revertiato

revertiato
#11


__ADS_3

12 Tahun yang lalu


Aku bergegas memacu motorku menuju ke kontrakan dipagi yang terasa dingin ini. Aku segera membangunkan Bani agar ia bisa menghadiri kuliah yang dimulai pukul 9 pagi. Itu salah satu amanat ayah Bani ketika ia tahu aku akan tinggal serumah dengan anaknya. Memastikan Bani selalu hadir, dan memantau nilainya agar ia bisa lulus tepat waktu.


“Bani aku ikut denganmu yah” kataku saat menaruh sepiring nasi kuning yang tadi mampir kubeli di perjalanan.


“loh, memangnya motor kamu kenapa?” Bani pergi kekampus naik mobil sedangkan aku biasa menggunakan motornya. Karena saat pulang kampus ia sering jalan atau membawa pulang perempuan yang berbeda – beda. Makanya aku lebih memilih naik motor.


“motornya aman” kataku segera duduk dan makan bersamanya “pulang kampus ada yang jemput” kataku yang membuatnya menjadi bingung karena selama ini aku tak pernah mau ikut ketika diajak pergi bersama dengan kendaraan lain. Aku selalu memastikan aku bawa kendaraan sendiri.


Hari ini Nayra ingin menjemputku dikampus sekalian jalan – jalan di kota karena dia sudah lama tidak kesana.  Aku sedang berbincang dengan Bani seusai kuliah terakhir sambil menunggu Nayra datang menjemputku.


“Rey..” Nadia berjalan dengan anggun membuat semua lelaki tak berhenti menatapnya. Ia berdiri dihadapanku dengan wajah cemberutnya. Ah.. aku sudah melupakannya karena terlalu bahagia dengan perasaanku saat ini.


“oh ya Nadia, aku mau bicara sesuatu” kataku yang membuatnya menjadi terlihat bersemangat karena berpikir aku mungkin akan meminta maaf. Sedangkan Bani yang duduk disampingku berlagak cuek, seperti sudah tahu dengan apa yang akan segera terjadi.


“aku rasa kita harus mengakhiri hubungan ini” kataku yang seketika membuat senyum Nadia yang tadinya lebar menjadi redup


“maksud kamu?” ia masih belum yakindengan apa yang ia dengar


“aku ingin kita putus” kataku berusaha memperjelas


“kenapa? Kok tiba – tiba sekali?”


“aku rasa.. kita tidak cocok. Itu saja.. ada banyak yang lebih baik dari aku… kamu pasti bisa mendapatkan yang lebih baik” wajah cantik Nadia nampak muram kemudian air mata mulai menetes diwajahnya. Ini adalah bagian yang aku benci.. karena aku selalu membuat mereka menangis. Padahal waktu mereka menyatakan cinta kukatakan bahwa suatu saat aku akan menyakiti hatimu, dan tanpa peduli maksudku mereka selalu berkata tidak apa – apa, mereka siap menerimanya sebagai konsukensi dan sekarang, ketika apa yang pernah kukatakan waktu itu terjadi, seolah aku yang jadi penjahatnya.


“Bani.. rey.. Cuma bercanda kan?” Nadia mulai terisak dalam tangisnya. Bani melihat wajahku yang nampak serius, ia kembali menatap Nadia dan menggelengkan kepalanya membuat tangis Nadia kembali pecah. Bani segera berdiri mengusap – usap pundaknya kemudian membawa Nadia menjauhiku. Ia mengedipkan sebelah matanya saat berbalik melihatku saat mulai menjauh. Dasar.. pasti dia berpikir ini kesempatan bagus untuknya.


Aku kembali duduk menyesap rokokku, kemudian segera bergegas berjalan menuju parkiran saat melihat layar handphone menunjukkan nama Nayra sebagai penelpon. Aku mendekati mobil sedan hitam yang familiar bagiku itu. Nayra nampak terkejut saat mendengar ketukanku dijendelanya, segera membuka kunci pintu membiarkanku masuk.


“hai..” kataku menatapnya yang sibuk memperbaiki rambutnya yang berantakan


“hai kamu" balas Nayra yang kini mulai menatapku


Kucium tangan yang kini berada digenggamanku, ah.. betapa aku merindukannya.


“oh ya.. berapa lama kamu disini?” aku lupa menanyakannya semalam


“sampai pertengahan februari” wah.. aku tak menyangka jika libur kuliah diluar negeri bisa selama ini. Berati aku punya waktu hapir 2 bulan untuk dihabiskan bersama dengannya, termasuk menghabiskan malam tahun baru bersama.


Aku terus menatapnya yang kini sedang menyalakan mesin kendaraan, membuat ia jadi salah tingkah.


