
12 Tahun yang lalu
Aku sedang terlelap dalam tidur ketika handphone yang tergeletak disampingku terus berdering tanpa tahu malu. Duh.. siapa lagi yang begitu niat membangunkanku? Aku meraba – raba mencari handphone yang akhirnya bisa diraih oleh tanganku. Aku melihat kelayar dan tertera nama Nadia, idola kampus dengan wajah cantik, body sexy, idaman semua lelaki di jurusan ekonomi yang kini jadi pacarku.
“halo?” kataku kembali memejamkan mataku
“sayang, malam ini jalan yuk” bujuk Nadia dengan suara manjanya.
aku melihat jam yang tertera pada layar hp, menunjuk jam 5 sore “iya boleh” kataku singkat dan segera mematikan telepon ingin kembali melanjutkan tidurku. Tapi gagal karena handphone sialan ini kembali bordering. Apa Nadia lupa sesuatu?
“ada yang lupa?” kataku tanpa melihat siapa yang menelpon.
“apa yang lupa?” terkejut karena suara yang berbeda aku kembali melihat layar handphone, yang ternyata terhubung dengan Rena adikku
“tidak, salah orang. Tumben telepon?” untung saja bukan perempuan yang lain tadi.
“ibu tanya, pulang apa tidak? Malam ini ada resepsi pernikahan Alika. Semua harus hadir” ah.. aku lupa kalau sepupuku yang bernama Alika menikah tadi. Aku bahkan tidak hadir karena terlalu capek begadang semalam membuat tugas kuliah.
“kayaknya aku tidak ikut” kataku diikuti uapan yang menandakan aku masih mengantuk. Lagipula mala mini aku ada janji jalan sama Nadia.
“yakin? Nanti nyesal loh..” kata Rena seolah meyakinkanku.
“ah.. paling cuma acara resepsi biasa kan? Aku lagi ada tugas” kilahku yang sebenarnya malas pulang kerumah dan memilih menginap di rumah dekat kampus yang dikontrak oleh Bani.
“ada yang baru pulang loh..” kata Rena yang masih membuatku tidak tertarik. Paling juga keluarga jauh, pikirku. “orang jauh” lanjutnya berusaha membuatku penasaran.
“paling juga tidak begitu penting. Udah ah.. aku mau tidur” kataku sama sekali tidak tertarik
“cluenya, fotonya ada dibawah pakaianmu” kata Rena tertawa kecil kemudian mengakhiri telepon. Sementara aku kembali tidur. Kemudian kembali mengingat kata – kata terakhir Rena tadi. Orang yang fotonya ada di bawah pakaian? Siapa sih maksudnya? Dibawah pakaianku hanya ada foto.. mataku terbuka diikuti badanku yang seketika duduk dikasur.
“sialan” umpatku sambil yang melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 6 sore. Aku segera bergegas keluar kamar mencari keberadaan Bani.
Orang yang aku cari ternyata sedang bermesraan dikamarnya, perempuan siapa lagi yang ia bawa pulang hari ini. Segera ku ketuk pintu kamarnya.
“Bani.. “ panggilku sambil mengetuk pintu. Yang dijawab Bani dengan ya tanpa membuka pintu kamarnya. “aku pinjam kunci motor” kataku yang tidak melihat kunci motor yang biasa kupakai ke kampus itu. Pintu dibuka oleh Bani yang hanya mengenakan kolornya,sambil memberikan kunci motor padaku.
“mau jalan jam segini?” Tanyanya sambil memperlihatkan badannya yang membekas gigitan.
“aku mau nginap dikampung malam ini. Ada acara keluarga” kataku yang membuat Bani mengangguk mengerti.
Aku bergegas mandi dan berganti pakaian kemudian segera memacu kendaraan. Sebenarnya aku tak perlu ngekos karena jarak dari rumah menuju universitas tempatku kuliah memakan waktu sekitar setengah jam. Hanya saja, karena Bani sudah menyewa rumah jadi dia meminta aku untuk tinggal dengannya. Padahal jarak dari rumah Bani kekampus juga sama denganku, ini hanya akal – akalan dia supaya bisa hidup bebas. Kadangkala membawa pulang perempuan, mabuk – mabukan sudah menjadi hal yang biasa kami lakukan. Bahkan ditahun ketiga aku berusaha mati – matian mempertahankan nilaiku yang semakin susah untuk dikejar mengingat kelakuanku yang makin menjadi – jadi.
