revertiato

revertiato
#12


__ADS_3

12 Tahun yang lalu


Kuterpa udara dingin disubuh ini, waktu dijam tanganku sudah menunjuk pukul setengah 5 pagi saat aku memacu motorku dengan kecepatan tinggi menyusul Nayra yang juga sudah duluan  menuju bandara.


Pagi ini Nayra akan kembali ke Sydney dengan transit terlebih dahulu dipulau dewata. Kutaruh motor diparkiran segera menuju bagian keberangkatan terminal bandara. Aku berjalan cepat sambil merlirik kanan kiri mencari kerberadaan Nayra.


“Rey..” suara Nayra menghentikan proses pencarianku. Ia sedang berdiri dengan kedua orang tuanya, kakaknya Hasya juga ponakan perempuannya yang bernama Zara. Aku segera berjalan menuju kearah mereka yang nampak tersenyum menyambutku.


Ayah Nayra menepuk bahuku sambil tertawa “ada yang ditinggal jauh nih” yang kubalas dengan nyengirku. Aku senang dengan perlakuan mereka yang begitu hangat kepadaku. Terutama ayah Nayra yang sangat kukagumi itu. Sosok jenius yang begitu rendah hati kepada siapapun, pola pikir yang mengikuti perkembangan jaman termasuk gaya berpakaiannya yang setia dengan celana jeans. tidak menjaga jarak denganku bahkan menganggapku seperti anak sendiri.


Teringat waktu Nayra mengajakku makan malam dirumah mereka yang rasanya begitu berkesan bagiku, pertama kali selama aku berpacaran, baru kali ini aku berkunjung kerumah gadis yang menjadi pacarku. Dia mengenalkanku dengan keluarganya yang menyambutku dengan hangat ayahnya yang keren, ibunya yang cerewet namun begitu perhatian, kakaknya yang senang bercanda, sikap mereka semua terasa begitu menerima kedatanganku yang membuat jadi tak merasa canggung dimomen pertama itu.  Aku merasa begitu disambut disini.


“papa.. jangan diledek Reynya” balas Nayra yang membelaku sembari merapikan rambutku yang berantakan.


“see you?!” kataku yang masih tak percaya dia akan meninggalkanku hari ini, valentine day.


“hey.. I will miss you” balas Nayra yang masih merapikan rambutku


“I miss you more” balasku yang sebenarnya sudah tidak kuat menahan airmataku


“keep in touch ya !! apapun itu, email, massanger, chat,telepon sebisa mungkin, sesering mungkin”aku menganggukan kepalaku pertanda setuju.


“jangan macam – macam” kataku yang membuat Nayra tertawa juga  membalas menatapku seolah mengatakan hal yang sama. Aku mencium keningnya dengan cepat takut diperhatikan oleh keluarganya. “I love you, more and the most” bisikku ditelinganya. Tanpa diduga Nayra memelukku dengan begitu erat seolah tak rela akan pergi begitu jauh meninggalkanku.


Dan dimulailah hubungan jarak jauh yang penuh dengan cobaan ini. Bagaimana tidak, kami diuji dengan berbagai hal terutama emosi. Aku yang tiba- tiba menjadi lebih posesif karena tahu Nayra punya beberapa teman lelaki, dia yang ternyata begitu cuek bahkan jarang menelpon atau mengirim pesan terlebih dahulu.


Ditambah lagi dengan selisih waktu yang sebenarnya tidak seberapa namun serasa jadi penghambat, dia yang sudah kelelahan dengan kuliah, aku yang mulai tak punya waktu karena tak lama lagi sibuk dengan proposal penelitian maupun skripsi. Semakin parah ketika dia mengambil part time disebuah restaurant yang membuatku mnejadi semakin cemburu karena takut dia akan menemukan yang lain, dia yang menjadi semakin egois karena terasa tak peduli dengan perasaanku.


Kami berdua sama – sama tak berniat mengakhiri hubungan namun terasa lebih banyak bertengkar dari pada baikannya. Dimana masalah kecil menjadi besar hanya karena kami tidak mau mengalah satu sama lain, dimana hal yang tak pernah jadi masalah kini jadi masalah seperti aku yang kadang pergi konsul berboncengan dengan teman perempuan yang satu penguji denganku, atau dia yang pulang kerja ditemani teman prianya, hingga hal ini tak lagi menyenangkan. Frekuensi chat yang biasanya setiap hari jadi 3 kali sehari, bahkan pernah seminggu, frekuensi telepon yang biasanya seminggu sekali kini jadi dua minggu, bahkan sebulan. Terkadang aku lupa kapan kami pernah berbicara.


