
12 Tahun yang lalu
Langit senja mulai samar – samar berubah menjadi jingga saat aku duduk diteras. Bapak menyuruhku pulang untuk membantunya membersihkan halaman belakang rumah yang sudah cukup lama terbengkalai. Semangat ibu untuk menanam dan merawat bunga mulai timbul lagi sehingga mau tidak mau bapak turun tangan untuk membersihkan halaman belakang karena tidak ingin ibu kelelahan karena area tersebut cukup luas untuk dibersihkan sendiri.
Ah.. ternyata malam ini malam minggu dan aku harus terjebak dikampung karena Bapak pasti menahanku untuk kembali ke kontrakan sementara akupun cukup kelelahan untuk menaikan semangatku pergi bermalam minggu. Nadia masih mengambek karena tidak terima aku pergi keacara keluarga sendirian tanpa mengajaknya. Andai dia tahu aku pergi karena apa.. aku yakin akan diputuskan saat itu juga.
Arga terlihat baru saja pulang dari main bola bersama dengan anak – anak kampung yang lainnya. Ia kemudian memisahkan diri dengan mereka lanjut berjalan menuju rumahku.
“loh, aku kira kamu tidak pulang kesini” kata Arga yang ikut duduk denganku diteras rumah.
“iya, tadi bapak telepon. Bantu – bantu dirumah dulu, katanya” jelasku melihat Arga yang sedang meneguk air es yang dia bawa.
“kalau gitu, sebentar malam kerumah nenek Nayra yah” ajak Arga yang memubuatku menjadi sedikit was – was karena disana pasti ada Daffa juga.
“ada acara apa?” tanyaku yang sebenarnya sedang mempersiapkan kata – kata untuk menolaknya.
“Nayra mengundang untuk kita makan – makan dirumah neneknya” jelas Arga yang membuatku mengerti. Keluarga Nayra memang sering memubuat acara makan kalau malam minggu. Biasanya mereka mengajak pacar mereka untuk datang bertemu keluarganya.
“lihat nanti yah..” kataku yang sebenarnya tidak ingin pergi kesana. Aku benar – benar ingin menjaga jarak dari dia ataupun Daffa.
***
“Rena, Reza, ayo makan” panggil ibu kepada Rena dan Reza yang sedak menonton tv, sementara aku sudah duduk duluan dimeja makan karena kelaparan.
Bapak dan Rena sedang membahas jurusan – jurusan kuliah yang bagus untuk diambil kalau kuliah diluar kota. Rena yang sudah kelas 2 SMA itu sedang minta pendapat Bapak karena sebenarnya ia ingin pergi kota yang lebih besar dari kota didaerah kami.
“Rey.. coba tanya ke Nayra, untuk beasiswa kuliah diluar negeri itu persyaratannya apa saja?” pertanyaan Bapak membuatku terdiam. Luar negeri? Ah.. Bapak mungkin salah sebut.
“luar kota mungkin pak” kataku berusaha meralat Bapak. Yang membuat Rena dan Reza menertawakanku, sedangkan ibu hanya menggeleng.
“kak Nayra memang kuliah diluar negeri tau” kata Rena membela Bapak
“hah? Bukannya dia kuliah di Jakarta?” tanyaku yang berharap mereka salah
“ka Nayra kuliah di Australia tau.. di Sydney” penjelasan yang cukup membuatku terkejut sebenarnya karena sebenarnya aku berpikir bahwa dia akan kuliah di Jakarta seperti waktu SMA dan ternyata dia tinggal diluar negeri. Pantas saja waktu itu dia bingung saat aku menyebutnya anak ibukota. Aduhh.. memalukan sekali.
Karena merasa sepi dirumah, akhirnya aku memutuskan untuk pergi kerumah Arga yang tentu saja akan melewati rumah nenek Nayra yang sebenarnya adalah tujuanku. Tapi aku tak tahu alasan apa yang harus kukatakan ketika sampai disana. Jadi aku akan berdalih kerumah Arga yang biasanya juga ramai karena banyak lelaki yang sedang bermain billyard.
