
Setelah pintu lift terbuka, ternyata dari ujung lorong Selia bisa melihat orang yang sangat di bencinya berada di sekitar Zelder.
Lalu Selia ingat bahwa dirinya tengah bersama seseorang yang tidak seharusnya orang itu lihat.
"Sial!, kenapa Zelder tidak memberitahuku?" batin Selia mulai panik.
Saat Selia membuka tas dan memeriksa ponselnya, ternyata di sana terdapat banyak panggilan tak terjawab dari Zelder.
Selia bahkan melototkan matanya, "kenapa semua bisa menjadi seperti ini?" batin Selia kebingungan.
Leo yang melihat Selia tampak panik, langsung memegang lengan Selia "ayo bibi, dimana ruangan pak Axel?" tanya Leo yang sudah sangat ingin melihat Axel.
"I-iya, sebentar lagi kita sampai" ujar Selia tampak sedikit kebingungan.
Leo yang melihat Selia mulai berkeringat dingin mulai mengernyitkan dahinya"ada apa dengan bibi" batin Leo
Selia melangkah dengan pelan, "apa yang harus aku katakan pada Marvin?" batin Selia takut.
Ia tidak ingin usaha adiknya berakhir dengan sia-sia, tapi sepertinya, takdir tidak bisa di hindari lagi.
__ADS_1
Ketiganya pun berjalan bersama secara perlahan, Zelder yang bersama dengan keluarga nya menoleh ke arah Selia.
Zelder tampak melototkan mata nya, ia tidak menyangka bahwa Selia membawa Leo bersama dengan nya.
Setelah ke tiga nya sampai, Semua mata terus tertuju pada Leo dan Layner. Seorang wanita tengah duduk di kursi, ia yang melihat wajah Leo sangat familiar mencoba membuka suara nya "Siapa yang ada di samping mu Selia?" tanya Delsia dengan nada datar.
Leo yang mendengar itu langsung memperkenalkan kan diri nya "Perkenalkan saya Leo dan ini teman saya Layner. sebelum nya maafkan saya karena telah menyebabkan pak Axel mengalami hal seperti ini" ucap Leo sambil membungkukkan tubuh nya di hadapan keluarga besar Leo.
Delsia yang mendengar itu terkejut, ia langsung berdiri dan menatap Leo dengan tajam "Apa!, Kau yang menyebabakan Axel seperti ini?!" teriak Delsia dengan nada tinggi.
Melihat reaksi itu, Selia merasa lega, ternyata Delsia tidak terfokus dengan wajah Leo, melainkan dengan perkataan Leo.
"Tenanglah ibu, saat dia berjalan, tiba-tiba saja ada mobil yang melaju sangat cepat, dan siapa sangka, Axel yang melihat nya justru menghampiri Leo dan mendorong nya ke tepi jalan, karena itu lah, semua ini bukan sepenuhnya salah Leo" jelas Selia dengan sangat detail.
Selia yang mendengar itu pun terlihat sangat kesal, sejak dulu, ibu nya memang seperti itu "ibu, itu bukan salah nya, kenapa ibu selalu membesar kan hal yang sangat kecil ini" ucap Selia lagi.
Zelder yang tidak ingin ada keributan langsung menepuk pundak Selia "ibu, kejadian yang sebenernya memang lah seperti itu, bahkan mereka langsung membawa Axel ke rumah sakit, seharusnya ibu berterimakasih pada kedua anak ini, bukan memarahi mereka atas apa yang bukan mereka lakukan" jelas Zelder.
Delsia pun mendengus kesal, ia pun langsung luluh dengan perkataan menantu nya itu, "kali ini ibu mendengarkan perkataan Zelder dan memaafkan ke dua anak ini, tapi tidak untuk lain kali" ucap Delsia yang kembali duduk.
__ADS_1
Walau di dalam hatinya sangat kesal, tapi Delsia tidak akan pernah melupakan kejadian ini berlalu begitu saja, ia tetap melirik kearah Leo dengan tajam.
Sedangkan Layner hanya bisa berdiri seperti patung, karena ia takut jika menyinggung keluarga besar pak Axel, maka keluarganya akan berakhir sangat buruk.
Leo bahkan sangat merasa bersalah pada keluarga itu, "sekali lagi maafkan saya" ucap Leo sambil membungkukkan tubuhnya kembali.
Zelder mendekati Leo "Tidak apa-apa nak, ibu ku sudah berkata begitu, jadi kamu tidak perlu merasa bersalah ataupun meminta maaf pada kami" ucap Zelder sambil menepuk pundak Leo.
Salah seorang pria menatap lekat Leo, ia merasa sangat familiar dengan wajah Leo, hal itu membuat pria itu sangat penasaran.
"Nyonya muda, wajah pemuda ini terlihat sangat familiar, tapi ... "
Deg
Jantung Selia seakan ingi melompat keluar, Zelder yang mendengar itu tidak tinggal diam, ia dengan cepat langsung mengalihkan topik pembicaraan nya, "benarkah?, apa karena kau sudah lanjut usia jadi kau menganggap semua orang begitu familiar" ucap Zelder mengerti binggung.
Pria itu terkejut dan mulai memikirkan perkataan Zelder, "sepertinya apa yang tuan katakan benar" ucap pria itu sambil sesekali melirik Leo.
"Sial, instingnya terlalu kuat, sepertinya dia tidak akan melepaskan Leo begitu saja" batin Zelder yang juga melirik pria itu.
__ADS_1
Seorang lagi tengah menatap mereka dengan tatapan tajam, di balik tatapan itu, tersirat sebuah makna yang sangat dalam.
Bersambung ....