“kenapa sih diliatin terus? Aku kan jadi malu” wajah cantik yang terlihat tersipu itu sangat menggemaskan kini.


Aku hanya menggeleng kemudian tertawa “aku merasa ini seperti mimpi” membuatnya jadi tertawa “terlalu indah untuk jadi nyata” kataku yang dibalas belaiannya dipipiku. Membatku begitu bahagia karena ini memang kenyataan dan aku tak bisa menyembunyikan bahagia yang begitu meluap ini.


Tanpa terasa sebulan terlewati. Kami habiskan dengan berjalan – jalan membawa Nayra ketempat – tempat yang ia belum pernah kunjungi, membuatku jadi tahu beberapa fakta tentang Nayra seperti dia yang tidak bisa memasak, matanya ternyata rabun jauh membuatnya terkadang menggunakan kacamata minusnya yang bisa membuatku semakin jadi gagal focus karena bisa membuat dia terlihat imut dan seksi disaat bersamaan, ia tidak takut untuk makan dipinggir jalan, dia bukan tipe yang menuntut, dia yang sangat perhatian bahkan kehal kecil itu sangat suka mengelus pipiku, serta mengacak – acak rambutku yang susah diatur ini. Ah.. dia sangat cinta makanan pedas, tidak suka cemilan manis – manis termasuk cokelat karena giginya sensitive, dia adalah pecinta es teh.

__ADS_1


***


Kami sedang berencana menghabiskan malam tahun baru bersama ketika hujan deras turun dengan tiba – tiba membuat kami jadi tertahan dikontrakanku. karena baju yang ingin kupakai ada dikontrakan makanya aku memutuskan untuk mampir terlebih dahulu sekalian mengenalkannya pada Bani yang ternyata sudah pergi lebih dulu untuk merayakan tahun baru. Jadilah tinggal kami berdua, jadi menyesal tadi perginya dengan motor. Padahal Nayra sudah menawari untuk pakai mobil. Tetap saja aku tidak enak, masa dimalam tahun baru Nayra yang harus menyetir.


Akhirnya kami duduk dan berbincang berbagai macam hal, mulai dari kami kecil, plus minusnya tinggal diluar negeri dan banyak hal lain hingga tanpa terasa waktu semakin malam dan hujan pun seperti tak ada niat untuk berhenti.


Kami berdua terdiam, aku menggenggam tangannya dengan erat  “Nay..” ia balas menatapku “I love you..” Nayra tersenyum sambil mengelus pipiku “kalau nanti kita terpisah jarak, tolong lihat bulan” ia mengerutkan keningnya tak mengerti ”setidaknya kita masih memandangi langit yang sama. Ingat.. kita hanya dipisah jarak, bukan perasaan” Nayra terlihat terharu yang membuatku seketika membelai rambutnya, mengelus pipinya.


Kuraih sebuah kotak dari kantong jaketku lalu menyerahkan kepadanya sebuah kalung yang berliontin bulan sabit yang sebenarnya ingin kuberikan saat kami tiba ditempat yang tuju hanya saja cuaca ternyata tak menghendaki itu berhasil membuat Nayra tersentuh hingga meneteskan air mata. Kupakaikan lalu kupeluk tubuhnya yang dari belakang,mengurungnya dalam pelukanku.


Dan kini yang kuinginkan hanyalah mengentikan waktu, terjebak berdua disini lalu menghabiskan waktu seumur hidup dengannya.


“ah.. ini terlalu indah untuk menjadi nyata” tak sengaja kukatakan membuat Nayra menggigit lenganku. Ia menatapku yang melepaskan pelukanku sambil menggosok tangan kini memunculkan bekas gigitan.


“ini nyata” kata Nayra yang membuatku mengerti kenapa ia melakukan hal tersebut. Seketika membuatku tertawa kemudian menggelitiknya hingga ia terbaring karena tak kuat menahan rasa geli. Aku menghentikan kelitikan tersebut saat melihat betapa indah senyum yang kini terlukis diwajahnya, mendekatkan wajahku ingin merasakan manisnya senyuman yang ada dibibirnya.


Ciuman yang pantas untuk ditunggu, aku sengaja membiarkan waktu berjalan dengan semestinya. Tak ingin memaksanya untuk melakukan apapun karena yakin akan ada momen yang mebawa kami ke masa ini. Dimana bibirku bertemu bibirnya kemudian menciumnya hingga terasa kehabisan nafas, seakan ini adalah kali terakhir. Kami akhirnya menghabiskan malam tahun baru kami dikontrakan karena hujan tak juga reda sementara Bani juga berkata malam ini takkan tidur disini.


