
"Tenanglah," ucap Zelder sambil mengelus pucuk kepala Selia.
Selia menengadahkan wajahnya, ia menatap Zelder dengan air mata yang mulai tergenang di pelupuk mata "tapi pa, apa mereka mau menemui kita?, ini salah kita karena tidak berhasil menemukan mereka, padahal mereka tidak pernah pergi kemana pun"
Axel sangat tidak suka melihat Selia menangis, sejak menghilangnya keluarga itu, Selia menjadi orang yang terlihat murung "pa, ma, tolong rahasiakan keberadaan mereka, aku takut jika para petinggi menemukan mereka maka ... sesuatu yang buruk pasti akan terjadi" ucap Axel dengan hati-hati.
Selia terkejut mendengar penuturan putranya itu "dasar anak bodoh, mereka sangat penting untuk mama, tentu mama akan merahasiakan nya,"
Axel menunduk dan merasa bersalah "padahal aku sudah lama mengajar di kampus itu, tapi kenapa aku tidak pernah bertemu dengannya?, dan lagi, aku menemukannya sedang berselisih dengan Rain Ziler, jika itu sampai ke telinga para bajingan itu maka aku kan membuat mereka menghilang dari dunia itu." ucap Axel dengan mengepalkan kedua tangannya
Zelder dan Selia terkejut mendengarnya, mereka tidak menyangka kehidupan orang itu bahkan terus dihantui oleh keluarga menyebalkan itu "apa?, kenapa dia bisa berselisih dengan anak itu?, apa yang harus kita lakukan pa?," ucap Selia sambil menarik-narik pakaian Zelder.
Zelder tampak berpikir, ia tidak ingin kedua orang itu menghilang dari kehidupannya "Axel, carilah alamat mereka secepat mungkin, aku yakin mereka masih hidup karena saat mereka diusir, Alesa tidak sedang mengandung, jadi aku yakin dia adalah anak dari Alesa," ucap Zelder dengan menatap Axel dengan penuh keyakinan.
"Baik pa, Aku pergi sekarang." ucap Axel sambil berpamitan pada Zelder dan Selia.
"Semoga pencarian Axel sesuai dengan harapan kita, aku sudah tidak sabar lagi memeluknya"
...****************...
Axel bergegas datang ke perusahaannya, ia masuk kedalam dan berjalan dengan tergesa-gesa.
Para karyawan di kantor yang melihat bos mereka datang langsung membungkukkan tubuh.
Mereka bahkan terkejut melihat bos itu melangkah dengan sangat cepat, biasanya bosnya berjalan seperti model, cepat namun berwibawa, namun sekarang, image itu mulai Gilang di kepala mereka karena ini kali pertama mereka melihat hal yang sangat langka, yaitu melihat wajah cemas Axel.
Pria itu begitu memasang raut wajah dingin dan tak tersentuh, sekarang, semuanya tampak begitu tak nyata tapi semua yang mereka lihat adalah sebuah fakta yang tidak bisa dipungkiri.
Jadi bagi orang-orang kantor adalah sebuah keberuntungan karena bisa melihat raut wajah cemas pemiliki perusahaan.
__ADS_1
"Ah ... akhirnya aku bisa melihat ekspresi bos yang lain"
"Apa aku bermimpi?, beruntung aku berada dibawah"
"Ternyata ada hari dimana aku melihat ekspresi itu, aku benar-benar bosan melihat bos berwajah datar dan dingin. Seharusnya aku merekamnya tadi lalu menyebarkan ke seluruh kantor."
Para karyawan bahkan terlihat senang ketika bos mereka sudah mulai menunjukkan ekspresinya di luar rumah.
Axel menaiki lift khusus VIP miliknya, ia memencet tombol lantai 5 dan setelah sampai, Axel berjalan ke ujung lorong. Disana terdapat satu pintu yang berdiri sendiri.
Axel masuk pintu dan semua orang langsung berdiri dan membungkukkan tubuhnya, di balik pintu itu terdapat sebuah kantor biasa, tapi di sudut ruangan itu terdapat sebuah ruang yang sangat privasi dan di sanalah tempat tujuan Axel.
Axel yang mendapatkan penghormatan itu langsung mengangguk dan bergegas berjalan kearah pintu itu.
Ketika membuka pintu itu, seluruh orang yang ada didalamnya ikut terkejut. Ruangan itu terlihat sangat luas serta diisi oleh layar besar, Tapi ruangan itu hanya di huni oleh 3 orang saja.
