revertiato

revertiato
#6


__ADS_3

16 Tahun yang lalu


Aku sedang merapikan pakaian  di dalam lemari ketika sebuah foto tiba – tiba jatuh kelantai, tepat dikakiku yang langsung kupungut. Foto seorang anak perempuan berbaju merah berdiri sambil tersenyum menatap kamera. Foto Nayra pada malam pernikahan pamannya yang sempat membuatku susah bernafas. Kumasukan kembali foto tersebut kedalam lemari dibawah tumpukan bajuku. Aku kembali fokus pada tas ransel yang tergeletak ditempat tidur, memasukan bajuku satu persatu.  Besok aku akan pindah kesekolah baru di daerah perkotaan, dan memilih menginap dirumah Tante Nia, adik bapak. Sebenarnya aku bisa bolak – balik dari rumah kesekolah baru, hanya saja tante Nia yang tidak memiliki anak lelaki yang besar dirumahnya, dan ingin aku tinggal disana untuk membantu mengantar anaknya yang masih kecil kesekolah. Karena bapak dan Ibu setuju, aku pun memilih pindah sekolah.


Ah… aku berharap bisa berpamitan dengan Daffa. Aku tahu sebenarnya aku harus rela jika Nayra menerima Daffa menjadi pacarnya, karena mungkin dia juga menyukai Daffa. Hanya saja, aku tak ingin mengakui bahwa sebenarnya aku kalah, dan kenapa sih Daffa tidak mengatakan kepadaku bahwa ia juga sebenarnya menyukai Nayra. Sekarang, seminggu setelah memukulinya yang kulakukan hanyalah berusaha menghindar, dan kami sama sekali belum bicara.


“mau?” sebungkus rokok disodorkan dihadapanku oleh anak kelas IPS3 yang bernama Bani, saat aku dan teman – teman sekelasku sedang nongkrong dibelakang sekolah. Aku meraih rokok tersebut, mengambil sebatang. Dan dimulailah pertemananku dengan Bani yang ternyata anak seorang kontraktor besar dikota ini. Meskipun agak badung, Bani banyak membantuku dalam hal financial, membantuku membayar uang sekolah yang sering telat diberikan Bapak, membayar uang les, bahkan uang jajang pun, biasanya dibayar oleh Bani.


“kamu udah putus yah, sama Vina?” tanya Bani padaku, kami berdua sedang merokok dibelakang sekolah. Aku hanya menganggukan kepalaku pertanda iya. “ya ampun Rey… udah berapa kali ganti cewek bulan ini?” Bani terlihat sibuk menghitung jarinya sambil menyebut nama - nama mantanku. Yang hanya kujawab dengan senyum kecil. “nyari apa sih Rey?” Bani makin geregetan dengan kelakuanku. Membuatku menjadi ikut berpikir, aku mau perempuan yang seperti apa sih sebenarnya? Seperti Nayra, mungkin. Setiap kali ada perempuan yang menjadi pacarku, selalu kubandingkan dengan Nayra dari ujung kepala sampai kaki. Dan bila aku merasa bahwa mereka tidak sama, maka aku akan memutuskan mereka.


“entahlah.. mereka mulai menyebalkan lama – lama!” sahutku sambil menghembuskan asap rokok “malam minggu harus ketemu lah, hari minggu harus jalan lah, padahal senin sampai sabtu ketemu juga disekolah” keluhku yang membuat tawa Bani pecah.


“bener juga yah, tapi.. kalau kamu gak suka kenapa harus diterima sih jadi pacar?” tanya Bani sambil mencari sesuatu didalm tas sekolahnya.


“kasihan ceweknya... udah buang malu buat nembak, masa gak di terima” kataku sambil mematikan rokok


“hah??? Jadi selama ini, kamu yang ditembak cewek bukan sebaliknya?” Bani nampak terkejut, karena selama ini Bani tahunya aku ganti – ganti cewek aja, tapi tidak tahu prosesnya dari jadian. Kuanggukkan kepalaku, membuat Bani semakin heran sama denganku. Kalau dipikir – pikir aku tipe yang diam, dan tak banyak bicara terkecuali orang yang sudah dekat denganku. Tapi anehnya cewek – cewek ini selalu mendekatiku, dengan segala macam modus mereka yang sebenarnya tidak enak jika kuabaikan karena mengingat mereka adalah perempuan jadi sebisa mungkin aku menghargai mereka. Meski ujung – ujungnya kubuat nangis juga karena selalu aku yang memutuskan hubungan.


