
15 Tahun yang lalu
Aku sedang menonton acara tv diruang keluarga ketika Arga masuk dan mengajak bermain bola. Aku langsung beranjak pergi kelapangan dekat rumah kami. Disana ada Daffa,Adit dan anak – anak lainnya. Minggu depan akan ada ujian semester, aku pulang kerumah karena permintaan ibu, rutinitas ibu sering membuat sarapan yang luar biasa enak jika anaknya memulai hari ujian. Jadi hari senin bapak yang akan mengantarku kesekolah sekalian membawa pakaianku kerumah tante Nia. Kembali kelapangan, anak – anak terlihat senang melihatku termasuk Daffa yang ikut tersenyum.
“hei Daff..” kataku menyapanya dengan Toss yang langsung disambut Daffa. Kami berdua tertawa, sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, pertemanan kami baik – baik saja. Dan permainan yang seru pun dimulai hingga tak sadar waktu sebentar lagi gelap.
“eh.. malam ini ada pasar malam dikampung sebelah” kata Arga saat kami sedang duduk diteras warung pak Maaruf selepas bermain bola.
“wah.. seru tuh..kita pergi yah” kataku mengajak mereka semua yang diikuti anggukan pertanda setuju.
Mataku yang terpaku pada langit yang berubah menjadi jingga, tiba – tiba terkejut ketika melihat sosok Nayra yang berjalan menuju warung tempat kami duduk. Dia terihat indah dibawah warna matahari terbenam. Lama tak berjumpa dan dia menjadi semakin cantik, aku menyesali selalu membanding – bandingkannya dengan mantanku karena sebenarnya tak ada yang bisa disandingkan dengannya, dia selalu yang paling indah dimataku.
Semua nampak diam saat Nayra sampai diteras tempat kami duduk, termasuk Daffa yang membuang mukanya ketika melihat Nayra, ada apa ini? Bukannya Daffa yang selalu antusias ketika melihat Nayra dan sekarang mereka sedang berpacaran. Nayra pun sebaliknya tak berkata apapun sampai Adit sepupunya memulai pembicaraan.
“kok tumben nginap disini?” kata Adit yang segera berdiri melihat apa yang dibeli Nayra
“iya, tadi Lira jemput. Mau kepasar malam katanya” jawab Nayra sambil mengambil bungkusan yang diberi pak Maaruf. Dia dan Adit berjalan meninggalkan kami. Daffa masih saja diam, air mukanya Nampak tidak senang. Aku mengalihkan pandanganku ke Arga yang sedang duduk minum air es dihadapanku, ia hanya mengangkat alisnya yang membuatku semakin penasaran dengan apa yang terjadi.
***
“ Rey... Rey..” aku perlahan membuka mataku, Arga yang sudah rapi dan wangi sedang mengguncang – guncang tubuhku. “jadi pergi tidak?” aku tersadar dan segera membangunkan badanku melirik jam pada meja yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ternyata aku ketiduran sepulang dari warung Pak Maaruf tadi. “anak – anak yang lain udah pada berangkat” lanjut Arga. Pergi atau tidak yah, aku masih menggaruk – garuk badanku menatap Arga. Aku sebenarnya sudah malas untuk pergi karena masih sangat mengantuk.
"kayaknya aku tidak ikut deh” kataku masih dengan menggaruk
“yah...” Arga nampak lemas “padahal Nayra baru aja keluar rumah, mau ke pasar malam juga” aku berhenti menggaruk dan menatap Arga dengan terbelalak. Astaga aku lupa kalau tadi Nayra menyebutkannya waktu berbicara dengan Adit. Segera kuberdiri dan bergegas mandi tak lupa mengingatkan Arga agar tetap menungguku yang membuatmya jadi tertawa.
Aku dan Arga tiba di pasar malam sekitar jam 10 dengan keadaan yang sangat ramai, aku dan Arga berjalan mencari Daffa dan anak – anak lain yang kami tebak pasti sedang bermain distan permainan yang terlihat ramai itu. Namun, bukannya menemukan Daffa, aku malah melihat Nayra, Lira sepupunya dan beberapa orang termasuk cowok yang dari kampung lain yang kukenal sedang seru bermain bersama. Aku menyiku Arga bermaksud mencari tahu ada apa diantara mereka dengan Nayra.
“Erik kayaknya suka sama Nayra” kata Arga yang nampak sedang menatap tajam keadiknya Arin yang ikut juga berkumpul dengan mereka. Aku dan Arga berjalan meninggalkan mereka dan terus mencari Daffa dan lainnya tapi tak menemukan mereka. Lelah berjalan,kami berdua memilih makan dan merokok. Aku dan Arga kemudian berpindah tempat disebuah bangku panjang yang sedikit jauh dari keramaian. Kami sedang menertawakan seorang anak kecil yang balonnya terbang keangkasa karena terlepas dari pegangan ketika Lira ikut duduk disebelah kami.