Axel masuk dan membuka ponselnya "aku ingin kalian mencari informasi mengenai Leo Varrow Z" ucap Axel sambil menunjukkan foto Leo.
Axel membuat ruang rahasia, ia menyembunyikan ruangan itu agar bisa menutupi identitas ketiga orang yang di hadapannya, mereka bertiga adalah hacker yang bisa menerobos penghalang apapun, karena sebuah kisah membuat Axel merawat mereka hingga mengganggap ketiganya sebagai saudara.
Para pengusaha di negara ini terus mencari keberadaan mereka, karena hal itu lah axel.membuat keputusan untuk melindungi mereka bertiga. Dan tugas mereka adalah mengawasi pergerakan para petinggi dan mencari informasi mengenai keluarga Alesa.
Ketiga orang itu sangat penasaran dengan foto yang ada di ponsel Axel, ketiganya bahkan lebih terkejut dari Leo "dia sangat mirip dengan nyonya Alesa, jangan-jangan ... " gumam Luhan sambil memegang ponsel Axel.
Kedua orang itu langsung mengerjakan pekerjaan mereka "aku tidak tau dengan pasti, yang jelas semua ini keberuntunganku, aku bahkan tidak menyangka bisa melihat dia di kampus dan di cafe yang sedang aku kelola" ucap Axel sambil melihat-lihat layar monitor.
Kedua teman sedikit terkejut mendengar perkataan Axel, tapi jari-jari mereka terus menari-nari diatas keyboard, sedangkan Luhan hanya bisa memegang kepalanya, sudah lama mereka mencari keberadaan keluarga itu tapi semua hanya sia-sia.
"Ketemu!" teriak salah satu dari mereka.
__ADS_1
Axel yang mendengar itu tersenyum senang, ia langsung menatap layar itu dengan sangat antusias "pinggiran kota Florence," gumam Axel mengernyit heran.
Axel bahkan tidak menyangka jika mereka di pinggiran kota Florence, karena selama ini dirinya berfokus mencarinya tempat yang sering di kunjungi oleh Alesa dan Marvin.
"Ini sangat jauh dari cafe dan kampus, dia menempuh perjalanan sejauh itu dengan mengayuh sepeda?,"
Luhan menatap axel dengan sebuah kebingungan "kau yakin Axel?, dia sungguh mengejutkan ku, orang sekaya dia justru mengayuh sepeda?" gumam Luhan tidak habis pikir.
"Apa kau lupa bagaimana mereka dihina dan dihapus dari silsilah keluarga?, mungkin itu alasan kita tidak menemukan mereka, karena aku mengira mereka akan kembali bangkit, tapi ternyata dugaanku salah" gumam Axel sambil memegang kepalanya.
"Benar, selama ini kita tidak mencari mereka di pinggiran kota" gumam Luhan sambil membenarkan perkataan Axel.
"Sebaiknya aku harus segera mengabari papa dan mama," batin Axel sambil melangkah keluar dengan langkah lebar.
Lagi-lagi para karyawan terkejut, kali ini mereka melihat Axel tersenyum "apa mataku salah melihat?"
"Tidak, kita benar-benar melihat ekspresi lain dari tuan Axel, ini untuk yang kedua kalinya," terimakasih tuhan"
"Haha ... sepertinya keberuntungan kita sangat bagus hari ini"
Para karyawan yang lainpun mengangguk setuju. selama bekerja pada Axel, tak ada satu orang oun yang bisa membuat senyuman terukir di bibir itu.
Ketika Axel turun kelantai bawah, ekspresi yang sama juga di tunjukkan oleh para karyawan di lantai itu.
Mereka sangat mengenal Axel, karena selain bekerja disana, Axel juga adalah pemimpin dari sebuah organisasi, kantor itu hanya kedok untuk menutupi seluruh pekerjaannya yang lain, Ia membuat organisasi itu khusus untuk melindungi keluarganya dan mencari keberadaan keluarga Leo. Orang-orang yang ada di perusahaan juga orang sama yang ada didalam organisasi.
Setelah Axel berada diluar kantor, ia langsung merogoh ponselnya yang ada di sakunya dan dengan segera menghubungi Zelder.
Setelah panggilan itu tersambung, "papa, aku sudah menemukan keberadaan mereka, kalian bersiaplah, aku segera menjemput kalian" ucap Axel dengan antusias lalu ia mematikan panggilan itu, padahal Zelder belum mengatakan apapun.
__ADS_1
Bersambung ...