Revenge of The Hidden Heir

Revenge of The Hidden Heir
Universitas Standziler


__ADS_3

"Leo tidak mengatakan apapun, dia hanya mengatakan sedikit merasa aneh dengan dosen yang dijuluki killer menyuruh mereka memperkenalkan diri satu persatu, lalu dosen itu menanyakan nama tengah dan nama belakang Leo. Aku tidak menyangka jika dosen killer yang di maksud Leo adalah kamu" ucap Marvin sambil tertawa kecil.


Axel yang mendengar itu terlihat sangat kesal, wajahnya mulai memerah bukan karena marah melainkan malu karena orang tuanya dan pamannya kini tau bahwa dirinya mendapatkan julukan yang membuat semua orang takut "anak itu!"


Zelder dan Selia pun menoleh kearah Axel, mereka memasang wajah tidak percaya "kamu mendapat julukan itu, Axel?," tanya Selia dengan menaikkan satu alisnya.


"Ah ... itu ma, tidak!" elak Axel dengan memegang tengkuknya yang tidak gatal.


Selia pun mulai tertawa "hahaha ... pantas saja selama ini kamu tidak bisa mendekati seorang gadis, ternyata itu alasannya." ucap Selia di sela tawanya.


"Mama, berhenti menertawakan ku!" ucap Axel dengan menutup wajahnya dengan satu tangan.


"Sudahlah Selia, kamu tidak perlu menggodanya. Yang penting sekarang kita sudah menemukan mereka dan sekarang adalah tugas kita untuk melindungi Marvin dan yang lai.n" ucap Zelder sambil memegang pundak Selia.


"Kakak, tolong jangan katakan apapun pada Alesa, cukup simpan rapat-rapat rahasia keluarga kita." ucap Marvin dengan merapatkan kedua telapak tangannya.


Melihat permohonan sang adik membuat Selia menyetujuinya "tenang saja Marvin, kakak tidak akan mengatakan pada Alesa" ucap Selia sambil memeluk sang adik.


"Sampai kapan kamu menyembunyikan hal ini dari Alesa?," batin Selia


"Baiklah kakak, terimakasih sudah mengerti keadaan ku," Marvin sambil membalas pelukan Selia.


"Karena kita sudah bertemu, kakak jadi tidak merasa khawatir lagi pada kalian. Untuk selanjutnya kakak tidak akan menemui mu dulu, kita harus menghindari masalah sekecil apapun. Tapi kaka juga akan menyuruh Axel untuk memantau keluarga kalian." ujar Selia sambil melepas pelukannya dari Marvin.


Setelah menyetujuinya, Selia pun menghormati Marvin, ia pun mencoba untuk tidak menemui mereka karena pergerakan Selia juga terbatas. Marvin yang memohon untuk tidak menonjolkan ya membuat Selia mengambil keputusan itu.


Marvin yang mendengar penuturan Selia juga langsung mengerti, ia pun sangat bahagia mempunyai kakak yang sangat pengertian seperti Selia.


"Oh ya Marvin, kakak juga akan membantu mempromosikan toko roti kamu, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun," ujar Selia sambil tersenyum lembut.


"Baiklah Kakak, aku sangat berterimakasih atas semua yang kakak berikan."

__ADS_1


Ketiga orang itu pun berpamitan untuk pulang, kini suasana di dalam mobil tidak terasa hening seperti sebelumnya.


Di dalam mobil, Selia tampak tersenyum sumringah "pa, aku bersyukur sudah menemukan mereka, aku berharap mereka tidak ditemukan oleh para petinggi yang serakah itu" ucap Selia sambil menghadap Zelder.


Axel yang mendengar itu juga tidak tinggal diam "mama tenang saja. Aku akan menempatkan beberapa orang untuk memantau rumah dan toko roti milik paman dan bibi," timpal Axel sambil menyetir dan tersenyum senang.


Selia yang mendengar itu berpikir untuk menggoda Axel "baiklah dosen killer" goda Selia pada sang putra.


Axel yang sedang tersenyum kini wajahnya berubah menjadi muram "mama, berhenti mengejek ku" kesal Axel dengan memutar bola matanya dengan malas.


"Haha ... mama sangat suka menggoda mu" ucap Selia di sela tawanya.


Zelder yang melihat tawa Selia merasa sangat bahagia, begitu pun juga dengan Axel.


"Syukurlah sekarang mama mudah tertawa, semoga saja tawa itu tidak akan pernah hilang lagi" batin Axel sambil melirik kaca mobil.


...****************...


Para mahasiswa yang sedang mencari pembahasan dosen di ponsel, kini dikejutkan dengan pencarian yang sedang trending.


