
11 Tahun yang lalu
PLAKKK bunyi tamparan terdengar mengaum diudara, Aku dan Bani ditampar habis – habisan oleh ayah Bani karena kejadian barusan. Ternyata Pak RT melaporkan kami ke Ayah Bani, sepulang dari klinik kami sudah ditunggui oleh Ayah Bani dan Ayahku yang tak tersenyum melihat kedatangan kami. Aku mendapat 15 jahitan ditelapak kakiku yang sekarang dipenuhi lilitan perban itu
“Papa kecewa sama kalian!!” suara Ayah Bani mulai memecah jeda sunyi setelah tamparan tadi. Waktu menunjukkan pukul 11 malam saat kami tengah menjalani eksekusi ini. “Rey.. kamu sudah saya anggap seperti anak sendiri. Harusnya kamu bisa menuntun Bani agar tidak salah jalur seperti dulu” aku menunduk tak keluar sepatah katapun karena malu pada Bapak yang menatapku dingin. “dan kamu.. “ayahnya nampak menahan emosi atas kelakuan anak semata wayangnya ini. “apa yang papa sama mama lakukan untuk kamu selama ini kurang? Semua yang kamu minta kami berusaha mengabulkannya asalkan kamu tidak lagi melakukan perbuatan terlarang itu" Bani pun hanya bisa diam mendengar ayahnya.
“mulai sekarang tidak ada lagi tinggal dikontrakan! Rey.. Bapak kamu disini untuk menjemput kamu, dan Bani semua fasilitas papa akan cabut termasuk kartu atm kamu” Bani ternganga mendengar keputusan ayahnya. “Pak Haris, ada yang mau di sampaikan ke mereka?” Ayah Bani permisi untuk keluar menyalakan rokoknya.
“silahkan kalian duduk dulu” kata Bapak yang sepertinya kasihan melihatku dan Bani berdiri sejak tadi. Aku segera duduk karena kakiku terasa sangat perih untuk dipaksa berdiri lebih lama diikuti Bani yang juga duduk bersandar “sudah berapa lama kalian mengkonsumsi barang ini?” kami berdua menunduk tak berani menjawab “Rey??” Bapak menanyaiku dengan wajah yang menyimpan kemarahan.
“baru hari ini pak” jawabku dengan pelan “Bani?” ayahku berusaha menatap Bani yang takut menatap wajah Bapakku sebab Bani sangat dekat dengan ayahku yang katanya ayah idamannya itu. Karena jarang marah – marah.
“sudah 3 kali” kata Bani yang membuat Bapak menggeleng tak percaya dengan kelakuan lelaki yang ia sudah anggap seperti anak sendiri itu.
“untung saja pak RT langsung menghubungi Bapak sama Ayah kamu tadi. Coba kalau dia langsung menelpon polisi, Bapak tidak tahu apa yang akan terjadi pada kalian berdua” aku juga sedikit bersyukur bahwa hanya Bapak dan Ayah Bani yang menunggui tadi. “saya kecewa dengan kelakuan kalian berdua ini, Bapak seperti kehilangan kepercayaan kepada kalian. Sampai kapan kalian ingin mengecewakan orang tua kalian?” terdengar Bani menyebut maaf dimulutnya. “jangan minta maaf sama saya, minta maaf sama orang tua kamu. kasihan Ayah kamu rela menuruti keinginanmu, dan kamu balas seperti ini” Bapak mengalihkan pandangannya kepadaku “Bapak tidak minta banyak. Tolong jangan kecewakan ibumu juga kedua adikmu” aku menganggukan kepalaku dan segera meminta maaf kepadanya.
***
Aku mengurung diriku dikamar mulai merasa gelisah dan tak tenang. Bapak mengetuk pintu kamar dan memberiku segelas air kelapa berharap bisa meredam gejala sakau yang akan menyerangku ini. Aku akhirnya tertidur ketika menjelang pagi dengan computer memainkan lagu – lagu milik Lana Del Rey penyanyi kesukaan Nayra.
Untungnya kejadianku dan Bani tak menyebar kekampus atau sudah diatasi oleh ayah Bani sehingga kami tak menerima pemberitahuan skors ataupu di DO. Aku melewati seminggu penuh dirumah karena jahitan dikakiku yang belum kering juga sengaja disibukkan kedua orang tuaku dengan pekerjaan rumah, seperti membantu Ibu berbenah, menyetrika pakaian, semua hal yang dapat membuatku kelelahan agar aku bisa tidur dimalam hari, juga mengatur pola makanku agar menjadi lebih teratur dan nampaknya usaha ini berhasil menghilangkan efek sakau yang sering timbul kapan saja.
aku menatap handphone melihat nomor Nayra tapi tak berani menghubunginya. Aku takut ia akan marah dan tak ingin berbicara denganku lagi. Berusaha tenang aku menyalakan computer, ingin melihat skripsiku. Aku menunggu beranda email terbuka, saat Bapak mengetuk pintu.
