revertiato

revertiato
#19


__ADS_3

Bibirku masih mencumbu Mila sementara tanganku sudah mulai jalan kebawah dengan meraba daerah sensitive miliknya dari luar pakaian dalam. Mila yang sudah mulai tak karuan itu menggigit tanganku lalu berkata.


“ah ini terlalu indah untuk jadi nyata” membuatku seketika berhenti mentapanya dengan nafas terengah – engah. Nayra tiba – tiba muncul dikepalaku dengan momen ketika kami melewati malam tahun baru bersama, dimana aku mengatakan hal yang barusan dikatakan Mila.


Aku berdiri meremas rambut dengan kedua tanganku, menyadari bahwa aku hampir jatuh makin dalam dipermainannya. Mila berusaha menarik tanganku untuk kembali kesofa namun aku melepaskan tangannya berusaha menjauh. Dan terselamatkan oleh deringan handphoneku. Ah.. terima kasih ibu.. aku mengajak Mila untuk segera turun karena sebagian tamu yang telah berpamitan pulang menanyaiku karena aku juga bagian dari tuan rumah, terlebih acara ini diadakan dihotel milikku.


Mila yang terlihat kesal itu berkata ingin pergi keruangannya sebentar untuk merapikan make up dan rambutnya yang terlihat berantakan, sementara aku segera meninggalkannya turun ke area pool kembali dicara resepsi.


Langkahku yang cepat hingga tak sengaja menubruk bahu seseorang.


“ah.. maaf..” kataku memegang bahu orang yang baru saja kutabrak, Bani yang juga menjadi tamu undangan malam ini.


“hai Rey..” sapa bani ikut memegang bahuku “kenapa buru – buru sih Rey, tidak baik” aku menggeleng berkata bahwa ibu sedang menungguku. Kamipun berpisah karena Bani berkata ia ingin ketoilet.


Aku segera berdiri menggantikan Reza menyalami tamu yang berpamitan diatas panggung, pandanganku beralih kepada Nayra yang sedang mengobrol bersama Alena dan Alric yang juga hadir ternyata.


“terima kasih ibu” kataku berbisik ditelinganya membuat ibu menatapku dengan keheranan. Aku mengembangkan senyumku dan memeluknya. Dalam hatiku juga berterima kasih pada nayra yang membuatku sadar, tidak mengikuti hawa nafsuku.


***


Dengan alasan tak merasa nyaman tidur dihotel aku membawa ibu pulang kerumahku untuk beristirahat disana, dan kini kami sedang duduk sarapan pagi di teras belakang seperti yang biasa aku lakukan. Duduk menikmati angin sejuk dengan pemandangan kolam berenang beserta vertical garden dirumahku.


“bagaimana menurut ibu.. kalau seandainya aku memutuskan hubungan dengan Mila?” kataku membuka sesi curhatku dengan ibu dipagi ini.


“yah.. ibu tidak bisa bilang banyak, itu semua tergantung dari kamu. ibu Cuma ingin anak – anak ibu bahagia dengan pilihan mereka” kata ibu menyerup teh dari cangkirnya


“bagaimana jika ibu jadi omongan tetangga, atau dimusuhi keluarga Mila karena aku memutuskan hubungan kami?”


“mau kamu menikah atau tidak dengan Mila keluarga kita akan tetap jadi omongan tetangga. Selama ini ibu berhasil menanganinya jadi ibu tidak ambil pusing dengan omongan mereka. Karena ibu paling tahu siapa anak ibu, dan ibu percaya mereka anak yang baik. Masalah dimusuhi atau tidak itu semua keputusan mereka. Ibu percaya pasti ada sesuatu yang positif dari setiap pilihan yang kita buat” aku mengangguk setuju dengan jawaban ibu yang seperti membuka sudut pandang baru untukku.


“yakin.. ibu sudah siap dengan hujatan tetangga?” tanyaku berusaha meyakinkan ibu sambil tersenyum seolah ini becanda


“ibu selalu siap pasang badan untuk anak ibu. Percayalah.. ibu sudah melewati yang lebih parah dari sekedar putus hubungan” kata ibu ikut tertawa  yang mengingatkanku dengan kasus narkoba yang menimpaku dulu. “meskipun bapak sudah tidak ada, ibu yakin bisa mengatasinya karena ibu punya kamu, Rena,dan Reza yang menjadi kekuatan yang  selalu mendukung ibu. Apalagi sekarang ibu sudah menambah 1 anak laki – laki” benar, ibu selalu mencintai anaknya tanpa syarat, takkan membiarkan anaknya jatuh.