Tapi kami juga belum menyerah untuk memutuskan hubungan yang pasang surut ini, mungkin karena aku yang tak pernah ingin melepaskannya atau dia tak peduli dengan adanya hubungan ini. Tak ada yang tahu pasti apa yang membuat kami berusaha mati – matian mempertahankan hubungan yang sebenarnya tak bisa diselamatkan ini.


***


Deras hujan yang mengguyur tak menghentikanku melajukan motor menuju rumah, aku merasa tanggung untuk berhenti karena jarak rumahku yang sudah tak jauh lagi. Dan akhirnya kami pun sampai.


Aku segera berlari membuka pintu pagar dan meminta Nayra memasukkan motornya. Kupersilahkan ia masuk segera masuk kekamar mandi mengambilkannya sebuah handuk.


“maaf aku tak berhenti untuk berteduh tadi” kataku sambil menyerahkan handuk pada Nayra yang kelihatan mulai menggigil itu.


“it’s okay.. aku akan melakukan hal yang sama kok” ia memaafkanku sambil mengelap badannya.


“ambil pakaian yang ada dilemari sambil tunggu pakaian kamu kering” Nayra yang sudah mencopot sepatu ketsnya yang ternyata penuh air itu segera masuk kedalam kamarku mengambil pakaian seperti ia sudah terbiasa berada disini. ia segera keluar kemudian masuk kekamar tamu


“aku sekalian mandi yah” katanya yang kujawab dengan anggukan “kamu juga cepat ganti baju, nanti sakit” kata Nayra membuatku tersadar bahwa aku juga basah kuyup. Entah mengapa kehadirannya begitu menghangatkan rumah ini.


Setelah mandi aku membuatkannya teh dan kami duduk menonton tv, kamipun akhirnya jadi berbincang – bincang berbagai macam hal. Aku sangat suka berbicara dengannya yang selalu nyambung dengan topic apapun dan terdengar begitu antusias dengan segala hal yang kami bicarakan. Ia salah satu pendengar terbaik bagiku. Sejak dulu ketika aku bercerita tentang cita – citaku, mimpi – mimpi yang ingin kucapai, dia tidak mengeluh tentang apapun yang menjadi mimpiku,ia adalah orang yang akan selalu mendukung bahkan menambahkan beberapa saran tentang ide – ide yang kubangun.


Karena bosan dengan berita kami memilih menonton film action disaluran tv berbayar, hingga tanpa sadar aku ketiduran.


***


Mataku terbuka saat tubuhku mulai merasakan hawa panas yang membuat keringat mulai membasahiku. Astaga.. aku ketiduran, Nayra kemana? Aku melihat kesamping, diujung sofa yang tadinya diduduki Nayra sudah terasa dingin saat kuraba. Tv masih menyala begitupun lampu rumah. Aku melirik jam dinding yang sudah menunjuk pukul 9 malam. Ah.. aku ketiduran cukup lama. Seingatku tadi tidur jam 6 lewat 5 menit.

__ADS_1


Segera kuambil posisi duduk sambil mengelap wajahku dengan tangan menjatuhkan selimut yang ternyata menutupi sebagian tubuhku pantas saja jadi merasa gerah. mataku tak sengaja melihat secarik kertas yang diselipkan dibawah asbak.


Dear Rayhan,


Aku pulang yah.. Pakaianku sudah kering


Terima kasih untuk tehnya


Aku sudah buat makanan untuk kamu


Jangan lupa dimakan yah..


Ps: aku pinjam sweatshirt sama sandal kamu


Nayra,


Aku masih termangu membaca surat Nayra seperti belum berhasil menghilangkan kantukku.  Pasti dia yang menyelimutiku, kembali berbaring disofa sambil menatap surat itu. Sepertinya aku melewatkan sesuatu pikirku saat kembali menutup mataku. Tunggu.. makanan? Kubuka kembali mata yang sudah memejam itu membaca kembali surat yang ada digenggamanku. Nayra membuatkanku makanan?


Aku segera berdiri kemudian bergegas kedapur hingga membenturkan tulang keringku disudut meja yang membuatku mengaduh karena kesakitan tapi tak menghentikan niat untuk kedapur dengan tanganku yang mengelus kaki yang sakit itu.


Dengan tak sabar kubuka tudung saji yang menutup sepiring ayam goreng beserta sambal, pandanganku teralihkan oleh panci kecil diatas kompor yang ternyata adalah sup ayam yang membuatku begitu terharu. Bahkan Mila saja tak pernah memasak untukku diusia pacaran yang sudah bisa dikatakan lama ini. Ternyata Nayra sudah bisa masak, membuat senyumku seketika mengembang karena bangga kepadanya. Ah.. tak ada yang bisa mengalahkannya.


Kembali keruang tv mengambil handphone yang ternyata tersimpan beberapa panggilan tak terjawab salah satunya dari Mila.


