revertiato

revertiato
#25


__ADS_3

Aku harus dengan rela kembali ke tanah air tanpa Nayra karena ia masih punya pekerjaan yang tak bisa ia tinggalkan, aku duduk mengecek sabuk pengamanku, kemudian menyalakan layar di hadapanku bersiap menonton film agar tak terlalu merasa sepi dalam penerbangan kurang lebih dari sepuluh jam menuju singapur, tempat transit ku nantinya.


Aku menarik selimut bersiap menutupi tubuhku saat kembali teringat bagaimana aku dan Nayra berbagi selimut semalam. Aku mengulum senyumku, berusaha menggigit bibir bawahku agar tidak dikira penumpang gila yang sudah menyusup kepenerbangan ini.


Kututup mataku dan masih bisa membayangkan bagaimana aku menyusuri setiap jengkal tubuh Nayra dengan kelima indra yang kumiliki. Melakukan segala yang bisa kulakukan memasukkan segala kemesraan semalam kedalam ingatanku karena tak akan bertemu dengannya selama 3 bulan lagi. Jika kemarin – kemarin aku bisa melakukan segala sesuatu tanpa dirinya dengan keadaan yang tidak telalu buruk, aku yakin setelah ini aku akan berakhir mengerikan karena terlalu merindukannya terlebih dengan status kami sekaran yang kembali menjadi kekasih.


Mataku kembali terfokus pada film yang ada dimonitor, film bergenre action favorit Nayra. ah… kembali pada Nayra lagi kepalaku sekarang, aku tahu sebelumnya juga selalu mengulang kenangan – kenangan kami sejak kecil hingga dewasa, tapi entah mengapa aku merasa sangat berbunga dari pada sebelumnya, mungkin karena setelah hal – hal yang kami lewati, perasaan kami tak goyah meskipun kami berusaha menjauhkan diri entah mengapa kami serasa kedua sisi magnet yang terus tarik menarik.


Dan kini aku makin dipenuhi dengan Nayra karena memori masas lalu kami yang selalu gagal untuk melunturkan perasaanku, memori masa kini yang terasa manis dan pahit disaat bersamaan terlalu memabukkan untukku. Aku mengusap wajahku berusaha menghilangkan euphoria ini ketika kembali teringat bagaimana bibir Nayra mengecup bibirku perlahan kemudian menjadi begitu buru – buru hingga kami kehabisan nafas. Ah… Rayhan.. berhentilah.


***


Aku sedang duduk memandangi presentasi yang sedang dipaparkan Imam, calon manager di café yang sebentar lagi akan dibuka, Hideout. Imam sedang bersemangat menjelaskan tentang cara pelayanan dan pengaturan ketika handphoneku berdering, terlalu senang melihat sangat penelpon yang katanya sedang sibuk menyelesaikan sisa pekerjaannya itu hingga membuat kami tidak sering menelpon atau video call karenanya. Aku berusaha memaklumi karena aku juga sangat sibuk dengan persiapan pembukaan café sekembaliku dari Melbourne 3 bulan yang lalu.


“hi babe.. “ sapaku seketika membuat seisi ruangan menjadi hening. Sepertinya jantung mereka hampir melompat saat aku mengatakan babe karena aku tak pernah memanggil seseorang seperti itu, bahkan Mila yang dulu sekantor denganku pun tak pernah kupanggil demikian. Aku menjauhkan telepon dari mulutku dan mengatakan kepada semua yang ada diruangan untuk coffee break.


 “kamu apa kabar?” kataku saat menjadi pertama yang meninggalkan ruangan seolah tak peduli dengan pandangan para staff perempuan yang senyum- senyum melihatku. Ada yang lebih penting sekarang


“aku baik… kamu bagaimana?” suara Nayra yang terdengar ceria menularkan kebahagiaan tersendiri kepadaku


“no.. I’m not okay!! hampir mati.. “ kataku yang berdiri didepan ruangan kantorku, menunggu Diana yang berdiri membuka pintu membawa masuk beberapa undangan.


“kenapa?” suara Nayra terdengar panic diseberang


“hampir mati karena terlalu rindu” undangan yang ada ditangan Diana terjatuh, saat ia mendengarku berbicara. Aku tahu dia pasti akan terkejut dengan kelakuan berlebihanku ini.


Nayra terdengar cekikikan diseberang “tahan sebentar, minggu depan aku sudah pulang kok.. Bradley sudah membelikanku tiket”


“serius?? Ini kabar terbaik hari ini”


“apa kamu mau titip sesuatu, untuk aku bawa pulang?”