Mata para mahasiswa itu pun tertuju pada Leo, sedangkan Leo sendiri berusaha untuk tidak menanggapi tatapan mata mereka.


"Aku tidak menyangka, dia yang terkenal tampan dan baik ternyata memiliki sifat brutal"


"Benar, lagipula aku juga mendengar rumor bahwa dia berasal dari kalangan bawah, jadi wajar saja sifatnya brutal seperti itu"


"Aku jadi tidak ingin berada di kelas yang sama dengannya" ujar salah satu mahasiswa yang ada dibelakang Leo.


Para mahasiswa yang mendengar perkataan itu mengangguk setuju, mereka yang tidak tau kebenarannya langsung menuduh Leo begitu saja.


Leo yang mendengar bisikan itu seperti sudah mengerti situasi yang ada di sekelilingnya, ia hanya diam dan terus fokus pada dosen yang sedang menjelaskan pelajaran.

__ADS_1


Lalu, salah seorang mahasiswa mengangkat tangannya "pak!, bisakah bapak mengeluarkan dia dari kelas ini?," tanya mahasiswa itu sambil menunjuk kearah Leo.


Dosen itu pun menengadahkan kepalanya, ruang kelas itu seperti menaiki bukit, jadi jika kita berada di depan papan tulis maka harus melihat keatas.


Meja pertama akan sejajar dengan meja dosen, sedangkan meja di kedua akan naik beberapa cm. begitupun meja ketiga, semakin lama maka meja itu menjulang keatas. Kampus mendesain ruang kelas seperti itu agar para mahasiswa bisa melihat dosen menjelaskan pelajaran.


Setiap meja di ruang kelas, memiliki 7 lantai, sedangkan Leo memilih berada di lantai 4, ia ingin agar bisa mendengarkan dosen dengan baik. Jika dirinya memilih lantai 1, maka ia akan menjadi terkenal sebagai anak kesayangan dosen. Leo menghindari hal-hal yang merepotkan untuknya.


Sedangkan mahasiswa yang menunjuk Leo berada di lantai 5, dan tepat berada di belakang Leo.


"Apa alasanmu untuk mengeluarkannya?." tanya sang dosen sambil melipat kedua tangannya.


"Dia tidak berhak masuk ke dalam kampus bergengsi ini karena dia berasal dari kalangan bawah," ucap mahasiswa itu dengan percaya diri.


Dosen itu pun menatap dirinya dengan tajam "alasan tidak diterima!, lebih baik kamu duduk kembali dan jangan membuat keributan di kelasku." ujar dosen itu dengan datar sambil melanjutkan penjelasannya.


Mahasiswa itu terlihat sangat kesal "kalau begitu kami tidak akan melanjutkan pelajaran ini" ucapnya sambil mengemas semua barang-barang yang ada diatas meja dan memasukkannya kedalam tas.


Dosen itupun menengadahkan kepalanya lagi "baiklah!, jika kalian tidak mau melanjutkan pelajaran saya, maka saya tidak keberatan sama sekali ... " ucapan sang dosen pun menggantung, tapi, sebagian dari mahasiswa itu ikut mengemasi barang-barang mereka dan akan segera keluar dari kelas.


Namun siapa sangka sebuah suara mampu membuat langkah kaki mereka terhenti "siapapun yang melangkah keluar dari kelas ini, maka saya akan mencatat nama kalian dan akan menggagalkan kalian dalam seluruh mata kuliah saya" ucap dosen itu sambil melanjutkan penjelasannya.


Faktanya, sang dosen yang ada di depan mereka memegang 3 mata kuliah. Peraturan kampus begitu sangat ketat, mereka tidak akan meluluskan siapapun yang memiliki 3 nilai yang buruk.


Jika hanya memiliki 1 nilai yang buruk, maka mereka bisa mengulang nya, tapi jika memiliki 3 maka akan segera dikeluarkan dari kampus.


Di sebutkan sebagai kampus bergengsi karena peraturan yang mereka buat mampu menarik orang-orang pintar di berbagai kalangan, tapi semua peraturan itu tidak berlaku oleh keluarga Ziler dan para koneksinya.


Walau memiliki rumor seperti itu, kampus itu bahkan mampu bertahan dengan gelar bergengsi karena orang-orang pintar itu akan di promosikan untuk masuk kedalam perusahaan Ziler atau mereka dikirim keluar negeri.


Hal itulah yang membuat orang-orang tertarik memasuki universitas Standziler meski mereka telah mendengar rumor itu, mereka tetap akan menepisnya dan bagi para kalangan menengah kebawah sebuah kesempatan itu tak boleh di lewatkan.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2