“halo..” suara Nayra diseberang membuatku tersentak


“hei.. terima kasih yah” kataku saat mendengar suaranya


“untuk anterin aku pulang, sudah masakin makanan yang super enak” Nayra terdengar tertawa diseberang


“jadi.. aku dapat hadiah apa?”


“sweatshirtnya sama sendalnya boleh buat kamu” kataku yakin agar ia menyimpan benda yang pernah aku pakai


“awee.. hadiahnya bisa ganti yang lain tidak?


“kenapa emangnya?”


“inikan sweatshirt UNSW yang pernah aku kasih kamu, dan sendalnya kebesaran aku tidak punya pilihan karena sepatuku basah” aku seketika tertawa karena ternyata itu adalah kenang – kenangan darinya yang masih kusimpan sampai sekarang.


“Jadi mau hadiah apa?” kataku mencari penawaran lain yang membuat Nayra jadi makin bersemangat


“lain kali aku tagih yah…” katanya yang langsung kubalas oke. “kamu tidak keracunan kan makan masakanku?” tanpa sadar aku memutar bola mataku karena berpikir ia terlalu merendah untuk makanan seenak ini.


“aku lagi didapur sedang makan, and I’m fine.. gila.. Nayra sudah bisa masak sekarang” Nayra kembali tertawa dan akhirnya kami berbincang sampai selesai makan malam dan mengakhiri pecakapan kami dengan selamat malam. Tuhan.. terima kasih untuk hari ini.


***


Diana memuji habis – habisan makan yang kubagi dengannya. Aku sengaja menyimpan dikulkas sisa makanan yang dimasak Nayra semalam karena ingin memakannya saat dikantor sebab porsinya cukup banyak untuk kuhabiskan sendiri. Mata Diana makin berbinar saat tahu bahwa ini adalah masakan buatan idolanya.


“Oh ya pak, saya mau bilang sesuatu..”kata Diana perlahan yang membuatku penasaran namun segera sirna diikuti bunyi ketukan pintu. Diana segera berdiri membuka pintu menampakkan Mila yang sedang terseyum manis menatapku.


“makan siang yuk!!” ajak Mila yang sebenarnya sangat sulit kuiyakan karena aku baru saja selesai makan

__ADS_1


“aku baru saja makan” kataku menatap kebeberapa Tupperware yang menumpuk diatas meja.


“kamu bawa makanan?” tanya Mila yang berusaha mencari tahu isi Tupperware yang sudah kosong itu.


“Diana yang bawa” jawabku seketika membuat Diana tersentak dan pura – pura merapikan meja bekas kami makan. Mila menatap Diana tajam nampak tak senang dengan apa yang kukatakan barusan.


“iii..iya bu.. orang rumah saya lagi masak banyak hari ini. Tadinya saya mau kasih keteman lain.. tapi karena Pak Rayhan mau... jadi..” Diana terhenti karena takut dengan tatapan tajam Mila


“iya Mila.. aku yang minta karena sudah terlanjur lapar” Mila mengalihkan pandangannya kepadaku dan melembutkan tatapannya kemudian tersenyum mendekatiku.


“aku pinjam toilet yah” kata Mila yang sekejap membelai lenganku. Anggukkanku segera membuatnya melesat dan meninggalkan handphonenya diatas mejaku. Tumben dia tidak membawa handphone, karena tahu benda itu selalu melekat 24 jam padanya.


Diana menyapu dadanya pertanda lega, sedangkan aku haya bisa tertawa tanpa suara melihatnya yang sedikit kesal dengan kebohonganku tadi. Ia segera keluar membawa Tupperware tersebut kepantry meminta OB untuk membersihkannya. Dering handphone Mila mengalihkanku. Terdapat nama B.Alkhaff pada pemanggil. Membuatku berpikir sejenak namun berhneti saat melihat Mila keluar dari toilet.


“bagaimana kalau kita makan malam ditempat biasa?” tanya Mila sambil merapikan rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai. Kubalas dengan anggukan.


“handphone kamu bunyi lagi tuh” kataku yang membauat Mila bergerak seketika meraih handphone yang tergeletak dimeja itu. Nama yang sama tertera dilayar.


“aku makan siang dulu yah” kata Mila yang segera pamit dari ruanganku.


Diana kembali masuk kedalam ruangan dengan Tupperware yang sudah dicuci bersih. Ia langsung memasukkannya kedalam tas.


“ah bapak.. nanti bu Mila marah loh sama saya, dikira saya ada apa – apa sama bapak” kata Diana masih merapikan Tupperware kedalam tas.