“selamat tahun baru Nay..” kataku yang kini menahannya dipelukanku


“selamat tahun baru Rey” balas Nayra diikuti tangannya yang menyambut pelukanku.


***


Langkahku terhenti didepan sebuah kantor 1 satu lantai dengan tulisan Part Two di pintunya yang juga tergantung papan kecil bertulis buka. Resepsionis yang berjumlah dua orang itu menyambutku dengan senyuman.


“bisa bertemu dengan ibu Nayra” tanyaku dengan suara sesopan mungkin karena sejujurnya aku sedang emosi yang penyebabnya adalah si pembohong Nayra yang berkata akan membuka blokiran teleponnya padahal tidak. Kukira nomornya tidak aktif tapi setelah beberapa kali mencoba menelpon aku mulai curiga, dan akhirnya mencoba dengan menggunakan telepon kantor yang ternyata langsung tersambung.


“mohon maaf sebelumnya, apa sudah buat janji?” aku menggeleng yang membuat keduanya kembali berdiskusi sambil bisik – bisik, jangan bilang aku tidak bisa menemuinya. “maaf.. kalau ingin bertemu ibu Nayra harus buat janji dulu sebelumnya”aku menatap resepsionis tersebut dengan terkejut. Sesusah itukah hanya untuk menemui seorang Nayra?


“bilang sama dia, Rayhan Adhitama ada disini” akhirnya kusebutkan juga identitasku yang membuat kedua resepsionis itu terbelalak matanya. Ah.. ada juga gunanya jadi pengusaha yang lumayan terkenal. Mereka segera mengangkat telepon berusaha menghubungi ruangan Nayra. Saat telepon terdengar tersambung aku segera merebutnya dari mereka


“kamu mau temuin aku atau kamu lebih suka aku teriak disini?” tanyaku masih mengejutkan karyawan tersebut. Telepon terdengar terputus ketika pintu ikut berderit tanda terbuka. Alena, partner usaha Nayra memasuki ruangan sambil terkejut memandangku


“rey?.. apa kabar? Tumben main kesini” kata Alena yang dulu teman sekolah Nayra waktu SMP itu menyambutku sambil menyuruh resepsionisnya mengambil minuman. Namun tak jadi kuminum karena Nayra seketika muncul dengan wajah jutek segera  menarik tanganku tanpa berkata apa – apa pada Alena maupun resepsionis yang sekarang jadi bengong melihat kelakuannya.


Ia membawa kedalam ruangannya yang berwarna putih dengan sentuhan minimalis itu. Ia mempersilahkanku duduk masih dengan wajah juteknya


“aku kemari untuk bicara soal bisnis” kataku membuka pembicaraan membuat Nayra yang akan duduk dikursinya itu sejenak berhenti sesaat. “aku butuh bantuan kamu dan timmu”


“bantuan apa?” akhirnya ia buka suara juga


“Rena akan segera menikah” kataku yang membuat wajah Nayra nampak terkejut kemudian segera ia kembali rileks “katanya dia sudah coba untuk membooking vendormu tapi katanya sudah penuh untuk bulan ini” jelasku yang membuatnya segera memeriksa kalender


“dia akan menikah bulan ini?” tanyanya masih melihat tanggal dikalender yang penuh lingkaran dan tulisan itu.


“mungkin bulan depan, bulan ini akan ada lamaran” Nayra menganggukan kepalanya pertanda mengerti.

__ADS_1


“apa kalian sudah memilih hari untuk lamaran?”


“belum.. Rena maunya sesuai dengan tanggal kapan kamu punya jadwal kosong”


“ada customer yang cancel di pertengahan bulan ini. Bagaimana menurutmu”


“baiklah.. aku akan segera memberitahukan Rena. Sekalian kirimkan aku jadwal kosongmu untuk bulan depan. Biar bisa kami diskusikan dihari lamaran” Nayra mengangguk kemudian menandai calendar juga menuliskan sesuatu dibuku agendanya


Aku segera berdiri karena ingin mendekat padanya yanag nampak sedang was – was itu. “mana handphone kamu?” tanyaku yang membuatnya seketika menjadi gugup terlebih ketika melihatku menengadahkan tanganku meminta ia menyarahkan benda sialan itu.


“biar aku.. buka sendiri bokirnya..” jawaban yang terlihat gugup itu malah membuatku bersemangat.


“dasar pembohong.. buka disini sekarang biar aku lihat” kataku yang membuatnya jadi terlihat malu sekarang. Ia segera meraih handphonenya dan membuka blokiran sial itu kemudian memperlihatkannya padaku. “you better answer you’re phone next time” kataku sambil meraih tangannya yang beraroma parfum buah – buahan itu kemudian menciumnya seketika membuatnya terkejut hampir melompat.