Aku tiba sekitar setengah 8 malam, aku sempat menengok kerumah Nayra yang selalu akan kulewati dijalan pulang. Rumah yang dulunya terlihat cukup sederhana itu telah berubah jadi rumah mewah. Ayahnya merupakan Arsitek sukses yang mempunyai banyak proyek penting di kota ini, juga memiliki usaha lainnya seperti toko material bangunan dan sejenisnya. Ah.. seperti apa dirinya sekarang, membuatku cukup penasaran.
“kata Rena, kamu tidak ikut kepesta” kata ibu sesampaiku dirumah, dan mencium tangannya
“berubah pikiran bu” kataku segera menaruh tas dikamar dan mencari baju yang akan kupakai. Aku mengeluarkan kemeja hitam dan memberikannya kepada Rena yang tadi cengar – cengir melihatku datang. “ketawa aja, nih setrika” kataku
“katanya tidak mau pulang, eh pulang juga” ledek Rena yang tidak pernah memanggilku dengan panggilan kakak ini. Membuatku ingin mencubitnya karena berani meledekku.
***
Sesampainya ditempat acara, membuatku sempat menyesal juga buru - buru kesini karena ternyata aku tidak melihat Nayra dimanapun. Ah.. jangan – jangan Rena mengerjaiku? Sialan dia. Aku sedang mengumpat kesal ketika pasangan pengantin masuk ketempat acara yang mana mengharuskan para tamu undangan berdiri termasuk aku yang mulutnya menganga karena menguap itu terhenti seketika saat aku menemukannya.
__ADS_1
Nayra berdiri diantara kerumunan, dia terlihat sangat cantik. Rambutnya dipotong pendek, dia bahkan punya poni, dengan gaun hitam selutut menjadikan dia begitu anggun. Ia sedang sibuk mengobrol dengan orang disebelahnya yang ternyata adalah Lira membuatnya tak sadar kalau ada beberapa mata lelaki yang tak berpindah darinya, termasuk aku. Dia selalu menjadi pusat perhatian dimanapun ia berada.
Ia sedang tertawa ketika berbalik kearah lain dan tak sengaja menemukanku. Pandangan kami bertemu, ia berusaha focus dan kemudian tersenyum membalas senyumanku. Ah... aku sangat merindukannya. 4 tahun berlalu, dia terlihat menjadi dewasa, membuatku hampir tak percaya bahwa perempuan yang ada dihadapanku kini adalah Nayra yang menjadi semakin cantik.
Aku mendekat kepada mereka. Lira menyikut Nayra yang segera beralik membuatnya hampir menabrakku untung saja aku dengan sigap menahan bahunya.
“eh.. ada anak ibukota nih” kataku berusaha menggodanya. Nayra menatapku dengan sedikit bingung kemudian tertawa. “kamu kapan datang?” lanjutku yang masih tak bisa mengalihkan pandanganku darinya.
“kemarin” katanya sambil mengambil gelas air mineral yang ada di dekat kami kemudian segera meminumnya. Tak lama setelahnya Daffa ikut bergabung dengan kami membuatku jadi curiga kalau dia sebenarnya masih menyimpan perasaan dengan Nayra. Terlihat dari caranya memandangi Nayra dengan penuh kekaguman.
Kami berbincang hingga tanpa terasa pesta usai, kami lebih banyak bercanda hingga membuatku lupa bertanya mengenai beberapa hal kepada Nayra.
***
Ketukkan dipintu membangunkanku. Ibu mengetuk – ngetuk pintu kamar dengan lumayan keras hingga membuatku sadar seketika.
“kenapa bu?” aku membuka pintu masih dengan kantuk yang mengintai
“rey, ayahnya Daffa meninggal” kata ibu yang langsung membuat kantukku lari entah kemana. Aku segera bergegas mandi dan berganti pakaian kemudian bergegas kerumah Daffa hingga lupa sarapan terlebih dahulu.
Rumah Daffa nampak ramai dengan orang – orang yang mulai sedang sibuk mempersiapkan pemakaman ayahnya. Aku mencari – cari Daffa sambil membantu menaruh kursi plastic kehalaman rumah yang sekarang sedang dipasangi tenda itu.
“Daffa mana?” tanyaku pada Damar adiknya yang juga sedang mengatur kursi untuk orang – orang yang akan datang melayat nanti.
