
Mila dan Diana berdiri diambang pintu saat melihatku dengan sebuah testpack ditangan. Keduanya nampak terkejut hanya saja ekspressi Mila lebih menarik minatku. Terkejut dan ketakutan disaat yang bersamaan. Aku mengisyaratkan mereka berdua masuk dan menyuruh Diana mengunci pintu.
“ini punya siapa?” tanyaku berusaha merendahkan nada suara karena aku sangat ingin berteriak sekarang.
“Rey.. itu.. punya kakak aku..” Mila memulai penyangkalannya
Aku duduk dikursi mempersilahkan Mila dan Diana agar ikut duduk, mereka mengambil tempat dihadapanku.
“untuk apa kamu menyimpan test pack dari kakakmu?” Mila nampak gelisah aku tahu dia sedang memikirkan jawaban yang akan dikatakannya. “sebaiknya jawab dengan jujur Mila” kataku masih dengan nada bicara setenang mungkin.
“Rey… itu bukan punya ku.. aku tak sengaja membawa test pack milik kakakku ke kantor” ah.. aku suka perdebatan ini
“kakak kamu yang mana?” Mila mulai gelisah lagi dengan pertanyaanku. Kakak Mila yang yang sedang hamil tua tidak mungkin melakukan test kehamilan untuk memastikan lagi perutnya yang sudah membesar, sementara kakak yang satunya pernah bercerita bahwa sudah melakukan pengangkatan rahim.
“Rey.. please percaya sama aku.. “ aku mengalihkan pandangan kepada Diana yang duduk disebelah Mila berusaha untuk tidak membuka suara
“telepon dokter kandungan sekarang, buat janji” Diana mengangguk sementara Mila berdiri memeluk kakiku.
“Rey.. please.. tolong percaya sama aku”
“anak siapa ini Mila?” aku berusaha keras untuk tenang “mengingat kejadian semalam bahwa kita tidak melakukan apapun, bahkan sebelum – sebelumnya. Tentunya ini bukan anakku” aku sadar bahwa aku merasa diriku terlalu naïf karena tak pernah melakukan hubungan s*x dengannya selama dua tahun menjalin hubungan. Tapi begitulah keadaannya, aku punya prinsip hanya akan bermesraan dengan menyentuh dan meraba tapi tidak untuk senggama karena aku takut suatu saat ketika aku pergi, aku tak bisa mengembalikan hal yang telah aku ambil.
Dan untuk Mila aku sangat bersyukur tak melakukan hal tersebut dengannya karena saat aku sadari bahwa hampir saja mengorbankan hal – hal penting yang aku miliki, termasuk keinginan memiliki Nayra yang masih ada sampai sekarang.
Kembali berfokus pada Mila yang sedang duduk dilantai memegangi kedua kakiku.
“Mila ayo bangun.. jangan seperti ini. Mari kita bicarakan baik – baik” kataku sambil mengangkat lengannya agar ia mau berdiri. Kutuntun ia disofa memberi isyarat kepada Diana untuk meninggalkan kami berdua, Diana yang mengangguk kemudian meninggalkan handphonenya dimeja kecil yang perekamnya sengaja ia nyalakan berdasarkan kesepakatan kami dari ruang cctv tadi.
“sekarang kamu jelaskan semuanya sama aku” kataku ikut duduk disebelah Mila
“rey.. aku.. sumpah aku tidak melakukan apapun, tolong maafin aku Rey”
“aku akan bertanya karena kamu tak mengatakan apapun? Aku mohon jawab dengan jujur!!” Mila mengangguk ragu dengan pertanyaanku tadi. “anak siapa yang kamu kandung?” Mila diam kemudian menggeleng, tidak berniat menjawab pertanyaanku.
Kuatur nafasku, mulai habis kesabaran karena Mila masih menggeleng dan tak ingin menjawab semua pertanyaan yang aku ajukan. Aku berdiri sambil menariknya agar ikut denganku.
Diana yang masih standby di depan pintu dengan sigap mendengar instruksiku agar mengikuti kemana kami pergi. Tentu saja Mila tidak tahu kemana aku akan membawanya. Ada banyak hal yang kini muncul dikepalaku, pertanyaan yang menimbulkan pertanyaan baru seakan membuatnya menjadi masuk akal jika aku melewatkan banyak hal. Terutama hal – hal kecil yang selama ini aku anggap sepele.
