
Wajahku berubah kesal saat melihat kedalam kamar yang telah kosong itu, kata ibu Nayra pamit pulang sekitar setengah jam yang lalu saat aku sedang keluar rumah mengantar tanteku kepasar. Aku sempat merengut kepada ibu kenapa membiarkannya pulang tanpa menungguku, padahal aku sudah berjanji mengantarkannya pulang tadi. Dan ada yang ingin kukatakan kepadanya.
“sayang..” aku terkejut dengan Mila yang tiba – tiba memeluk leherku dari belakang kemudian menghujaniku dengan ciuman membuatku harus menyikutnya karena tak enak dengan keluarga yang melihat kejadian barusan. “kenapa harus malu sih Rey.. sebentar lagi kan kita akan menikah” Ibu yang kali kedua mendengar pernyataan Mila barusan hanya bisa menggeleng, sementara keluarga yang lain mulai berbisik – bisik
“Mila.. aku tahu menurut kamu ini hal yang biasa. Tapi tidak dengan keluargaku yang asalnya dari kampung, hal – hal seperti ini masih dianggap tabu untuk diperlihatkan, terlebih kita belum resmi menjadi suami istri. Aku harap kamu mulai memikirkan hal – hal seperti ini” penjelasanku membuat Mila menunduk sambil melepaskan rangkulan dileherku. Aku mempersilahkannya duduk, mengambilkan segelas teh dan beberapa kue untuknya.
Handphone yang kuletakkan dimeja berdering, Nayra dalam panggilan. Membuat Mila menjadi semakin kesal, wajahnya kini berubah sebal.
“halo Nay” sapaku pelan mengabaikan fakta bahwa Mila sedang terlihat cemburu
“hei.. maaf yah, aku tidak pamit denganmu“ balas Nayra
“it’s okay.. keadaan kamu bagaimana? Kamu sampai dengan selamat kan?” tanyaku membuat jidat Mila berkerut
“aku baik – baik saja, sampai rumah dengan selamat. Terima kasih yang sudah mengijinkan aku istirahat dirumah kamu. salam sama ibu kamu yah”
“iya nanti aku sampaikan sama ibu”
“oh ya rey.. aku lupa kalungnya” tawa halusku keluar saat mendengar ia membahas kalung bulan sabit itu. “habisnya tadi kamu tidak ada jadi aku tak enak mengambilnya tanpa sepengetahuan kamu”
“coba kalau tadi kamu tunggu aku pulang, sekalian antar kamu pulang juga” Nayra terdengar tertawa dengan perkataanku “aku takut kamu lama, jadi aku pulang duluan lagian lebih enak kalau istirahat dirumah sendiri. Ya sudah.. nanti saja kalungnya Rey.. aku istirahat dulu yah”
Aku mengangguk meskipun ia tak melihatnya “yah sudah.. istirahat sana” Nayra tertawa mendengar kata perintah dariku “besok kamu kesini kan? Biar besok aku kasih barangnya” percakapan kami ternyata sudah menghabiskan kesabaran Mila yang sudah mengambil tasnya pergi keluar rumah. Dia pasti sangat cemburu barusan. Ini saat yang tepat untuk mengakhiri hubungan ini.
Setelah mengakhiri telepon dengan Nayra aku berjalan keluar, menuju mobil Mila yang masih terparkir disana, ia terlihat sedang menangis. Aku masuk kedalam mobil yang ternyata tak ia kunci itu, duduk dikursi penumpang kemudian mengusap punggungnya.
“Mila..” aku berusaha menenangkannya yang masih terisak itu.