“tidaklah.. kamu tenang saja” kataku berusaha meyakinkannya lalu kembali berkutat dengan pekerjaanku


“kenapa sih bapak tidak bilang saja yang sejujurnya?” Aku menaruh tangan dikedua pinggangku menatap Diana sambil menggelengkan kepalaku “kamu mau saya mati?” pertanyaanku membuat Diana jadi nyengir “apa perlu saya bilang kalau saya di masakin sama mantan pacar? Dirumah saya, dan disana Cuma ada kami berdua?” membuat Diana semakin tergelak “lalu.. pakaiannya basah karena kehujanan jadi aku pinjamkan dia pakaianku.. kamu mau saya mulai dari mana?” Diana masih tak berhenti tertawa karena perkataanku yang dianggapnya lucu


“saya senang sekali kalau bapak habis ketemu sama bu Nayra” kata Diana yang mengelap air matanya yang keluar karena tertawa “mood bapak sangat bagus, kelihatan ceria” aku mengangguk pertanda setuju dengan perkataan Diana. Ia memang benar, Nayra adalah mood boosterku. “kenapa tidak balikan sama bu Nayra saja sih pak?” usul Diana memuatku meringis. Itu hal yang mustahil terjadi saat ini.


“apa kamu mau kembali menjalin hubungan dengan orang yang pernah menyakitimu? Merusak kepercayaan yang ia berikan?” aku mengalihkan pandanganku pada monitor didepanku. Apa ini penyebab mengapa Nayra tidak ingin kembali denganku?


“kayaknya saya pikir – pikir lagi deh pak.. jangan sampai saya saya membuat keslahan kedua kalinya” jawaban Diana diikuti anggukan kepalaku pertanda setuju. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan oleh Nayra untuk bisa menjalani hubungan lagi denganku termasuk masa lalu salah satunya.


“saya pernah menyakiti dia.. dan saya yakin itu adalah hal yang selalu membekas untuknya” Diana menaruh cangkir kopi dimejaku, sambil tersenyum seolah ingin menghiburku. "oh ya.. tadi kamu mau bilang soal apa?'' tanyaku pada Diana yang diawal tadi ingin mengatakan sesuatu


"eng.. tidak jadi pak.. tidak penting" jawab Diana yang tersenyum awkward itu.


***


Aku dan Mila tiba di restaurant tempat biasa kami makan malam. Mila yang bergaun merah malam ini nampak cantik sambil menggandeng tanganku masuk menuju kedalam ruangan yang memainkan music jazz itu. Pelayan yang melihat kami masuk segera mempersilahkan kami duduk dimeja yang biasa kami pesan. Tanganku sedang sibuk menyendok appetizer yang  berupa sup itu saat hidungku tak sengaja mencium aroma parfum berbau buah – buahan yang membuatku seketika mencari asal aroma yang sangat aku sukai itu.


Benar saja, Nayra berjalan melewatiku bersama bersama dengan Alena dan dua orang pria yang tidak kukenal. Apa mereka sedang double date? Oh.. no.. aku menatap Mila yang begitu menikmati makanannya itu berusaha mengendalikan pikiran yang tidak kusukai arahnya ini.


“Rey kenapa?” tanya Mila yang melihatku sudah berhenti menyantap makanan. Aku hanya menggeleng berusaha menenangkan diriku.


Malam terasa berjalan lambat saat aku melihat Nayra juga ketiga orang yang bersamanya nampak bercerita dengan seru. Sementara aku tak terlalu focus dengan Mila yang membuatnya bingung. Tiba – tiba vokalis band yang sedang live direstaurant membuat pengumuman.


“saya ingin memanggil seorang teman baru saja kembali dari Sydney untuk menyumbangkan sebuah lagu..” aku berhenti mengiris steak yang ada dihadapanku. Tak berani mengangkat pandanganku. “kepada Nayra.. oh.. Giana Nayra Sudirman..” Nayra berjalan sambil tertawa karena malu nama panjangnya disebut. Mila melihat kearah wanita itu kemudian menatapku dengan tajam. Aku tahu dia pasti teringat perempuan yang pernah memelukku dihari Bapak meninggal dan kini ia sadar bahwa wanita itu adalah mantan pacarku yang dulu tinggal di Sydney.


“umm..” Nayra sedang berusaha menyampaikan sepatah dua kata pada tamu “saya minta maaf karena mengganggu makan malam kalian” katanya yang disambut tepuk tangan dari beberapa tamu yang sepertinya mengenalnya kemudian ia berdiskusi dengan band tentang lagu yang akan ia bawakan. “baiklah.. malam ini saya akan membawakan lagu dari Lana del Rey yang berjudul Summertime Sadness” aku hampir tersedak karena aku tahu lagu tersebut adalah lagu favoritnya yang juga berubah jadi lagu favoriku karena sering dia putar ketika kami sedang bersama. Summertime sadness yang berubah jadi kenyataan saat aku melukai hatinya.


***

__ADS_1


__ADS_2