“rey..” aku menengok ketika suara yang memanggilku tak asing ditelingaku yang ternyata Nala yang sedang membawa baki ditangannya. “sini...” panggilnya yang membuatku tak sengaja melihat Arga yang sedang ingin kutemui ternyata sedang asik makan dengan Adit. Aku jadi mendekat
“Nay, ada Rayhan nihh” kata Nala kepada Nayra yang sedang ada didapur. Nayra pun keluar yang membuatku tak bisa berkata apa – apa. Dengan blouse merah dan celana jeans yang memperlihatkan bentuk tubuh semampainya. Ah.. aku kehilangan akal sehatku disini.
“Rey, ayo makan” ajak Nayra yang sudah didahului oleh Adit dan Arga tadi.
“aku sudah makan dirumah” kataku sambil memegang perutku. Nayra nampak merengut karena penolakannya. “sumpah, aku baru habis makan” kataku berusaha meyakinkannya.
“kalau es buah mau?” tawar Nayra lagi yang akhirnya kuiyakan.
“aku duduk diluar yah” kataku menunjuk tempat yang dulunya jadi tempat kami bermain gitar. Aku agak sedikit tidak nyaman karena ada beberapa cowok dari kampung sebelah juga menjadi tamu mereka.
Nayra keluar dari dalam rumah, menyusulku ditempat duduk itu sambil membawa segelas es buah. Dibawah temaram saja, dia terlihat seperti bercahaya.
“masuk lagi sana” kataku sambil menerima gelas pemberian Nayra “ada tamu masa ditinggalin” kataku menunjuk para lelaki dari kampung sebelah itu.
“itu tamu Nala” kata Nayra kemudian disebelahku “Nala yang mengundang mereka” jelas Nayra yang membuatku mengangguk sambil berkata O…
Kami terdiam beberapa saat, membiarkan pikiran kami sama – sama mengembara. Aku bingung harus memulai dari mana.
“ternyata ada yang kuliah diluar negeri, tanpa bilang apapun” kataku membuka pembicaraan kami yang membuat semyuman Nayra seketika mengembang.
“aku kira kamu sudah tau” Nayra berusaha membela dirinya.
“kalau aku tahu, mana mungkin aku bilang anak ibukota” kataku yang masih merasa malu karena perkataanku waktu itu.
“sebenarnya aku tidak ingin orang – orang tahu. Jadi aku sempat senang ketika kamu belum tahu” kata Nayra membuatku terkejut. Dia malah tidak ingin orang tahu kalau ia sedang menempuh pendidikan di negeri orang.
“hah.. kenapa?" Tanyaku tak mengerti
“aku malu” Nayra menggaruk kepalanya “aku takut nanti dianggap pamer atau apapun itu” kata Nayra yang membuatku kagum karena dia begitu merendah
__ADS_1
“Nay, kamu masuk kuliah saja itu sudah membuat bangga. Dan sekarang kamu berhasil kuliah di negeri itu adalah hal yang besar nay, kamu tidak perlu malu atau takut dianggap sombong. Karena tidak ada orang dikampung ini yang punya kesempatan kayak kamu” aku berusaha membuat ia merasa bangga atas apa yang sudah ia capai.
“iyah, makasih Rey” katanya sembari terseyum padaku.
“oh yah.. kamu tidak mengundang Daffa?” inilah sebenarnya yang ingin kutanyakan dari tadi. Karena aku tidak melihat sosok Daffa setibaku tadi.
“dia tidak mungkin datang” jawab Nayra tanpa memandangiku.
“bukannya kamu sudah balik dengannya?” Tanyaku pelan karena sebenarnya tidak siap dengan jawaban Nayra.
“hah.. kata siapa? Memang sih.. Daffa sempat meminta aku untuk kembali lagi dengannya. Tapi aku menolaknya” ah.. apa benar ini? Pantas saja Daffa tidak mau datang. Hah.. kesempatan ini tak bisa kusia – siakan.
“jadi, apa sekarang kamu punya pacar?” pertanyaanku di jawab gelengan kepalanya, membuatku serasa ingin melompat ditempat ini. Aku menatapnya dengan intens kali ini membuat Nayra jadi salah tingkah. “Nay.. aku ingin bicara sesuatu” kataku dengan gugup karena aku sebenarnya tidak siap dengan keadaan ini tapi aku berpikir hanya ini kesempatanku.