“dari Nayra” kata Bapak singkat menaruh kardus yang dipenuhi buku itu kelantai. Aku menatap kardus itu nampak tak percaya kemudian mencoba melihat sampul buku yang ternyata adalah buku yang aku butuhkan untuk skripsiku. Pandanganku beralih kelayar yang juga menampilkan email dari Nayra, email yang berisi beberapa literature terjemahan dari penulis asing dan sebuah email yang ia tulis untukku.
Dear Rayhan
Aku tak ingin percaya dengan apa yang aku lihat tapi itu faktanya
Bagaimana kamu dengan hebatnya menghancurkan perasaanku
Merusak kepercayaan yang selama ini aku tanam untukmu
Tapi anehnya aku tak bisa membencimu semudah itu
Karena aku tahu Rayhan yang selama ini aku cintai bukan Rey yang itu
Melainkan Rey yang mencintai dirinya sendiri
Rey yang percaya mimpinya akan terwujud
Rey yang tak mengorbankan masa depannya
Rey yang begitu mencintai keluarga dan sebaliknya
Rey yang menghormati kedua orang tuanya
hingga ia ingin mengangkat derajat mereka dengan cita – cita besar yang ia miliki
Rey yang menyayangi kedua adiknya hingga ia ingin mereka bisa bangga
memiliki Kakak yang berusaha membantu mereka menggapai cita – citanya
Rey yang aku tahu sangat mencintaiku hingga ia ingin membahagiakanku,
Membagi dan membangun mimpi masa depan denganku nantinya.
Kamu masih punya kesempatan besar untuk memujudkan semua mimpi dan cita – cita
Yang pernah kamu ceritakan kepadaku. Dan aku yakin kamu bisa mewujudkannya.
Jangan kecewakan mereka, sebab mereka adalah kekuatan yang bisa menopangmu kapanpun
Demikian juga denganku, bahu yang akan siap untuk kau sandari kapanpun
Berusahalah.. ini bukan akhir melainkan awal dari segalanya.
Yang selalu mencintaimu,
Nayra
Aku terdiam dan tak merasa air mata sudah membasahi pipiku. Bagaimana bisa orang sudah kusakiti bisa mencintaiku dengan setulus ini? Memperlakukanku tanpa peduli dengan kesalahan yang kulakukan? Aku segera keluar kamar memeluk ibukku yang sedang sibuk memasak didapur, membuat ia heran.
__ADS_1
“rey minta maaf Bu..” kataku berbisik yang seketika membuat air mata ibu mengalir dan berbalik memelukku.
“tolong jangan kecewakan kami” kata ibu yang kujawab dengan anggukanku. Aku memeluk ibu dengan begitu lama.
***
“halo..” suara Nayra menjawa teleponku. Ah.. harusnya aku menelponnya lebih dulu.
“hei.. kamu dimana?” tanyaku yang serasa mendengar suara pengumuman yang ada dipesawat
“aku didalam pesawat Rey.. sebentar lagi akan berangkat” kata Nayra membuat jantungku berdegup kencang
“kamu mau kemana?”
“balik ke Sydney, ada urusan mendadak yang mengharuskanku kesana”
“aku mau minta maaf untuk semuanya. Aku harap.. aku.. bisa menjelaskan semuanya sama kamu”
“it’s okay Rey.. aku hanya bisa berharap kamu berubah”
“pasti Nay...aku akan berubah.. “
“rey..” ada jeda disana
“hmm??”
“mari kita akhiri hubungan ini” aku merasa jantungku berhenti sesaat tak menyangka Nayra akan mengatakan ini “aku ingin kita focus membenah hidup masing – masing” aku tak bisa berkata apa – apa kali ini. “toh jodoh pasti akan bertemu kan?” kata Nayra berusaha menghiburku “sudah dulu yah. Bye”
Apa seperti ini rasanya diputuskan, sakit yang tak terkira mendera membabi buta karena kita tak pernah menyangka jika secepat ini waktu yang ia pilih untuk mengakhiri hubungan kami. Aku berharap punya banyak waktu untuk membuat kenangan indah bersamanya, mendekapnya lama dipelukku sampai yang bisa diingat indra penciumanku hanyalah wanginya.