“apa sih Rey.. apa yang kurang dari aku sampai – sampai kamu tidak bisa melupakan dia?!” ujar Mila diantara isakkannya. “tolong lihat aku Rey.. aku yang sekarang menjadi pacarmu”
“Mila coba tenang dulu, biar aku jelaskan” kataku berusaha membujuknya agar berhenti menangis
“apa yang perlu dijelaskan Rey.. kamu masih punya perasaan sama dia. Rey.. aku yang selama ini ada disisi kamu, apa kamu tidak bisa melihat bahwa aku juga mencintai kamu”
“Mil..” belum sempat aku berbicara Mila memotongku
“Rey.. apa kamu lupa bagaimana dia menghancurkan hatimu di Sydney, apa kamu lupa dia tidak peduli denganmu bahkan tak pernah menanyakan kabarmu selama dia disana?” ah aku sangat ingin menjelaskan kesalah pahaman ini “selama ini kamu sudah berusaha dengan usaha kamu sendiri dan tak ada support darinya, aku yang selama ini mendukung semua yang kamu lakukan Rey.. aku yang pantas ada disisi kamu..”
“Mila dengar dulu”
“tidak.. aku tidak ingin mendengar apapun tentang dia, dasar perempuan busuk!!!” aku tercengang dengan perkataan Mila barusan “dia meninggalkan kamu begitu lama, dan tiba – tiba ia datang ingin mengambil apa yang jadi milik orang lain? Aku tak bisa membiarkannya mengambil kamu dariku Rey, tidak akan, aku tidak rela”
“Mila.. dia bukan seperti itu..” aku mulai emosi karena Mila memotong pembicaraanku
__ADS_1
“kamu masih membela dia? RAYHAN?!! Apa kamu lupa dia sudah meninggalkan kamu disaat kamu jelas – jelas terpuruk, disaat kamu butuh orang yang kamu begitu cintai” apa yang dimaksud Mila? “dimana NAYRA yang begitu KAMU CINTAI ITU.. pada saat kamu sakau? Hah!?! Pada saat kamu berusaha menyembuhkan dirimu, pada saat kamu sedang putus asa menyelesaikan skripsi mu yang berkali – kali direvisi, dia sedang bersenang – senang dengan temannya di Sydney tanpa ada kabar sekalipun. Apa dia perempuan yang ingin kamu pertahankan? Perempuan tidak punya hati” Mila mulai terdengar kelewatan.
“perempuan yang jelas – jelas mendekatimu lagi setelah kamu sudah sukses” ah.. ini mulai mengesalkan “dia datang untuk menikmati jerih payah yang kamu lakukan sendiri, usaha yang kamu bangun dengan penuh perjuangan tanpa bantuan siapapun apalagi dia, perempuan matre!! Kamu tahu Rey.. dia silau dengan kesuksesan kamu sekarang dan berusaha membuat kamu terlena dengan mengungkit kembali hubungan kalian yang sebenarnya toxic. Dia yang meninggalkan kamu Rey.. “
“Mila cukup!!! cukup.. kamu tidak tahu apa – apa tentang masa lalu kami.. cukup!”
“apa yang aku tidak tahu? Kalau Nayra tidak peduli denganmu dan mementingkan dirinya sendiri, atau Nayra yang suka bertengkar denganmu karena dia hanya mempermainkanmu. Reyhan buka mata kamu.. untuk apa kamu mengejar perempuan yang jelas – jelas sudah menolak kembali denganmu” ingin aku mencekik wanita ini agar ia berhenti.
“MILA…”seketika terdiam dengan bentakanku “kamu mau tahu yang sebenarnya? Yang brengsek itu aku.. yang membuat Nayra pergi meninggalkanku itu adalah karena aku… aku yang sudah merusak segalanya dengan kelakuan bejatku” Mila terdiam menunduk “semua ini.. apa yang aku miliki sekarang.. tidak ada artinya kalau bukan dia. Kesuksesan, kekayaan ini semua ada karena aku ingin menjadi lelaki yang pantas baginya. Agar suatu saat ia kembali, bisa menerimaku sebagai lelaki yang memegang janjinya” Mila tetap menunduk tak berani mengangkat wajahnya
“kamu harus bersyukur dia tak ingin kembali denganku, karena dia masih memikirkan perasaanmu.. tapi sudahlah.. aku pikir kamu sudah tahu akibat dari kelakuanmu ini”
“Tidak Rey.. jangan – jangan tinggalkan aku.. aku cinta sama kamu Rey” Mila menarik lengaku yang berusaha melepaskan.