“aku tahu, mungkin kamu sudah pernah mendengar atau tahu. Kalau selama ini aku suka sama kamu” kataku belum melepaskan tatapan darinya.
“bukannya kamu punya pacar?” spontan kugelengkan kepalaku. Sekarang juga aku memutuskan untuk tidak punya pacar. “yang benar?” tanyanya berusaha meyakinkan. Aku mengambil tangannya menahan digenggamanku.
“please, jadi pacarku Nay..” kataku dengan masih terus menggenggam tangannya berusaha menguatkan jantungku yang rasanya sudah berdetak diluar tubuhku. Aku takut dia akan menjawab tidak.
Nayra menatapku dengan lama, seperti mencari sesuatu ditatapanku yang penuh dengan harap ini. Lalu menganggukkan kepalanya pertanda ya yang membuat senyumku melebar seketika. Kucium kedua tangan yang berada didalam genggamanku itu sambil mengucapkan terima kasih.
Ah.. akhirnya penantianku tak sia – sia. Sekian tahun menyukainya dan baru menjadi kekasih saat ini tidak ada yang lebih membahagiakan dari ini. Aku terus memandanginya seolah tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Kini Nayra sudah menjadi milikku dan aku tak ingin lagi melepaskannya.
***
Brakkk.. suara pintu balkon yang hempas angin laut membawaku kembali. Aku menelpon Diana agar membawakanku secangkir kopi disiang hari yang terlihat mendung ini. Aku segera menutup pintu balkon kemudian berdiri menyilangkan kedua tanganku dari balik pintu kaca memandangi laut yang terlihat suram seperti suasana hatiku sekarang.
Diana masuk membawa secangkir kopi yang ia letakkan dimeja kerjaku, kemudian segera merapikan berkas – berkas yang berhamburan diatas meja tamu. Sejam lalu aku baru selesai berdiskusi dengan design interior mengenai proyek yang akan aku buat dan membiarkan file tersebut menghampar dimeja karena sebelumnya aku memutuskan tidur disofa karena kelelahan.
Aku kembali bersandar dikursi kerjaku setelah menyeruput kopi yang dibawa oleh Diana tadi. Pintu terdengar diketuk ketika aku baru saja menutup mataku. Jelas membuatku jadi sedikit frustasi karena aku ingin sekali istirahat kali ini.
Mila berdiri diambang pintu ketika Diana membukanya, ia segera masuk dan berdiri dihadapanku. Aku melihat Diana yang akan segera keluar ruangan tapi aku melarangnya dan meminta ia tetap melakukan pekerjaannya karena aku ingin segera pulang.
“rey..” suara Mila terdengar pelan. Kuangkat wajahku menatapnya, ia menarik kursi yang ada dihadapannya, mataku kembali melihat layar computer yang ada dimejaku. “rey.. aku minta maaf soal kemarin” lanjut Mila melihat kearah Diana yang sedang merapikan document dengan pelan – pelan. Aku tahu dia tidak ingin orang lain mendengarkan pembicaraan kami tapi aku butuh Diana tetap ada diruanganku agar ia bisa menjadi pengalih perhatian, aku takut bila hanya berdua dengan Mila akan menjadi lebih emosi. “aku.. aku hanya ingin kamu membantu keluargaku, kalau kamu benar serius denganku” perkataan Mila barusan jelas memancing lagi emosiku.
Aku meletakan tanganku didahi sambil memijat pelipisku yang makin terasa sakit ini “kurang serius apa aku sama kamu?”
“kali ini aku tidak bisa membantu dan kamu anggap tidak serius sama kamu?” nada suaraku mulai naik 1 oktaf kali ini.
“rey..” Mila berusaha menjelaskan
“Mila.. kalau kamu ingin mempertahankan hubungan ini. Kamu atau keluarga kamu harus merubah cara kalian memandangku” kataku berusaha meredakan emosiku
“iya Rey.. aku.. hanya ingin membantu kakakku. Tolong jangan marah yah” aku menatapnya dengan lama tanpa berkata apapun. Kemudian teringat Nayra yang berkata mempertahankan hubungan tidak mudah. Apa aku bisa mempertahankan hubungan ini?
