revertiato

revertiato
#13


__ADS_3

11 Tahun yang lalu


Aku membanting tas keatas sofa dengan penuh kekesalan. Hari ini skripsi yang kukasih ke pembimbing penuh coretan lagi, entah sudah revisi keberapa yang kulakukan. Hitunganku berhenti pada kali ke 4 saat dia menuliskan kalimat kurang referensi di Bab I skripsiku.


Kututup mataku berusaha mengatur nafas agar merasa sedikit rileks hingga tertidur. Beberapa waktu ini jam tidur mulai tak karuan karena membuat skripsi paling banyak tidur di dini hari. Dering telepon membawa kesadaranku kembali. Tanganku meraba – raba ransel yang mencari benda yang terasa begitu berisik itu. Nama Nayra terpampang dilayar membuatku makin bersemangat untuk melanjutkan tidurku.


Sudah hampir dua minggu kami tak berbicara satu sama lain, alasan pertama karena kami bertengkar mengenai Nayra yang sering jalan bersama teman lelakinya yang menurutku tidak wajar karena tidak ada pertemanan yang normal diantara lelaki dan wanita, semuanya akan berakhir ke perasaan. Entah si wanita yang diluan jatuh cinta atau lelakinya dulu membuat Nayra menjadi marah karena pertemanannya dengan teman lelaki yang bernama Brian itu sudah berlangsung lama dan mereka baik – baik saja karena Nayra tidak merasa apa – apa sementara aku tetap menanggapinya dengan pesimis sehingga membuat kami berdebat ditelepon bahkan dichat dengan kata – kata yang cukup kasar.


Kedua, Nayra berusaha membantu mencari refensi untuk skripsiku karena kami memilih jurusan yang sama yaitu Bussines management namun kutolak karena literaturnya yang berbahasa inggris menurutku sangat membuang waktu karena harus diterjemahkan terlebih dulu sementara bahasa inggrisku juga tidak begitu mahir memicu perdebatan diantara kami Nayra merasa aku tidak menghargai usahanya untuk membantu sementara aku berkata bahwa dia tidak perlu melakukan itu karena aku masih bisa berusaha sendiri karena aku tak ingin dia tambah kelelahan dengan kuliah juga part time dan harus ditambah lagi membantuku mencari referensi menjadikan aku egois dimatanya. Pada akhirnya kami memilih silent treatment sebagai jalan tengah agar tidak terus – terusan bertengkar.


Guncangan pada bahuku membuat terjaga,  Bani yang tidak mengenakan atasan itu tersenyum menatapku yang sedang mengucek kedua mataku.


“jangan pusing !!!.. ayo.. ada barang bagus!” Bani menarik lenganku berusaha membantuku bangun, aku masih tak mengerti dengan perkataannya. Dia membuka pintu kamarnya seketika membuatku sejenak terperanjat. Disana ada dua perempuan yang satu bernama mayra, perempuan yang sedang dikencani Bani dan satu lagi mantanku Nadia sedang memegang botol air mineral kosong yang sudah dimodifikasi. Aku menatap bani yang juga sedang menatapku sambil tersenyum. Astaga.. dari mana dia menemukan barang haram ini.


“ayolah Rey.. “ Nadia yang ternyata sudah berdiri disampingku berusaha merayu sambil menarikku masuk kedalam kamar. Bani juga ikut mendorongku masuk kedalam kamar.


“Bani.. ini.. apa – apaan ini?” aku masih cukup tercengang dengan apa yang kusaksikan ini.


“sudah.. coba dulu sedikit.. lupakan dulu masalahmu” Bani mendorongku agar duduk, diikuti Maya dan Nadia yang juga menyudutkanku hingga tak bisa bergerak. “dari pada kamu pusing dengan skripsi dan bertengkar dengan pacarmu itu.. siapa namanya?... Naya?.. Nara? Ah.. sudahlah.. ayo nikmati saja dulu” Bani menyodorkan Bong sabu padaku yang membuatku susah untuk berpikir karena sangat ini aku merasa sangat butuh ketenangan.