“ eh.. ada barang baru nih” kata Bani yang telah menemukan apa yang dia cari dari dalam tasnya. Sebuah plastik kecil berisikan pil – pil berwarna putih.


“apaan nih?” kataku meraih plastik tersebut mencoba menebak isinya


Dengan suara pelan bani menunduk sambil berbisik “ pil XTC “ yang membuat jantungku berdebar kencang, bagaimana ia bisa mendapatkan barang haram ini? “nanti malam kita coba yah!!” ajak Bani yang masih membuatku tak bisa berkata – kata.


Dan yah, aku dan Bani menjadikan ini salah satu rutinitas malam minggu kami. Nongkrong dirumah Bani yang sepi karena kedua orang tuanya sangat sibuk, sambil mengkonsumsi 1 butir pil yang membuatku, si pendiam ini menjadi aktif, bahkan sangat aktif.


###


Aku dan Bani yang datang terlambat terkejut mematung ketika melihat tas – tas teman sekelasku sedang digeledah oleh beberapa guru. Aku menoleh kearah bani yang ternyata juga sedang melihat kepadaku, sementara tangannya terlihat sedang merogoh saku celana tiba -tiba ditarik oleh pak wakil kepala sekolah sehingga bungkusan kecil berisi pil – pil kecil berwarna putih itu terjatuh yang membuatku dan Bani diinterogasi selama  berjam – jam diruang BP. Untung saja karena pengaruh kuat ayah Bani, kami berdua tak jadi dikeluarkan dari sekolah melainkan mendapatkan 2 minggu skors.


Tapi hampir membuatku dikeluarkan dari kartu keluarga, karena setibaku dirumah ibu menangis sejadi – jadinya yang membuat bapak harus terus menenangkannya. Bapak menginterogasiku mulai dari sejak kapan, siapa yang membeli, dapat uang dari mana, beli sama siapa, dan banyak lainnya yang sudah menyerupai interogasi polisi yang kujawab dengan jawaban sebenarnya yang membuat ibuku menjadi naik darah karena aku sudah mengkonsumsi barang haram tersebut selama beberapa bulan kemudian dia akhirnya memberikanku bonus tidak dapat berjalan selama berhari – hari karena habis dipukuli dengan batang sapu yang akhirnya jadi rusak karena patah jadi dua.

__ADS_1


Tapi hal tersebut membuat pertemananku dengan Bani yang sekarang juga mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang kontraktor menjadi begitu erat, bahkan kami berdua merasa sudah menjadi keluarga.


Aku baru menyelesaikan meetingku dengan klien ketika, suara yang tidak asing ditelinga menyebut namaku. Saat menoleh, aku menemukan Bani sedang berdiri sambil tersenyum. Aku baru saja memikirkannya dan dia ternyata ada disini.


“hotel yang bagus “ kata Bani ketika aku mendekat dan kami akhirnya bersalaman setelah sekian lama


“wah, makasih sudah kesini” kataku sambil tersenyum, karena perusahaan Bani yang membangun hotelku “berkat kamu juga kok!” lanjutku sambil menepuk pundaknya. “oh ya, kamu tiba disini kapan?” Bani selama ini tinggal di ibukota. Makanya aku agak sedikit terkejut ketika melihatnya ada dikota ini.


“aku tiba kemarin. Akhirnya, ayah membiarkanku pulang untuk mengambil alih perusahaan” kata Bani dengan senyum sumringahnya. Ayah Bani dulu menyuruhnya bekerja diibukota, agar punya pengalaman yang banyak dari pada di kota kami. Dan yah Bani berhasil menjadi menjadi salah satu petinggi diperusahaan tersebut sampai akhirnya ayahnya memintanya kembali untuk memimpin perusahaan mereka.