“Daffa tidak bisa dihubungi” kata Damar yang matanya terlihat sembab itu. Aku mencari handphone disakuku, namun segera berhenti ketika teringat bahwa aku meninggalkannya dikontarakan kemarin. Ah.. aku bahkan lupa membatalkan janjiku dengan Nadia. Tidak penting sekarang ini aku harus mencari Daffa.
Pelayat mulai ramai berdatangan sementara kakak dan adiknya masih sibuk mencari keberadaan Daffa yang ternyata semalam tidak menginap dirumah. Kata keluarganya Daffa sekarang memilih tinggal di kost karena lebih dekat dengan kampusnya yang ada di kota. Tapi kan semalam Daffa ada dikampung, apa mungkin dia kembali kekota larut malam? Aku sedang duduk berbincang dengan kakak Daffa ketika sebuah mobil sedan berhenti didekat rumah Daffa. Mobil yang kutahu adalah milik ayah Nayra.
Pemakaman yang penuh haru itu pun telah berakhir. Aku masih duduk dirumah Daffa karena kakaknya mengajakku untuk makan terlebih dahulu sebelum kembali kerumah. Daffa terlihat senyum sambil memberikan sebuah kursi untukku.
“kamu dari mana saja?” tanyaku yang masih penasaran dimana ia menginap semalam dan bagaimana Nayra yang menemukannya
“aku tidur dirumah teman kampusku” katanya sambil menunjuk daerah tempat ia menginap. “semalam aku baru ganti nomor telepon dan tidak memberitahu orang rumah” jelasnya yang kurespon dengan anggukan. “untungnya Nayra segera menghubungiku” dia tidak memberi tahu orang rumahnya tapi bisa memberikan Nayra nomor barunya, ah Daffa semakin hebat kali ini. Kesalku dalam hati karena dugaanku benar, dia masih punya perasaan sama Nayra.
“aku tidak tahu apa yang terjadi kalau Nayra tidak datang tadi” lanjutnya lagi membuat perasaanku semakin tidak enak. “dia benar – benar terbaik. membuatku merasa nyaman terlebih dulu kemudian mengatakan kabar buruknya” aku menyalakan rokok diikuti Daffa.
“jadi dia datang menjemput kamu?” sebenarnya aku tak ingin mendengar kelanjutannya tapi aku juga penasaran.
Daffa mengangguk “iya, dia terus menenangkanku yang menangis dan akhirnya sadar seperti kata Nayra, bahwa dengan menangis tidak akan mengembalikkan ayahku. Dia juga mengingatkanku untuk berbakti kepada ayahku buat yang terakhir kalinya dengan cara mengantarkannya keliang lahat dengan ikhlas” aku merasa lega bahwa Daffa bisa merelakan kepergian ayahnya tapi jangan tanya bagaimana bentuk hatiku yang sepertinya sudah hangus karena terbakar cemburu saat ini.
Daffa menyesap rokoknya dengan perlahan kemudian menghembuskannya keudara bersamaan dengan perkataannya yang terasa menghajarku dengan keras.
“aku ingin mengambil kesempatan ini untuk mencoba mengajaknya memulai hubungan lagi. Memulai lembaran baru dengan kami yang sudah beranjak dewasa” aku menyesap rokokku dengan kuat hingga asapnya hampir membuatku tersedak. Pernyataan yang cukup retorik ini seakan memberitahuku untuk tidak ikut bersaing mendapatkan Nayra. Mungkin Nayra akan menerimanya lagi mengingat perlakuan spesialnya tadi yang ikut memupuskan semangatku untuk mencoba kembali mendekati Nayra. Aku tak ingin merusak persahabatanku lagi karena memperebutkan Nayra. Aku hanya bisa menepuk bahu Daffa berusaha menyemangatinya.
***
Selepas dari rumah Daffa aku langsung tancap gas kembali ke kontrakan dekat kampus yang membuat ibu menjadi heran karena aku kelihatan buru – buru. Aku beralasan bahwa aku masih ada tugas yang belum selesai.
Aku masuk kedalam rumah kontrakan sambil menenteng kantong kresek berisikan minuman keras yang kubeli di tempat langgananku dan Bani. Aku sedang sibuk memasukan minuman yang dikemas dalam plastic tersebut kedalam botol air mineral ketika terdengar pintu kamar Bani berderit terbuka. Kukira dia sedang keluar.