“nanti kita bicara lagi” kataku menutup percakapan ini “aku masih banyak pekerjaan” lanjutku diikuti anggukkan Mila yang kemudian berdiri meninggalkan ruangan.
Kuteguk segelas air, kemudian melepas dasi dan melonggarkan kemejaku. Akhir – akhir ini aku merasa hidup tertekan dan kadangkala takut menghabiskan waktu sendiri karena aku akan terus mengenang masa laluku kemudian mulai membayangkan andai bisa membuat hubungan kami seperti dulu meskipun aku sadar bahwa jalan kembali itu sangat sulit ditemukan karena Nayra tak memberikan petanya.
Segera kuraih handphoneku berusaha menelpon seseorang tapi tak berhasil karena aku ternyata masih diblokir olehnya. Aku menatap Diana yang tak sengaja melihatku namun wajahnya nampak sedikit takut kepadaku. Mungkin dia tak pernah melihat aku marah.
“mana handphone kamu?” tanyaku pada Diana yang langsung menaruh handphonenya keatas meja tamu tempatnya duduk.
“saya tidak merekam apapun pak” kata Diana terlihat ketakutan. Aku mengambil kertas kemudian menuliskan beberapa kata yang membuat Diana menjadi kebingungan.
“telepon nomor ini” kataku menunjuk handphonenya kemudian membacakan nomor yang akan dihubungi itu.
Telepon terdengar tersambung, membuat senyum kecilku tak bisa tertahan karena merasa senang. Segera kuminta Diana menyalakan speaker.
“halo..” ah.. aku merindukan suara itu. Sebulan lebih tak bertemu terasa begitu menyesakkan kini.
“apa benar ini dengan Ibu Nayra Sudirman?” tanya Diana mengikuti scenario yang sudah kutulis tadi
“iya saya sendiri” jawab Nayra yang disekelilingnya terdengar berisik
“saya Diana, dari bagian marketing Hotel Orion, ingin menyampaikan selamat karena ibu memenangkan undian tahunan hotel kami” kata Diana masih membaca narasi yang kusiapkan
“undian? Saya tidak pernah.. ohh!! wait” Nayra terdengar seperti mengetahui sesuatu “is he there?” tanya Nayra yang membuat Diana menatapku bingung. “Rayhan..” Nayra memanggil namaku yang membuatku seketika tertawa karena ternyata ketahuan olehnya
__ADS_1
“hei.. ” sapaku yang merasa moodku menjadi berubah ketika ia memanggil namaku tadi
“I knew it!!!” ia terdengar kesal “iseng yah.. pakai nomor lain segala”kata Nayra yang suaranya selalu terdengar ceria itu
“abisnya nomorku masih di blokir” kataku berusaha membela diriku
“oh yah? Wah sorry.. nanti aku buka blokirannya” ah.. akhirnya
“are we good?” aku sangat berharap hubunganku dengannya tetap baik saja karena aku tak bisa tenang kalau tak mendengar suaranya sekarang. “kamu masih marah sama aku?”
“kapan aku marah?.. aku tidak marah.. you know lah” dia tidak marah tapi berusaha menghindariku
“jadi kapan kita ketemu?” tanyaku berusaha mengambil kesempatan baik ini untuk bertemu dengannya
“ah.. you wish!!! you know.. we cant. Aren’t we?!” ah.. dia tidak ingin bertemu denganku karena berusaha semaksimal mungkin menjaga jarak denganku.
“okay.. tapi jangan lupa buka blokirnya” kataku mengiyakan kemauannya yang masih tetap tidak ingin menemuiku
“aye captain !!!” katanya kemudian “eh.. ini bukan nomor pacar kamu kan?” tanyanya terdengar panic
“ini nomor sekertarisku.. tolong simpan” kataku agar ia mempercayaiku yang dijawab okay olehnya kemudian kami mengakhiri sambungan.
aku berterima kasih pada Diana dengan janji akan mentraktirnya makan.
“pak itu.. bukannya owner WO part two?” tanya Diana dengan suara pelan. Yang segera kujawab dengan anggukkanku. Diana tidak menyangka aku mengenal Nayra yang ternyata dikaguminya itu. “apa dia dan Bapak..” ia terdengar ragu melanjutkan kalimatnya
“kalau kamu pikir saya selingkuh dengannya, saya juga ingin pikiran itu benar. Tapi tidak.. saya dengan dia hanya berteman” kataku yang sebenarnya berharap hubungan kami lebih dari sekedar teman. Aku ingin kami kembali menjalin hubungan seperti dulu.