“eh Rayhan, Arga” sapa Lira sambil menyeruput minumnya
“nunggu siapa?” tanyaku pada Lira yang sendirian
“lagi nyari yang bisa nganterin pulang” jawab Lira santai, yang membuatku jadi bingung. Bukannya dia tadi beramai – ramai bersama Nayra, Arin dan lainnya.
“bukannya tadi bareng Nayra sama yang lain?” kemana Nayra pergi?
“Nayra tadi diajak Erik keliling, yang lainnya gak tahu,soalnya tadi aku misah gitu” jawab Lira sambil menatap sekeliling. “kenapa? Nyari Nayra?” tebak Lira yang mulai penasaran.
Aku menggelengkan kepalaku “bukannya dia masih sama Daffa?” pertanyaanku membuat Lira dan Arga tertawa bersamaan.
“Daffa sama Nay udah putus kali” jawaban Lira membuatku terkejut, sekaligus penasaran sebabnya. “Daffa yang mutusin. Aneh aja, masa dia yang nembak dia yang mutusin” imbuh Lira nampak sebal.
“alasan Daffa apa?” Tanyaku tanpa perlu berbelit – belit
Lira mengangkat bahunya “kata Daffa, Nay tidak menganggap Daffa seperti pacar. Naynya cuek abis. Lagian Daffa, udah tahu Nay itu cuek abis, maunya di perhatiin terus. Aku rasa yah, Nay gak suka sama dia” penyataan Lira yang terakhir buatku menatapnya seolah meminta penjelasan lebih. “yah, kayaknya Nay terima dia karena kasihan. Nay kan gak tegaan orangnya” Lira menyeruput minumnya. “dahlah.. Rey mending antar aku pulang deh” bujuk Lira yang akhirnya aku iyakan. Aku berkata pada Arga untuk tetap menunggu ditempat ini, dan segera berdiri mengambil motor untuk mengantar Lira.
Aku terkejut ketika melihat Nayra sedang duduk diteras rumah neneknya sendirian. Bukannya kata Lira tadi sama Erik. Aku memarkir motor mengantar Lira masuk kepekarangan.
“loh.. Erik mana?” Tanya Lira sambil berjalan masuk. Nayra hanya mengangkat bahunya pertanda tidak tahu.
“kok jadi sama Rayhan? Bukannya tadi sama Salman?” nah.. ketahuan Lira ternyata sebelumnya jalan dengan Salman
“bikin illfeel, gak nyambung gitu ngomongnya” kata Lira mengambil duduk di sebuah kursi diteras “jadinya sama Rey ajalah” pernyataan Lira nampak membuat Nay menjadi bingung.
“Jadi.. kalian pacaran?” Tanya Nayra yang ingin kusanggah namun Lira dengan segera menggenggam tanganku membuatku segera terdiam, sementara ia tersenyum sumringah kearah Nayra.
“selamat yah.. kata Nayra yang tahu – tahu sudah berdiri. Jaga baik – baik Lira yah Rey” katanya sambil menepuk bahuku. Aku tercengang, terakhir kali aku menyentuhnya adalah ketika kami bersalaman ditepi sungai waktu lebaran. Dan kini tanpa canggung Nayra menepuk bahuku yang entah bagaimana berhasil membuatku melayang malam ini. Terserah dengan kesalah pahaman ini. Aku ingin menikmati hal kecil ini dulu.
__ADS_1
“aku pergi dulu yah” kataku ingin segera melarikan diri dari sini.
“makasih yah Rey udah nganterin Lira. Hati – hati yah” kata Nayra sambil tersenyum. Lira yang berdiri dibelakang Nayra nampak mengacungkan jempolnya. Ah.. aku tahu maksudnya dengan membuat Nayra bingung. Agar Nayra tidak lagi merasa canggung lagi padaku karena sepertinya dulu dia tahu kalau aku juga akan menembaknya.
Aku membalas senyuman Nayra dan berjalan meninggalkan mereka berdua dengan mood yang kembali bagus. Sepertinya aku masih punya kesempatan. Tapi.. ah…bagaimana aku menjelaskan ke Nayra kalau sebenarnya aku dan Lira tidak berpacaran.
