
15 Tahun yang lalu
Aku sedang duduk diteras rumah ketika Aira adik Arga lewat didepan rumahku. Aku segera mencegatnya dan minta tolong bilang ke Nayra kalau aku ingin mengajaknya makan mie ayam di warung Bu Dewi.
Dan kini dengan penampilan yang sudah rapi aku menuju ke rumah nenek Nayra. Setibaku ia sudah selesai berganti pakaian, rambut panjangnya di biarkan terurai. Ia nampak begitu cantik, ia selalu nampak cantik.
“mau pegi sekarang?” Tanya Nayra menyebarkan wangi parfum berbau buah – buahan. Aku menganggukan kepala kemudian masuk kedalam rumah berpamitan dengan neneknya.
Kami berdua berjalan dengan santai sambil membicarakan mengenai ujian. Nayra sebentar lagi akan lulus SMP sementara aku naik kelas jadi kelas 3 SMA.
“gerimis yah?” Tanya Nayra yang menengadahkan tangannya diikuti aku yang juga penasaran karena tak merasakan titik air jatuh padaku. Dan tiba - tiba hujan turun dengan sangat deras. Aku dan Nayra segera berlari mencari tempat berteduh. Kami berteduh didepan sebuah toko besar yang sudah lama tutup, kami saling menatap dan tertawa karena jadi basah. Aku menarik tangannya agar berdiri dekat denganku. Kami berdua berpegangan tangan sambil menunggu hujan reda. Aku juga Nayra sama – sama malu hingga tak berani menatap satu sama lain.
Terdengar suara kaki berlari, aku dan Nayra melihat kearah datangnya suara tersebut dan ternyata Aira, Nala sepupu Nayra dan beberapa anak perempuan lain yang seketika membuat Nayra melepaskan genggamanku. Ah.. mengganggu saja mereka. Hujan pun tak kunjung reda, ingin rasanya aku membawanya pergi dari tempat ini agar tak ada yang mengganggu. Apalah dayaku yang hanya bisa pasrah dengan keadaan ini.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 yang berarti sudah 2 jam kami terjebak hujan, kulihat Nayra sudah tampak menguap. Warung Bu Dewi pasti sudah tutup sekarang pikirku. Ah.. gagal lagi.
“tembus aja yuk...” kata Nayra kepada teman – temannya juga aku. “bisa sampai tengah malam kita disini” lanjut Nayra yang sepertinya sudah kedinginan. Nampak mereka semua setuju, aku pun juga. Ketika sudah siap berlari, aku menahan tangan Nayra yang membuat ia jadi bingung. Kubuka kemejaku untuk menutupi kepalanya, dan sambil memegang tangannya kami berlari bersama menuju rumah. Aku ingin mengantarkannya sampai rumah neneknya namun ia menolak karena tak mau aku jadi sakit karena harus balik lagi kerumahku. Kurelakan ia pergi, sambil membawa kemeja kemejaku dikepalanya.
***
Ujian sekolah yang berlangsung hampir 2 minggu telah selesai. Aku segera membereskan tasku bersiap pulang membuat Bani yang biasa akan nongkrong denganku selepas sekolah menjadi bingung
“Rey.. mau kemana?” Tanya Bani yang masih duduk santai dengan teman – teman sekelas
“mau pulang” kataku terdengar bergegas
“kenapa cepat – cepat sih?” Tanya Bani berusaha menahanku
“aku mau ngejar angkot buat pulang ke kampung” karena aku harus pulang ke rumah tante Nia dulu berganti pakaian lalu naik angkot pulang ke rumahku yang ada di kampung.
“ayo makan dululah... “ ajak Bani yang ingin kutolak tapi tak bisa karena kini ia telah menarikku menuju kantin. “ada urusan penting yah?” Bani masih penasaran.
Aku menggeleng “mau ketemu seseorang sih” kataku tak enak, sebenarnya aku hanya tak sabar ingin bertemu Nayra
“siapa sih, kok kayaknya penting sekali?” masih terus penasaran rupanya dia
“Nayra” kataku membuat Bani menatapku makin bingung yang membuat ia kemudian jadi tersenyum.
