
Leo sedikit merasa lega, entah kenapa Leo merasa senang mendengar ucapan yang keluar dari mulut Axel.
"Syukurlah, kakak tidak mengeluarkan kritikan, aku sangat takut jika itu terjadi, apalagi kakak mendapat julukan dosen killer di kampus," batin Leo sambil melihat Axel yang tengah tersenyum padanya.
Leo mencari sebuah ambal tidur untuk dirinya, tentu ia tidak akan membiarkan Axel tidur di lantai.
Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel.
"Ddrrtttt"
"Ddrrtttt"
Axel yang merasa itu adalah deringan ponselnya, langsung memeriksa ponsel yang ada di dalam sakunya.
Terlihat jelas nama yang tertera dalam ponselnya itu "Givan?," gumam Axel, ia langsung memunggungi Leo dan mengangkat panggilan itu.
"Ada apa Givan?"
"Tuan Axel, ada seseorang yang mau membakar toko roti Lemarsa, kami sudah menangkap orang itu dan membawanya ke markas, sebaiknya tuan datang dan menginterogasinya," jelas Givan yang berada di ujung sana.
Wajah Axel yang sedang tersenyum pada Leo, kini berubah menjadi terlihat sangat sangar.
Saat sambungan itu terputus, Axel berbalik dan menghela nafas pelan "aku meminta maaf karena tidak bisa menginap malam ini, ada sesuatu yang mendesak dan aku harus segera di selesaikan nya sekarang juga " ucap Axel sambil mengubah wajahnya kembali tersenyum pada Leo.
Leo merasa heran melihat ekspresi Axel, tadi ia sempat melihat ketika wajah Axel berubah menjadi marah, dan sekarang ekspresi itu berubah lagi ketika berbicara pada dirinya.
Axel keluar dari kamar dan buru-buru pergi dari rumah Leo.
Marvin dan Alesa yang sedang di dalam kamar malah mendengar suara mobil Axel. Mereka saling memandang dan langsung keluar dari kamar.
Keduanya justru melihat Leo sedang berada di depan kamarnya "ada apa Leo?," tanya Marvin penasaran.
Leo terkejut dan menoleh kearah kedua orang tuanya "tidak tau pa, kak Axel mengatakan ada urusan mendesak dan dia langsung pergi terburu-buru," ucap Leo dengan jujur
Marvin mengangkut mengerti "yasudah lebih baik kamu kembali tidur saja," perintah Marvin.
Leo mengangguk dan masuk kedalam kamarnya lagi, sedangkan Marvin dan Alesa juga ikut masuk kedalam kamar mereka.
Saat di dalam kamar "ada apa dengan Axel?, aku mendadak memiliki firasat buruk," ucap Marvin menatap Alesa.
Alesa menghela nafas pelan "mungkin kakak ipar memangilnya, sudahlah lebih kita tidur saja," Alesa menenangkan Marvin untuk tidak merasa khawatir, lalu ia kembali ketempat tidurnya.
...****************...
Axel yang berada di dalam mobil sudah mengeram marah, ia bahkan memukul stir mobil dan menggeretakkan giginya.
__ADS_1
"Siapa yang ingin membakar toko roti paman?," gumam Axel
Axel membawa mobilnya dengan kecepatan sedang, jalan yang di lalui Axel masih bebatuan, ia sangat ingin segera sampai ke lokasi, tapi takdir sedang tidak berpihak padanya.
Setelah cukup lama berada di jalur bebatuan, akhirnya mobil Axel keluar dari jalan berbatuan itu dan sampai di jalan yang sudah rata.
Dengan emosi yang meledak, Axel dengan segera menyetir mobil itu dengan kecepatan tinggi, ia sungguh tidak sabar ingin mengetahui siapa dalang di balik itu semua.
Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Axel sampai di markas miliknya, markas itu di bangun di belakang mansion, bahkan Axel memberi nama mansion itu agar tidak terlalu mencurigakan.
Mansion yang di beri nama Damontis itu memiliki arti lain yaitu roh/setan. Tapi tidak seperti namanya, tempat itu bahkan terlihat megah dan cantik namun siapa sangka semua itu adalah sebuah kedok belaka.
Dan arti dari mansion itu sendiri di gunakan untuk orang-orang yang sudah mengganggu keluarganya dan akan di musnahkan dalam markas mereka.
Jadi mansion itu adalah tempat pengambilan roh para penghianat dengan secara paksa atau bisa di katakan mereka semua di bunuh tanpa memandang bulu.
Axel keluar dan membanting pintu mobil dengan kuat. Bawahan yang melihat wajah Axel hanya bisa menunduk ketakutan.
"Dimana mereka,?" tanya Axel dengan datar.
"A-da di dalam tuan," sahut sang bawahan
Axel masuk ke dalam mansion itu, ia melangkah dengan melewati ruangan tamu lalu dapur. Terlihat ada sebuah pintu yang menembus ke sebuah taman. Taman itu tampak indah dan asri.