“cukup bawa pulang pacarku yang bernama Nayra dengan keadaan utuh tak kurang apapun” perkataan yang membuat Nayra seketika tertawa mendengarnya


“ya sudah.. aku kerja dulu yah! See you next week?”


“hmm.. see you next week” kataku tersenyum sumringah menatap undangan yang ada di tanganku “Nay.. “


“yes?!”


“I love you..”


“I love too Rayhan Adhitama”


***


Mataku sedang memperhatikan penataan kursi didalam café yang sedang dalam simulasi penataan apabila ada acara besar yang memakai café ini. Tidak menutup kemungkinan jika café ini akan dipakai untuk acara pernikahan karena tempatnya yang menyediakan indoor dan outdoor.


Para karyawan yang terlihat bekerja penuh antusias selama sebulan akhir ini membuatku juga semakin bersemangat untuk segera membuka café ini yang rencananya kan kubuka 3 hari lagi. Diana yang ada berdiri disebelahku sedang berdiskusi dengan Imam tentang penataan untuk grand opening, aku berusaha mendengarkan ketika handphoneku berdering, dengan nama Nayra yang tertera dilayar.


“hallo..” sapaku berusaha setenang mungkin agar tak menganggu konsentrasi staff, setelah kejadian beberapa hari

__ADS_1


lalu


“hi.. Fyi.. I’m in airport right now, heading back to Jakarta” kata Nayra seketika mengembangkan senyumku


“really?” kataku hampir berteriak, membuat Diana dan Imam yang ada disebelahku terkejut dengan kelakuanku “so.. see you tomorrow?” kataku berusaha memastikan segera bertemu dengannya


“I’m afraid we have to wait” kata Nayra yang membuatku kebingungan karena menunda pertemuan kami “Alena, sedang ada dijakarta dan meminta menemaninya membeli beberapa hal yang dibutuhkan kantor, jadi sepertinya kita akan bertemu 3 hari lagi?!” ada senyuman diwajahku, mendengarnya seolah merasa bersalah dengan keadaan ini.


“that’s alright, pada akhirnya kita ketemu juga kan?! Karena kamu punya waktu dijakarta, aku bisa minta tolong tidak?”


“minta tolong apa?”


“tolong beli gaun yang cantik untuk kamu pakai”


“memangnya kenapa?”


“3 hari lagi.. aku ada grand openingcafeku, if it’s okay.. aku mau kamu mendampingi aku”


“café?! Kamu buka café? Kok aku tidak tahu?”


Mendengar nada bicara Nayra yang sepertinya kesal membuatku jadi tertawa “panjang kalau aku certain sekarang, bagaimana… kamu bisa kan jadi pendampingku?”


“off course I do.. tapi dengan syarat” kata Nayra terdengar mantap


“apa syaratnya?”


“jangan ada lagi rahasia di antara kita. Aku seperti orang yang ditinggalkan kalau kamu tidak cerita apa – apa kepadaku, termasuk café ini”


Terdengar panggilan pengumuman naik kepesawat membuatku dan Nayra harus  memutus pembicaraan kami dengan kata penutup okay, I’ll be wait dari Nayra.


Pandanganku teralih pada Diana dan Imam yang sudah menhentikan pembicaraannya dan memperhatikanku dengan seksama.


“saya senang bapak sudah kembali dengan ibu Nayra, tapi bisa tidak jangan tebar pesona disini?” kata Diana yang


membuatku kebingungan ia sedikit mengangkat kepalanya seolah memberi kode kepadaku yang baru tersadara banyak staff wanita yang mencuri – curi pandang padaku. Aku nyengir mentap Diana yang seperti sedikit kesal dengan kelakuanku.


“cemburu yah?! Makanya cari pacar” kataku meledek Diana yang sedang jomblo itu membuatnya semakin kesal. Kemudian segera keluar dari café berjalan menuju keruanganku dengan penuh antusias.


Aku duduk meletakkan handphone yang sedang melakukan panggilan ke beberapa orang sekaligus.


“hi guys..” sapaku ketika panggilan terhubung


“hi.. Rey” sapa Alena dan Bradley disaat bersamaan


“Nayra just got on the plane” lapor Bradley


“I’m just arrive in Jakarta by the way” kata Alena terdengar menyeruput minuman


“we’re about two hours behind Nayra” jelas Bradley membuatku mengangguk


“see you and Anna tomorrow then?!” kataku dijawab alright oleh Bradley

__ADS_1


“Nena.. terima kasih kerjasamanya” kataku yang dibalas Anytime oleh Alena yang akrab dipanggil Nena itu. kami bertiga pun mengakhiri panggilan tersebut.