__ADS_1


Tangan Ibu kini membelai rambutku “kamu patut bahagia Rey.. Rena dan Reza sudah dewasa dan mereka bisa bertanggung jawab atas dirinya. Terima kasih sudah melakukan hal yang membuat ibu dan bapak begitu bangga luar bisa sama kamu.. sudah saatnya kamu mencari kebahagiaanmu sendiri nak..” aku berdiri seketika memeluk ibu, ah.. kemana saja aku selama ini, tak mau menceritakan masalahku dengan ibu karena berusaha menjadi kakak yang bertanggung jawab untuk adik – adiknya. dan kini aku merasa menjadi orang paling bodoh karena tak pernah membahas masalah ini lebih dalam dengan ibu.


“terima kasih ibu.. terima kasih untuk semuanya” kataku dalam pelukan.


***


Sesampainya dikantor aku langsung memberikan notes pada Diana bertuliskan hubungi Nayra dan tanyakan kabarnya. Diana yang mengerti segera mengangguk menjalankan tugasnya sementara aku masuk kedalam kantor bersiap memulai pekerjaan. Entah mengapa aku merasa begitu bersemangat, mungkin karena pembicaraanku dengan ibu pagi ini.


Ketukan pintu membuatku segera siaga. Diana muncul diambang pintu sambil tersenyum aku melambaikan tanganku mengisyaratkan ia segera masuk dan mengunci pintu.aku bergerak menyisir berbagai perlatan, perhiasan dan perabotan didalam kantorku mencari kamera, perekam suara atau alat – alat lainnya yang bisa membuat Mila mengetahui apa yang akan aku bicarakan dengan Diana, tapi tak menemukan apapun.


“apa kata Nayra?” aku tak sabar mendengar jawaban yang disampaikannya lewat Diana


“ibu Nayra baik – baik saja, sekarang sedang berada ditempat kerja” aku mengangguk sambil berkata bagus, memuji pekerjaan Diana ini.


“Diana.. saya akan menceritakan sebuah rahasia kepada kamu.. apa kamu bisa saya percaya?” Diana segera mengangguk menyepakati permintaanku.


“sebelumnya saya ingin menanyakan beberapa hal kepada kamu” Diana lagi – lagi menjawab dengan anggukan pertanda ya “apa .. akhir – akhir ini kamu dekat dengan Mila?" Aku memulai sesiku


Diana menggeleng “bapak kan tahu sendiri kalau ibu Mila tidak suka dengan saya sejak awal bekerja disini. apalagi, pas makan bekal yang bapak bilang dari saya” aku hanya bisa tersenyum mendengar jawaban Diana barusan kemudian mengangguk paham dengan situasi kami.


Diana terlihat punya beberapa pertanyaan dikertasnya bakat mendengarkannya kini menjadi sangat terasah karena kerap mengikutiku meeting dan menjadi notulen.


“sudah siap?” tanyaku pada Diana yang kembali mengangguk setelah aku selesai bercerita


“pertanyaan pertama, apa bapak pernah menceritakan kejadian di Sydney dengan ibu Mila?” aku menjawab dengan anggukan pertanda Ya.. itulah awal mula aku menjadi dekat dengannya


“pertanyaan kedua, dari mana ibu Mila tahu kalau bapak pernah mengkonsumsi narkoba?”


“aku juga berpikir sama, dari mana dia tahu aku pernah menggunakan narkoba karena kejadian itu sudah begitu lama. Apa pertanyaan kamu selanjutnya?”


“tentang hubungan bapak dan Ibu Nayra yang selalu bertengkar, apa bapak menceritakannya juga?”


Aku terdiam sebentar berusaha mencari jawaban diingatanku “aku tidak pernah menceritakan detail apapun tentang hubunganku dengan Nayra terkecuali kejadian di Sydney” sepertinya aku menemukan sesuatu.. “oh **.. tidak ada yang tahu tentang kejadian narkoba selain kami yang mengkonsumsi, keluarga kami dan pak RT. Dan hal ini bahkan tidak sampai bocor kekampus. Begitu pun dengan hubunganku sama Nayra yang sering bertengkar. Hanya ada satu orang yang mengetahuinya yaitu Bani…” Diana seketika tercengang sama denganku yang tidak menduga bahwa Bani adalah kunci dari semua kejanggalan ini.