Tak kuasa menahan godaan Bani, akupun mencoba barang haram tersebut tanpa ingat bahwa dulu hal yang naas menimpa kami disekolah. Ah.. sudahlah.. itu sudah lama berlalu.. aku ingin melupakan sejenak masalah yang skripsi sialan itu, juga masalah dengan Nayra.


Aku tidak ingat berapa lama kami berempat mengkonsumsi sabu, aku tak begitu mengkonsumsi banyak karena sebagai pemula dengan barang haram jenis ini aku masih sangat kaku berbeda dengan Bani dan kedua wanita yang nampak terus – terusan menghirupnya. Namun, efeknya sudah mulai terasa untukku. Merasa menjadi senang dan bersemangat, aku menarik Nadia kepelukanku dan mulai bermesraan dengannya membuat Bani dan Maya juga ikut – ikutan. Ah.. sepertinya aku memang membutuhkan ini.


Aku dalam posisi merangkul Nadia dengan tangan yang satu lagi memegang bong saat pintu kamar Bani terbuka.


“RAYHAN!!”suara panggilan itu terdengar begitu nyaring hingga membuat kami berempat terkejut. Aku melihat kearah suara tersebut sambil berusaha mengenali sosok yang terlihat samar – samar karena asap yang ada dikamar. Suara perempuan yang tidak asing ditelingaku.. seperti suara.. oh ****!!! Aku segera melepaskan Nadia yang masih berada dipelukanku berdiri dan mengejar perempuan yang sudah berjalan keluar itu.


“Nay.. nayra..” aku berusaha menghentikan langkahnya. Bukankah harusnya dia berada di Sydney sekarang. “nay.. tunggu.. ahh” aku terhenti saat sadar kakiku menginjak sesuatu.


“aku bodoh.. sudah percaya sama kamu” kata Nayra yang membalikan badannya melihatku. Namun ia kembali melangkah menuju mobilnya yang diparkir didepan gang. Aku tak peduli lagi dengan kakiku dan kembali lanjut mengejarnya.


“Nay.. Nay..” aku berusaha mengejar Nayra yang sudah berhasil masuk kedalam mobil itu. “Nay.. buka pintunya” aku mengetuk jendela berusaha membuatnya keluar. Sementara ia hanya diam, airmatanya sudah mengalir. “nay.. aku bisa jelasin” aku masih berusaha untuk membujuknya “nayra.. nayra… buka pintunya” suaraku mulai tak karuan memanggilnya.


Nayra masih menangis didalam mobil seolah tak peduli dengan panggilanku. Sementara aku masih terus mengetuk jendela sesekali berusaha menarik gagang pintu berharap ia tidak menguncinya tapi aku salah. Ia menyalakan mesin mobil membuatku jadi panic segera berlari kedepan coba menghalanginya. Kurentangkan tanganku diikuti bunyi klakson panjang yang memekakan telinga dari Nayra yang sepertinya sudah marah itu. Ia terus – terusan memencet klakson yang membuat beberapa tetangga kami keluar rumah untuk memeriksa keadaan. Merasa tidak enak dengan tetangga, akhirnya aku meminggirkan diriku membuat Nayra seketika menginjak pedal gas dan pergi menjauh dari pandangan juga hidupku.


Dia tahu cerita tentang aku pernah mengkonsumsi ganja yang hampir membuatku berhenti sekolah, juga tahu kalau aku masih sering mabuk makanya dia sudah mewanti – wantiku agar menjauhi barang haram tersebut terutama narkotika. Dan kini ia menemukanku dengan mata kepalanya sendiri sedang mengkonsumsi narkoba bersama perempuan yang dia tidak kenal. aku tahu dia pasti sangat marah.


Berjalan lunglai menuju rumah dengan tetangga yang masih menatapku penuh keheranan, aku melihat ketubuhku. Astaga.. aku keluar tanpa atasan, hanya mengenakan celana boxer. Aku berhenti sejenak melihat kakiku yang terasa begtiu perih, ada beling yang tertancap cukup dalam karena kupaksa berlari tadi. Ah.. luka yang baru terasa perih itu kini mulai mengeluarkan banyak darah karena mulai membesar. Aku menatap Bani yang berdiri dengan dua orang perempuan yang juga jadi bahan bisik – bisik tetangga dihari yang ternyata sudah gelap ini.

