
Bani menutup mulutnya dengan tangan seolah tak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan, Mila terdiam seperti batu, Diana mengangguk bahwa ini yang aku harus sampaikan sejak tadi, sementara aku menutup kedua mataku dalam hatiku berkata bahwa kenapa harus berakhir seperti ini.
“Mila.. apa benar yang dikatakan Rey?!” Bani mengguncang bahu Mila berusaha memaksanya agar membuka suara “MILA jawab?!” teriakan Bani mengundang kehadiran ibunya yang kini berdiri memantau dari pintu.
Mila menjawab dengan anggukan membuat Bani makin frustasi
“Rey.. aku.. apa ini benar anakku? Mungkin saja..”
aku menggeleng meyakinkan Bani kalau itu bukan anakku “kalian beberapa kali terekam cctv hotelku dan tidak ada laki – laki lain yang pergi dengan terkecuali kamu. bahkan tidak juga aku, karena kami sudah tak lagi bersama – sama akhir ini”
“mila.. aku mohon kamu jelaskan semua ini agar kami tidak lagi menduga – duga keadaan yang sebenarnya” aku berjongkok dihadapan Mila sambil memegang kedua tangannya agar mau berbicara.
Mila terlihat menarik nafas, berusaha menenangkan dirinya. “iya.. aku sengaja mendekati Bani agar tahu tentang masa lalu kamu dengan Nayra, karena aku tahu kamu masih suka dengan Nayra” Bani nampak kesal mendengar pengakuan Mila barusan begitu juga diriku.
“jadi aku mengancam Nayra karena Bani cerita kalau kamu masih punya hutang dengan ayahnya” aku dan Bani tertawa saat mendengar penjelasan terakhir tadi
“Mila.. ada yang lupa aku update, hutang Rayhan sudah lunas” kata Bani masih dengan wajah kesal. “kenapa kamu tidak bilang sama aku kalau kamu sedang hamil anakku?”
“aku takut Rayhan tahu kalau aku selingkuh dengan temannya. Itu sebabnya aku berusaha menjebak Rey di resepsi pernikahan Rena yang ternyata gagal” Bani menggeleng – gelengkan kepalanya tak percaya dengan kelakuan Mila.
“apa kamu pernah memikirkan aku sekali – kali? Bahwa kamu mengakui itu anakku?” Mila menggeleng sementara Bani makin emosi
“Mila kamu tidak punya pilihan lain selain menikahi Bani, dan melahirkan anakmu” aku berusaha menyadarkan Mila yang sudah kehabisan opsi itu.
“Bani.. aku harap kamu bisa membicarakan ini dengan kedua orag tuamu juga orang tua Mila agar kalian bisa memutuskan mana yang terbaik” aku mendekti Bani kemudian menepuk bahunya, Bani lagi – lagi meminta maaf kepadaku.
Tante Vera yang dari tadi mengamati kami mulai mendekat menyuruh Bani dan Mila duduk. Sementara aku dan Diana pamit pulang karena baru teringat ada urusan yang harus aku kerjakan. Aku meminta tante Vera untuk mengahadapi mereka dengan sedikit tenang karena emosi Mila maupun Bani mulai terlihat tidak stabil.
Karena bergegas menuju ketempat rapat, aku menyuruh Diana agar meminta supir hotel untuk menjemputnya sementara aku segera melaju dengan kecepatan tinggi.
Ada begitu banyak hal yang kini memenuhi pikiranku, jawaban yang selama ini aku cari. membuatku sadar bahwa aku tidak menyadari beberapa hal penting, seperti Nayra yang selama ini masih mencintaiku. Bagaimana ia mau merelakan perasaannya hanya agar aku bisa tetap bertahan. Ah.. aku ingin segera bertemu dengannya.
Ada banyak hal yang ingin sampaikan, tentang perasaanku, tentang banyak hal yang menumpuk dipikiranku. Aku menggeledah saku celanaku mengambil handphone dengan cepat segera mencari kontak Nayra yang susah terlihat karena mobilku juga sedang melaju kencang, terkejut dengan suara klakson membuat handphone yang ada ditanganku terlepas jatuh kedalam sela kursiku, karena didepanku tak ada mobil satupun dengan cepat aku meraih handphone tanpa sadar aku sudah ikut menunduk dan melepaskan pandanganku dan BRUUKKK… aku menghantam pembatas jalan.
Semuanya seperti berlangsung dengan cepat, bagaimana mobil yang kukemudikan menghantam dengan keras, kaca mobil berhamburan, untung saja air bag mengembang dengan cepat namun tetap saja terasa sakit sekali saat majahku menghantamnya. Klakson yang ditindih kepalaku berbunyi terus – menerus,dan aku mulai kehilangan kesadaran.
Nayra… aku tak sempat menghubunginya, dan tak akan pernah bisa kusampaikan perasaanku padanya. Ada banyak hal yang kusesali seperti tak mengatakan menyukainya saat pergi melihat sunset, saat berteduh waktu hujan, atau aku rela menempuh jarak yang tidak dekat hanya untuk menemuinya dan tak mengatakan apa – apa padahal disaat yang sama dia merasakan apa yang juga aku rasakan.