“ah.. ternyata Rayhan sudah punya pacar baru” ia tersenyum tipis sambil menepuk bahuku membuatku menggeleng seketika
“belum jadi pacar” kataku pelan yang membuat Bani semakin penasaran.
“ternyata Rayhan juga punya cewek yang dikejar?” ia seketika tertawa “secantik apa sih dia?” pertanyaan Bani hanya kujawab dengan senyumanku, aku tak ingin mengatakannya atau menjabarkan Nayra secara detail karena aku takut Bani akan menjadi semakin penasaran.
***
Akhirnya aku tiba dirumahku dengan seragam sekolah karena sudah tak ada waktu lagi untuk singgah kerumah Tante Nia. Aku hanya menelpon tante Nia diwartel kemudian segera mencari angkot untuk pulang. Masuk kedalam kamar dan akhirnya aku tertidur karena kelelahan.
Angka dijarum jam menunjuk angka 8 sekeluarku dari kamar mandi. Aku segera berganti pakaian dan bersiap - siap kerumah nenek Nayra. Seperti biasa malam minggu didepan rumah nenek Nayra terlihat ramai karena anak muda yang sedang bermain gitar, aku melihat Nala, Lira dan beberapa lagi sepupu Nayra sedang ikut berbanyi. Hmm Nayra kemana yah.. aku melangkah mendekat.
“Rey.. “ tegur Nala yang membuatku terkejut karena sebelumnya aku sedang melamun. “jangan kemana – mana dulu yah” Nala memintaku untuk menunggunya yang sedang berlari masuk kedalam rumah dan ia kembali dengan membawa sebuah tas pakaian. “nih.. dari Nayra” kata Nala memberikan tas itu kepadaku. Eh.. apa Nayra tidak nginap disini malam ini.
“Nayra kemana?” aku sudah tidak tahan menebak – nebak
“dia udah berangkat minggu lalu” kata Nala yang membuatku terkejut, eh.. kenapa Nayra tidak bilang apapun sebelumnya
“kemana?” apa dia pergi liburan bersama keluarganya.
“Nayra pindah ke Ibukota, dia akan SMA disana” jawaban Nala terasa begitu sulit untuk kucerna saat ini. Bagaimana bisa?
“maksud kamu? Tapi orang tua Nayra?” aku masih belum menerima jawaban yang sebelumnya
“iya.. sama kayak kamu Rey. Nay akan tinggal dirumah tantenya yang di Jakarta, makanya dia akan sekolah disana” aku berusaha untuk tidak histeris saat ini. Hatiku terasa sesak, bagaimana bisa ia meninggalkanku tanpa berkata apapun sebelumnya. Aku bahkan sudah mempersiapkan diri hari ini untuk mengatakan perasaanku padanya tapi yang ada ia malah meninggalkanku. Nayra, Jakarta terasa begitu jauh sekarang ini.
Kulemparkan tas yang berisikan kemeja diatas tempat tidur. Terlihat secarik sebuah amplop terselip keluar dari dalamnya yang membuatku segera melompat ke tempat tidur penasaran dengan amplop tersebut. Dan yah itu sebuah surat dari Nayra.
Dear Rayhan,
Mohon maaf sebelumnya tidak bilang apapun
Karena sebenarnya aku tidak tahu kalau akan pergi secepat ini.
Terima kasih untuk kemeja dan Malam minggunya, itu sangat berkesan.
Sampai ketemu lagi.
__ADS_1
Nayra,
Aku menghembuskan nafas panjang sambil menaruh surat tersebut ke dada. Derit pintu mengejutkanku, ternyata ibu yang mengecek kamarku karena berpikir aku belum pulang.
“ibu kira kamu sedang malam mingguan” kata ibu yang berdiri diambang pintu.