Axel memasuki taman itu lalu melangkah ke sudut taman, Ia menekan tombol di dinding itu dan tiba-tiba saja, pintu yang ada di dekat kaki Axel bergerak terbuka.
Setiap Axel menuruni anak tangga, maka tangga itu bersinar sesuai langkah kaki Axel.
Sambil menuruni anak tangga, Axel kembali menekan sebuah tombol yang ada di dinding dalam, fungsinya langsung terlihat ketika pintu bergerak untuk menutup lorong itu kembali.
Setelah sampai di ujung lorong, Axel membuka pintu yang ada di depannya, ia melihat tiga bawahan dan satu orang asing yang sudah di ikat di sebuah kursi.
Orang asing itu bersurai hitam dan tinggi, ia tampak muda namun wajahnya terlihat sangar. Para bawahan Axel menutup mulutnya menggunakan kain.
Pria asing itu melihat Axel dengan menyelidik, ia mengira bahwa Axel orang yang sangat mudah untuk di atasi. Karena dari tampilannya Axel tampak seperti orang sederhana yang bisa di bodoh-bodohi.
Axel memakai kaos berwarna biru dan juga celana jeans biru. Sebelum pergi ke cafe Axel mengganti pakaiannya menjadi pakaian santai. Jika dilihat maka tidak ada yang mengira bahwa dirinya adalah seorang tuan muda kaya raya.
"Lepaskan penutup mulutnya," ucap Axel dengan wajah datar.
Setelah penutup mulutnya terlepas, pria itu langsung bereaksi "brengsek!, lepaskan aku!." teriak pria itu dengan marah sambil meronta-ronta.
Axel tidak memperdulikan ucapan orang asing itu, ia justru memberikan sebuah pertanyaan padanya "aku bertanya padamu, siapa yang menyuruhmu,?"
Orang itu tersenyum sinis, ia mengira bahwa Axel orang yang begitu sabar "apa yang akan kau lakukan jika aku tidak akan mengatakannya?." teriak pria itu dengan keras sambil tersenyum smirk.
__ADS_1
"Patahkan satu kakinya!" ucap Axel dengan datar.
Pria itu terkejut, karena pasalnya iya tidak mengira bahwa orang yang di hadapannya bisa begitu kejam.
Givan mengangguk dan langsung mematahkan satu kaki pria itu.
Arrgghhhhh
"Masih tidak menjawab?," tanya Axel dengan nada datar sambil menatap pria asing itu dengan tajam.
"A-aku akan mengatakannya" ucap pria itu dengan lirih.
Pria asing itu memilih untuk menyerah, faktanya orang yang menyuruhnya tidak mengatakan bahwa toko roti itu telah di pantau.
Orang yang menyuruhnya justru mengatakan pemilik toko itu tidak mempunyai kerabat dan hanya memiliki satu usaha saja.
Tapi sekarang apa?, sepertinya toko itu telah di jaga ketat dan karena itulah dirinya di tangkap dan di hajar seta di bawa ketempat yang dirinya sendiri tidak tau.
Axel mengangguk dan membiarkan pria itu berbicara.
Pria itu membuka mulutnya sambil menahan sakit di bagian kakinya "la-lakrain Ziler" ucap pria itu dengan meringis kesakitan.
Axel yang mendengar itu melototkan matanya, ia tidak menyangka Rain sudah menyelidiki tentang Leo, "tidak mungkin mereka menemukan identitas asli Leo secepat itu," gumam Axel.
Axel berbalik dan hendak melangkahkan kakinya, namun ia berhenti dan mengatakan satu kalimat yang membuat pria asing itu terkejut "bunuh dia, kita sudah tidak membutuhkannya lagi"
"Ti-tidak!"
"Maafkan aku!"
"Bukankah aku sudah mengatakannya?, Mengapa kau justru membunuhku?!"
Pria asing itu terus berteriak memohon ampun, ia tidak ingin mati konyol hanya karena ingin membakar sebuah toko roti.
"Itu adalah balasan karena kau sudah berani berniat membakar toko roti yang aku lindungi!" ujar Axel sambil melanjutkan langkah kakinya keluar dari ruangan itu.
Pria asing itu tengah menyesali perbuatannya, ia tidak menyangka karena menerima perintah itu kini dirinya harus meregang nyawa.
"Habislah aku" gumam pria asing itu.
Saat Axel menutup pintu, suara tembakan kini terdengar dengan sangat kuat.
Axel tidak memperdulikan suara tembakan itu, ia kembali melewati lorong untuk kembali ke atas.
Axel membangun ruang bawah tanah dibalik mansion agar para petinggi tidak bisa melacak apapun yang tengah di perbuat oleh Axel.
__ADS_1
Bersambung ...