Dan sekarang aku tak punya kesempatan lagi untuk mengatakannya. Mimpiku duduk berdua dengannya melihat anak – anak kami bermain, dimana kami akan meributkan beberapa hal karena dia keras kepala tapi akan tetap saling mencintai dan mendukung satu sama lain. Kami membangun usaha – usaha yang dulu pernah kami andai – andaikan saat berpacaran, bersamanya hingga tua dan maut memisahkan.
__ADS_1
Ah.. tuhan… aku berharap masih punya kesempatan untuk memperbaikinya. Nayra… aku begitu mencintaimu, tak peduli berapa lama waktu telah berlalu perasaanku selalu sama.
###
“Rey.. Reyhan..” suara Nayra terdengar memanggilku. aku ingin membuka mata yang terasa begitu berat ini, menyahuti panggilannya. Ah.. ada apa dengan diriku. Hal yang terakhir kuingat adalah ketika aku menghantam pembatas jalan dan semuanya seketika menjadi gelap.
Apa aku sudah mati sekarang? Aku berusaha bangun tapi tak bisa, aku merasa badanku kaku dan tak bisa menggerakan apapun.
“rey.. bangun…” ah.. sepertinya aku koma saat bunyi – bunyi yang lain mulai terdengar dengan jelas ditelingaku, bunyi monitor jantung, dan bunyi lainnya yang ada diruangan ini. Apa karena efek obat bius hingga aku tak merasakan apapun?
“apa kamu ingat, waktu kamu menemuiku terus bilang kalau kamu tidak pacaran dengan Lira, aku begitu senang. Momen itu membuatku sadar bahwa aku ternyata punya perasaan padamu” eh.. tunggu sebentar?! Aku tahu kejadian itu sudah lama tapi ah.. kenapa baru tahu sekarang.
“dan waktu saat kamu datang ke Sydney, ah.. kau tak tahu betapa senangnya aku.. aku ingin memperbaiki hubungan kita karena aku yakin kedatanganmu khusus untuk menemuiku ternyata aku hanya kegeeran” dasar bodoh.. andai aku tahu waktu itu..
“aku tahu kalau ini juga salah aku, karena tak pernah mau mengatakan atau memulai segala sesuatu mengenai hubungan ini lebih dulu karena berpikir bahwa kamu selalu akan cinta sama aku tanpa berpikir kalau kamu bisa jatuh cinta pada yang lain, seperti Mila”
“setelah melihat bagaimana kamu kini, berubah menjadi Reyhan versi terbaik yang selalu aku idamkan dimasa lalu membuatku merasa jadi sangat egois karena menginginkan kamu yang bukan lagi milikku, aku menyesal kenapa tak kukatakan aku ingin bersama lagi waktu terkhir kali kita bertemu di Sydney. Bodoh yah..”
“dan sekarang saat kamu sudah bahagia dengan Mila, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua” ah… aku sangat ingin bangun dan menjelaskan apa yang terjadi hubunganku dengan Mila “aku tahu sudah terlambat, aku hanya ingin kamu tahu kalau aku selalu mencintai kamu, melihat kamu bahagia itu sudah lebih dari cukup Rey.. meski bukan denganku” berusaha membangungankan tubuhku serasa melelahkan tanpa sadar aku kembali tertidur.
Mataku kini tak kuasa menahan silau cahaya yang ada disekeliling. Pandanganku menelusuri seluruh ruangan, kepalaku terasa begitu kaku untuk digerakkan, aku berusaha mengangkat tanganku yang terasa sangat sakit, tenggorokanku pun sangat sakit saat aku mencoba untuk berbicara,aku mencoba menelan ludah yang rasanya sudah ikut mengering dimulutku.
“Bang Rey…! Jangan bergerak dulu” Reza yang kini sadar kalau aku sudah siuman, ia menahan aku agar tak bergerak dengan sembrono dan segera mengambil air saat melihat aku yang terlihat kesusahan untuk berbicara. “sebentar Bang, panggil dokter dulu yah..” lanjut Reza yang selesai memberikanku minum
“ibu lagi makan malam dikantin dengan Rena dan Dimas” kata Reza yang menawariku air lagi
“Nayra?”
“kak Nay…” omongan Reza dipotong dengan teriakan Ibu saat tiba diruangan. Segera ibu memeluk tubuhku dengan berlinang air mata, aku tak tega kalau sudah begini, Rena yang baru tiba diruangan ikut menangis.
“ibu… takut kalau kamu juga ikut pergi ninggalin ibu” kata Ibu menangis didadaku yang membuatku sangat ingin memeluknya tapi aku tak bisa menggerakan tanganku
“Rey.. tidak kemana – mana ibu, Rey baik – baik saja” kataku berusaha meredakan tangisannya. Reza segera memegang bahu ibu dan berbisik kasihan diriku yang mulai terlihat bernafas dengan sesak.