***
Matahari yang menyengat tak begitu terasa dikulitku siang ini, aku sedang duduk dipos ronda kampung ketika melihat Nayra sedang duduk diteras rumah neneknya sendirian dengan sebuah buku ditangan. Kuputuskan berjalan menuju kesana. Nayra nampak tersenyum ketika melihatku membuka pintu pagar. Kuucapkan salam yang langsung dibalas oleh Nayra.
“cari Lira yah? Telat sedikit saja, dia baru saja dijemput papanya” kata Nayra padaku yang langsung mengambil duduk disebelahnya.
“sok tahu!” kataku menatapnya, ah.. siang ini dia nampak begitu cantik
“Lah.. kalau bukan Lira terus cari siapa?” aduh, ternyata Nayra masih salah paham
“nyari kamu” kataku masih terus melekatkan pandanganku
“eh.. ada urusan apa? Bukannya kamu pacarannya sama Lira?” masih dalam kebingungannya Nayra jadi berpikir keras.
Kusentil dahinya sontak membuat dia terkejut. “kamu tuh salah paham, aku tuh gak pacaran sama Lira” Nayra nampak terkejut sambil menggosok – gosok dahinya
“eh? kok bisa? trus, kenapa nyari aku?” Nayra masih kebingungan dengan dahi yang memerah.
Aku menggeleng “rindu aja, lama tidak bicara satu sama lain” angin yang bertiup diantara kami memainkan rambutnya semakin membuat ia terlihat sangat cantik.
“kan kamu, yang tidak pernah berbicara lagi denganku” ia berusaha membela dirinya.
“bukannya kamu marah denganku?” aku takut ia memusuhiku karena aku menonjok Daffa waktu itu.
“aku tak pernah marah sama kamu. Kamunya saja yang nyuekkin aku” kata Nayra sambil manyun yang membuatku semakin gemas melihatnya
***
Deringan alarm yang terus berdering tanpa henti mulai mengganggu pendengaran membangunkanku. Aku duduk menatap jam pada nightstand yang sudah menunjukkan pukul 12 siang. Nayra.. segera kuberdiri menuju ke kamar tamu membuka perlahan pintu. Terlihat Nayra masih dalam posisi tidur pulas.
Berjalan kedapur, aku menyalakan coffee maker kembali kedalam kamar untuk mandi. Aku menyesap kopiku pelahan sambil mengecek hp yang isinya ada panggilan tak terjawab dari Bani, ah.. aku berhutang penjelasan padanya. Derit pintu membuyarkan fokusku, aku berbalik melihat Nayra yang sudah bangun, berjalan mengenakan kausku yang terlihat kedodoran untuknya tanpa mengenakan celana yang kuberi semalam? Eh? Aku kembali memandangi handphone berpura – pura tak melihat kedatangannya.
“rey.. “ suaranya terdengar serak dan sedikit panic membuatku tak tahan untuk menatapnya. “udah lewat jam check out” katanya dengan wajah panic.
“jam check out?” tanyaku sambil menatapnya yang mulai tak sabaran
“check out dari hotel kamu!! Sekarang udah jam 1” kata Nayra makin geregetan
“oh...” wajahnya semakin gusar ketika mendengar jawabku yang seketika memecah tawa. Aku segera menelpon resepsionis hotel meminta mereka memperpanjang kamar Nayra untuk satu malam lagi sekaligus meminta ia dipindahkan ke president suite tapi Nayra segera mencubitku dan minta jangan dipindahkan. Akhirnya kupilih untuk memperpanjang semalam yang membuat Nayra lega sekaligus marah karena aku memindahkan tagihan kamarnya padaku.
“celananya mana?” kataku sambil menatapnya tajam
“celananya kedodoran, jatuh – jatuh terus. Makanya aku buka” kata Nayra yang tangannya ingin menyambar gelas kopiku. Aku menghindarkan cangkirku sambil menggelengkan kepala.
“kamu tuh punya sakit magh, gak boleh minum kopi” kataku berdiri sambil mencubit pipinya, membuatnya nampak kesal. “aku bikinin teh yah. Kamu mandi terus pilih aja baju yang ada dikamarku” kataku mempersilahkannya mandi dan mengacak – acak isi lemariku agar ia menemukan pakaian yang pas untuknya. Sambil menunggunya mandi aku memesan makanan dari aplikasi online kebiasaanku kalau dirumah.
Nayra yang baru selesai mandi membuatku semakin tak bisa menatapnya lama. Bahaya, aku tak tahu apakah aku bisa bertahan lama dengan tidak mengapa – apakannya. Bagaimana tidak, ia dengan handuk yang masih melingkar dikepala sehabis keramas,memakai kaus putih dengan celana tidur pendekku yang membuatku menjadi sulit untuk focus disini.
