Revenge of The Hidden Heir

Revenge of The Hidden Heir
Menolong Leo


__ADS_3

Di dalam mobil, merek berbincang, Hinga pada akhirnya, Leo meminta berhenti "kak, berhenti di sini saja," ucap Leo sambil memegang lengan Axel.


Axel yang terkejut langsung menghentikan mobilnya secara mendadak. "A-pa?, kenapa berhenti disini?, bukankah sebentar lagi kita sampai di depan kampus?," tanya Axel heran sambil memalingkan wajahnya melihat kearah Leo.


Leo tertawa canggung dan segera memberikan alasan yang masuk akal agar Axel tidak tersinggung dengan perkataannya "benar kak, tapi aku tidak mau menjadi pusat perhatian," balas Leo.


Axel yang tidak mengerti mengerutkan dahinya "apa maksud mu?," tanya Axel heran.


"Aku tidak mungkin turun dari mobil ini kak, bukankah kakak sudah mendengar rumor tentangku?, jika aku turun dari mobil Kakak, otomatis semua orang akan menghina kakak, mereka pasti akan mengatakan bahwa kakak dosen yang tidak kompeten karena memberiku nilai bagus" jelas Leo.


Axel pernah mendengar rumor tentang Leo, tapi saat itu dirinya masih belum mengetahui siapa Leo, dan sekarang Axel tau bahwa Leo tidak ingin menjadi pusat perhatian "baiklah." ucap Axel sambil menganggukkan kepalanya.


Leo turun dari mobil dan langsung berjalan kaki, sedangkan Axel melajukan mobilnya dan memasuki pekarangan kampus.


Di sudut jalan terdapat seorang yang tengah kesal karena melihat Leo masih berani datang ke kampus.


"Salahkan dirimu yang terlalu miskin, orang seperti mu tidak akan pernah bisa diterima di lingkungan kami," gumam orang itu tersenyum licik.


Orang itu langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Bersiaplah, lakukan sekarang!" perintah orang itu dan langsung menutup panggilan itu.


Setelah Axel memarkirkan mobilnya, entah kenapa ia sangat ingin berjalan dengan Leo, Axel turun dan bergegas melangkahkan kakinya kembali keluar gerbang.


Saat sampai di depan gerbang, ia menoleh kekanan dan melihat adiknya tengah berjalan santai, Axel pun tersenyum tipis dan melangkah perlahan berlawanan Arah dari Leo, tapi Axel melihat dari arah belakang Leo, tampak sebuah mobil mewah tengah melaju dengan kecepatan tinggi, Axel merasa bahwa mobil itu memang sengaja mengarah pada Leo.


Dan benar saja, Axel melihat mobil itu tidak berada di tengah jalan, melainkan di pinggir jalan, Axel pun membulatkan matanya dan langsung berlari ke arah Leo. Setelah meraih berhasil meraih Leo, Axel langsung mendorongnya menepi dan ...

__ADS_1


Brukkkk


"Arghhhh"


Mahasiswa yang berada di sekitar sana langsung berteriak keras, orang-orang mulai berkumpul dan salah satu dari mereka langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi ambulance.


Tubuh Axel terpental jauh membuat dirinya hilang kesadaran dan darah mulai mengalir dengan sangat deras.


Leo yang saat itu tengah terkejut karena di dorong kini lebih terkejut lagi karena yang telah menolongnya adalah Axel dan sekarang Axel menjadi korban tabrak lari.


Leo sempat terpaku, ia membulatkan matanya, rasa takut mulai menghantui pikirannya, hatinya terus berdegup kencang dan wajah tampan itu tampak begitu pucat.


Mendengar suara yang sangat riuh, Leo pun tersadar dan langsung berlari dan membuka jalan dari orang-orang yang tengah mengerumuni tubuh axel yang tengah bersimbah darah.


"Pa-pak!" ucap Leo sambil menaruh kepala Axel di salah satu pahanya.


"Su-sudah, aku sudah menghubungi mereka," jawab salah satu mahasiswa yang sedang mengerumuni mereka.