“aku rasa hubungan kita sampai disini Mila” kataku melepaskan tanganya yang berusaha menahanku.
“tidak.. aku tidak akan membiarkan kamu meninggalkanku..” Mila bergerak cepat merogoh sesuatu dari dalam tasnya, yang ternyata sebuah pisau cutter.
“Mila apa – apan kamu!”
“aku lebih baik mati Rey.. dari pada kehilangan kamu” Mila kembali menangis berusaha mengiris pergelangan tangannya. Dengan sigap kuhentikan tangan yang sedang memegang cutter itu, berusaha menjauhkan dari tangan satunya.
“Mila jangan bertindak bodoh” kataku yang sekarang membuat mobil bergoyang karena berusaha merebut cutter. akibat ada jarak diantara kami berdua, Mila berhasil mendorongku dan mulai mengiris pergelangan tangannya berusaha memotong urat nadinya. Aku segera bangkit dan memeluknya, berhasil menghentikannya.
“aku tidak ingin kehilangan kamu rey.. aku cinta sama kamu” Mila masih terus menangis
“ayo.. kita keluar, biar aku obati lukamu” meski irisannya tidak dalam tapi cukup banyak mengeluarkan darah
“apa setelah itu kamu akan memutuskanku?”
“kita bicarakan ini baik – baik Mila”
“aku tidak mau kalau sampai pisah denganmu” Mila diam sebentar kemudian menyeringai “atau aku bunuh saja Nayra, biar tidak ada yang menghalangi kita” aku terkesiap dengan perkataannya barusan.
“Mila.. jangan memikirkan hal yang tidak – tidak”
“kau lihat kan Rey, aku bisa menyakiti diriku sendiri, akan lebih mudah kalau aku menyakiti Nayra”
“Mila.. ayo kita turun obati luka kamu, lalu kita bisa bicara baik – baik”
“TIDAK.. aku tidak akan turun sebelum kamu berjanji tidak akan meninggalkanku”
“Mila.. jangan seperti anak kecil”
__ADS_1
Mila diam sebentar kemudian tertawa “kamu tahu Rey.. aku bisa menyewa beberapa orang untuk menyakiti bahkan menghilangkan nyawa Nayra” aku menggeleng tidak sepakat dengan ide yang baru saja diutarakannya itu. “sangat mudah untuk menghilangakn nayawa orang sekarang ini Rey” Mila masih menyeringai berusaha mencari – cari ide liar lainnya.
“Mila ayo kita turun dulu, lihat darahkamu tidak berhenti”
“aku tidak akan turun sebelum kamu menjawab bahwa kita tidak akan putus” aku mengangguk pertanda setuju dengannya
“kita tidak akan putus.. oke?!” Mila nampak senang dengan jawabanku barusan. Aku segera membawanya kekamar agar tak terlihat oleh ibuku dengan cepat mengobati lukanya.
***
Acara pernikahan pun berlangsung khidmat, aku sengaja diam dan berusaha setenang mungkin menghadapi Mila agar acara tetap berjalan tenang. Aku merasa ada yang aneh karena aku tak melihat Nayra diacara akad nikah maupun resepsi seolah dia tahu tentang kelakuan Mila. Aku terus meyakinkan Mila agar tidak melakukan apapun pada Nayra yang ia sepakati asalkan aku tidak menghubungi Nayra. Dan sekarang aku merasa berada di blank spot.
