Revenge of The Hidden Heir

Revenge of The Hidden Heir
Menjemput Leo


__ADS_3

Karena sudah larut malam, Axel tidak bisa kembali ke mansion milik keluarganya dan memang harus menginap di mansion Damontis.


Axel naik keatas lalu menekan tombol yang ada di dinding untuk menutup pintu lorong "aku harus memperketat penjagaan di toko roti dan menghilangkan data-data milik Leo." gumam Axel sambil melangkah masuk kedalam mansion.


Mansion Domantis adalah mansion yang sangat di idam-idamkan banyak orang. Megah dan indah, itulah yang ada di pikiran orang-orang.


Bagaimana tidak?, saat kita melihat dari luar, cobalah melihat kearah kanan, maka di sana terdapat sebuah taman yang sangat indah. Melihat itu maka mata setiap orang yang melihatnya akan di manjakan oleh air terjun yang berada di tengah-tengah taman.


Tapi, saat kita melihat kearah kiri, terdapat sebuah gazebo berukuran sedang yang di kelilingi oleh bunga-bunga indah, bahkan di sana juga terdapat kicauan burung yang sangat merdu.


Lalu jika kita menatap lurus kedepan, maka mata juga akan melihat pembatas menjulang tinggi, di balik dinding itu terdapat mansion Domantis yang sangat megah.


Lapisan pertama terdapat taman dan lapisan kedua terdapat mansion, jika ingin memasuki mansion maka kita harus melewati taman yang begitu indah.


Ya, Domantis tidak seperti namanya, tapi dibalik nama itu terdapat sebuah rahasia tersembunyi yang berasal dari pekerjaan Axel.


Axel menginap ketika dirinya selesai mengeksekusi para penjahat itu, kedua orang tua Axel bahkan mengetahui perbuatan anaknya itu. Namun, mereka tidak melarang Axel, karena semua yang dilakukannya pasti berhubungan dengan keluarga Marvin.


Setelah sampai di kamar yang bernuansa monokrom, jika dilihat dari warna kamarnya, maka bisa di ketahui bahwa Axel hanya menyukai warna hitam dan putih.


"Aku tidak bisa memberitahukan hal yang telah terjadi di toko roti pada paman, aku yakin mereka akan panik ketika mendengar kabar ini." gumam Axel yang langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


...****************...


Keesokan paginya ...


Keluarga Leo kembali beraktifitas seperti biasanya.


Marvin keluar dari kamar dan berjalan ke sudut ruangan, ia melihat sepeda Leo sudah terbelah dua dan kedua ban sepeda juga tampak bengkok.


Marvin yang binggung mengernyitkan dahinya "Leo, ada apa dengan sepeda mu?, kenapa bisa hancur seperti ini?," tanya Marvin sambil melangkahkan kakinya ke meja makan.

__ADS_1


"Biasa pa, habis menabrak pohon." ucap Leo dengan santai sambil mengoleskan selai diatas roti yang akan di makannya.


Tatapan Marvin penuh menyelidik, ia tidak lah bodoh, jika orang menabrak pohon, tentu orang yang mengendarai sepeda tidak akan terlihat baik-baik saja.


Tapi lihat lah Leo, ia terlihat tampak sehat dan bugar, bahkan Marvin tidak melihat adanya luka goresan sekecil apapun.


"Kamu tidak berbohong pada pada papa?," tanya Marvin yang masih menatap Leo dengan intens.


Leo tampak termenung sesaat, lalu ia segera menjawab agar Marvin tidak curiga padanya, "tidak ada pa, ah ya ... aku harus buru-buru pergi, aku berangkat dulu, pa, ma." ucap Leo sambil mengigit rotinya serta mengambil tas ransel dan melambaikan tangannya.


Marvin yang melihat reaksi Leo merasa kalau anaknya itu tengah menutupi sesuatu. Tapi dirinya sungguh tidak mengetahui apapun mengenai Leo.


Jika mereka bertanya tentang keseharian Leo, maka anaknya itu selalu menjawab bahwa semuanya baik-baik saja. bahkan ketika wajah tampan Leo memiliki memar, maka Leo selalu mengatakan bahwa dia habis terjatuh.


Bagi Marvin, Anaknya itu sangat lah misterius, ia menutup diri dengan rapat dan tidak membiarkan orang tuanya mengetahui urusan pribadinya.


"Kenapa sifatnya bisa berubah seperti itu?" batin Marvin menghela nafas pelan.


Alesa yang melihat Marvin seperti memiliki banyk pikiran, berusaha menenangkan sang suami "sudah, biarkan saja dia, tidak perlu memikirkannya." ucap Alesa tersenyum sambil mengoleskan selai diatas roti dan menyajikannya di atas piring Marvin.


