
4 Tahun yang lalu
Mataku yang terbuka kini susah terpejam, aku dibangunkan oleh sedikit turbulence. Mataku melihat jam yang kini menunjuk angka 5 pagi waktu Sydney, tinggal 1 jam lagi dan aku akan mendarat di Bandara Kingford Smith setelah kurang dari 6 jam penerbangan.
Mengunjungi Sydney merupakan hal yang sudah lama aku impikan, bertemu dengannya yang tak lagi pulang ke Indonesia atau mungkin pulang tanpa sepengatahuanku. Setelah 7 tahun sibuk dengan kehidupan masing – masing aku masih belum bisa beranjak dari perasaanku, terutama rasa bersalah ini.
Aku yang melukainya, hingga membuat ia memutuskan untuk pergi dari hidupku. Dan saat ini, di saat aku merasa telah mencapai apa yang aku impikan, Aku ingin memiliki dia untuk hidup di dalam mimpiku, memulai mimpi yang pernah kami ciptakan bersama. Aku harap aku belum terlambat.
Berbekal dengan data yang telah ku kumpulkan sebelum memutuskan untuk menemuinya. Dimana dia bekerja, tempat tinggal, bahkan shift kerjanya. Aku membulatkan tekadku berangkat kesini menemuinya, berharap masih punya kesempatan untuk meminta maaf dan memulai kembali hubungan yang sempat kandas dahulu.
Sesampainya di hotel aku segera tidur mempersiapkan diriku agar lebih segar saat menemuinya nanti. Setelah berjalan-jalan Sebentar aku memutuskan untuk pergi melihat kantor tempat dia bekerja, seharusnya sekarang sudah waktu untuk pulang.
Sebenarnya aku takut jika yang aku harapkan tak sesuai dengan kenyataan. Aku memang sudah mempersiapkan skenario terburuk, tapi tetap saja aku merasa tak siap dengan apa yang akan menantiku disana.
Aku berjalan perlahan merasakan tiupan angin musim gugur menerpa wajah sambil menjejalkan kedua tanganku ke dalam saku jaket tebal yang kukenakan. Sesekali melihat dedaunan yang ku hempas setiap kali melangkah. Berusaha menenangkan hati dengan keraguan yang terus menghalau jalanku.
Hingga aku tiba di depan kantor tempat ia bekerja, sebuah gedung yang dimiliki oleh perusahaan cukup besar di Australia, bahkan sudah berekspansi keluar negeri. Aku sedang mengagumi bentuk bangunan tersebut dari diseberang jalan kemudian berubah jadi tatapan penuh ragu, Haruskah aku masuk? apa dia akan mengenaliku? Apa yang dilakukan ketika melihatku? banyak pertanyaan yang terlintas kini dan aku tak bisa memutuskan yang mana yang harus ku cari jawabannya terlebih dahulu karena sebenarnya aku tidak ingin menemukan jawabannya.
pintu otomatis gedung itu nampak terbuka dan terlihat beberapa karyawan mulai meninggalkan perkatoran yang memiliki banyak lantai itu. Aku melihat mereka penuh kekaguman, bangga salah satu orang aku kenal bisa kerja dengan mereka, digedung megah tersebut. Dan aku terpaku pada sosok berambut panjang yang dari tengah keujungnya kini berwarna dusty pink. Setelan hitam yang ia kenakan membuat kulit putihnya menjadi terlihat sangat pucat.
Suaraku yang ingin memanggil namanya tertelan kembali saat melihat seorang pria yang juga memanggil dari arah belakangnya.Membuat Ia yang sudah berjalan itu berhenti menoleh ke arah datangnya suara yang membuat ia senyumnya mengembang, ia lalu mengulurkan tangannya menyambut lelaki yang menyusul langkahnya itu.
Aku sejenak terdiam kemudian ikut melangkah memperhatikan mereka dari belakang. Mereka berdua berjalan bergandengan tangan sambil bercerita sesekali diiringi tawa yang membuat hatiku merasa sakit. Bukankah seharusnya itu aku? harusnya aku menyapanya lebih dulu.
