
"aku cuma banyak kerjaan saja” kataku berusaha mengelak sekaligus menghindari tatapan matanya
“seriously Rey.. are you okay?” pertanyaannya seakan membuatku menyerah, aku menatapnya sambil menggelengkan kepalaku, I’m not okay Nay.. I’m not. Di menarik lenganku kemudian merangkul tubuhku.
Kami berpelukan beberapa saat kemudian keluar dari lift yang sebelumnya dia hold. “everything gonna be okay” kebiasaannya yang suka membelai rambutku membuat sedikit lebih tenang. Kami berjalan menuju pintu kamarnya.
“istirahat Nay..” kataku saat kami berada didepan pintu kamarnya
“kamu juga.. pulang dan istirahat.. “ aku mengangguk
“telepon aku kalau ada apa – apa” kami berpamitan dan aku berjalan menuju keruanganku untuk mengambil laptop dan barang – barang lain. Aku berhenti sebentar keruangan Mila yang kata staffnya sudah pulang beberapa saat lalu.
Berjalan menuju basement sambil menelpon ayah Nayra berkata bahwa aku menyuruhnya tidur dihotel karena tak tega melihat ia menunggu staffnya yang kelamaan membuat ayahnya berterima kasih karena sudah memperhatikan dan sedikit berhasil mengalahkan sikeras kepala yang kadang masih membuat ayahnya pusing dengan kelakuannya, seperti berkeras ingin membangun usaha sendiri padahal dia diwariskan beberapa bisnis oleh orang tuanya, masih suka membawa motor padalah dia diberikan fasilitas mobil, dan ain halnya yang membuat orang tuanya geleng – geleng kepala.
Perbincangan masih berlanjut saat aku tiba dibasement mencari mobilku yang diparkir agak pojok karena jarang pulang beberapa waktu ini, dan berhenti ketika mobil Mila juga terparkir disana, bukannya dia sudah pulang kata mereka?
***
Dering telepon yang sangat berisik itu berhasil membangunkanku, siapa yang menggangguku di hari ini. Setelah berhasil memutuskan perabotan selama kurang lebih seminggu, akhirnya aku memutuskan untuk beristirahat dengan mengirimkan note kepada Diana agar tak menghubungku untuk masalah pekerjaan.
Dan sekarang aku kesal, karena diganggu saat aku bisa tidur dengan nyenyak. Aku meraih telepon yang ada di nightstand melihat nama Nayra yang sedang terpampang dilayar.
“Nay.. aku ngantuk” kataku menjawab sebelum ia menyapa dengan halo.
“bangun… aku mau jemput kamu sekarang” kata Nayra segera mematikan telepon. Aku yang baru saja bangun tidak bisa mencerna dengan perkataannya barusan saking ngantuknya kembali melanjutkan tidurku. Hingga bel pintu rumah diikuti dering teleponku kembali mengusik dengan berisiknya. Aku kembali bangun dengan kesal menuju pintu rumah sambil membawa telepon ditangan.
“kenapa sih Nay?” kataku sambil membuka pintu.
“loh.. kenapa belum siap – siap?” tanya Nayra yang kini sudah berdiri didepan pintu rumahku. Aku menatapnya dengan heran, maksudnya apa yah? “kan tadi aku bilang mau jemput” kata Nayra dengan wajah manyun. Aku mengedip – ngedipkan mataku berusaha mengingat. Ah.. ternyata itu yang dikatakannya dtelepon tadi.
“memangnya mau kemana sih” kataku sambil mempersilahkannya masuk.
__ADS_1
“ada deh pokoknya ikut saja” kata Nayra yang menyuruhku bersiap – siap. Aku segera masuk kamar mandi bersiap mandi namun berhenti saat Nayra berteriak bahwa aku tak perlu mandi. Tanpa berlama – lama aku akhinya keluar menemui Nayra yang sedang bercakap – cakap dengan seseorang.
Ia segera mengakhiri telepon, dan kami pergi dengan mobil Nayra yang bagian belakangnya penuh dengan beberapa tas hitam besar. Mobil pun melaju menuju daerah yang banyak memiliki wisata pantai terletak cukup jauh dari pusat kota, sepanjang jalan kami habiskan dengan mengobrol sesekali bernyanyi mengikuti lagu yang dimainkan olehnya.