“di cariin Nadia tuh” kata Bani yang kali ini memakai kaus yang menandakan dia sendirian dikamarnya. “katanya telepon kamu tidak dijawab. Dia kesini loh nyariin kamu” kata Bani sambil meraih gelas sloki kecil yang biasa kami gunakan buat minum barang haram.
“handphone kelupaan dikamar” kataku menunjuk kamarku yang dijawab Bani dengan tawanya sambil menggeleng tidak percaya kalau aku bisa lupa membawa handphone.
__ADS_1
“oh ya.. dalam rangka apa nih?” tanya Bani menunjuk botol plastic yang berisi alcohol itu.
Dan mengalirlah kisah cinta segitiga antara aku, Nayra dan Daffa. Alasanku pulang kemarin, bagaimana kisah ini bermula hingga akhirnya cerita ketika ayah Daffa meninggal. Yang membuat Bani cukup terkesima karena ia tahu kalau aku sering gonta – ganti pacar sebab tidak suka terlibat terlalu jauh dengan perasaan itu ternyata punya kisah cinta yang begitu rumit.
Bani menyarankan lebih baik aku menghindari untuk bertemu Nayra sementara karena takut terjadi ketegangan lagi diantara aku dan Daffa. Tapi disisi lain, aku ingin terus membuntutinya biar Daffa tidak memiliki kesempatan untuk mendekat. Ada kemungkinan besar Nayra akan menerima Daffa kembali membuatku jadi takut, karena takkan pernah bisa punya kesempatan untuk memiliki Nayra. Dan perasaan ini akan selalu menjadi cinta yang bertepuk sebelah tangan.
***
Abu rokok yang tak sengaja terkena tanganku membuatku terhenyak. Sudah berapa lama aku melamun? aku sedang merokok dibalkon kantorku sambil memandangi orang – orang yang berlalu lalang membawa barang – barang dekorasi untuk pernikahan di ballroom hotel. Aku merasa dejavu.
Terdengar ketukkan dipintu seketika membuatku bergerak untuk membukanya. Mila berdiri diambang pintu sambil tersenyum. Beberapa waktu ini kami tidak banyak menghabiskan waktu bersama dengan dalih sama – sama sibuk.
“malam ini ada acara makan malam keluarga, mama minta kamu untuk datang” ah.. sejujurnya aku tidak ingin kemana – mana tapi karena menghargai keluarganya aku mengangguka kepalaku pertanda setuju seketika membuat senyum Mila mengembang dan membuatku sedikit merasa bersalah karena lebih banyak menghabiskan waktu memikirkan Nayra.
Sudah seminggu berlalu dan aku masih terjebak dengan percakapan kami saat terakhir kali bertemu. Aku sangat ingin menyangkal beberapa pernyataannya yang tidak semuanya bisa kuterima waktu itu. Hanya saja aku tak menemukan kata yang tepat untuk mengingkarinya. Dan kini aku merasa linglung karena terus mempertanyakan bagaimana perasaanku terhadap Mila ataupun Nayra.
***
Makan malam pun dimulai dengan khidmat, tak ada satupun anggota keluarga yang berbicara ketika makan terkecuali meminta tolong untuk mengambilkan piring yang berisikan makanan yang ingin mereka taruh kepiring makan mereka. Aku merasa sepi disini, entah mengapa aku merasa rela menukar momem ini dengan momen ketika terakhir kali aku makan bersama dengan Nayra dirumahku. Penuh tawa dan cerita yang membuatku merasa hangat.
Aku merasa salah tingkah ketika kakak kedua Mila yang bernama Andi it uterus menatapku. Ah.. membuat firasatku jadi tidak enak karena sepertinya aku tahu maksud tatapannya itu.
“jadi, kapan Rey mau meresmikan hubungan dengan Mila?” ibu membuka pembicaraan yang membuatku menjadi tersedak. Aku berusaha mengusap – usap dada berusaha meredakan batukku.
“saya akan membicarakannya dulu dengan keluarga saya tante. Saat ini kami masih berkabung karena kepergian bapak” jawabku yang membuat ibu Mila mengangguk.
“ibu kan sudah tua dan sakit – sakitan. ibu berharap sebelum ibu kenapa – napa nanti, ibu ingin bisa melihat anak perempuan satu – satunya ibu ini menikah dengan pria yang ia cintai” aku berusaha mengerti karena kami sudah cukup lama menjalin hubungan tetapi entah mengapa aku benar – benar mearasa tidak siap dengan keadaan ini sekarang.
