
6 bulan kemudian
Aku tersenyum menatap perawat yang kini memotong gips dikakiku. Setelah 6 bulan akhirnya aku bisa melepaskan benda penopang yang membuat aktivitasku berkurang drastis. Tadinya pergi kekantor setiap hari menjadi seminggu dua kali, aku hanya akan pergi kekantor apabila ada masalah penting seperti rapat dan bertemu klien. Bahkan beberapa proyek harus aku tunda karena berjalan dengan gips bukanlah hal yang mudah. Beban yang harus aku bawa setiap saat lumayan berat sehingga banyak menguras tenaga membuatku memutuskan untuk bekerja dari rumah secara daring, meski bosan namun aku bisa menemukan banyak ide dikepalaku.
Ibu dan Reza ikut menemaniku dirumah karena aku masih terbatas dalam melakukan beberapa hal dan itu sangat menyebalkan. Kini aku bisa berkativitas lagi dengan frekuensi yang meningkat karena gips telah terlepas, akan sangat menyenangkan jika berada di Australia sekarang ini.
Gips pun terlepas, aku tanpa hentinya berterima kasih kepada dokter dan beberapa perawat yang ada diruangan ikut membantu melepaskan gips tersebut. Dokter mengistruksikan agar aku berjalan perlahan melihat bagaimana kekuatan otot dan gerak sendi setelah gips dilepaskan. Aku berjalan dengan pelan takut jika terjadi nyeri atau bengkak dikakiku.
Setelah beberapa kali tes, dokter memberiku jadwal fisioterapi setiap hari dirumah sakit dengan berbagai latihan yang terdengar lebih intensif dari saat memakai gips. Itu sebenarnya aku yang minta agar bisa kembali beraktifitas dengan normal lebih cepat.
Karena masih harus berjalan dengan pelan dan hati – hati, aku tetap memilih menggunakan tongkat penyangga agar mempercepat gerakku. Dengan ditemani Reza, kami berjalan sambil mengobrol tentang beberapa hal dan seketika aku berhenti saat melihat Mila yang perutnya kini sudah membesar, aku rasa sebentar lagi dia akan melahirkan.
“Rey.. “ sapa Mila tersenyum sedikit malu – malu kepadaku “aku turut sedih dengan apa yang menimpa kamu. maaf aku tidak sempat menjenguk”
aku menggeleng “it’s okay.. sekarang aku juga sudah sehat” kataku tersenyum menghibur dia yang kurasa lebih membutuhkan perhatian lebih dari aku “bagaimana kabar kamu?” Mila tersenyum kecil seolah menutupi wajah sedihnya
“Rey.. bisa kita bicara sebentar” ajak Mila yang kuikuti dengan anggukan, kami bertiga pun pergi ke café yang ada diseberang rumah sakit.
“aku minta maaf atas semua yang pernah aku lakukan ke kamu maupun Nayra” kata Mila membuka percakapan setibanya kami disana
“aku sudah memaafkan kamu.. kalau untuk Nayra ada baiknya kamu mengatakannya langsung bukan?” Mila mengangguk mengerti dengan apa yang barusan aku katakan
“aku sudah mencoba menghubungi Nayra, tapi sepertinya dia sudah mengganti nomornya. Aku juga pernah ke kantornya tapi dia tidak pernah ada”
Aku tertawa sinis sadar bahwa Nayra pergi tanpa mengetahui fakta bahwa hubunganku dengan Mila telah berakhir. “Nayra pindah “ kataku mencomot kentang goreng yang baru saja diletakkan pramusaji
“pindah? Maksud kamu?” Mila menatapku kebingungan
Aku mengangguk memastikan apa yang aku jawab barusan adalah benar “Nayra pindah ke Sydney.. I don’t know… I mean somewhere in Aussie”
“Rey.. aku benar – benar minta maaf.. aku tidak pernah bermaksud membuat Nayra pindah. Aku.. aku sangat menyesal karena pernah mengatakan hal yang buruk kepadanya”
__ADS_1
Aku menghela nafas mengatur moodku “it’s okay semuanya sudah berlalu sekarang” kataku diikuti anggukan Mila “bagaimana keadaan kamu sekarang?” Mila menyeruput minumannya kemudian tersenyum
“aku baik – baik saja.. keluarga Bani memperlakukanku seperti anak mereka sendiri” aku ingat bagaimana terkejutnya ibu ketika menerima undangan bertuliskan nama Mila dan Bani dimana seharusnya aku yang menikah dengan Mila karena sudah cukup lama menjalin hubungan dengannya. Dan lebih terkejut lagi saat mendengar apa yang kuceritakan mengenai yang terjadi dengan kami.