Diana menganggukan kepalanya pertanda paham. “tapi saya senang, karena akhirnya Bapak sudah tidak emosi lagi” kata Diana perlahan- lahan takut aku kembali marah.
“yah.. mungkin hanya dia, orang yang bisa membunuh juga menghidupkan saya” kataku bersandar dimeja menatap pemandangan diluar.
“kenapa bapak tidak memilih bersama dia?” Diana sepertinya mulai tertarik dengan kehidupan percintaanku yang sebelumnya tidak berarti baginya
“kamu pernah ada ditahap mencintai seseorang hingga rela melakukan apa saja untuknya?” Diana menggelengkan kepalanya “aku sedang ditahap itu, menuruti kemauan yang menurutnya bisa membuatku bahagia”
“jadi apa bapak sudah bahagia?”
“ketika kamu terlalu mencintai seseorang. Kamu belajar untuk mengiklhlaskan beberapa hal, termasuk bahagia itu sendiri. Bahagiaku adalah ketika melihatnya bahagia” aku melihat kearah Diana yang menatapku seolah tidak percaya bahwa aku begitu menyukai perempuan ini. Nayra.
***
Deringan handphone yang tadi kuletakkan dimeja menghentikan konsentrasiku pada layar computer. Rena menelpon
“halo Ren” sapaku
“Rey.. malam ini pulang kerumah yah, aku mau bicara hal yang penting” pulang kerumah yang dimaksud Rena adalah rumah kedua orang tua kami.
“memangnya tidak bisa ditelepon?” tanyaku kembali mengetik
“tidak bisa, karena aku harus bicara dengan kamu, Ibu dan Reza” jelas Rena yang terdengar sedikit bersemangat.
“okey. Ketemu dirumah yah” kataku kemudian mengakhiri telepon.
Aku tiba dirumah tepat pukul 8 malam. Mencium tangan ibu dan segera mandi untuk menyegarkan badanku. Kami sekeluarga duduk diruang keluarga , aku membaringkan tubuhku diatas karpet ketika Rena datang dan ingin segera memulai pembicaraan ini
“Rena mau bilang apa sih?” tanya ibu yang ternyata juga penasaran. Aku segera duduk bersila, diikuti Reza yang tadi sedang sibuk bermain hp
“jadi.. Damar mau ngelamar aku” kata Rena yang membuatku dan Reza terkejut, sementara ibu terlihat menangis. “aku dan Damar sudah lama berpacaran. Kami rasa sudah saatnya kami melanjutkan ke tahap yang lebih serius” jelas Rena yang membuatku,Ibu dan Reza memeluknya bersama. Sebentar lagi anak gadis satu – satunya dikeluarga ini akan dipinang oleh lelaki lain dan pergi meninggalkan rumah. Ah.. andai bapak masih ada, tentu ia sangat bahagia bisa menikahkan anak gadis yang begitu ia sayangi ini. Kami bepelukan begitu lama dengan perasaan yang begitu penuh haru.
“oh ya Rey.. ada hal yang ingin kamu lakukan” kata Rena setelah kami selesai berpelukan
“aku ingin memakain jasa WOnya kak Nayra” kata Rena yang membuatku bingung bukannya dia tinggal booking saja
“terus masalahnya apa? Kamu bebas memilih WO yang akan kamu pakai”
“bukan itu” kata Rena yang membuatku menatapnya dengan penuh tanda tanya “jadi, bulan ini mereka sudah memiliki jadwal yang padat, sehingga tidak mungkin menerima acara lagi” waw.. aku tak menyangka jika WO milik Nayra berkembang dengan pesat dikota ini “tolong bujuk dia yah, biar mau menghandle aku nanti” permintaan yang sulit untuk ditolak atau diiyakan ini membuatku tak yakin.
“aku coba dulu yah” kataku sambil terus berpikir apa yang harus kukatakan kepada Nayra nanti. Kami saja sudah tidak bertemu sekitar 2 bulanan ini. Ah.. ini tidak mudah.
__ADS_1
***