__ADS_1


Akhirnya Bani mengantarku keklinik setelah menyuruh Maya dan Nadia untuk pulang. Aku menatap kosong perawat yang sedang mencabut beling itu dengan tatapan kosong, entah karena suntikan lidocaine atau aku yang masih high karena pengaruh sabu, aku tak bisa merasakan apapun. Sementara pikiranku tak disini denganku, ia sedang sibuk menyusun scenario tentang apa yang akan terjadi pada hubunganku dengan Nayra, apa kami putus? Ah.. itu sudah pasti. Apa yang akan dilakukan para tetangga yang sepertinya mulai curiga denganku dan Bani? Bagaimana dengan nasib kuliahku? Ah.. apa yang harus kukatakan pada orang tuaku jika mereka tahu kelakuanku kali ini?


***


Riuh tepuk tangan yang menggema membuyarkan lamunanku. Nayra sudah selesai bernyanyi dengan indah, mata Mila masih tak berhenti menatapku sesekali melihat kearah Nayra yang sudah turun dari panggung berjalan melewati beberapa pasang mata yang menatapnya dengan kekaguman, dan melewatiku sambil tersenyum. Sebenarnya aku ingin melangkah menyapanya namun merasa tak enak dengan tatapan Mila yang serasa ingin membunuhku ini. Aku hanya bisa membalas senyumanya dari kejauhan. Dia nampak begitu menikmati malam ini dengan orang – orang disekelilingnya, membuatku jadi berpikir mengapa bukan aku yang ada disana.


Mila segera berdiri sesaat setelah aku membayar tagihan makanan kami dengan wajah yang nampak muram, aku pun berdiri menyusulnya. Kami tak berbicara sepatah katapun setelah keluar dari restaurant.  Bunyi pintu mobil yang ia banting mengagetkanku, ada apa dengan dia.


“dia yang bikin mood kamu jadi berubah?” ah.. dia memulai serangannya. Aku hanya diam memasang sabuk pengaman berusaha menenagkan diriku.  “Rey.. jawab?”nada bicaranya mulai tidak sabar. Aku merasa tidak perlu menjelaskan hal yang sudah dia ketahui dengan pasti ini.


“kamu mau aku menjawab apa?” tanyaku menatap wajah garangnya itu


“oh.. jadi benar? Karena melihat dia? Apa aku arti aku bagi kamu?” aku ingin menjawab pertanyaannya dengan sesuai dengan apa yang kurasakan sekarang, namun aku tahu bahwa jawaban itu nanti akan menyakitinya. “jangan diam aja Rey…” ah.. dia sangat suka menguji kesabaranku.


“aku hanya terkejut karena tak menyangka dia datang, itu saja” aku berusaha menjawab setenang mungkin.


“lalu kenapa mood kamu berubah melihat dia? Kamu masih suka sama dia?”


“moodku tak berubah sejak tadi, apa harus aku selalu tersenyum? Kamu sudah mengenalku lama dan merasa aku merubah moodku?” saatnya membalikan keadaan. Mila tahu seberapa dingin diriku jika berada dikeramaian karena aku bukan orang yang banyak bicara dan susah untuk mengubah ekspressi dinginku menjadi orang yang terlihat ceria.


“kamu.. kamu nampak berubah saat melihat dia? Tidak usah bohong Rey.. kamu masih suka sama kan sama dia?”


“tapi.. kamu..” ah.. aku benci dengan kelakuannya yang tidak ingin mengalah ini.


“Mila.. aku masih berada disini denganmu, apa menurut kamu, aku masih ingin bersama dia?” pertanyaan yang sebenarnya kutujukan untuk diriku. Saat berada disana melihat Nayra datang dengan lelaki lain membuatku bertanya – tanya apa aku bisa menerima keadaan ini? Bahwa pada kenyataannya aku masih bersama Mila bukan dirinya, apa sebenarnya aku hanya terbawa masa lalu?