Nayra yang rambut sebahunya dikepang itu memberhentikan mobilnya disebuah tempat yang memiliki dermaga kecil. Terdapat sebuah kapal yacht yang sedang mengisi muatan, Nayra menurunkan tas besarnya mengatakan kepada petugas untuk membantunya mengangkat, aku pun ikut membantu mengangkat tas yang ternyata berisi peralatan untuk menyelam itu.
“Nay.. “ suara itu membuat langkah Nayra semakin cepat segera menaiki yacht dimana sudah ada Alena, Alric dan beberapa orang lagi menyambutnya. Moodku jadi berkurang melihat Alric yang sudah dalam keadaan siaga mengambil tas yang ada ditangan Nayra.
“rey.. ayoo” kata Alric yang juga mengambil tas dariku kemudian memegang tanganku untuk naik kekapal.
Kapal pun belayar, Alena yang melihatku keringatan segera memberikan sebotol air mineral, ia mengambil duduk disebelah Alric membuatku mengalihkan pandangan ke Nayra yang nampak santai sambil meneguk air, ekspresinya berubah heran saat pandangannya bertemu denganku. Aku mengangkat kepalaku berusaha memberinya kode agar melihat kelakuan Alric yang lengannya mulai merangkul Alena itu. ia melihat kearah mereka sambil tersenyum kembali melihatku terdiam seketika tertawa seperti mengingat sesuatu, Alric yang tadi juga melihat kearahku ikut tertawa.
Nayra menggelengkan kepalanya masih tertawa “kamu kira aku sama Alric pacaran?” Alena yang tadi bingung ikut tertawa. “rey.. Alric pacaran sama Alena.. waktu itu dia jemput aku untuk buat surprise karena mau nembak Alena” aku mengangguk pertanda mengerti dan eh.. astaga!! Aku sudah menyinggung Mila waktu itu, berubah jadi workaholic karena berusaha sekuat tenaga melupakan dia yang ternyata sudah memiliki pacar.
Aku menatap Nayra yang sedang berusaha memperbaiki rambutnya itu, menatap seolah tak percaya bahwa aku salah sangka dengan apa yang aku lihat waktu itu. membuatku jadi tertawa, merasa bahagia bahwa karena entahlah, aku tak bisa menjelaskan perasaan lega ini.
Yacht berhenti ditempat yang ingin mereka kunjungi, ada spot diving bagus dibawahnya. Nayra meyakinkanku yang belum pernah merasakan pengalaman diving untuk mencobanya, akhirnya aku menyerah dan ikut berdiri mendengar penjelasan dua instruktur yang akan mendampingi kami, terutama aku. Karena mereka bertiga sudah sering pergi diving bersama. Aku bahkan baru tahu kalau Nayra sudah punya lisensi diving yang ia peroleh ketika masih tinggal di Sydney.
Setelah beberapa waktu menyelam bersama, instruktur memberikan kode untuk naik kepermukaan, kami naik bersama - sama, membuatku berteriak kegirangan karena senang dengan pengalaman hari ini.
“aku harus kursus diving setelah ini” kataku setelah melepaskan peralatan selam pada Nayra yang sudah selesai melepaskan peralatannya itu tertawa melihatku yang bersemangat seperti anak kecil yang baru mendapat mainan baru.
Kami duduk memandangi lautan teduh dibawah langit sendu karena matahari mulai terhalang awan, angin sepoi menuntun rambut kami mengikuti arah kemana ia bertiup membiarkan kaki kami terendam di air, kami berdua diam dengan pikiran mengembara.
“kenapa ya.. kita selalu memikirkan skenario terburuk disaat kita bahkan belum tahu apa yang akan terjadi?” Nayra membuka pertanyaannya.
“karena kita takut, takut kecewa sehingga kita selalu memikirkan hal yang buruk terlebih dahulu, agar tak berharap lebih”
“apa kita akan jadi orang yang sering berburuk sangka karena selalu memikirkan betapa tak ingin kita dikecewakan?”