__ADS_1


Ayahnya membayar pak RT agar tidak membocorkan rahasia begitu pula dengan perempuan – perempuan yang ikut menggunakan narkoba bersama kami. Hanya Bani yang tahu persis aku sempat sakau karena aku hanya bercerita kepadanya setelah kami bertemu sehabis masa rehabnya, dan ia tahu aku selalu bertengkar dengan Nayra karena ia selalu berada disana dikontrakan kami. Ah.. sialan.


“Mila juga mengatakan bahwa Nayra jelas – jelas tidak mau kembali denganku.seolah dia tahu kejadiannya sementara saat aku berbicara dengan Nayra tidak ada siapa – siapa disana. Mungkinkah dia menyadapku?” Diana menggeleng masih berusaha mencari jawabannya.


“saya rasa tidak..” jawab Diana yakin “kalau dia menyadap bapak, maka dia sudah ada disini beberapa saat setelah saya mulai mengajukan pertanyaan” aku mengangguk setuju dengan jawaban Diana “ bisa jadi.. ibu Mila juga mengancamnya” jawaban Diana barusan ada benarnya. “saya rasa dia mengancam ibu Nayra sama seperti yang dia lakukan ke Bapak”


“apa menurut kamu dia mengancam akan menyakitinya? Atau keluarganya?” lagi – lagi Diana menggeleng kurang yakin dengan jawabanku.


“saya rasa dia menggunakan bapak sebagai targetnya” aku menatap Diana bingung, bagaimana Mila bisa menjadikan aku target?


“iya pak.. karena bapak adalah orang terdekat yang ia bisa jangkau dengan mudah.” Jelas Diana berusaha meyakinkanku


“tapi Nayra kan tidak ingin kembali denganku..” Diana mendengus kesal dengan sanggahanku barusan


“bapak sendirikan tadi bilang, kalau ibu Nayra mengaku masih mencintai bapak.. menurut saya ibu Nayra menolak bapak karena ia ingin melindungi bapak dari rencana jahat ibu Mila”


“jadi menurut kamu?” entah mengapa aku merasa begitu senang sekarang


“iya.. ibu Nayra masih mencintai bapak dan ingin kembali hanya saja dia tidak ingin ibu Mila menyakiti bapak”


Kuteguk segelas air dan duduk disofa berusaha mencermati apa yang baru saja kami lakukan, mencari jawaban atas semua kejanggalan yang ada.


“kita harus memeriksa cctv” kataku berdiri mengajak Diana bergegas menuju ruang cctv hotel yang berada tidak jauh dari kantorku.


Segera kuperintahkan security yang bertugas untuk mengecek cctv semalam saat aku menabrak Bani dan menyuruh mereka mencari jejak Bani setelah berpisah denganku. Dan terlihat hasil yang cukup mencengangkan dimana Bani terlihat menaiki lift menuju kelantai atas lalu masuk kebagian kantor berhenti didepan kantor Mila. Ia terlihat mengetuk pintu ruangan yang dibukakan oleh Mila berpindah pada adegan mereka berciuman didepan pintu ruangan Mila, kemudian masuk kedalam.


Aku dan Diana saling bertatapan tak percaya dengan apa yang barusan kami tonton sebuah puzzle yang selama ini aku cari. sialan.. semalam aku hampir tergoda oleh trik licik Mila.


Keluar dari ruangan cctv dengan perasaan yang menggebu – gebu aku segera menuju keruangan Mila yang tidak dikunci itu dan masuk tanpa mengetuk. Mila tidak ada disana, aku berusaha mencari namun berhenti ketika mendengar seseorang muntah ditoilet yang berada tak jauh dari ruangannya. Aku dan Diana segera mengecek siapa yang muntah, dan ternyata benar dugaan kami, Mila.


“kamu kenapa Mil?” tanyaku sedikit khawatir karena kini ia terlihat sangat pucat. Diana yang juga ada disana segera maju mengusap – usap punggungnya.


Mila menggeleng “entahlah Rey.. mungkin aku masuk angin.. aku merasa sangat tidak enak”

__ADS_1


“apa kamu punya obat? Apa perlu kuambilkan?” Mila mengangguk dan berkata bahwa ada obat dikotak P3K yang ada dikantornya. Aku segera kembali kekantornya dan mengacak – acak kotak P3K namun tak menemukan obat selain kain kasa dan plester luka. Terdengar ada langkah menuju kedalam kantor, Diana terdengar berkata hati – hati kepada Mila. Segera kubuka laci meja kerjanya juga mengacak – acak isinya, dan berhenti ketika aku menemukan benda itu.. bukti kebohongan Mila padaku.


***


__ADS_2