“Nayranya udah pergi bu..” keluhku dengan wajah cemberut
“loh.. kamu suka sama Nayra?” nah.. ibu jadi tahu deh. ”minggu kemarin, sehari sebelum berangkat ibu ketemu sama Nayra, bahkan dia juga pamitan sama ibu, katanya titip salam buat Rey” aku yang sedang berbaring langsung bangun secepat kilat.
“kok ibu tidak kasih tahu sihh” kataku berubah jadi kesal karena ibu ternyata tahu kalau Nayra sudah berangkat.
“mana ibu tahu kalau kamu suka sama dia” kata ibu memungut kemeja yang sudah kukeluarkan dari dalam tas dan sekarang tergeletak diatas tempat tidur. Aku melarang ibu memungutnya. “cewek yang lain banyak” ibu berusaha menghiburku.
“Rey maunya Nayra ibu..” kataku masih kekeuh kalau cewek yang aku mau itu Nayra
“yah udah, kalau begitu selamat menunggu” kata ibu yang membuatku menjadi kesal. Nayra baru akan memulai SMA yang mana butuh 3 tahun untuk selesai. Dan aku harus menunggu selama itu? Yang benar aja Nay!!
***
Hembusan angin yang kencang mulai terasa dingin di pipiku. Nayra mendorong tubuhku seketika menghentikan ciuman itu. Wajahnya menatapku dengan ekspressi terkejut sekaligus takut. Ia memundurkan langkahnya menjauhiku.
“sorry” katanya dengan pelan kemudian berbalik berjalan meninggalkanku yang sementara masih terpaku. Bagaimana ia yang meminta maaf? Bunyi pintu yang tertutup menyadarkanku bahwa kini ia terlepas lagi dari peganganku. Kususul langkahnya yang ternyata sudah masuk lift. Aku menuju tangga darurat berusaha mengejarnya dan sia – sia Nayra sudah masuk kedalam kamarnya.
Aku memencet bel kamarnya tanpa kesabaran. Kita perlu berbicara sekarang.
“Nayra..” panggilku hampir hilang kesabaran karena ia tak mau membuka pintu kamarnya. Kupencet lagi bel pintu yang sepertinya sudah mengganggu tetangga kamarnya. Tapi aku tak peduli. Handphoneku bordering, segera kuraih benda yang ada disaku celana itu. Nayra sedang dalam panggilan
“kita perlu bicara” kataku tanpa sapaan terlebih dahulu
“Rey...aku tidak bisa” suara Nayra terdengar serak seperti menahan tangis
“jangan seperti ini Nay, buka pintunya” aku terus membujuknya
“Rey.. kita tidak bisa ketemu lagi” perkataan Nayra barusan entah bagaimana begitu menyakitiku
“Nay.. ayo kita bicara baik – baik” masih dengan usaha membujuknya
“aku gak mau... berhenti membujukku Rey. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi” Nayra masih konsisten dengan keputusannya
“ada banyak yang perlu bicarakan Nay dan kamu tahu itu” nada bicaraku mulai naik sekarang
Esok paginya aku terkejut ketika resepsionis memberikan kunci mobil jeep yang dipakai oleh Nayra kemarin. Ia memilih checkout jam 7 pagi agar bisa menghindariku. Ia bahkan mengganti nomor telepon yang kukira awalnya memblokirku. Dan waktu aku cek ke kantormya mereka mengatakan bahwa Nayra sedang berangkat keluar kota karena ada urusan mendadak. Langkah yang bagus Nayra, dia menganggapku seperti kuman sekarang. Menghindari dan menjauhiku.
***
Seminggu berlalu saat aku mendapati dirinya ada direstaurant hotel sedang berbincang dengan kliennya. Aku baru saja tiba dan mengamatinya dengan seksama. Bagaimana bisa ia terlihat baik – baik saja setelah menghilang tanpa penjelasan apapun. Beberapa pelayan restaurant mempersilahkan aku duduk, tapi aku hanya mengangguk dan mengatakan sebentar lagi. Aku ingin duduk disebelah mejanya yang sekarang sedang di duduki orang lain. Aku berjalan pelan menuju mejanya ketika terlihat kliennya sudah berdiri, ia sedang mengobrol dan mengantar mereka kepintu keluar restaurant dimana aku mengambil kesempatan untuk segera duduk dimejanya yang kini kosong.