“ada perbedaan berburuk sangka dengan memikirkan scenario terburuk Nay.. namun kadangkala kita sering salah mengontrol pemikiran kita yang tadinya hanya memikirkan apa yang akan terjadi, menjadi mencurigai orang – orang yang ada didalamya. Akhirnya kita dengan cepat menyimpulkan sesuatu hal yang belum tentu benar karena kita tak ingin kecewa”
__ADS_1
Yacht berlabuh didermaga, memutuskan pembicaran kami. Kami memutuskan pergi ketempat makan yang ada didekat sana, sekalian berganti pakaian. Langit mulai memainkan warna – warna senja, aku dan Nayra berjalan menyusuri pantai.
“apa kamu pernah memikirkan scenario terburuk yang ternyata seperti apa yang kamu bayangkan?” Nayra memulai lagi sesi tanya jawabnya denganku.
Aku mengangguk “karena sebenarnya kita sudah tahu akan jawaban apa yang ada disana. Makanya kita selalu memikirkan scenario terburuk untuk meminimalisir sakit hati”
“apa saking buruknya kita mengabaikan jawaban yang tersembunyi dan hanya mempercayai apa yang kita lihat?”
Sekali lagi aku mengangguk “itu baru terjadi padaku tadi kan?!” jawabku tertawa “kamu dan Alric..” Nayra ikut tersenyum melihatku yang salah tingkah karena kesalah pahamanku
“rey..” langkah Nayra berhenti, memandangiku dengan tatapan tajam “jawab dengan jujur.. apa tujuan kamu ke Sydney waktu itu?” kenapa Nayra tiba – tiba bertanya soal itu.
“apa akan ada yang berbeda jika aku menjawabnya sekarang?” karena apa yang sudah terjadi kini tak membuat perbedaan diantara hubungan kita
“tinggal jawab saja rey.. dengan jujur” Nayra masih ingin jawaban dariku.
“aku ingin menemui kamu waktu itu.. meminta maaf dan berharap kita bisa memperbaiki hubungan kita lagi” Nayra yang seakan tak percaya dengan apa yang baru saja aku katakana berusaha mengatur nafasnya.
“apa scenario terburuk kamu sebelum bertemu denganku?” suara Nayra terdengar berat karena ia berusaha menelan isak tangisnya
“kalau kamu sudah bahagia disana, bertemu dengan orang lain yang lebih baik dariku. Memperlakukanmu selayaknya putri. Maka aku akan memilih mundur dan membiarkan kamu bahagia”
“apa kamu melihatnya? Aku diperlakukan selayak putri seperti yang kamu bayangkan?” matanya kini terlihat berkaca – kaca.
“aku melihat kalian bergandengan tangan berjalan sambil tertawa…” oh No!! aku bahkan tidak mengkonfirmasi siapa dia pada saat bertemu Nayra waktu itu. “tapi waktu itu kamu pakai cincin..” kalimatku terputus ketika Nayra memperlihatkan kalung berliontin cincing berlian yang aku lihat waktu itu.
“kamu mau tahu cerita lucu tentang cincin ini?” air mata kini mulai mengalir mencari jalan keluar dari mata indahnya “aku beli karena sangat merindukan seseorang yang aku dengar sedang menata kembali hidupnya jauh disana. Berharap aku dilamar dengan cincin seperti ini nanti kalau kami bertemu” Nayra menghapus air matanya secara kasar “bayangkan betapa bahagianya aku ketika melihat dia datang ke negara dimana aku tinggal, tanpa sungkan memeluknya karena begitu rindu namun sadar bahwa pria yang kupeluk kini menjaga jaraknya” sial.. kenapa waktu itu aku tidak menanyakannya. Ah.. aku sangat menyesal..
“aku berusaha meyakinkannya selama disana, memulai percakapan yang selalu ia alihkan menjadi topic lain,hingga dimalam terkahir kami bersama aku berkata aku selalu mencintainya, dengan baiknya ia menawariku pertemanan” aku menutup mataku berusaha mengutuk kelakuanku yang selalu mengambil kesimpulan dengan cepat bila menyangkut perasaanku dengannya. “tidak semua scenario yang kamu pikirkan itu berakhir buruk rey..” kata Nayra berjalan pergi meninggalkanku sendirian.
***
__ADS_1