
Leo melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, lalu Axel mengikutinya dari belakang.
Sambil melangkah Leo menoleh kebelakang "pak, silahkan bapak duduk dulu." ucap Leo sambil berjalan ke sudut rumah untuk menaruh sepedanya yang sudah rusak.
Axel menuruti perkataan Leo, ia kini berjalan kearah sofa dan duduk manis disana. Sedangkan Alesa menutup pintu dan matanya mengarah pada Leo.
Awalnya Alesa tidak melihat kearah tangan Leo, tapi sekarang matanya tengah mengarah pada benda yang ada di tangan anaknya itu. "Leo!, bagaimana bisa sepeda mu rusak seperti ini?" tanya Alesa sambil melangkah mendekat.
Setelah menaruh sepeda itu, Leo tersentak kaget karena Alesa sudah berada di belakangnya "ah itu ma ... saat pulang dari kampus, aku tidak sengaja menabrak sebuah pohon besar, lalu saat ingin pulang bekerja, pak Axel justru menawarkan diri untuk mengantar ku kerumah" jawab Leo dengan santai.
Sejak dulu, Leo selalu berbohong tentang keadaan yang tengah di hadapinya, bahkan sekarang pun sama. Ia berbohong karena tidak ingin melihat Alesa merasa khawatir, keadaan ekonomi mereka sudah cukup sulit, jadi Leo tidak ingin lebih mempersulit keadaannya.
Raut wajah Alesa kini berubah menjadi khawatir "menabrak pohon?, apa kamu tidak apa-apa nak?." tanya Alesa sambil memutari tubuh Leo.
"Aku tidak apa-apa ma." ucap Leo sambil memegang pundak Alesa agar tidak memutari tubuhnya lagi.
Alesa tampak bernafas lega "sudah larut malam, mama pergi tidur saja, dan terimakasih sudah menunggu Leo." ucap Leo sambil mencium pucuk kepala Alesa.
Karena perbedaan tinggi badan yang tidak terlalu jauh membuat Leo dengan mudah mencium Alesa.
Axel melihat interaksi bibi dan adiknya itu, ia tersenyum senang melihat keduanya memiliki sikap yang sama.
"Sikapnya sungguh berbeda, ketika berada di rumah Leo mengeluarkan aura yang begitu hangat, tapi ketika berada di luar, dia justru sengaja memancarkan aura dingin agar hidupnya tidak memiliki gangguan. Dia benar-benar pintar menyesuaikan diri." batin Axel.
Alesa mengerutkan dahinya, ia sedikit memiliki ide untuk menjahili Leo "siapa yang sedang menunggu kamu?, perut mama sedang keroncongan dan kebetulan mama mendekat ketukan pintu, jadi sekalian saja mama membukakan pintu." elak Alesa sambil menyingkirkan tangan anaknya itu lalu berjalan kearah meja makan.
Di meja itu, segala hidangan sudah di persiapkan oleh Alesa, ia memang selalu menunggu anak semata wayangnya itu pulang. Kekhawatirannya selalu memuncak ketika Leo pulang terlambat.
Tiba-tiba saja, terdengar suara pintu terbuka, kini Marvin keluar dari kamar, ketika mata itu menelusuri ruangan, Marvin di kejutkan dengan keberadaan Axel yang sedang duduk manis di sofa rumahnya.
Mata itu kini membulat sempurna, apa Axel sudah memberitahu semua rahasia mereka?, bukankah kakaknya sudah berjanji untuk tidak memberitahu Leo?, tapi sekarang?, apa yang terjadi?.
__ADS_1
Marvin mulai ketakutan, ia dengan mata melotot ingin sekali memarahi Axel, namun ketika Marvin ingin meyebutkan nama keponakannya itu "Ax ... " perkataan Marvin terjeda ketika melihat Axel mengangkat satu tangan dan menempelkan ke bibirnya, Axel juga tidak lupa mengedipkan matanya pada Marvin.
Marah Marvin kini mereda, ia sangat tau arti dari pergerakan Axel, bahwa keponakannya itu tidak mengatakan apapun pada adiknya.
Marvin menoleh kearah Leo yang sedang di jahili oleh Alesa, beruntung Leo tidak mendengar dan tidak melihat interaksi Marvin dan Axel.
"Leo, siapa yang kamu bawa?," tanya Marvin yang baru saja keluar kamar.