“oh ya.. bajuku semalam ada dimana sih?” Tanya Nayra duduk dimeja makan sambil menyeruput tehnya.
“ada diruang laundry, baru aja kering” kataku yang tadi sempat mengecek pakainnya yang semalam langsung kumasukan kemesin cuci. “jangan dipakai lagi. Baju pendek begitu” kataku menjadi posesif kepadanya.
Wajahnya berubah terkejut “tapi roknya boleh yah.. masa aku pakai celana kamu balik kehotelnya?” bujuk Nayra yang kujawab dengan anggukan kepalaku. “ya ampun, pake repot pesan makanan lagi. Rey.. aku bisa kok makan nasi sama telur dadar” kata Nayra yang sudah teralihkan dengan makanan itu kini duduk menatap set makanan lengkap yang kupesan hari ini. Telur dadar katanya? Aku saja tidak punya apa – apa di dalam kulkas bahkan untuk sebuah telur.
__ADS_1
“nice house” kata Nayra disela makan kami. Berbeda dengan Mila yang tidak suka mengobrol sambil makan, Nayra sebaliknya.
“kata orang yang punya rumah lebih bagus dari aku? Rumah aku gak ada apa – apanya dibanding rumah kamu Nay” rumah Nayra jelas – jelas rumah megah bergaya minimalis dengan sentuhan arsitektur yang sangat menonjol dari bangunan lain disekitarnya.
“rumah orang tua, Rey..” katanya merendah “kamu bahkan punya kolam renang dirumah” katanya dengan wajah yang terpukau.
“kamu bisa kesini kapanpun kamu mau” kataku yang seketika membuatnya tertawa
“jangan dikasih hati. Kalau aku ngelunjak gimana?” tawanya menular kepadaku yang membuat waktu jadi tak terasa hingga makanan yang ada dihadapan kami telah habis. Nayra berdiri mengambil piringku yang sudah kosong, juga piringnya. Kami membersihkan tempat makan kami bersama. Ah.. seperti yang pernah kubayangkan, hari ini dirumah ini aku makan dengannya berbagi cerita dan tertawa bersama. Hatiku terasa begitu remuk.
“abis ini kamu mau kemana?” tanyaku melihat bagian belakangnya yang sedang focus mencuci piring.
“kehotel, kerja sedikit abis itu lihat sunset” kata Nayra masih focus dengan kegiatannya.
“kamu tahu spot sunset bagus dihotel?” kataku yang membuat kegiatannya terhenti. Kini ia berbalik menatapku penuh ingin tahu.
“dimana?” kini ia menjadi penasaran.
“nanti aku tunjukkin” kataku diikuti anggukan kepalanya.
“oh yah.. alamat detail kamu mana sih? Aku mau pesan taxi online biar jemput aku” kata Nayra yang sudah selesai dengan cuciannya, menyusulku yang sedang duduk diteras belakang.
“bawa aja mobilku” kataku menawari agar ia tidak naik taxi dengan mengenakkan rok mini seperti itu.sebenarnya aku ingin mengantarnya, tapi aku masih ada kerjaan yang harus aku selesaikan.
“bawa jeep boleh?” Tanya Nayra dengan wajah memelasnya sekaligus membuatku terkejut karena adikku Rena ataupun Mila akan memilih sedan dibanding jeep yang besar dan lebih cocok untuk lelaki. Aku menganggukan kepalaku yang langsung membuat Nayra melompat kecil saking senangnya. Ah.. dia yang mudah mengekspresikan dirinya sangat cepat menaikkan moodku siang ini. “aku ganti baju dulu yah..” kata Nayra segera berjalan masuk namun langkahnya kembali lagi “boleh pinjam kemejanya gak?” ia nyegir kuda membuatku jadi tak tega. Aku menganggukan kepala lagi membuat Nayra segera melesat masuk kedalam kamarku.
Nayra yang sudah selesai berganti pakaian kini berdiri dihadapanku dengan bajunya semalam, ditutupi oleh kemejaku yang besar membuatnya nampak manis.
“see you at sunset?” Tanya Nayra berdiri diambang pintu menuju teras. Aku menatapnya lama, sejujurnya aku tak ingin membiarkan pergi dan menahan dia seharian dirumahku tapi aku takut tak bisa mengendalikan diriku.