***


Senyumku mengembang saat Nayra mengirimkan foto gaun berwarna lavender yang ia pilih untuk dikenakkan malam ini, kuteruskan gambar tersebut kepada Diana yang sedang menyiapkan pakaianku malam ini agar mencarikan dasi yang senada dengan baju Nayra mengingat aku memilih untuk menggunakan setelan hitam. Dalam waktu kurang lebih dua jam Nayra akan tiba dikota ini membuatku tak sabar menemuinya. Ah.. aku sangat ingin memeluknya, mengisi penuh energi ku yang semakin menjadi melemah akibat terlalu banyak diserang rindu ini. Aku segera melompat kekamar mandi namun terhenti saat melihat pesan dari Nayra yang berkata agar tak usah menjemput karena ia akan dijemput oleh Om Syah, ayahnya.


Merasa kesal karena tak bisa menjemputnya, aku memutukan pergi kekantor. Aku harus menyibukkan diriku agar


tak meledak dengan emosi, bagaimana bisa ia mengatakan tak ingin dijemput olehku yang sudah tak kuat menahan rinduku ini. Ah.. Nayra!!!


Jam – jam bekerja berlalu tanpa terasa menunjuk waktu makan siang, masih dengan keadaan uring – uringan aku menuju café yang seperti sedang sibuk untuk malam ini, beberapa pekerja sedang memasang lampu LED strip disepanjang lorong hotel sebagai penunjuk jalan menuju café, beberapa orang sibuk mengangkat bunga yang didominasi warna lavender itu. aku berjalan gontai melihat Nadia yang sudah ternyata sudah kembali dari butik sedang berbicara dengan beberapa staff.


aku memanggil Diana berkata untuk memesan makanan untuk para staff yang bekerja saat beberapa orang masuk membawa banyak makanan membuatku dan beberapa staff kebingungan karena biasanya aku akan menyuruh mereka berhenti terlebih dahulu. Terlihat orang – orang dari restaurant jepang tersebut masuk kemudian mulai menata peralatan masak shabu – shabu, menata sushi dan beberapa hal lainnya membuatku menatap Diana yang juga menggelengkan kepalanya tak tahu kelakuan siapa ini.


“siapa yang pesan makanan ini?” bisikku pada Diana yang mulai mempersilahkan para staff yang sepertinya sudah sangat lapar


“gak tahu pak” kata Diana yang juga kebingungan dengan keadaan yang sedang kami hadapi. Aku hanya bisa berharap ini bukan salah tempat pemesanan karena melihat karyawanku sudah menyerbu makanan yang disediakan.


“coba kamu tanyakan ke mereka, ini pesanan atas nama siapa?” tanyaku menunjuk para pegawai dari restaurant jepang tersebut diikuti deringan handphone yang memuat nama Nayra.


“halo.. “ sapaku masih focus kepada Diana yang sedang menanyakan pegawai restaurant tersebut


“aku pikir makanannya sudah sampai sekarang” kata Nayra membuatku terkejut, makanan? Bagaimana dia… tunggu


“kamu yang pesan makanan ini?”


“iya.. untuk kamu dan karyawan kamu” pernyataan Nayra mau tak mau membuat senyumku mengembang “kamu sudah makan?”


“makanannya baru sampai, lain kali kasih tahu aku kalau kamu pesananin aku makanan, biar aku gak bingung, menebak – nebak ini pesanan siapa” Nayra terdengar tertawa diseberang


“sengaja biar kamu panic dulu”


“kamu.. awas yah.. “ Nayra kembali tertawa mendengar ancamanku


“oh yah acaranya mulai jam berapa?”


“jam 9, take you’re time for prepare okay” kataku menggodanya agar tampil secantik mungkin malam ini


“okay.. ah.. I wish were there right now” aku memaklumi keinginan Nayra yang belum bisa terkabul untuk bertemu denganku karena dia masih sibuk dengan pekerjaan demikian denganku yang harus memastikan persiapan malam ini sesempurna mungkin.


“same here, I really miss you know”kataku berusaha menenangkannya agar tak memaksa dirinya untuk ada disini saat ini. “see you tonite?”


“see you tonite”


“hei.. Nayra..”


“yup…”


“I love you” Nayra tertawa mendengar kataterakhir dariku dan membalasnya dengan I love you too sebelum mengakhiritelepon


__ADS_1


__ADS_2