Dan sakit ini ternyata lebih berat dari sakau itu sendiri. Aku lebih banyak berdiam, menatap segala sesuatu dengan tatapan kosong, terkadang aku mendengar suaranya yang menyebut namaku, atau dia yang suka menyentuh rambutku, aku bahkan tak bisa melihat matahari terbenam karena itu adalah hal yang disukainya. Rasanya terlalu sakit, dia adalah perempuan pertama yang membuatku patah hati, dia juga adalah perempuan yang tak ingin aku lepaskan.
“dimakan makanannya Rey” kata ibu yang membuyarkan lamunanku. Aku makan dengan perlahan berharap waktu bisa diulang ketempat aku pertama kali menggenggam tangannya. Aku menatap piring makananku dengan sedih. Berusaha sekuat hatiku mengahabiskannya.
“rey.. “ ibu menyusulku duduk diteras. “kamu tidak bisa terus – terusan begini, bukannya ada skripsi yang harus dikejar?” aku menatap ibu dengan sedih, berharap ibu bisa memberikan petuhah yang bisa meringankan sakit hatiku
“iya bu.. Rey hanya tidak menyangka kalau Nayra akan memutuskan hubungan kami”
“maksud ibu?” jadi selama ini ibu tidak suka hubunganku dan Nayra
“bukankah lebih baik berpisah dahulu, dan bertemu ketika sudah pantas” ibu mengelus pundaku dengan perlahan “Nayra itu dari keluarga terpandang, berada, berbeda dengan keluarga kita yang biasa saja, ibu ingin kamu bisa focus dengan masa depan kamu. biar saat bertemu Nayra kalian berada diposisi yang sama” aku mengangguk jadi mengerti maksud ibu. “bukankah jodoh pasti bertemu?” kuaminkan perkataan ibu yang sama dengan Nayra itu. “kejar mimpi kamu, lalu temukan dia dan wujudkan mimpi kalian” aku menatap ibu heran, karena perkataan itu hampir sama dengan surat Nayra
“ibu.. tahu dari mana kalau aku dan dia punya mimpi bersama?” Ibu terseyum menatapku “Nayra yang bilang”
“eh.. kapan Nayra bilang? Ibu ketemu sama Nayra? Dimana?”
“disini, waktu mengantarkan buku untuk kamu. dia sengaja datang pas kamu lagi tidur”
“ibu.. kenapa aku tidak dibangunkan?"
"dia tidak ingin bertemu kamu sebenarnya, karena tak tahu harus berkata apa"
"terus.. dia bilang apa?”
“dia pamit karena akan kembali kesydney dan dia bilang ingin focus kestudynya. Biar nanti kalau kalian bertemu bukan hanya kamu yang pantas untuk dia, tapi dia juga pantas untuk kamu. dia ingin kamu lebih mencintai dirimu sendiri” aku menatap ibu dengan mata berbinar, kemudian memeluknya. Ah.. aku sangat ingin memeluk Nayra.
***
Akhirnya dengan rahmat dari tuhan juga kerja keras kami, aku dan Bani menyelesaikan kuliah kami dan meraih gelar sarjana dibidang ekonomi. Ibuku tak henti mengucap syukur atas apa yang aku capai begitu pun ayah Bani yang memelukku erat sambil menangis, berterima kasih karena aku sudah membantu Bani hingga bisa wisuda tepat waktu.
Bani memelukku erat dan sebaliknya, kami bisa menyelesaikan kuliah kami meski dilalui dengan banyak Drama tapi kami berhasil melaluinya. Ada banyak cerita disana, kisahku dengan Nayra, juga gadis – gadis lainnya, bahkan kisah narkoba pun ada, aku masih bersyukur tidak masuk penjara waktu itu.
Aku beberapa kali mencoba menelpon Nayra tapi tak pernah tersambung, demikian juga dengan email yang tak pernah dibaca, semua media sosialnya tak lagi aktif. Dan dia bagai menghilang dari hidupku.
Ayah Bani akhirnya mengirim Bani keibukota untuk bekerja dikantor pamannya yang ada di ibukota agar ia punya
pengalaman lebih banyak. Sementara aku dipercaya ayahnya untuk mengelola bisnis baru mereka dibidang kuliner yang tak disangka naik dengan pesat ditahun pertama. Yang akhirnya membuat ayah Bani berani memberiku modal untuk membuka café yang dalam waktu dua tahun sudah memiliki 3 cabang, dan akhirnya aku mencoba peruntungan dengan membangun hotel yang sebagian dananya dari investasi ayah Bani yang sudah mempercayaiku yang mana butuh waktu 5 tahun untuk mengembalikan modal itu hingga akhirnya aku jadi pemilik tunggal hotel yang sekarang memiliki rating tertinggi di berbagai platform mengenai travel.