Keramaian resepsi Rena membuatku merasa pening, dengan masalah baru yang ada dikepala menambah rasa sakit yang kurasa. Aku mengambil air mineral lalu memisahkan diriku dari keramaian membawa diriku masuk kedalam hotel. aku menelpon Reza mengatakan bahwa akan keruanganku sebentar untuk meminum obat sakit kepala.
Aku berjalan melewati lorong saat aku melihatnya keluar dari salah satu kamar, yang ternyata adalah kamar pengantin Rena dimana mereka juga mendekornya. Nayra yang mengenakan gaun hitam bergaya mermaid memperlihatkan siluet tubuh rampingnya. Membuat hatiku menjadi lega, kekhawatiran yang tadinya memuncak perlahan berkurang. Dengan segera langkahku mendekati Nayra yang masih terpaku menatap kearahku.
“are you okay?” kataku segera memegang bahunya mengecek jikalau ada yang luka ditubuhnya.
“ rey.. “ Nayra menghentikanku “I’m fine.. kenapa memangnya?” aku tak bisa menjawabnya tak bisa mengatakan kalau nyawanya sedang terancam. Aku menggeleng
“aku hanya tidak melihat kamu dari kemarin sampai jam ini, aku khawatir kamu kenapa – napa”
“aku istirahat dulu, makanya aku baru bisa datang malam ini” aku mengangguk mengerti. Nayra pamit pergi ketempat acara untuk mengecek keadaan disana sementara aku terus pergi keruanganku mencari obat sakit kepala.
Aku duduk dibalkon sambil memandangi keramaian pesta malam ini sambil memikirkan bagaimana aku bisa lepas dari jeratan Mila tanpa menyakitinya maupun Nayra. Aksi nekatnya cukup membuatku tercengang karena ia dengan nekat memotong pergelangan tangannya, aku takut ia nekat kemudian menyakiti Nayra. Semuanya terasa terlambat sekarang.
Seperti berjalan dimalam gelap gulita tanpa bisa melihat apa yang akan kita temui didepan. Tapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang mengganjal disini. deringan handphone memecah sunyiku. Nama Mila tertera dilayar.
“sayang..kamu dimana?” aku menghembuskan nafas, mengendalikan diriku
“lagi dikantor. Habis minum obat, kepalaku tiba – tiba sakit”
“kamu baik – baik saja kan?! Aku segera kesana”
“Mila.. tidak usah.. a..” telepon terputus, aku hanya bisa mengikuti permainannya sekarang.
Mila masuk tanpa mengetuk pintu memergokiku yang sedang menuang bir kaleng kedalam gelas penuh es batu. Ia berjalan mendekat, kemudian membuat gerakan seperti menurunkan resleting bajunya, membuatku terkejut. Apa yang dia lakukan? Mila membuka gaun merahnya kemudian mendekatiku dengan tatapan menggoda, aku menelan ludahku ketika melihat badannya yang seksi itu hanya mengenakan pakaian dalam, rambutnya yang tadi disanggul kini ia biarkan terurai. Semakin mendekatiku yang sedang duduk disofa, kemudian dengan perlahan ia naik keatas pahaku, membuat tak bisa bergerak.
“mila.. apa yang kamu lakukan?” Mila tertawa kecil kemudian menggodaku
“Rey.. kita sama – sama sudah dewasa, dan aku yakin kamu sudah pernah melakukannya.. mari kita bersenang – senang malam ini” tangan Mila kini melonggarkan dasiku, bibirnya kini mencumbu leherku sementara nafasnya mulai memburu ditelingaku. Selesai dengan dasi tangannya kini memegang daguku, bibirnya ******* bibirku yang tak kuasa untuk menahan lebih lama lagi godaan ini. Kubalas ciumannya membalikkan keadaan, tubuhnya yang kini ada dibawahku seakan meminta perhatian lebih waktu Mila menanggalkan branya. Permainan tanganku didadanya membuat iya menjerit. Sepertinya kami akan menghabiskan malam yang panjang disini.
***
__ADS_1