Aku hanya bisa mengangguk dengan keinginan ibu Mila, aku takut berkata iya kemudian berjanji akan segera melakukannya hanya karena aku merasa tidak enak dengan ibunya. Kakak Mila yang bernama Adi mulai berdehem berusaha mengalihkan pembicaraan dengan topic bisnis yang sebenarnya tak suka kubicarakan dengan orang yang bukan berhubungan langsung dengan bisnisku terlebih keluarga ini.
Ada 1 hal yang sangat aku tidak sukai dari keluarga Mila ialah masalah uang. Yang selalu membuatku memutar otak mencari berbagai macam cara untuk menghindari topic ini. Mereka keluarga yang terlihat punya keuangan yang baik – baik saja padahal tidak. Ibunya saat masih sehat sangat suka menghabiskan uang dengan makan di restaurant mewah bahkan sering menginap dihotel apabila menerima uang pensiunan ayahnya yang tak seberapa lagi. Kakak pertamanya Mira harus berusaha matian – matian mencari uang bahkan memiliki hutang yang sebagian aku bayar karena suaminya mabuk judi. Kakak keduanya selalu membangun bisnis yang selalu rugi yang mana sebagian modalnya meminta suntikan dana dariku. Sementara Mila adalah shopaholic yang tidak tahan untuk tidak berbelanja dan kesalon setiap ada kesempatan. Bukannya aku membicarakan aib mereka, hanya saja hal – hal tersebut salah satu alasan harus berpikir kembali jika ingin menikahi Mila.
Dan benar saja, kakak Mila berusaha membujukku untuk memberikan bantuan modal kepada bisnis yang ia ingin bangun berikutnya. Aku berusaha mencari celah agar tak terjebak dengan mengatakan bahwa sebenarnya aku sedang membuat proyek yang juga membutuhkan Dana yang tidak sedikit. Membuat Mila jadi melirikku penasaran dengan proyek apa yang sedang kubuat.
Dengan dalih akan pulang kerumah ibu, aku berpamitan pulang dari rumah Mila. Ah.. akhirnya.
“kamu sedang ada proyek apa sih? Kok kamu tidak cerita denganku?” bukan aku tidak menceritakannya. Aku sendiri tidak tahu proyek apa yang sedang aku bicarakan disana tadi. Itu hanyalah alasanku agar tak termakan modus pinjam uang lagi dari keluarganya.
“masih dalam tahap pengembangan ide dan alokasi biaya makanya aku belum bisa kasih tahu apa – apa” jelasku yang masih saja berusaha untuk tidak keliahatan bohong.
“berarti itu kan masih lama Rey, kamu bisa bantu kasih pinjaman modal kakakku dulu” nada bicaranya yang menganggap ini bukan masalah mulai menaikkan emosiku
“kakak kamu sudah banyak pinjam uang dari aku Mila, dan semuanya belum diganti sepeserpun. Aku tidak ingin dana yang aku siapkan jadi menguap lagi” kataku yang sudah sampai ketempat aku memarkir mobilku
“yah, kamu sabar lah. Nanti juga pasti diganti. Kalau kamu pinjamkan modal kali ini aku yakin dia pasti lebih cepat mengembalikan” nada bicara Mila yang mulai meninggi sekarang menyulut emosiku.
“bisa tidak, kalau aku kerumah kamu tidak membicarakan tentang uang?” aku menatap Mila yang masih berlagak bodoh dihadapanku. “setiap aku kesini keluarga kamu akan mulai berbicara tentang uang, bisnis. Apa mereka tidak bisa menanyakan kabarku terlebih dahulu? Ayahku baru saja meninggal, dan kalian seakan tidak peduli akan hal itu. Sudah berapa banyak aku meminjamkan uang untuk kakak kamu yang nyatanya tidak ada hasil? Apa kamu pikir aku mesin uang? Kita belum nikah Mila, dan keluargamu sudah seperti ini?” aku meledak. Tentu saja, dengan keadaan emosiku yang tidak stabil sangat mudah untuk marah kapanpun. Mila terlihat terdiam, matanya mulai berkaca – kaca, uh.. aku tak ingin melihat perempuan menangis malam ini.
“rey..”Mila berusaha menahan tanganku yang akan membuka pintu mobil.
“aku capek Mila” kataku melepaskan pegangannya dan masuk kedalam mobil dan segera pulang.
***
__ADS_1