“sebaiknya kamu move on dari masa lalu kamu dengannya Rey.. karena dia juga sudah terbukti melupakan kamu” aku terdiam dengan perkataan Mila. Apa aku belum move on? Kejadian yang sudah lama berlalu namun baru terasa seperti kemarin untukku. Aku menyalakan mesin mobil dan segera meninggalkan restaurant tersebut.


***


Langit yang nampak mendung itu meniupkan udara yang terasa dingin dikulitku siang hari ini. Aku duduk di rooftop sambil menyesap rokokku perlahan, melihat sekelilingku yang sebentar lagi akan berubah menjadi café nantinya. Yup.. aku akhirnya mengikuti saran Nayra untuk mengubah rooftop ini menjadi café sebagai bukti proyek yang pernah aku bicarakan dengan Mila dan keluarganya. Apakah itu alasan utamaku? Aku masih terus memikirkan apa yang sebenarnya aku inginkan dalam hidupku ini? Entah mengapa kenangan tentang Nayra terus kembali kedalam ingatanku akhir – akhir ini. Bukankah semuanya sudah berakhir diantara kami?


Aku mematikkan rokokku kemudian berdiri seolah menatap suasana ini untuk terakhir kalinya. Tempat dimana akhirnya aku mencium Nayra setelah bertahun – tahun lamanya, dan entah mengapa itu terasa benar, semua yang aku rasakan terhadap Nayra adalah perasaan yang begitu nyata tapi aku takut akan menyakitinya lebih sakit dari yang sudah pernah kulakukan padanya.


Jam ditanganku menujuk angka 2 lebih 15 menit saat aku keluar dari rooftop dan menuju restaurant karena perutku mulai menggerutu kelaparan. aku sedang mencari meja yang kosong saat aku melihat Nayra sedang berbincang dengan seorang wanita yang ternyata adalah adikku Rena, mereka pasti sedang mendiskusikan rencana pernikahan yang resepsinya akan diadakan dihotel ini.


Langkahku perlahan mendekati mereka yang sepertinya tidak keberatan dengan kedatanganku yang sudah duduk diantara mereka berdua yang masih sibuk berdiskusi itu. Rena mengungkapkan keinginannya yang dicatat oleh Nayra sesekali menyarankan beberapa detail yang disepakati oleh Rena dan mereka mendiamkanku seolah tak ada disini. mereka berdua tiba – tiba berhenti berbicara dan menatapku dengan keheranan saat pelayan menaruh makanan yang berupa set makanan berupa sup iga, daging lada hitam, dan beberapa piring lainnya yang hampir memenuhi meja mereka. Rena menatapku seolah tak percaya dengan kelakuanku, sementara Nayra hanya menggeleng kemudian tertawa menatap Rena yang kesal denganku.


“kalian sudah makan?” tanyaku sambil menyendok makanan kedalam piringku. Nayra mengangguk pertanda sudah sementara Rena masih memasang tampang kesalnya. Nayra mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan, ia dan Rena memesan minuman dan menaruh tagihannya padaku, seketika membuatku yang sedang makan itu tertawa hampir tersedak karena kelakuan Nayra yang pura – pura tak tahu dengan apa yang dia lakukan barusan, bahkan Rena menambahkan pesanannya dengan desert dan kue – kue sambil menatapku kesal karena mengganggu percakapan mereka berdua.

__ADS_1


Mereka melanjutkan percakapan tanpa memedulikanku yang mencuri – curi pandang kearah Nayra yang sibuk menulis beberapa detail yang disebut oleh Rena. Aku menyantap makananku sambil menikmati percakapan seru mereka tanpa ingin menginterupsinya, tawa Nayra sesekali keluar saat menceritakan pengalamannya menghandle acara wedding belum lama ini. Entah mengapa aku merasa begitu senang ketika ia berada didekatku seperti sekarang.


“sayang.. kenapa tidak mengajak aku makan?” suara Mila terdengar dibelakangku menginterupsi percakapan Rena dengan Nayra.