Nay.. andai kamu bisa melihatnya sekarang. Aku sudah mewujudkan mimpiku. Sekarang, aku ingin kamu ada
didalamnya, membuat mimpi baru denganku.
***
__ADS_1
Aku terburu – buru masuk kedalam rumah orang tuaku, waktu sudah menunjuk setengah 7 malam. Sementara acara akan dilaksanakan pukul 8, malam ini akan ada acara lamaran Rena dan Dimas. Aku cukup terkejut karena rumah dalam rumah sudah didekor simple nan indah sesuai keinginan Rena. Masih terlihat beberapa karyawan Nayra menata kursi yang dihiasi bunga – bunga, mataku menangkap kehadiran Nayra yang sedang menata meja prasmanan bersama ibuku membuatku menjadi teralihkan dengan mereka yang terlihat seru dengan percakapannya, bahkan sesekali ibu tertawa. Ah.. senang melihat Ibu tersenyum seperti itu.
Aku segera masuk kekamar dan mandi mempersiapkan diriku. Nayra sedang menata kue – kue ketika aku duduk dan mencomot salah satunya. Ia menatapku heran yang membuat tawaku menjadi pecah.
“kamu harus coba ini” ia memberiku sepotong cheese cake yang sudah diletakkannya dipiring kecil tak lupa ia mencarikan sendok yang ia lupa diletakkan dimana
“hmm.. “ cheese cake yang sempurna, aku menatapnya yang seakan sudah paham maksudku, ia mengangguk menangkap sinyalku. “enak sekali. Beli dimana?”
“dari bakery kakak aku” kata Nayra yang membuatku teringat kalau mereka punya bisnis bakery juga.
“serius? Wahh.. hebat kakak kamu bisa bikin cheese cake seenak ini. Abis ini aku pasti pesan lagi” kataku yang membuat Nayra tertawa sambil mengangguk mengiyakan janjiku.
Kamipun jadi mengobrol mengenai kue yang enak, makanan dan hal – hal lain yang bersifat santai.
“oh ya.. aku tidak menyangka kalau kamu dan Daffa akan menjadi keluarga” kata Nayra yang membuatku teringat bahwa mala mini Daffa juga akan hadir mengantar adiknya Dimas.
“iya.. yah.. rasanya sudah jadi keluarga dari dulu” kami pun tertawa dan berhenti ketika mendengar seseorang yang berdehem dibelakang kami.
“wah.. indah sekali dekorasinya, aku juga ingin dekor seperti Rey.. kalau kita menikah nanti” aku tersedak mendengar perkataan Mila yang berusaha menyela percapakan kami. “mba Nayra bisa kan mendekor lebih indah dari ini untuk pernikahan kami?” aku tahu kelakuan kekanak – kanakan Mila ini untuk membuat Nayra merasa cemburu karena ia cukup menekan kata pernikahan.
“tentu saja.. kami berusaha semaksimal mungkin mewujudkan keinginan klien” jawab Nayra dengan percaya diri diikuti senyuman menghiasi wajahnya. Aku sadar bahwa Nayra memang tak punya perasaan lagi padaku. “jadi, kapan kalian menikah?” Mila menatapku yang sedang menyuap potongan baru cheese cake berusaha mencari jawaban. tapi sia – sia aku memfokuskan perhatian ke kue yang ada ditanganku.
“secepatnya !!” nada suara Mila yang seperti tercekik itu ingin membuatku tertawa. Dia terkena batunya sendiri “dua bulan setelah pernikahan Rena kami berancana menikah” sendok yang ada ditanganku seketika terjatuh karena perkataan Mila barusan, Ibu yang sedang sibuk kesana – sini itu ikut berhenti melakukan aktifitasnya seketika menatapku penuh tanya. Aku segera menggeleng meyakinkannya kalau aku tak bilang begitu.
“selamat yah.. untuk kalian berdua.. silahkan hubungi aku kapan saja” Nayra tersenyum tulus disambut Mila dengan senyum penuh kemenangan seolah mendapatkanku adalah sebuah pertandingan baginya. Handphone Nayra berdering, ia segera meninggalkanku dan Mila untuk menjawab teleponnya.