Langkah mereka berhenti di sebuah restoran italia sementara aku terus berjalan, mengembarakan pikiranku entah kemana. Kakiku berhenti disebuah taman yang terlihat nampak sendu karena temaram musim gugur. Aku membeli kopi disebuah stall yang ada didekatnya lalu duduk disebuah bangku panjang, memikirkan nasibku sekarang.
Tanpa terasa 7 tahun berlalu dan kini Narya sudah beranjak dari perasaannya padaku. Aku tahu itu bukanlah waktu singkat untuk terus terperangkap dalam perasaan ini. Dan ini salahku, tak pernah mengatakan kepadanya bahwa aku benar – benar mencintainya, tak pernah menghubunginya selama ini, tak pernah terlihat serius dengan hubungan ini.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam saat aku tiba dihotel. Waktu yang kuhabiskan dengan berjalan kaki menyusuri kota tanpa tentu arah, terus memikirkan apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Aku sudah tak punya harapan untuk menemuinya karena kami tak mungkin bisa kembali bersama seperti dahulu.
***
Bunyi bel dipintu kamar mulai mengusikku, ditekan tanpa ada kesabaran itu mulai mengganggu telingaku. aku bangun dan melempar selimut saking kesalnya. waktu pada jam local menunjukkan jam 11 siang. bel dipintu ditekan lagi, aku segera melangkah tanpa melihat lubang pengintip, aku membuka pintu secara kasar.
“oh god.. finally” suara itu menyeruak diikuti dengan pelukan yang membuatku mundur beberapa langkah karena tak siap menerimanya. Apa aku bermimpi? Aku masih berusaha mengembalikan kesadaranku saat Nayra melepaskan pelukannya menatap wajahku yang membuat tangannya bergerak membelai rambutku yang acak – acakan. “kamu harusnya bilang kalau mau ke Sydney!!” serunya masih dengan kelakuannya barusan yang membuat tanganku otomatis menghentikannya. “kamu sama siapa?” Nayra yang masih berdiri didepan pintu ternyata belum kupersilahkan masuk. Kujawab dengan gelengan dan segera member isyarat mengajaknya masuk kekamarku yang cukup berantakan itu.
Aku segera melesat kedalam kamar mandi, sementara Nayra menaruh tasnya dan membuka tirai jendela. Aku menatap wajah kusut berhiaskan lingkaran hitam karena sejujurnya aku tertidur dipagi hari, kemarin pagi aku memilih tidur setelah landing yang membuatku jadi kesusahan mengatur waktu. aku segera mandi dengan cepat dan cukup terkejut karena Nayra sudah merapikan sebagian kekacauan yang aku buat tadi.
“kamu sudah.. makan?” Nayra melirik jam yang sekarang menunjuk jam 12 siang. Aku masih menggeleng bergerak cepat mengambil baju dari dalam lemari kemudian kembali lagi kekamar mandi yang membuat Nayra menjadi tertawa. Aku keluar dari kamar mandi setelah merasa siap, mendekati Nayra yang sedang memandangi pemandangan diluar.
“bukannya kamu kerja?”
“aku ijin pulang lebih awal”
“kamu tahu dari mana aku disini?”
“Rena telepon, khawatir sama kamu yang tidak bisa dihubungi” aku melirik tasku dan baru teringat kalau aku mematikan telepon dan belum mengganti nomor luar negeri. aku memberitahu Rena dimana aku akan menginap saat ia mengantarku ke bandara. “setidaknya kamu bisa hubungi aku kalau kesini” lanjut Nayra kini menatapku.
“aku kesini untuk berlibur sebentar, aku takut nanti malah ganggu kamu” aku berusaha mengelak tak mau memberitahu alasanku sebenarnya
“liburan sendiri, untuk seorang yang baru pertama kali ke Sydney? Rey.. kamu terlalu nekat” perkataan yang ada benarnya, aku terlalu nekat sampai mengabaikan fakta bahwa aku tidak mencari tahu terlebih dahulu tentang percintaanya, yang positif sudah punya pacar.
Aku hanya mengangkat bahuku karena tak menemukan alasan yang sedikit masuk akal baginya. Nayra mendekat lagi merentangkan tangannya ingin memelukku yang lagi – lagi kutolak dengan menepis kedua tangannya. Membuat raut wajah cantik itu sedikit kecewa.