Orang-orang sangat mengenal pribadi Leo, dan untuk pertama kalinya mereka melihat ekspresi panik di wajah tampan itu.


Bagaimana mungkin mereka tidak mengenal Leo?, Leo adalah murid beasiswa yang masuk ke kampus elit dan selalu memenangkan banyak kompetisi apapun, wajah tampannya itu mampu menyita mata siapa saja yang sedang melewatinya.


Walau dengan rambut 3 warna, bukan hanya rambutnya saja yang mencolok tapi juga tatapan dingin dan ekspresi datar itu mampu membuat orang lain bisa mengenalinya begitu cepat, Jika dosen baru mencarinya, mereka hanya menyebutkan ciri-ciri rambut dan ekspresi saja maka para mahasiswa dengan mudah bisa menebak siapa yang sedang dosen itu cari.


Suara sirine ambulan sudah terdengar di telinga semua orang, kini ambulan itu sampai dan mereka semua membuka jalan untuk para perawat itu.


Mereka dengan hati-hati mengangkat tubuh Axel, lalu mahasiswa yang menghubungi ambulan itu pun menawarkan diri untuk ikut.

__ADS_1


"Apa kamu bisa menyetir?, aku mendapatkan kunci mobil pak Axel, lebih baik kamu membawa mobil pak Axel kerumah sakit dan aku akan ikut bersama ambulan" ucap mahasiswa itu.


Leo yang sedang kebingungan memilih untuk mengikuti instruksi mahasiswa itu, walau Leo tidak mengetahui namanya tapi yang pasti Leo memiliki firasat baik tentang mahasiswa itu.


Leo langsung berlari ke parkiran kampus, seluruh mata mahasiswa melihat kearah Leo, mereka terkejut karena Leo berlari dengan pakaian yang penuh dengan noda darah.


Karena tidak semua mahasiswa berada di luar kampus, jadi hanya orang-orang dalam kampus saja yang terkejut melihat keadaan Leo yang tampak sangat berantakan.


Penampilan itu begitu perdana di mata para mahasiswa, karena biasanya Leo berpenampilan rapi dan seperti orang yang sangat perduli dengan penampilan, tapi sekarang?, ia bahkan tampak tidak perduli dengan penampilannya dan langsung masuk kedalam mobil Axel dan membawa mobil itu keluar dari pekarangan kampus dengan kecepatan tinggi.


Di sudut jalan, orang itu tengah ketakutan, ia menyaksikan bagaimana Axel berlari kearah Leo dan menolongnya. "si-sial!, kenapa bisa seperti ini?, keluarga pak Axel bukanlah orang yang bisa keluargaku hadapi!" ucap orang itu dengan ketakutan.


"Sebaiknya aku harus berhati-hati, kerena tidak boleh ada yang mengetahui kejadian ini" batinnya


Tidak berapa lama, akhirnya Leo sampai di sebuah rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari kampus.


Leo langsung memarkirkan mobilnya dan bergegas berlari kedalam rumah sakit, wajah tampan itu terlihat sangat panik, ia bahkan terus menggigit bibir bawahnya karena rasa panik itu.


Leo menghampiri resepsionis dan bertanya pada mereka "permisi kak, apa ada seorang pasien kecelakaan yang baru saja di kirim kesini?" tanya Leo dengan keringat yang sudah bercucuran di dahinya, tapi semua itu tidak bisa menghilangkan ketampanan Leo.


Resepsionis itu sempat terpesona dengan wajah Leo, tapi ia langsung menepisnya pikirannya itu karena dirinya tau bahwa orang yang ada di depannya itu pasti sedang dalam keadaan panik.


"Ada, pasien itu berada di ICU, kamu bisa berjalan lurus kejalan itu dan di ujung lorong terdapat ruangan yang sedang kamu cari," ucap resepsionis itu sambil menunjukkan arah pada Leo.


"Terimakasih kak." ucap Leo sambil membungkukkan sedikit kepalanya dan langsung berlari kearah yang di tuju oleh resepsionis.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2