
Dengan berat hati, Nares mengangguk kan kepalanya dengan pelan.
Setelah memerintahkan mereka, Axel segera kembali ke ruangannya. akan tetapi, Leo, Virly, Nares dan Gilnan masih berdiri di tempat mereka.
Para pengunjung pun mulai menoleh kembali ke hidangan yang sudah tersedia di depan mereka masing-masing. Namun siapa sangka, mulut para pengunjung justru semakin bergerak tiada henti.
Mereka bukannya mengunyah makanan, melainkan membicarakan sikap Nares pada atasan nya.
Nares semakin tidak tahan mendengar perkataan para pengunjung. Ia yang masih menunduk kini mengangkat wajahnya dan menatap Leo dengan tajam.
Setelah itu, karena Leo masih berdiri ditempat, Nares pun melangkah melewati elo begitu saja, ia bahkan menganggap Leo seperti patung yang harus di abaikan.
Amarah kini sudah menguasai Nares, "aku membuatmu di pecat dari jabatan itu, jadi untuk sekarang bersenang-senanglah" batinnya.
Leo yang melihat Nares pun hanya bisa menghela nafas, ia sebenarnya tidak suka keributan, tapi entah kenapa, Leo selalu merasa orang-orang di sekitarnya justru akan mempersulit hidupnya.
Entah itu orang lama ataupun orang baru, mereka tiada henti mengganggu Leo, padahal Leo tidak berbuat apapun, ia hanya melangkah mengikuti arus yang semestinya adalah jalan takdirnya di masa depan.
Leo memutar tubuhnya dan melihat kepergian Nares "kenapa ujian yang di berikan padaku tiada habisnya?, aku hanya ingin hidup dengan damai tanpa adanya gangguan dari makhluk manapun. Aku bahkan tidak ingin mengganggu siapapun dan tidak ingin orang lain membenciku. Tapi kenapa keinginanku itu sangat sulit terpenuhi?" batin Leo.
Leo menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan pertanyaan-pertanyaan itu, ia akhirnya memilih untuk kembali ke ruangannya.
Di cafe itu memang memiliki 3 ruang, ruangan pertama untuk pemilik cafe dan yang ke 2 untuk para pegawai. Untuk ruangan ke tiga memang tidak pernah di pakai dan karena Leo telah menaiki jabatan, maka dirinyalah yang akan menempati ruangan itu.
Virly dan Gilnan pun juga ikut kembali ke tempat mereka masing-masing. Suasana yang ramai oleh para pengunjung seakan-akan terasa sunyi karena para pegawai itu saling diam sambil mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.
Detik demi detik terlewati, kini para pengunjung menghilang satu persatu dan akhirnya sudah waktunya cafe tutup.
Leo dan Axel keluar dari cafe secara bersamaan, mereka bersama-sama melangkah ke parkiran, lalu Axel melihat Leo sedang mengambil sepeda yang sudah rusak.
Axel yang melihat itu pun terkejut, ia sebagai kakak sungguh tidak tahan melihat adiknya menderita, walau sewaktu kecil mereka tidak pernah bertemu, namun kasih sayang Axel begitu besar ketika ia tau bahwa dirinya memiliki seorang adik laki-laki "Leo!" panggil Axel sambil berjalan kearah Leo.
Leo berbalik badan dan menoleh ke arah sumber suara, Ia begitu terkejut ketika Axel memanggilnya, Leo membungkukkan tubuh lalu mengangkatnya "ya pak?, ada yang bisa say bantu?." tanya Leo dengan sopan.
__ADS_1
"Apa kamu mengalami kecelakaan?, bagaimana bisa sepeda ini rusak sedemikian rupa?," tanya Axel penasaran sambil melihat kearah tangan Leo.
"Benar pak, tapi ... " perkataan Leo pun terpotong ketika Axel mendekat lalu memutar tubuh Leo secara berulang kali.
Leo bahkan terkejut ketika Axel terus memutar tubuhnya sambil melihat dengan teliti "ada apa pak?," tanya Leo sedikit heran.
Axel tidak menjawab pertanyaan Leo, ia lebih terfokus pada tubuh Leo saja. Setelah tidak melihat adanya luka, Axel terlihat menghela nafas lega "syukurlah kamu tidak terluka."
"Pak?," tegur Leo
Axel yang di tegur pun tersentak kaget "ah ... maafkan saya, kalau begitu, lebih baik saya memberi kamu tumpangan, bagaimana?," tawar Axel sambil melihat kearah Leo.