Aku menyuruh Mila dan Diana masuk kedalam mobil, duduk dibangku penumpang berkata pada Diana agar bersiap jika Mila berusaha melarikan diri. Mulai mengebut menuju tempat yang bahkan Diana pun tak tahu.
“Rey.. kita mau kemana?” tanya Mila yang terlihat mulai panic dengan caraku mengemudi. Aku tetap diam tak menggubris pertanyaannya.
__ADS_1
Hingga kami sampai disebuah rumah megah berpagar tinggi, dimana terdapat security yang menjaganya. Aku menurunkan kaca mobil seketika membuat security tersebut tersenyum karena ternyata mengenaliku bahkan sempat mengobrol kecil. Makin membuat Mila dan Diana bingung. Para security akhirnya membuka pintu pagar membiarkan mobilku masuk dan berhenti didepan rumah megah tersebut.
Kuinstruksikan mereka berdua untuk turun dan mengikutiku masuk kedalam rumah tersebut. Aku disambut oleh seorang yang bertugas sebagai kepala pelayan yang menurutku terlalu jarang dimiliki oleh orang kaya didaerah ini. Aku ingin bertanya pada pelayan tersebut saat suara datang menyapaku
“Rayhan..” suara dengan nada yang agak meninggi itu membawa perhatianku kepada nyonya rumah yang nampak casual nan glamour ini.
“hai tante.. “ kataku pada wanita yang biasa kusapa Tante Vera ini.
“anakku yang satunya…!! Tante Vera memelukku dengan erat “tinggal sekota tapi jarang ketemu. Makin sibuk yah sekarang?!” ia kemudian merapikan rambutku yang sering mengingatkanku pada Nayra. “datang sama siapa?” kini tante Vera teralihkan dengan dua perempuan yang berdiri dibelakangku.
“oh iya.. kenalkan ini Diana sekertarisku, dan Mila manager HRD dikantorku kami baru selesai meeting dan kebetulan lewat daerah sini” kataku membuat tante Vera percaya sementara kedua orang dibelakangku menjadi lebih bingung, terlebih karena aku tak mengenalkan Mila sebagai pacarku.
Tante Vera kemudian mempersilahkan kami duduk diruang keluarga yang begitu luas dengan view kolam renang. Tante Vera selalu menganggapku sebagai anaknya ini terlihat sangat lincah untuk umur yang sudah lebih dari setengah abad.
“Bani mana tante?” kataku mengambil duduk disofa, melirik kearah Mila yang sekarang terlihat sedang tidak baik – baik saja.
“uhhh…that party animal.. tentu saja masih tidur” tante Vera memutar bola matanya kesal dengan kelakuan anaknya.
“semenjak balik dari ibukota dia jadi jarang pulang” aku mengangguk mengerti karena ini menjawab pertanyaan yang tidak dijawab oleh Mila
“mungkin Bani punya pacar disini” kataku sambil menyeduh kopi yang baru saja dihidangkan oleh pelayan.
“huff.. he’s better not!!” Mila nampak menunduk ketika mendengar perkataan tante Vera barusan “kalau dia sudah berpikiran dewasa kayak kamu, mau pacaran atau nikah sekalian tante tidak masalah” aku mengangguk mengerti dengan perkataan tante Vera barusan karena aku juga mendengar keluhan yang sama dari Ayahnya beberapa waktu yang lalu kalau Bani masih belum mau focus dengan perusahaan, dia hanya mau bersenang – senang.
“what push?” Bani yang berdiri dibelakang kami terlihat segar khas orang yang baru saja mandi. Mataku dan Diana bergantian memperhatikan Bani yang sepertinya belum menyadari kehadiran Mila, sementara Mila tak berani mengangkat wajahnya.
“Rey bilang kamu mungkin butuh a little push, biar focus sama kerjaan” kata tante Vera menimpali membuat Bani nampak tertawa sambil menggeleng – gelengakan kepalanya.
“kalian terlalu mengkhawatirkanku.. i’m fine! Okay?!” katanya kemudian teralihkan dengan dua perempuan yang datang bersamaku.
“oh ya Bani, kenalkan assistenku Diana, dan manager HRD perusahaanku, Mila” Bani bersalaman dengan Diana, kemudian Mila yang nampak berpura – pura tak mengenalnya.
“apa yang membawa seorang Rayhan yang terkenal sangat sibuk kesini?” pertanyaan Bani membuatku terkekeh.