...****************...


Setelah keluar dari rumah, Leo berjalan kaki dengan santai sambil memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa mendapatkan uang yang banyak.


"Apa yang harus aku lakukan untuk bisa menghasilkan banyak uang?" pikir Leo sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya lalu mendongakkan wajahnya dan menatap langit.


Sepanjang jalan bebatuan itu, jika dilihat ke sebelah kanan maka terdapat hutan, dan disisi kiri juga terdapat hutan yang sangat lebat.


Marvin sengaja membeli lahan di pinggiran lalu membangun rumahnya sendiri, ia tidak ingin bertetangga karena identitas mereka harus di sembunyikan dari dunia.


Bagi Marvin hidup tanpa tetangga tidaklah rugi, bahkan kehidupan mereka jauh lebih nyaman di bandingkan tinggal di mansion mewah.

__ADS_1


Setelah Leo keluar dari jalan berbatuan, tiba-tiba saja sebuah mobil sudah berhenti di samping Leo.


Leo tersentak kaget dan menoleh, tapi kaca mobil itu sangatlah hitam sehingga Leo tidak bisa melihat orang yang sedang mengemudikan mobil itu.


Lalu tiba-tiba saja kaca mobil itu turun secara perlahan dan memperlihatkan seorang pria tampan dengan kemeja putih serta arloji mahal yang di kenakan nya.


Leo menunduk dan melihat bahwa yang mengemudikan mobil itu adalah orang yang di kenalnya "kak Axel," ujar Leo terlihat binggung.


Leo sedikit termenung dan sedikit heran, Axel yang tidak melihat pergerakan Leo langsung menundukkan wajahnya dan tersenyum pada Leo "masuklah, atau kamu akan terlambat" ucap Axel melihat kearah Leo.


Leo yang mendengar itu langsung melihat arloji yang terpasang di tangannya, ia terkejut dan buru-buru membuka pintu mobil. "ayo kak, sekarang aku memiliki kelas pagi" ucap Leo sambil masuk kedalam.


Tidak ada kecanggungan diantara keduanya, Leo bahkan terlihat nyaman memanggil Axel dengan sebutan kakak, padahal pertemuan mereka bisa dikatakan cukup singkat, tapi sekarang mereka bahkan tampak terlihat seperti kakak dan adik kandung.


Axel yang melihat ekspresi Leo seperti tampak ketakutan justru cukup bisa membuatnya terhibur, "haha ... tentu saja aku tau, karena itu aku dengan sengaja menjemputmu" ucap Axel sambil melajukan mobilnya.


Awalnya ia sedikit binggung kenapa Axel berada di sekitar rumahnya, tapi perkataan Axel cukup membuat Leo terkejut. "A-apa?, kakak sengaja menjemput ku?" tanya Leo binggung.


Axel menganggukkan kepalanya berkali-kali "tentu saja, awalnya aku tidak ingin membiarkanmu berjalan kaki, tapi dari kejauhan aku justru sudah melihatmu berjalan kaki. Maafkan aku karena terlambat menjemput mu." ucap Axel dengan penuh penyesalan.


Leo terkejut karena Axel meminta maaf padanya, padahal Axel tidak memiliki kesalahan apapun "tidak perlu meminta maaf kak, lagi pula jika kakak tidak ada maka aku sudah menaiki angkutan umum, jadi saat ini kakak sudah benar-benar membantuku" ucap Leo sambil tersenyum tipis.


Axel yang mendengar jawaban itu pun tersenyum puas. Pasalnya, ia sengaja bangun dengan cepat justru karena teringat jika Leo tidak memiliki kendaraan apapun.


Tapi ketika melihat Leo berjalan kaki dari kejauhan, rasa kecewa di hatinya muncul dan hal itu sedikit membuatnya sedih. Tapi sekarang ia justru senang karena adiknya mengatakan hal yang sangat manis.


"Baiklah, baiklah, apa kamu sudah sarapan?" tanya Axel sambil melirik sekilas kearah Leo.


"Sudah kak" jawab Leo sambil menganggukkan kepalanya.


Axel yang awalnya sangat antusias ingin membelikan Leo sarapan, kini harus menelan kekecewaan lagi dan lagi. Namun ia tidak ingin menunjukkan rasa kecewanya dengan sangat jelas agar Leo tidak merasa enak hati padanya.

__ADS_1


"Baiklah, sebaiknya kita harus langsung menuju kampus saja" ujar Axel dengan kembali fokus pada jalanan.


Bersambung ...


__ADS_2