Nayra sudah kembali dan nampak terkejut, Ia berhenti sebentar kemudian kembali kemejanya sambil membereskan barang – barangnya tanpa menyapaku.
“ehmm” kataku mengalihkan perhatiannya “you’ve back?” tanyaku meski ia tak memandangiku.
“rey..” katanya dengan pelan, berusaha menghentikanku
“duduk” pintaku singkat yang langsung diikutinya. Mari kita lakukan tawar menawar Nayra
“rey..”
“nay..”
“rey.. you should stop”
“nay.. kita perlu bicara”
“tidak ada lagi yang perlu dibicarakan”
“kita punya banyak hal yang harus dibicarakan”
“rey..”
“nay..”
“rey.. stop it”
“nay.. jangan coba menghindar”
“rey.. “
__ADS_1
“kita perlu bicara Nay, atau kita bisa begini seharian”
“rey.. aku gak bisa. Kita seharusnya tidak bertemu”
“nay.. apa kamu mau aku teriak sekarang? Disini?” ancamanku membuatnya terdiam. Dia sangat suka menaikkan emosi sekarang
“rey..”
“NAY..” kunaikkan volume suaraku yang membuat pengunjung restaurant seketika melihat kearah kami.
“oke..oke kita akan bicara” Nayra memotongku berusaha menenangkanku yang sangat tidak stabil ini
“jam 5 di café Rena” kataku to the point dengan tempatnya. Wajah Nayra masih kesusahan untuk berkata iya atau sekedar mengangguk “atau kamu lebih suka aku jemput dikantor?” dia tahu bahwa kini posisi dia terancam dengan aku yang tahu alamat kantornya.
“no..no.. jam 5 di café Rena” katanya dengan segera
“bagus..” aku tersenyum padanya merasa senang karena telah memenangkan perdebatan ini. Sementara ia sesegera mungkin membereskan tasnya dan pergi dari sini.
***
Waktu menunjukkan jam lebih lewat 5 saat aku tiba di café milik adikku Rena. Aku menyapa Rena yang bingung melihat kedatanganku disore hari.
“Nayra udah datang?” tanyaku yang langsung membuat wajah Rena berubah menjadi mengerti. Dia menunjuk bagian belakang café, Nayra tampak duduk sendirian memandangi bunga – bunga yang tertata rapi disana.menyadari Nayra yang sedang sendirian disana aku segera masuk dan mengunci pintu, memasukan kuncinya kedalam sakuku yang membuat Rena menjadi marah karena kelakuanku.
Aku membuka kotak pick up order yang tersambung kearah pantry café dan berkata kepada mereka bahwa aku memesan caramel macchiato yang akan aku ambil disini dan tidak lupa untuk mengamcam mereka termasuk Rena agar tidak membuka pintu tersebut dengan kunci cadangan. Terima kasih untuk ide pick up order boxnya yah Rena.
Dengan segera aku duduk disamping Nayra yang sudah mengantisipasi kedatanganku.
“apa yang harus kita bicarakan?” pertanyaan pertama Nayra, bukannya aku yang harus bertanya
“kenapa kamu menghindari aku?” aku mulai membalikkan keadaan
“aku tak tahu harus mengatakan apa sama kamu”
“mengenai apa?”
“aku yang membalas ciumanmu, yang seharusnya tak boleh kulakukan”
“kamu berhak melakukan apa yang kamu mau”
“bukan dengan pacar orang lain”
“kamu tahu, aku cinta sama kamu” pembelaanku barusan membuat Nayra tertawa sinis
“sudah berapa lama kalian berpacaran?” Nayra memulai babaknya
“2 tahun” jawabanku kembali membuat tawa sinisnya itu kembali
“lalu, kamu mau meninggalkan dia. Untuk kembali denganku yang hubungannya tak pernah bertahan lama denganmu?” yup..tepat sekali Nayra. Aku sudah siap meninggalkan Mila saat ini. “rey.. apa kamu lupa sesuatu?”