“bukannya kamu ada meeting tadi?” kataku berusaha mengingat kalau tadi Mila ijin untuk makan sambil meeting diluar dengan orang dari dinas ketenagakerjaan. Mila nyengir menatapku seolah salah tingkah dengan kelakuannya.


“hai.. sepertinya kita belum kenalan sebelumnya” kata Mila mengangkat tangannya untuk berjabat tangan dengan Nayra.


“Nayra.. “ jawab Nayra singkat membalas jabat tangan Mila


“Mila.. pacar Rayhan” aku ingin tertawa melihat ekspresi Nayra yang seperti menahan tawa yang segera ia tutupi dengan anggukan pertanda mengerti maksud Mila yang terlihat seperti hewan yang menandai wilayahnya itu. Dia pasti merasa geli karena merasa Mila terlalu berlebihan. “oh yah.. kalian sedang bahas apa?” tanya Mila yang juga mulai duduk diseberangku memubuat Rena kembali memasang tampang kesal.


“membahas soal pernikahanku kak” jawab Rena pelan berusaha menghormanti Mila yang kurang disukainya itu.


“oh.. kamu pakai WO apa? Kamu tahu kan ada WO baru yang lagi hits, kalau tidak salah namanya Part Two” Mila berusaha masuk kedalam percakapan yang membuat Rena menjadi sangat illfeel, Nayra canggung, sementara aku ingin tertawa menikmati keadaan ini.


“Mila.. Nayra ini pemilik Part Two yang kamu maksud” kataku berusaha menenangkan keantusiasan Mila yang berubah jadi canggung terhadap Nayra dan juga Rena.


“hah.. bukannya pemiliknya anak seorang arsitek ternama dikota ini? Bapak Syeh, Syah?” Mila tidak mempercayai apa yang barusan kukatakan kemudian mengalihkan pandangannya pada Nayra yang menganggukan kepalanya seolah mengerti dengan maksud Mila.


“Syah Sudirman? iya dia ayah saya” kata Nayra sambil tersenyum memperjelas maksud Mila yang membuatnya menjadi semakin canggung.


“Mila.. sebaiknya kita kembali bekerja” kataku yang sudah berdiri berusaha menyelamatkan Mila dari malu sudah terpancar diwajahnya. “maaf sudah mengganggu kalian. Have nice day” kataku pamit membuat Nayra menggelengkan kepalanya seolah tak percaya dengan kekacauan barusan. Kemudian terdengar suara mereka kembali berbincang melanjutkan percakapan yang tadi terhenti.


***


“kamu kenapa tidak bilang apa – apa tentang dia?” Mila membuka percakapan saat kami masuk kedalam lift.


“bukannya semalam kamu menyuruhku untuk move on?” jawabku memerhatikan tombol lift yang sudah kutekan itu.


“setidaknya aku tahu tentang latar belakang dia” aku menghela nafas berusaha meredam kesalku


“kalau kamu ingin bersaing, dia bukan saingan kamu” kataku berusaha menghentikan keinginan Mila untuk mengungkit Nayra yang akan membuatku mengingat lagi masa lalu bersamanya. “kalau kamu ingin tahu masa laluku dengannya, kamu akan sakit hati” kataku berjalan keluar dari lift meninggalkan Mila menuju ruanganku.


“rey tunggu.. “ Mila berusaha mengejar langkahku yang mulai menjauh “tapi aku hanya ingin tahu dia orang yang seperti apa?” aku berhenti berbalik menatap Mila dengan kesal


“untuk apa mengungkit orang yang kamu ingin aku lupakan?” Mila berhenti melangkah terlihat merasa bersalah. “dia pernah menjadi yang terbaik untukku, jika itu jawaban yang kamu cari. tapi semuanya sudah lama berlalu, jadi tenanglah.. aku takkan kembali dengannya” aku masuk kedalam ruangan sambil membanting pintu saking kesalnya. ia sudah merusak makan siang juga sedikit waktu yang bisa kunikmati memandangi Nayra


yang bukan lagi milikku.

__ADS_1


***


__ADS_2