“akhirnya, selamat yah” kataku yang disambut tawa Bani.


“eh, malam ini aku mau ke club Arteri, gimana kamu ikut kan?” ajak Bani yang tak enak untuk kutolak, kujawab dengan anggukan. Kami berpisah karena Bani ingin berjumpa dengan kawan lama lainnya sedangkan aku kembali keruangan untuk melanjutkan pekerjaan.


###


Aku menyusuri jalan menuju meja Bani yang ada disisi VIP, kelap kelip lampu disko dan music yang hampir memekakan telinga sudah dimainkan. Beberapa pasang mata mulai menatap kepadaku, dengan cuek aku berjalan menuju meja Bani tanpa memedulikan mata yang dimilki perempuan – perempuan yang memaka baju seksi dan mini tersebut. Bani terlihat melambaikan tangannya padaku, aku tersemyum kemudian duduk diantara orang – orang yang diundang oleh Bani yang ternyata beberapa teman sekelas kami waktu SMA dulu.


“yang itu?” tanyaku pada Bani tentang perempuan yang menjadi incarannya malam ini. Karena ia terlihat dengan senang hati mentraktir mereka. Aku menunjuk perempuan yang tadi dibisik oleh sang pramusaji, seorang perempuan berambut pendek.


Bani menggeleng “bukan!! Ada yang lebih cantik lagi. Paling cantik diantara semuanya. Kayaknya dia lagi ketoilet deh” kata Bani yang mencari – cari perempuan yang ia maksud. Aku mengalihkan pandanganku focus kembali pada teman – teman yang ada dimeja, dan kembali minum sambil bercanda, dan terhenti ketika Bani menyiku lenganku dengan pelan.“tuh ceweknya” kata Bani menunjuk kerumunan perempuan tadi lagi berjoget dilantai dansa. Aku mencari perempuan yang dimaksud Bani ditengah keremangan cahaya lampu disko. Pandanganku terus berusaha mencari yang ditunjuk Bani tersebut dan berhenti ketika menangkap sosok perempuan berambut sebahu dengan setelan hitam terlihat begitu menikmati music yang dimainkan DJ. Karena dikerumuni oleh beberapa orang membuatku susah melihat wajahnya, kutegak lagi minumanku dan berhenti saat melihat wajah gadis tersebut.


“what the...!!! F**K!” kataku yang membuat kaget teman semejaku, segera mungkin kuberdiri melewati kerumunan orang – orang yang ada disana berusaha menggapai perempuan itu. Kuturunkan tangannya yang sedang terangkat keudara lalu menahannya, membuat perempuan itu menabrak tubuhku, dengan terkejut ia menatapku.


“Rayhan Adhitama!!!” kata Nayra sambil tertawa, tubuhnya sedikit sempoyongan. Aku menariknya keluar dari kerumunan tersebut, dia terlihat pasrah tanpa komentar apapun. Sementara aku berusaha meredakan amarahku. “kamu ada disini juga? Sama siapa?” Nayra mulai bertanya tapi tak satupun kujawab. Aku berjalan menghampiri meja tempatku duduk tadi. Membuat Bani dan temanku yang lain hanya bisa menganga  melihat kelakuanku ini. Aku meraih kunci mobil dan rokok yang tadinya kutaruh diatas meja.


“Bani sorry, aku balik duluan yah” kataku masih belum melepaskan genggaman tanganku dipergelangan tangan Nayra.  “tas kamu mana?” Nayra menunjuk meja tempat duduknya, meja yang tadi ditraktir minuman oleh Bani. Sial!! aku segera kesana masih belum melepaskannya “kamu bawa mobil?” Nayra menggeleng.Bagus, pikirku.