“lupa apa?”
“kamu juga cinta sama dia” jawaban Nayra barusan serasa menghantamku seketika. Mengacaukan perasaanku.
“tapi aku lebih cinta sama kamu”
“kamu yakin akan memilih aku?” kujawab dengan anggukan kepalaku. “apa kamu sudah siap?” aku menatapnya dengan seksama berusaha mengerti maksud pertanyaannya.
“maksud kamu?”
“apa kamu siap, membuat keluarga yang menganggapmu seperti anak laki – lakinya jadi membencimu? Hubungan yang sudah kamu bangun dengan kolega dan teman – temannya jadi rusak? Kamu mungkin akan kehilangan salah satu pergawai terbaik kamu, dan keluarga kamu akan menjadi bahan omongan keluarga dia, tetangga bahkan kerabat kamu sendiri. Sementara aku menjadi orang paling dihujat karena telah mencuri kamu dari dia” matanya terlihat berkaca - kaca menatap mataku. Ah..dia mengalahkan aku dengan telak kali ini.
Aku tak menemukan satu kata pun untuk melakukan pembelaan kali ini. Aku kehabisan kata – kata dibuatnya. “kadang yang kita pikir baik untuk kita berdampak sebaliknya untuk orang – orang disekitar kita” katanya masih melanjutkan kalimatnya.
“bagaimana dengan kamu? Perasaanmu padaku?” tanyaku berusaha mencari tahu apakah ia masih menyimpan perasaan untukku
“apa masih penting?” suaranya terdengar lemah “kadangkala cinta tak harus memiliki” ini jelas – jelas sebuah penolakkan untuk kembali kepadaku.
“apa kamu tidak ingin mengejar kebahagiaan kamu sendiri?”
“rey..” Nayra berhenti sejenak kemudian menatap mataku “kebahagiaan bukan melulu soal pasangan. Aku pernah ada diposisi pacar kamu dan aku tak ingin merusak hubungan yang sudah lama kalian jalin. Bukankah cinta akan bertambah besar jika kalian menghabiskan waktu lebih banyak?” ia jelas – jelas mengahajarku habis – habisan tanpa bisa sekalipun membantahnya. “suatu saat kamu akan melupakan aku, bahkan kamu tidak memilki perasaan yang tersisa untukku”
Aku menggengam tanganya dan menatapnya dengan tajam “Nay.. please, aku mohon sama kamu. Bukannya kamu cinta sama aku?”
“rey.. secinta – cintanya aku sama kamu, aku tak ingin merebut kamu dari siapapun. Sudah saatnya kita move on dan melupakan masa lalu kita” perkataanya barusan ada benarnya. Mungkin aku harus melangakah maju dan menjadikan hubungan kami dulu sebagai pelajaran. Aku melepaskan tangannya dan kembali bersandar dikursi.
Ada yang belum selesai disini, ada yang mengganjal dengan perasaanku tapi aku tak dapat menemukan kata – kata untuk mengungkapkannya. “mempertahankan hubungan itu bukan hal yang mudah Rey, dan kamu berhasil bertahan lama dengannya. Bukankah dia yang terbaik dari sekian banyak perempuan yang pacaran dengan kamu sebelumnya? Kamu harus mempertahankannya Rey” ah.. aku tak bisa menemukan jawabanku.
__ADS_1
Tidak ada yang salah dengan setiap kalimat yang dia ucapkan, selama ini Mila yang paling lama bertahan menjalin hubungan denganku, menghadapi aku yang dingin tidak masalah untuknya. Apakah selama ini aku sudah menemukan seorang yang tepat? Tapi kenapa aku tak bisa menghapus perasaanku ke Nayra? Apa benar, semakin aku banyak menghabiskan waktu dengan Mila akan membuat perasaanku kepada Nayra memudar?
***