“terima kasih Rey.. karena telah membantuku mengatakan semuanya kepada Bani. Dan maaf karena aku kamu dan Nayra harus kembali terpisah”
Aku mengangguk mengiyakan perkataan Mila barusan “semuanya sudah berlalu Mila.. aku harap kamu dan Bani selalu bahagia. Semoga lahiran kamu lancar yah” mila tersenyum menerima doaku diikuti dengan jabat tangan oleh kami berdua pertanda kami sudah berdamai, kami pun berpisah.
Aku meminta Reza untuk mengantarkan aku kehotel. Aku berjalan pelan sambil menyapa beberapa karyawan yang melewatiku, terdengar beberapa dari mereka mengucapkan selamat kepadaku karena tidak lagi menggunakan gips.
Kunyalakan sebatang rokok, duduk di rooftop yang sudah berubah jadi café itu, aku menghisap rokok sambil mengamati sekelilingku yang bentuknya telah berubah hampir 90% dari bentuknya semula. Dimana setengahnya adalah ruangan dengan dinding kaca menyambung dengan teras yang dipenuhi oleh berbagai macam bunga – bunga yang ditanam pada pot sedang itu mulai tumbuh dengan subur. Saatnya mengisi bagian interiornya.
Aku ingat dulu bagaimana aku sengaja membangun café ini dengan dalih berusaha melupakan Nayra dan sekarang… aku duduk disini berusaha mengenang berbagai kenangan kami berdua.
Dia adalah orang pertama menuliskan namanya dihatiku, memahatnya hingga tak bisa lagi kuhapus sekeras apapun kucoba. Orang pertama yang mengajarkan bahwa jatuh cinta bisa indah sekaligus sakit disaat yang bersamaan, orang yang pertama mengajarkan bahwa kita tidak butuh menunggu momen yang tepat untuk mengatakan cinta, karena setiap momen yang kita lewati adalah momen yang tepat, momen yang benar.
Kuusap dadaku berusaha meredakan sesak yang kini membakar didalamnya. Aku ingin bertemu denganya saat ini, aku sangat ingin bersamanya, aku sangat merindukannya, tuhan.. aku sangat mencintai wanita ini.
***
Kembali normal berarti ibu dan Reza telah pulang kerumah dan aku kembali melakukan segala sesuatu sendiri bahkan menyetir tak lagi diantar Reza atau supir. Aku sedang dalam perjalan pulang dari rumah sakit ketika melewati depo bangunan milik ayah Nayra. teringat beberapa furniture yang belum sempat kubayar, aku memutuskan untuk berhenti mungkin saja aku bisa bertemu ayahnya disana.
Dan benar, ayah Nayra menyambutku dengan antusias, kami berjalan mengelilingi toko sambil berdiskusi tentang barang – barang yang cocok dengan tema café yang belum selesai kukerjakan itu. hingga akhirnya ia mengajakku duduk minum coffee di rest area depo bangunan yang baru saja mereka buat diperuntukan untuk para shopper yang kelelahan, disana menyediakan minuman dan beberapa snack yang bisa kita beli.
Pegawai depo membawakan kami kopi dan beberapa kue choux kecil yang membuatku jadi takjub dengan konsep yang hanya ada 1 dikota ini memadukan depo bangunan dengan café yang punya pemandangan taman kecil.