Kami berdua berada didalam mobil, Nayra berusaha membuka pintu yang sudah kukunci. “mobilnya  keren” kata Nayra yang sudah menyerah dengan pintu. Aku tak menjawabnya, karena aku masih marah. Penampilannya malam ini dengan baju croptop lengan panjang yang memperlihatkan sebagian perutnya, rok highwaist sepaha yang menunjukkan kaki jenjangnya. Wajahnya dihiasi make up yang membuatnya cantik bukan main. Dan dia dalam keadaan mabuk yang bisa membuat laki – laki manapun dapat mengambil kesempatan dengan mudah. Dan itu membuatku cukup marah. Aku tahu aku bukan siapa – siapanya, tapi aku tak bisa membiarkannya menjadi imajinasi laki – laki yang ada disana, bahkan dia menjadi incaran Bani sejak tadi, bayangkan ada berapa laki – laki yang mengincar dia malam ini.


“Nay..” panggilku yang Cuma dijawab dengan gumammnya membuatku seketika menoleh, melihat Nayra yang sedang menahan muntahnya. Segera kubuka pintu mobil dan membiarkannya muntah diparkiran. Kupakaikan ia kemejaku, untung saja aku pakai kaus ketat didalam kemejaku. Kududukan ia kembali dalam mobil dan segera membawanya pulang kerumahku.

__ADS_1


Hanya itu yang terlintas sekarang, rumahku yang paling dekat dari club ini, aku tak mungkin mengantar ia pulang kerumahnya yang berada dipinggiran kota disetir olehku yang juga dibawah pengaruh alcohol. Segera kubawa ia masuk kekamar mandi, setiba kami di rumahku. Terdengar Nayra muntah berkali – kali, segera kuambilkan air hangat beserta baju dan celana pendekku yang kurasa muat untuknya.


“nih.. “ kataku sambil memberikannya segelas air, diikuti dengan baju. Wajahnya terllihat cemberut menatapku. “jangan cemberut begitu, ini lebih baik dari pada kamu muntah atau pingsan di club” kataku berjongkok diambang pintu kamar mandi sambil menatapnya.


“iya makasih” katanya setelah meneguk air “keluar” katanya dengan suara manja membuatku tertawa, dia nampak sangat menggemaskan.


Aku sedang merapikan tempat tidur dikamar tamu ketika Nayra berdiri diambang pintu.


“padahal aku udah booking kamar dihotel kamu” kata Nayra sambil melipat kedua tangannya.


“aku takut kamu gak aman kalau masih disana dan pulang gak dikawal sama laki - laki” kataku masih tetap merapikan tempat tidur.


“tapi kan aku gak sendirian Rey, aku sama teman – temanku” Nayra mencoba membela dirinya


“iya, teman – teman yang semuanya dalam kondisi mabuk” kataku dengan sedikit emosi saat menatapnya. Nayra mendekatiku dan mengambil bantal dari tanganku.


“kamu harus berhenti seperti ini Rey” kata Nayra memilih duduk dikasur “terlalu overprotective denganku, padahal kita bukan siapa – siapa” kata Nayra yang membuatku menjadi sesak bernafas. Dia benar, kami tak punya hubungan apapun tapi kenapa setiap melihatnya rasa ingin melindunginya itu selalu ada, selalu ingin menjadi orang pertama yang selalu siap dan ada untuknya.


Aku mengelus kepalanya, berusaha merasakan rambutnya yang lembut ditelapak tanganku. “aku pernah melukai kamu, aku tahu waktu itu kamu merasa sangat sakit karenaku. Makanya aku tidak ingin ada yang menyakiti kamu lagi”.


Nayra mengentikan elusanku “jangan berlebih. Kalau aku jatuh cinta lagi bagaimana?” Nayra merapikan posisinya bersiap tidur tanpa memperhatikan bahwa kini pandanganku tajam menatapnya


“kamu bisa jatuh cinta kapanpun kamu mau” kalimatku terlontar begitu saja


“dasar egois!!” kata Nayra sambil menarik selimut “ keluar, aku mau tidur” usirnya. Membuatku menjadi tertawa.


“jangan kunci pintu. Aku takut kamu kenapa – kenapa” kataku sambil melangkah keluar kamar.


“pagi Rey..” kata Nayra segera menutup matanya. Aku melihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 3 pagi.


“pagi Nay…” kataku lalu menutup pintu kamar.

__ADS_1


***


__ADS_2