“oh.. ya kamu sudah kemana saja?”
“opera house?!” jawabanku tak yakin membuat Nayra tertawa sinis. Karena tahu aku berbohong, pemandangan kamar hotelku adalah opera house yang terlihat dari jauh.
“ayo.. kita pergi makan” aku mengikuti ajakan Nayra.
Dan dimulailah petualangan 4 hariku diSydney, Nayra rela mengambil cuti beberapa hari demi menemaniku berkeliling Sydney mulai dari menyusuri Hyde Park, Bondi to Bronte Walk, hingga hampir serangan jantung saat melewat Bridge Climb. Lanjut menuju museum, gallery, akuarium dan botanic garden. lalu kami akan malam di Circular Quay tempat favorit Nayra.
__ADS_1
Tanpa terasa hari ini adalah hari terakhirku di Sydney, aku dan Nayra sedang duduk menunggu makan malam kami di sebuah restaurant terkenal di Opera House, Bennelong.
“aku mau bicara sesuatu sama kamu” kataku pelan. Nayra kini menatapku lebih serius, dan mataku menangkapnya, sebuah cincin berlian melingkar dijari manisnya. Aku meneguk minumanku berusaha menenangkan perasaanku.”aku mau minta maaf,sudah pernah menyakiti kamu” satu hal lagi, bahwa aku sengaja kesini untuk menemui kamu adalah hal lain yang tidak mungkin aku katakan.
Nayra menatapku sambil tersenyum kecil seolah berusaha menenangkanku “yang lalu biarlah berlalu Rey.. aku sudah memaafkan kamu”
“sejujurnya.. aku takut menemuimu disini, takut kamu tak bisa memaafkanku” Nayra kembali tersenyum sedikit tertawa karena perkataanku.
“mana bisa aku marah.. melihat kamu sekarang yang bisa mewujudkan mimpimu itu sudah lebih dari cukup. Aku bangga sama kamu Rey” Nayra yang ada dihadapanku seperti berusaha mengendalikan dirinya, seolah begitu menjaga sikapnya.
“aku juga bangga sama kamu..” kataku yang membuatnya menjadi bingung, kenapa sekarang membicarakan dia? “kantor kamu…. wahhh!!” aku mengangkat tanganku berusaha menggambarkan kantornya yang besar, seketika membuatnya tertawa diikuti tawaku yang serasa mencairakan suasana malam ini.
Setelah makan malam kami masih berjalan – jalan didepan area opera house sambil menikmati malam yang semakin dingin. Kami bergandengan tangan menyusuri jalanan sambil bercanda.
“terima kasih yah.. sudah meluangkan waktu untukku selama disini” Nayra mengangguk dan tersenyum menatapku. “sudah menemaniku berkeliling, dan membantuku mencari oleh – oleh” kataku memasukkan kedua tangannya kedalam saku mantel milikku.
“anytime Rey… you know.. I always love you” kata Nayra sambil tertawa dan memelukku. “hati – hati dijalan Rey.. sorry besok aku tidak bisa antar kamu kebandara” aku mengangguk mengiyakan perkataannya.
“aku harap setelah ini kita bisa teman yang baik” kataku mengusap kepalanya yang membuat wajahnya jadi cemberut, dia berusaha menyingkirkan tangan jahilku dan kami berdua tertawa.
***
Bunyi deburan ombak membawaku kembali, aku sedang menyusuri pantai disekitar hotel sambil merenung. bahwa sejak dulu Nayra sudah menghapuskan perasaannya dariku. Hanya aku yang masih terjebak entah sampai kapan. Entah bagaimana aku tak pernah berhasil melupakannya bahkan setelah kembali dari Sydney hingga sekarang, saat aku memiliki Mila disisku, di saat dia sudah menolak perasaanku.
Dan kini agar bisa melupakannya aku memfokuskan perhatianku pada pembuatan café dirooftop hotel, yang kuberi nama Hideout. Selain karena aku yang suka bersembunyi disini, tapi inilah tempatku berusaha menyembunyikan sisa perasaan yang masih kumiliki untuk Nayra. Tempat terakhir yang aku buat karena memikirkan dirinya, tempat dimana aku akan berusaha melenyapkan perasaanku, menyimpan semua kenangan indah itu, membiasakan diriku tanpa merasa apa – apa lagi padanya.
