarga itu, Marvin bisa menilai jika saudara Alesa tidak menyukai Alesa, Meraka bahkan tertawa kecil ketika Alesa di marahi oleh Liana.


Alesa tampak berpikir, ia justru terheran dengan sikap Marvin, disaat orang lain ingin dekat dengan Alesa, Marvin justru lebih memilih untuk meninggalkan Alesa agar Alesa tidak bertengkar dengan keluarganya.


Marvin yang saat itu tidak memiliki identitas apapun mencoba membujuk Alesa untuk meninggalkannya.


Pendapat yang di keluarkan Marvin justru membuat Alesa semakin jatuh cinta pada Marvin,


"Tidak!, semua ini adalah kehidupan ku, jadi aku yang harus menentukan dengan siapa aku hidup dimasa depan" ucap Alesa sambil tersenyum


Marvin yang melihat senyum tulus itu, tiba-tiba bertekad untuk meluluhkan hati kedua orang tua Alesa.

__ADS_1


"Bagaimana kalau aku mendekatkan diri pada orang tuamu?" tanya Marvin


"Kedua orang tua itu sungguh sulit di dekati, tapi hanya ada satu cara yang bisa membuat mereka luluh yaitu ..." ucap Alesa sambil tersenyum.


Alesa membisikkan sebuah kata pada Marvin, setelah mendengar itu, Marvin dengan cepat mengangguk.


Setengah tahun berlalu, saat itu Marvin berhasil mendirikan sebuah perusahaan kecil, ia bertarung demi mendapatkan Alesa. Baginya pertarungan itu bahkan tidak setimpal jika menukarnya dengan Alesa.


"Baiklah, karena kamu sudah membuktikannya, kami akan merestui hubungan kalian" ucap Liana dengan datar.


Alesa dan Marvin tampak sangat bahagia, mereka melangsungkan pesta pernikahan dengan sangat megah.


Setelah sebulan berlalu, rumor tidak sedap mulai muncul di berbagai media.


Kedua orang tua Alesa tampak sangat marah, karena desakan para petinggi, mereka harus menghapus nama Alesa dari daftar silsilah keluarga. Bahkan mereka menganggap Alesa pembawa sial karena sudah menikah dengan orang yang tidak memiliki latar belakang.


#Flashback Off


Jika mengingat kenangan pahit itu, Marvin merasa benar-benar tidak berguna "haha .. mereka semua tampak terlihat sama," gumam Marvin pelan sambil menahan tangisnya.


Marvin tampak tidak bisa tidur, ia bahkan kembali teringat akan kenangan buruk itu. Sedangkan Alesa sudah masuk kedalam mimpinya.


Leo yang berada di kamar sedang memikirkan pertanyaan Axel "kenapa pak Axel menanyakan nama ku?, dan kenapa dia memberikan posisi manager padaku?, padahal aku hanya melihatnya satu kali, tapi kenapa aku sedikit merasa akrab dengannya?" gumam Leo.


Ia bahkan sangat penasaran dengan jawaban dari pertanyaan itu, baginya itu sangatlah penting, karena ini pertama kalinya Leo bertemu dengan orang lalu orang itu seperti sangat mempercayai Leo.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2