“see you at sunset” kataku sambil memeberikannya kunci mobil jeep yang akan dikemudikannya. “jangan ngebut” kataku mengantarnya menuju pintu garasi. Ia menganggukkan kepalanya. Aku mengambil remote pintu garasi dan membukanya membuat wajah Nayra yang tadi diam kembali terkejut
“wow.. I should have that for my dad” kata Nayra sambil membuka pintu mobil sementara aku hanya bisa tertawa. Nayra menyalakan mesin mobil kemudian membuka kaca mobil “Rey.. aku jalan dulu yah, doain mobilnya gak lecet” katanya sambil tertawa membuatku menatapnya tajam “just kidding” Nayra kembali terkekeh menularkannya kepadaku. “bye” katanya sambil meniupkan sebuah kiss bye dan segera meninggalkan aku yang masih terpaku diparkiran. Ah.. bagaimana ini.. hatiku sepertinya tak bisa diajak berkompromi lagi.
***
Jam menunjukkan pukul 5 sore ketika aku tiba di hotel sambil menenteng 1 caramel machiatto dan 1 matcha latte. Membuat satpam yang ada menjadi kebingungan karena sebelumnya mereka melihat mobil jeepku sudah masuk kehotel terlebih dahulu. Aku hanya bisa menjawab kalau sedang dipinjam. Ah, aku tidak berbohong kan.
Kuketuk pintu kamar Nay, dia sudah berganti pakaian dengan celana jeans, dan sweater alumninya yaitu UNSW yang nampak kebesaran. Senyumnya mengembang ketika aku memberinya segelas matcha latte ukuran besar. Kami berjalan sambil mengobrol hingga tiba dilantai 5, lantai teratas hotelku.kami melewati ruangan bertuliskan office yang membuatnya berdecak kagum karena ternyata dibagian atas hotelku ada ruangan kantor untukku dan beberapa karyawan. Kami terus berjalan hingga menemukan pintu yang bertuliskan only authorized allowed. Aku membuka kunci pintu dan kami naik menuju rooftop hotelku.
“wow.. “ seru Nayra ketika kami tiba diatas “kamu harus buka cafe di atas sini Rey” kata Nayra yang masih terkagum dengan pemandangan rooftop yang bisa melihat semuanya dari sini.
“aku lagi mikirin apa yang pas untuk kubuat disini sebenarnya” kataku ikut berdiri disampingnya.
“yah, menurutku kamu harus buka cafe diatas sini, tapi harus kamu ownernya. Biar harga kopinya tidak kemahalan” katanya sambil tertawa
“kenapa harus cafe” tanyaku menatapnya
“anak muda tidak terlalu sering menginap di hotel, tapi mereka sering pergi ke cafe apalagi kalau harganya murah. Tempat ini sangat cocok karena pemandangannya, sisa harganya saja harus menyesuaikan kantong mereka” jelas Nayra yang membuatku setuju. Tetap saja dimanapun dia selalu berotak bisnis.
Aku mengambil kursi dan meja pantai lipat yang sengaja kusembunyikan disini.
“kamu sering ngajak cewek kesini yah?” senyumnya menyeringai tanda curiga
“enak aja! Ini tuh hideout aku. Kalau sedang butuh ide atau ada masalah, biasanya aku duduk disini” jawabku diikuti anggukannya pertanda setuju. Aku memang tak pernah mengajak siapapun untuk duduk disini bahkan yang tahu aku suka sembunyi disini hanya Diana sekertarisku dan Pak Udin cleaning service yang biasa membersihkan kantorku dan rooftop ini. Dan kursi ini sengaja kutaruh biar aku bisa santai sembunyi disini.
“indah yah” kata Nayra sambil memejamkan matanya menikmati angin yang bertiup dan pemandangan burung – burung yang terbang menuju sangkar. Sementara aku hanya memandanginya sambil tersenyum, tahu kalau dia akan sesenang ini hatikun pun serasa terlalu sesak untuk merasa sebahagia ini.
“Rey.. lihat mataharinya udah mau terbenam” kata Nayra segera berdiri dengan antusias. Hingga kakinya tersandung membuat ia terjungkal kebelakang karena kehilangan keseimbangan. Aku berusaha menahannya agar tak jatuh kelantai. Membebani berat tubuhnya kedalam pelukanku, kami beradu pandang diantara warna langit yang perlahan bertransformasi menjadi jingga. Mataku berusaha membaca apa yang tersirat dimatanya. Dan kini, sepercik api yang dulunya pernah padam kembali menyala. Aku mencium bibir Nayra ditengah perjalanan matahari kehorizon, dibawah perubahan langit biru menjadi jingga, diatas bumi yang kini membuat tubuh kami yang terang perlahan menjadi siluet, dikelilingi nyanyian burung – burung yang sedang pulang kerumahnya, yang kuinginkan hanyalah menghentikan waktu, Saat ini dimana Nayra ada dipelukanku, merasakan ciumannya yang lembut dan penuh arti.
__ADS_1
***