Aku bahkan turun tangan mendiskusikan bahan dan konstruksi agar merasa teralihkan,bahkan rela berkeliling toko material mencari bahan terbaik yang cocok untuk café ini. Menghabiskan waktu berdiskusi dengan arsitek mengenai detail, dan design yang sudah lama tak kulakukan.
Membuang waktuku hingga aku cukup merasa menjadi zombie belakangan ini. Pulang kerumah hanya untuk tidur, karena kau takut ketika sendirian dirumah aku akan teringat lagi momen kami berdua disini. Diana yang sepertinya menyadari kelakuanku bahkan mulai menaruh pil penambah darah di nampan yang berisi makan siangku. Tak lagi makan direstauran Hotel karena takut akan melihatnya disana.
Aku bahkan kembali mengacuhkan Mila yang akhir – akhir ini seperti senang makan diluar kantor karena aku selalu menolak ajakannya untuk makan siang bersama. Setelah makan aku biasanya langsung menghabiskan siang hariku dirooftop melihat para pekerja yang sedang memasang kusen – kusen jendela besar yang akan menutupi sebagian rootop ini.
Begitu seterusnya hingga terkadang aku mulai tidur dikantor atau disalah satu kamar hotel yang kosong. Aku takut.. takut ketika sendirian dan tak melakukan apapun akan kembali memikirkannya. Aku takut berada dirumah, takut berada dikeramaian hingga tanpa sadar aku mulai membangun benteng disekelilingku.
***
“rey.. apa kabar?” pertanyaan ayah Nayra membuatku jadi merasa tak enak karena saat ini aku tak ingin bertemu dengan orang – orang yang mengingatkanku pada Nayra.
“saya baik om.. kabar om sendiri bagaimana?” tanyaku tak berusaha melepaskan rangkulannya
“seperti yang kamu lihat” kata Om Syah, panggilanku padanya. Dia terlihat sangat segar bugar untuk seorang pria yang sudah berumur 60an. “jangan terlalu sibuk bekerjalah Rey.. sekali – kali refreshing..” lanjut Om Syah yang sepertinya benar, aku butuh refreshing sekarang ini.
Mataku jadi tertarik dengan bermacam – macam model lampu yang menggantung diatas kepalaku. Om Syah kini meninggalkanku seolah memberiku mengamati keindahan yang ada diatas kepalaku. Ia kembali membawa air mineral ditangannya. Bukannya dilarang minum dan makan didalam toko ini?
“apa ini tidak apa – apa om?" tanyaku menerima air pemberian Om Syah.
“asal kamu jaga jarak dari perabotan saya” katanya sambil tersenyum yang menular kepadaku karena sadar bahwa perabotannya ada diatas kepalaku. Kami berkonsultasi dengan santai tentang konsep bangunan yang sedang kubuat dibandingkan dengan material dan perabotan yang kupilih, Om Syah memang salah satu arsitek terbaik dia mudah mengerti dengan konsep yang ku maksud dan segera memberikan beberapa pilihan yang bisa aku putuskan.
“bukannya pekerjaan seperti ini bisa dilakukan sama desain interior?” pertanyaan Om Syah membuyarkan konsentrasiku.
“proyek ini ingin saya kerjakan sendiri om.. saya ingin mempercayai intuisi saya kali ini” kataku sambil tersenyum mengingat alasan kenapa aku hampir mati mengerjakan proyek ini.
“kamu sama Nayra sama saja, bahkan sudah jadi bos pun masih mengerjakan semua sendiri sampai lupa sama diri sendiri, mengabaikan kesehatan akhirnya sakit, masuk rumah sakit.. ada – ada saja kalian ini”
“Nayra masuk rumah sakit om?” kekhawatiranku mulai kambuh lagi.
Om Syah mengangguk menjawab pertanyaanku “kecapekan.. hari ini dia sudah bisa pulang katanya” kekhawatiranku menurun mendengar dia tidak menderita sakit yang parah.
Tanpa terasa kami berbincang jadi panjang mengenai banyak hal mengenai bisnis, desain – desain yang sedang update, hingga masalah kesehatan. Aku sebenarnya cukup lega karena tidak membahas masa laluku dengan Nayra yang pernah menjadi korban yang disakiti olehku.