“bye Nayra.. “ kataku mengelus pipi yang pemiliknya masih ternganga karena shock itu. Aku berjalan menuju pintu keluar ketika terdengar teriakan dari balik pintu yang berkata “damn you.. rayhan” yang membuatku tersenyum seolah baru saja mendapatkan kemenangan besar.


Aku kembali terhenti keika melewati resepsionis karena Alena dan kedua karyawannya meminta maaf atas perlakuan sebelumnya yang kumaklumi karena itu pasti atas perintah dari Nayra.


Aku segera keluar dari kantor Nayra ketika handphone ku bordering dan nama mama Mila yang tertera disana.


“hallo tante” sapaku sambil berjalan menuju parkiran


“hallo rey.. maaf yah tante mengganggu waktu kamu”


“ah.. tidak apa – apa tante, ada yang bisa saya bantu?”


“ah.. tidak. Tante menelpon Cuma mau minta maaf atas perlakuan kami waktu makan malam waktu itu” bukankah terlalu lama untuk datang meminta maaf. Ah.. biarlah


“tidak apa – apa tante. Saya bisa memaklumi” kataku yang sebenarnya sudah malas membahas hal tersebut


“tante juga minta maaf, atas nama kakak Mila” aku hanya menjawab iya seadanya “yang harus kamu tahu, Mila itu sangat menyayangi kedua kakaknya, makanya ia sangat ingin membantu mereka. Tante harap kamu mengerti rey.. Mila itu sangat mencintai kamu, tante harap kalian berdua selalu bahagia” aku mengaminkan perkataan mama Mila barusan kemudian mengakhiri telepon dengan dalih akan pergi meeting.


Bahagia? Kapan terakhir kali aku merasa begitu bahagia? Tidak ada yang lebih membahagiakan ketika bapak masih hidup dan kami berkumpul bersama. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari meraih mimpi yang selama ini ingin kugapai, berhasil membuktikan kepada orang – orang dikampung bahwa aku bisa menjadi sesuatu, membuktikan kepada Nayra bahwa aku pantas untuk terus berada disisinya dan Nayra.. satu – satunya perempuan yang berhasil membuatku merasa begitu bahagia waktu itu, memeluknya, menciumnya, menghabiskan waktu denganya adalah saat bahagia dalam hidupku. Dia yang selalu melihatku apa adanya, memandangiku seperti Rey remaja yang jatuh cinta setengah mati padanya. Tidak ada yang mengalahkan kebahagiaan ketika dia akhirnya menjadi milikku


***


 Aku sedang memundurkan mobilku ketika merasa ban belakang mobilku sedang kempes. Aku segera mengeceknya dan.. sialan.. akhirnya mengumpat karena benar dugaanku. Aku segera mengambil handphone ingin meminta supir kantorku menjemput disini tapi terhenti ketika melihat Nayra berdiri menatapku dibalik kacamata hitamnya.


“masih disini?” tanya Nayra yang kujawab dengan anggukanku


“kempes”kataku sambil tersenyum kesal


“tidak ada ban serep?” aku sekali lagi menggeleng karena aku pasti meninggalkan barang tersebut dirumah. “mau kuantar tidak?” pertanyaan Nayra langsung kujawab dengan anggukan tanpa basa basi tanpa gengsi.


Nayra melemparkanku helm yang membuatku terkejut. Eh.. ternyata dia bawa motor kekantor. Kuambil kunci motor dari tangannya dan mengambil alih kemudi motor vespa berwarna biru laut itu. Membuat para karyawan Nayra termasuk si bos Alena nampak mengintip dari jendela kantor. Aku mengedipkan mataku ke mereka yang membuat Nayra jadi semakin kesal.


Kami terhenti dilampu merah, ketika pandanganku terlalihkan dengan menu makanan disebuah warung pinggir jalan kemudian teralihkan kearah lain saat menyadari bahwa sebuah mobil yang kukenal parkir disebelahnya. Mobil milik Mila, tapi dia kan tidak suka makan dipinggir jalan. Mungkin kakaknya yang membawa mobilnya pikirku yang segera sirna ketika menyadari bahwa yang sedang makan diwarung itu adalah Mila saat kain penutup warung tersebut tertiup angin, dan dia bersama seorang laki – laki.

__ADS_1


Tangan Nayra nampak menepuk bahuku kemudian menunjuk lampu lalu lintas yang kini telah berwarna hijau. Segera ketika kami kembali berkendara hujan deras mengguyur kami berdua. Ah.. sialan.


***


__ADS_2