Akhirnya ibu segera bangkit, Reza sudah menyiapkan bangku agar ibu duduk disamping pembaringanku. Mereka mulai menanyaiku mengenai kronologis kejadian yang sebenarnya. Aku mulai menjelaskan dengan pelan karena merasa mulai kelelahan.
Penjelasan yang belum sepenuhnya itu harus terhenti karena interupsi dokter yang menanganiku sudah masuk keruangan untuk memeriksa.
“apa yang sekarang anda rasakan?”
__ADS_1
“saya merasa mudah lelah dok” kataku berusah mengatur nafas
“itu wajar, karena anda sudah tidur selama 3 hari” aku mengerutkan keningku seolah tak percaya
“apa anda bisa mengingat semuanya? Nama anda? Umur?” aku menjawab iya membut dokter mengangguk mengerti “anggota kelurga anda? Apakah anda mengingatnya?” aku menjawab iya sekali lagi “bagaimana dengan hari anda mengalami kecelakaan? Apa anda mengingatnya?” aku berhenti sejenak dan berusaha mengingat kejadian dihari naas itu kemudian menjawab iya. “bagus… berarti tidak ada masalah dengan ingatan anda”
“bagaimana dengan tangan dan kaki saya dok?” sebenarnya hal yang lebih membuat penasaran adalah kaki dan tangan kiri yang sedang diperban ini.
“untuk tangan anda mengalami patah tulang ringan jadi masa penyembuhannya tidak begitu lama sedangkan untuk kaki anda, kami memasang pen untuk menyangga tulang. Itu akan memakan waktu beberapa bulan untuk sembuh. Kami harap anda bersabar” aku hanya bisa menghela nafas merasa lega karena tidak kehilangan kaki dan masih punya harapan untuk sembuh
“untuk sekarang ini kami harap anda banyak beristirahat dan tidak banyak bergerak” kata dokter sambil menuliskan resep obat kemudian memberikannya kepada Reza.
“semuanya baik – baik saja nak” kata Ibu membelai rambutku “kamu pasti sembuh, bisa beraktvitas lagi seperti dulu” aku menatap ibu tersenyum. Yah.. aku hanya perlu bersabar kan..
“oh ya… aku dan ibu pulang kerumah dulu yah, ibu belum ganti baju dari semalam” kata Rena berusaha mengajak ibu agar bisa merasa santai sedikit. Ibu sempat menolak namun aku berusaha membujuknya agar kerumahku saja yang lebih dekat dari rumah sakit. Ibu pun akhirnya menyerah dan mengikuti Rena yang sedang merapikan beberapa barang yang berserakan kemudian membawa ibu pulang.
Aku menatap Reza yang kini juga menatapku seakan tahu maksudku
“Nayra?” tanyaku mengulang pertanyaan yang sebelumnya sempat disela oleh kedatangan ibu. Reza menggaruk seperti tidak bisa menjawab tapi kemudian ia berdiri mengambil duduk dikursi yang tadi diduduki ibu.
“kak Nayra.. kesini dihari kedua kamu dirawat..” ada jeda yang membuatku merasa kalau ini bukan sesuatu yang bagus “menjenguk sekalian pamit” nah.. benar kan… kemana lagi dia pergi meninggalkanku
“pamit? Kemana?”
“dia akan berangkat ke Australia” bagaimana ia bisa berpikir kembali kenegara itu
“kenapa? Ada masalah disana?” Reza menggeleng mendengar pertanyaanku barusan
“temannya sedang memulai bisnis dan meminta Kak Nayra datang untuk membantu” aku berusaha tenang dan berpikir positif bahwa kepergiannya bukan untuk menghindari apalagi berusaha melupakanku
“apa dia mengatakan rencananya pulang?” baru juga pergi Rey.. tapi mungkin saja Nayra mengatakan perkiraan berapa lama ia akan berada disana.
“hmm..” Reza terdiam sejenak seolah ragu mengatakannya “kata kak Nayra.. mungkin.. ia akan tinggal kurang lebih setahun” aku terperanjat menatap Reza seolah tak percaya dengan apa yang barusan dikatakannya.
“handphoneku mana?” tanyaku yang membuat Reza menggeleng
“rusak ditempat kejadian, layarnya pecah” aku berusaha bangun dari tidurku dan
“arghhhhhh” aku berteriak kesakitan karena nyeri dikakiku terasa sangat menyakitkan
__ADS_1
“bang Rey.. !!! Reza segera berdiri menahanku “ada yang lebih penting dari Nayra sekarang Bang… kesembuhan abang”
Aku terdiam dan mengutuk keadaanku sekarang sebagai penghalang diantara kami berdua. Tuhan.. aku takut, bila disana ia akan bertemu seseorang yang akan membuatnya jatuh cinta dan terlepas lagi dariku. Apa ini pertanda, bahwa sejauh apapun kami berusaha bersama, takdir akan selalu memisahkan kami dengan berbagai skenarionya?