***
__ADS_1
Kuinjakkan kakiku kembali kehotel saat waktu menunjukkan pukul 4 sore, aku menuju ke restaurant untuk meminta mereka mengantarkan beberapa cemilan dan kopi untuk para pekerja yang ada di rooftop dan berhenti sejenak saat melihat Rena sedang berbicang sambil tertawa dengan seorang wanita yang harusnya sedang berada dirumah sakit.
Aku melangkah mendekati mereka, Rena yang melihatku segera meminta untuk ikut bergabung dengan mereka, Nayra yang masih terlihat sedikit pucat itu masih sibuk dengan catatannya tanpa memandangiku. Rena berdiri pamit ketoilet, kini meninggalkan kami berdua.
“bukannya kamu ada dirumah sakit?” tanyaku membuat Nayra yang sedang menyedot jusnya itu menjadi terbatuk.
“kata siapa?” Nayra berusaha menyangkal
“kata papa kamu!!” kini ia tersenyum menutupi malu karena tertangkap basah olehku “bukannya istirahat malah disini” aku memulai omelanku
“selesai meeting ini aku pulang.. janji” kini ia berusaha meyakinkanku yang tak mempercayainya. Rena yang kembali dari toiletpun kembali melanjutkan pembahasan mereka, Nayra yang terlihat menulis dengan lambat itu membuatku menyadari bahwa ditangan kanannya ada terdapat memar dan terlihat bengkak bekas jarum infuse. Kutarik buku dari tangannya membuat Rena dan Nayra kebingungan.
“biar aku yang catat” kataku tak tega melihatnya menahan sakit ditangannya. Rena menatapku kemudian tersenyum seolah menyiratkan sesuatu sementara Nayra yang masih berusaha menarik buku namun berhenti karena tatapan tajamku yang mengisyaratkan untuk jangan melakukan apapun.
Dan meetingpun selesai, mereka masih mengobrol membuat Nayra tak sadar aku mengambil tas tangannya kemudian memeriksa kedalam yang berisi bermacam – macam obat resep dokter, memasukan catatannya kedalam. aku segera meminta pelayan membawakan ia makanan agar ia bisa beristirahat sekitar dua jam sebelum meminum obatnya.
Rena yang masih tersenyum dengan kelakuanku akhirnya berpamitan pulang karena masih harus mengecek café, kembali meninggalkan aku dan Nayra yang menatapku dengan kesal.
“kamu bawa mobil?” tanyaku tanpa memperdulikan ekspressinya.
“tidak.. tadi diantar karyawan kantor” katanya dengan nada yang dingin “Rey.. sudah aku bilang kamu tidak perlu melakukan hal – hal seperti ini” Nayra masih mempertahankan wajah kesalnya.
“asal kamu tidak melakukan hal – hal yang seperti ini juga?!” jawabku menjadi ikutan kesal “baru keluar dari rumah sakit bukannya istirahat malah kerja”
“iya.. iya kan aku sudah bilang selesai meeting pulang untuk istirahat” masih tetap berusaha membela dirinya
“jangan lakukan hal yang bikin aku khawatir kalau kamu tidak ingin aku menjadi perhatian sama kamu” Nayra menahan kekesalannya saat tersenyum pada pelayan yang mengantarkan makanannya. Dan aku sibuk dengan handphoneku saat sebuah suara datang menyapa.
“Rayhan.. “ aku mengangkat wajahku melihat Bani datang kemudian menjabat tanganku lalu mengambil duduk diantara kami berdua. “lalu.. siapa wanita cantik ini?” tanya Bani yang kini penasaran dengan sosok cantik yang dulu pernah jadi incarannya saat di klub
“Bani.. Nayra.. Nayra.. Bani” kataku berusaha mengenalkan mereka berdua. Nayra yang sedang makan itu nampak terkejut mendengar aku menyebut nama Bani begitupun sebaliknya.
“Bani..? that Bani ?” Nayra berusaha mendebak Bani yang kumaksud adalah teman sekolah dan kuliah juga temanku saat ditemukan olehnya mengkonsumsi barang haram. Bani mengangguk pertanda Ya membuat Nayra mengangguk mengerti, kemudian menyapa Bani.