Leo menoleh kearah Marvin dan beralih kearah Axel "kenalin pa, dia pemilik cafe tempat ku bekerja, karena sesuatu insiden, jadi pak Axel menawarkan diri untuk mengantar ku pulang. Lalu aku berpikir sudah terlalu malam dan jalanan disini di penuhi dengan bebatuan. Aku menawarkan pak Leo menginap disini, apa papa tidak keberatan?,"
Marvin mengangguk mengerti lalu ia juga menggelengkan kepalanya "papa tidak keberatan, justru bagus jika pak Axel menginap, jadi papa memiliki seorang teman untuk mengobrol. Dan sekarang papa tidak membutuhkan orang super sibuk seperti mu" ujar Marvin sambil berjalan menuju meja makan.
Alesa dan Axel yang mendengar itu pun langsung tertawa keras, sedangkan Leo memutar terlihat kesal mendengar perkataan Marvin.
Axel pernah berpikir bahwa keluarga adiknya tidak seperti keluarganya, ternyata dugaannya salah. Justru keluarga adiknya sama seperti mereka.
Bahkan saat ketiganya sedang beraktifitas, sikap mereka tampak sama, mereka seperti orang dingin yang tak tersentuh, tapi saat berkumpul justru suasana hangat tercipta begitu saja.
"Ternyata, mama dan paman memiliki sifat yang sama, aku sungguh beruntung memiliki keluarga seperti ini." batin Axel sambil tersenyum tipis.
Keluarga Axel sama seperti keluarga pamannya, walau Selia sempat mengunci diri dan terus murung, tapi mamanya itu tidak pernah mengabaikan tugas sebagai orang tua maupun sebagai istri.
Axel langsung bergabung dengan keluarga Leo, mereka semua kini tengah berkumpul di meja makan. Axel yang ingin dekat dengan Leo kini mengeluarkan sebuah usulan, "Leo, bagaimana jika kamu memanggilku kakak saja?," usul Axel sambil melihat kearah Leo dengan penuh harap.
Marvin dan Alesa yang mendengar itu justru saling menatap satu sama lain.
Sedangkan Leo sempat terkejut mendengar usulan dari Axel yang menurutnya sangat tiba-tiba.
"Bukankah itu tidak sopan pak?, bahkan status berbeda dengan ku yaitu seorang dosen di kampus dan seorang atasan di cafe tempatku bekerja," ucap Leo dengan binggung.
Axel mengerti ke khawatiran adiknya itu, ia pun menghela nafas pelan "kamu bisa memanggilku kakak saat kita berada di luar kampus dan di luar pekerjaan," ucap Axel sambil tersenyum
__ADS_1
Leo tampak sangat binggung, kenapa dosen sekaligus atasannya itu ingin sekali di panggil kakak oleh dirinya?.
"Jangan-jangan dia ingin memanfaatkan ku?, tapi aku bahkan tidak memiliki apa-apa," batin Leo
Tapi setelah melihat ketulusan yang ada di mata Axel, dengan cepat Leo menepis pikiran jeleknya itu.
"Baiklah kak," ucap Leo sambil tersenyum tipis.
Marvin dan Alesa pun tersenyum ketika Leo menyetujui permintaan Axel. Selama ini mereka melihat Leo selalu bersikap dingin dengan orang yang baru di temui nya, tapi ketika di dekat Axel, keduanya bisa merasakan bahwa Leo justru bisa bersikap hangat pada Axel.
"Tidak buruk" batik Leo.
Leo merasa dirinya seperti benar-benar memiliki seorang kakak kandung.
Mereka pun kini memakan hidangan itu dengan penuh dengan canda dan tawa, tidak terlihat adanya kecanggungan sedikitpun, bahkan Axel terlihat seperti bagian dari keluarga itu.
Setelah selesai makan, mereka semua kembali ke kamar masing-masing, Leo pun mulai mengajak Axel masuk kedalam kamarnya.
Ketika pintu kamar terbuka, Axel begitu terkejut melihat isi dalam kamar Leo.
"Maaf ya pak, kamar saya sangat kecil," ucap Leo sedikit hati-hati, karena ia takut Axel merasa tidak nyaman.
Entah kenapa, Leo merasa kali ini dirinya tengah takut mendengar kritikan dari Axel.
"Tidak masalah, saya juga bisa tidur di lantai" ujar Axel sambil tersenyum.
Di balik senyum itu, ternyata terdapat sebuah kesedihan dan kemarahan yang tidak bisa di keluarkan oleh Axel.
Axel sedih melihat kamar itu sangat kecil, walau seperti itu, tapi kamar itu begitu tertata rapi, dan memiliki warna dinding classic.
Axel merasa marah karena dirinya gagal menemukan mereka, dan ia tidak sanggup melihat kehidupan adiknya yang begitu sederhana.
__ADS_1
Bersambung ...