Leo tersentak mendengar tawaran Axel, hari ini, kejadian di cafe pasti akan mempengaruhi reputasi cafe. Tapi, bagaimana bisa atasan yang baru ini justru bersikap baik padanya, hal itu membuat Leo semakin tidak enak hati pada atasannya.
"Tidak perlu pak," tolak Leo dengan halus.
Axel yang mendengar penolakan itu mengerutkan dahinya "kamu tidak berencana untuk berjalan kaki bukan?," tanya Axel dengan menyelidik
Melihat kebisuan Leo membuat xel.mnghela nafas "sudahlah, saya ini atasan kamu, saya tidak mungkin membiarkan karyawan saya pulang dengan menggunakan kakinya, ayo" jelas Axel sambil mengajak Leo mengikuti langkahnya.
Mau tidak mau, Leo harus menuruti perkataan atasannya itu, walau apa yng di katakan Axel tidak salah namun kedepannya kehidupan Leo akan semakin rumit, karena Gilnan dan Nares yang baru saja keluar dari cafe tengah menatap Leo dengan tajam.
Lao menghela nafas kasar dan masuk kedalam mobil Axel, ia merasakan sebuah kenyamanan yang tidak pernah dirasakannya selain bersama Alesa dan Marvin.
"Ada apa denganku?, kenapa aku merasakan perasaan ini lagi?." batin Leo sambil melihat kearah luar.
Walau dari luar Leo terlihat seperti orang yang tampak dingin serta datar, tapi, jika kalian mengintip ke dalam hatinya, maka kalian akan tau bahwa dia orang yang sagat rapuh, ia juga membutuhkan sebuah kenyamanan seperti yang dirasakannya saat ini.
Dari kecil, Leo terus mendapat tekanan dari orang di sekitarnya, karena ekonomi tidak memadai, membuat orang-orang itu terus menyudutkan Leo.
Tidak terasa perjalanan begitu terasa sangat lama, di dalam mobil juga hanya di iringi sebuah musik.
Karena keheningan itu, Leo yang tadinya melihat pemandangan dengan mata yng terbuka lebar, kini harus membiarkan kelopak mata itu turun sedikit demi sedikit dan akhirnya pria dingin itu pun menutup matanya secara sempurna.
__ADS_1
Axel yang sedang mengemudi mobil sesekali melirik kearah Leo "maafkan aku, mulut ini sudah bersumpah untuk tidak memberitahu kebenaran apapun padamu, jadi saat ini aku harus melindungi mu secara diam-diam." batin Axel.
Axel sedikit penasaran dengan kehidupan Leo selama ini, ia bertekad untuk mencari tau dengan secara detail.
Setelah sampai di pekarangan rumah, Axel melihat adiknya itu tidur dengan sangat pulas, ia sebenarnya tidak ingin membangunkannya, tapi apa boleh buat, jika ia menggendong Leo, takutnya hal yang tidak di inginkan justru akan terjadi.
Axel pun memilih untuk membangunkan adiknya itu "Leo, bangunlah kita sudah sampai," ucap Axel sambil menggoyangkan pundak Leo beberapa kali.
Leo tersentak kaget dan matanya kini sudah terbuka dengan lebar "maaf pak, saya ketiduran." ucap Leo menunduk karena sedikit tidak enak hati pada atasannya itu.
"Tidak apa-apa, sekarang pergilah" ucap Axel sambil tersenyum.
Karena melihat ketulusan Axel, Leo pun memberanikan diri memberikan tawaran "Bagaimana jika bapak menginap di rumah saya saja?," tawar Leo.
Seketika saja, mata Axel pun berbinar terang, ia langsung menyetujui perkataan Leo dengan cara mengangguk berulang kali.
Tawaran yang di terima Axel pun mampu membuat Leo tersenyum tipis, ia turun dan mulai mengetuk pintu rumah secara berulang kali.
Tok
Tok
Tok
Suara handle pintu itu pun terdengar oleh Leo dan Axel, kini pintu telah di buka dari dalam. Alesa muncul di depan pintu, ia yang sedang menunggu Leo pulang justru terkejut karena mendapati anaknya sedang bersama dengan Axel.
"Halo, selamat malam, saya adalah pemilik cafe tempat dimana Leo bekerja," ucap Axel sopan sambil memperkenalkan diri dan membungkuk kan tubuhnya sebagai penghormatan pada Alesa.
Alesa tersentak kaget, ia mengerti perkataan Axel, bahwa Axel benar-benar tidak mengatakan apapun pada Leo.
"Ah, selamat malam juga, mari silahkan masuk" ujar Alesa sambil mempersilahkan keduanya masuk.
Bersambung ...
__ADS_1