Kami pun jadi mengobrol panjang dengan berbagai macam topic, dari bisnis hingga sepak bola yang hebatnya tak ada satupun yang dilewatkan Nayra, membuat Bani terkesima karena dia merupakan perempuan langka, bisa nyambung dan mengerti dengan topic apapun. Handphone Nayra yang berdering membuatnya meninggalkan kami berdua.
“aku jadi tahu kenapa kamu sangat menyukainya” perkataan Bani mengembangkan senyum kecilku. Nayra adalah tipe perempuan yang terlihat susah didekati karena wajah cantiknya tidak sering tersenyum dengan orang disekitar, namun sekali dekat dia menjadi sangat menarik karena tidak menyangka dia bisa menjadi sangat semenyenangkan itu ketika mengobrol dengannya, kelakuannya yang sedikit tomboy dan cuek menjadi tantangan tersendiri untuk menaklukkannya.
Dering telepon Bani yang katanya panggilan dari seorang teman yang membuat janji dengannya itu mengakhiri pertemuan kami, ia segera pamit dan pergi. Kalau dipikir – pikir perjalanan dari kantor Bani cukup memakan waktu setengah jam sampai kesini. Ia bahkan tak sempat memesan apapun saat tiba dan harus pergi lagi. Merasa ia sangat sibuk untuk meluangkan waktu kesini dan harus pergi lagi sungguh tak terduga dilakukan oleh seorang Bani yang punya jadwal padat itu.
Nayra kembali dan duduk lalu menanyakan Bani yang kini sudah tak terlihat ditempat duduknya tadi yang segera kujawab membuatnya mengangguk mengerti.
“jam berapa mereka akan menjemput kamu?” aku melirik jam yang sekarang menunjuk pukul 6 sore.
“mereka sedang ada kendala ditempat acara malami ni, jadi aku meminta mereka untuk pergi membantu” aku memandanginya keheranan karena bisa – bisanya ia mendahulukan orang lain dengan ia yang sepertinya sudah kembali sakit itu.
“kamu nginap disini malam ini” kataku kesal karena hal yang tadi dijelaskannya, ia akan menunggu entah akan sampai kapan, yang berarti waktunya beristirahat jadi semakin berkuranng.
“tapi Rey..” Nayra berusaha menolak tawaranku.
“kamu butuh istirahat sekarang” kataku yang sudah mengajaknya berdiri berjalan menuju resepsionis “nanti aku yang bicara sama papamu” kataku berusaha meyakinkannya yang terlihat masih berkeras menolak tawaranku.
“tolong kasih kunci kamar yang biasa” kataku kepada resepsionis yang mengerti maksudku. Kamar yang biasa yang kumaksud adalah sebuah suite yang biasa aku tempati ketika tidur dihotel, kamar yang jarang mereka diberikan kepada tamu kecuali saat full booking. kamar yang sengaja kupersiapkan untukku.
Reseprionis namapak ragu saat aku meminta mereka memberikannya pada Nayra karena mereka tahu bahwa itu adalah kamarku “bapak bagaimana?” tanya resepsionis itu membuat Nayra kini menatapku curiga.
“saya pulang kerumah malam ini” kataku meyakinkan mereka yang akhirnya menyerahkan kunci kamarku pada Nayra
Kami berjalan menuju lantai 3 tempat suite itu berada dengan mata Nayra masih menatapku lekat, hingga kami berdua masuk kedalam lift yang kosong.
“kamu tidak pernah pulang kerumah?” pertanyaan Nayra membuatku jadi bisu. Bagaimana aku harus menjawabnya, aku harus memulai dari mana? Apa dia tahu kalau alasanku tidak pulang kerumah karena aku takut dia ada dirumahku duduk menemaniku makan, nonton tv bahkan ada dikamar mandiku. Aku terus mengingat momen dia berada disana ketika dirumah yang membuatku jadi takut dengan apa yang terjadi dengan perasaanku.
__ADS_1
“Rey.. jawab?!” aku menelan ludahku tak berani menjawab karena aku yakin dia akan tahu kalau aku sedang berbohong.
***