“idenya sangat bagus om” kataku memuji Om Syah yang tersenyum mengangguk sementara aku masih kagum karena banyak pelanggan yang ikut duduk ditampat ini dan memuji ide ini.
“ide Nayra.. dia selalu kesal habis berputar – putar toko dan hanya melihat kulkas soft drink” Om Syah terlihat sangat bangga membicarakan ide brilian anak bungsunya itu.
Aku mengangguk seperti sudah paham bahwa akan ada campur tangan dari Nayra yang selalu punya banyak ide brilian dikepalanya. “pemilihan menu minuman dan snacknya juga bagus loh om.. sangat jarang café yang menyediakan pastry di daerah ini bahkan café saya juga” aku mengakui ide Nayra sangat bagus dan melalui pertimbangan yang matang karena untuk tempat yang ia gabung dengan depo bangunan ayahnya, ia memilih kue – kue yang tak biasa bahkan jarang terlihat dicafe manapun dikota ini.
__ADS_1
Om Syah tertawa kemudian mengangguk “dia bahkan ajarin beberapa staff khusus untuk membuat pastry – pastry tersebut berbulan – bulan sampai sesempurna buatannya sendiri”
Aku tersenyum membayangkan bagaimana Nayra si perfeksionis mengajari karyawannya, kuharap dia sangat sabar “saya takjub loh Om.. mengingat Nayra sekarang sudah bisa masak bahkan bisa bikin pastry sendiri”
Ayahnya kembali tertawa dan mengangguk setuju dengan perkataanku barusan “kami serumah pun tidak menyangka, bahkan mamanya Nayra menangis terharu waktu Nayra pertama kali membuatkan kami sekeluarga choux”
Tawa Om Syah menular kepadaku dalam hatiku ikut bangga dengan perubahan Nayra yang sekarang dan makin membuatku semakin rindu kepadanya. “nayra apa kabar om?” aku memberanikan diriku untuk bertanya.
“dia baik.. sekarang sedang penuh antusias untuk membantu temannya mengembangkan restaurannya” aku mengangguk berusaha mengerti
“lalu bisnisnya disini bagaimana om?”
“masih jalan, kan ada Alena yang menghandle.. lagipula dia tidak selamanya kan disana.. hanya sampai restaurannya berjalan dengan stabil”
“om.. saya ingin membicarakan sesuatu yang lebih penting” perkataanku membuat Om Syah yang sedang menyeruput kopi segera berhenti dan menatapku dengan serius
“Ada apa Rey?”
“saya ingin memulai hubungan kembali dengan Nayra. saya ingin Om tahu bahwa saya sangat serius dengan Nayra” tatapan serius Om Syah berubah menjadi santai kemudian ia tertawa kecil
“semuanya kan kembali pada Nayra, Om sebagai orang tua.. hanya bisa mendoakan dia memilih pria yang layak. Tapi bukannya kamu punya pacar?”
Aku menggeleng “sesuatu terjadi om.. dan kami memutuskan untuk berpisah. Sekitar 9 bulan yang lalu” Om Syah mengangguk mengerti dengan penjelasku barusan.
“Om tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian berdua sehingga berpisah sebelumnya, tapi Om harap jika kamu benar serius dengannya, tolong jangan sakiti hatinya lagi”
Aku mengangguk mengiyakan dan berjanji dalam hatiku untuk tidak menyakitinya lagi “saya ingin memperbaiki kesalahan saya dan meluruskan beberapa kesalah pahaman yang pernah menyakitinya om”
Om Syah menepuk bahuku “semoga kalian bisa segera menemukan jalan terbaik untuk hubungan kalian” aku mengangguk saat mendengar perkataan Om Syah
“oh ya om..” aku akhirnya menanyakan nomor telepon dan alamatnya di Australia yang diberikan Om Syah dengan sukarela. Om Syah awalnya sempat ragu itu akhirnya mau tak mau memberikanku alamat dan nomor telepon saat mendengarku berkata ingin menyusul Nayra disana.
__ADS_1
Aku akan datang Nayra… tunggu aku.
###