“Mila.. “ kini ia tak berani menatapku “kalau kamu pikir bisa membuatnya cemburu dengan kelakuan kanak – kanak itu, kamu salah besar. Tidak ada apa – apa lagi diantara kami. Berhentilah” aku berdiri ketika Nayra selesai dengan teleponnya.
“rey.. dekor dan semuanya sudah siap yah.. aku minta maaf karena harus pergi sekarang” kata Nayra merapikan tasnya “tapi tenang.. masih ada staff yang standbye kok” ia segera mencari ibuku berpamitan, juga kepada tamu – tamu lain yang juga mengenalnya
“kenapa buru – buru sekali? Kamu bahkan belum ketemu sama Daffa” aku berusaha menahannya untuk tinggal lebih lama
“aku maunya begitu, tapi lupa kalau ada janji sama orang lain”
“batalkan saja, besok masih bisa kan?”
“orangnya sudah ada didepan rumah kamu” kata Nayra berjalan menuju kedepan rumah. Sebuah sedan mewah terparkir didepan rumahku. Nayra berhenti untuk memberi pengarahan kepada dua orang staff yang akan stay disini selama acara berlangsung.
“Rey..” aku menoleh kearah datangnya suara yang ternyata dari mobil sedan berwarna merah maroon itu. Seorang pria berkulit putih turun dari mobil tersebut membuatku terperanjat ketika mengetahui siapa yang datang menjemput Nayra.
“hai.. Alric..!!” kataku seketika berjalan menuju lelaki yang ternyata kukenal ini kemudian menjabat tangannya. Alric Lee Meijer lelaki berdarah campuran jerman, tionghoa, Indonesia merupakan pengusaha yang terkenal dikota ini. Keluarganya merupakan Old Money yang menguasai bisnis pusat perbelanjaan dikota ini. pemilik hampir semua Mall yang ada. Bahkan aku tak ada apa – apanya dibandingkan dirinya.
“aku pergi dulu yah Rey, Mila.. bye”mereka meninggalkan aku dan Mila yang masih menganga tak percaya dengan lelaki yang bersama Nayra tadi.
“Rey..dia kan?” Mila serasa ingin mengkonfirmasi karena takut salah orang
aku menganggukan kepalaku “yah.. dia Alric Lee Meijer” jawabku yang membuatnya semakin menganga “sudah kubilang kan? Dia bukan saingan kamu” kataku segera masuk kedalam rumah kemudian berganti pakaian karena sebentar lagi keluarga dari calon suami Rena akan segera kesini
***
seusai acara lamaran yang berlangsung khidmat tadi, aku duduk sambil merokok diteras belakang berencana tidur dirumah ibu malam ini.
“Rey.. apa yang benar yang dikatakan Mila tadi?” ibu menaruh secangkir kopi kemudian duduk di dekatku. Aku menyesap rokokku kemudian segera mematikannya karena tidak enak dengan ibu.
“dia hanya mau membuat Nayra kesal bu.. Rey sama Mila belum ada pembicaraan kearah situ” jawabku menyeruput perlahan kopi buatan ibu
“bukannya itu kode agar kamu segera melamar dia”
“entahlah bu.. Rey belum berpikir kearah situ”
“tidak baik membuat Mila menunggu, apalagi hubungan kalian sudah cukup lama” aku terdiam tak menemukan cara untuk menyangkal perkataan ibu yang ada benarnya itu. “apa kamu masih menyukai Nayra?” pertanyaan ibu membuat tawa kecilku keluar tanpa kusadari, ah.. ibu paling tahu isi hati anaknya ini. Aku mengangguk pertanda iya. “kalau begitu perbaiki hubungan kalian” usul ibu nampak terdengar mudah dilakukan tapi tidak pada kenyataanya
“Nayra sudah menolak saya bu”
“lalu.. ? jika Nayra sudah berkata tidak, bukankah kamu harus memutuskan mau dibawa kemana hubungan kamu sama Mila?”
“iya bu.. hanya saja Rey belum yakin dengan Mila”
“Rey.. yakin atau tidak kamu tetap harus mengambil keputusan melanjutkan hubungan ini dengan Mila atau tidak. Kasihan dia kalau terus menunggu tanpa diberi kepastian”
Ibu masuk kembali kedalam rumah meninggalkan aku yang masih termangu memikirkan perkataan ibu barusan. Mau dibawa kemana hubunganku dan Mila ini, aku harus mulai menentukan pilihanku melanjutkannya dengan serius atau mengkahirinya. Aku pun harus segera mengakhiri perasaanku kepada Nayra yang sudah jelas tak ada perasaan apa – apa lagi padaku.
***
__ADS_1