“sebenarnya aku ada perlu denganmu. Bisa kita bicara sebentar?” Bani mengangguk mempersilahkan aku dan kedua rekanku duduk diteras belakang agar lebih private, aku berpamitan dengan tante Vera.
“jadi..?” Bani mulai penasaran dengan tujuanku menemuinya
“aku tahu kamu dan Mila saling mengenal, dan sering bertemu dibelakangku” Mila masih menunduk, sementara Diana nampak terkejut tak menyangka aku tak lagi berbasa – basi kali ini.
Bani tertawa “is there problem? Dia kan Cuma staff kamu, wajar kan kalau aku bertemu dengannya dibelakangmu” aku mengangguk mengerti
__ADS_1
“dimana awal kalian bertemu?”
“Mila adik kelasku waktu smp, aku sempat tidak menyangka kami ketemu lagi saat sudah dewasa, terlebih dia kerja dikantor kamu, yang notabene sahabatku sendiri”
“apa Mila tidak mengatakan sesuatu saat bertemu lagi denganmu? Seperti status mungkin?”
Bani nampak bingung dengan pertanyaanku “she’s single kan? Right Mila?” Mila yang ditanya tak mampu mengangkat wajahnya yang sedari awal Bani memasuki ruangan.
Aku berhenti sejenak kemudian tertawa kecil “wah.. sepertinya Mila tidak mengatakan bahwa aku punya hubungan dengannya”
Bani nampak terkejut dengan apa yang barusan aku katakan. “what!! Wait… Mila mengaku single waktu itu.. God!! Rey.. I don’t know… serious!”
Aku memecahkan pertanyaan baru dikepalaku “aku pikir, aku tahu kenapa Mila melakukan itu”
“maksud kamu Rey?” Bani menatapku kebingungan kemudian mengalihkan pandangannya kepada Mila yang sedang menunduk
“Mila bisa kamu jelaskan?” dan tetap saja Mila diam tak bersuara.
“ada hal yang lebih penting dari sekedar status sekarang ini Bani” pandanganku beralih pada Mila yang makin menunduk, Bani menatapku lebih serius.
“Mila.. mengapa tidak kamu sendiri yang mengatakannya pada Bani?” usulku membuat Mila menggeleng dan tidak ingin membuka mulutnya membuat Bani makin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi
“okay.. karena Mila tidak ingin mengatakan apapun, maka aku akan memulai bagianku” kataku semakin membingungkan situasi yang ada “Bani.. apa kamu pernah menceritakan mengenai Nayra pada Mila?”
“off course.. Mila bertanya tentang kamu yang katanya masih betah sendiri, dan aku berkata bahwa kamu belum bisa melupakan Nayra, dan akhirnya aku menceritakan kejadian waktu kita kuliah”
aku mengangguk mengerti “apa kamu mengancam Nayra, Mila?” Diana dan Bani nampak terkejut. Mila menggeleng membuatku semakin yakin.
“lalu bagaimana kamu tahu kalau Nayra menolak saat aku ingin kembali dengannya?”
“oh God!!!” teriak Bani seperti menemukan sesuatu “itu sebabnya kamu mencari tahu tentang sumber keuangan dan masalah hutang piutang perusahaan, karena kamu sepertinya mengancam Nayra akan menjatuhkan Rayhan” aku meremas rambutku, sementara Bani mulai berjalan mondar – mandir tidak tenang.
“Mila.. kamu tahu apa yang lakukan ini sudah keterlaluan?!”
“aku.. aku hanya… ingin kamu memilih aku” Mila mulai menangis sekarang
“dan kamu tahu kalau sekarang aku tidak akan memilih kamu?!” Mila menggeleng tidak terima sambil bergumam tidak mungkin berulang – ulang kali
“Rey..aku minta maaf.. aku tidak bermaksud merebut Mila dari kamu, aku tahu apa yang dia dan aku lakukan salah.. tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak pernah ingin menjatuhkan kamu, menyakiti kamu atau apapun itu karena aku sudah menganggap kamu seperti keluargaku sendiri” Bani berusaha menenangkanku sambil mengusap punggungku, aku hanya bisa mengangguk menerima permintaan maaf darinya.
“Bani.. Mila sedang mengandung anak kamu” kataku dengan nada suara setenang mungkin seketika membuat Bani dan semua yang sedang bergerak berhenti sesaat melihatku seolah tak percaya dengan apa yang baru saja aku sampaikan, sebuah bom yang baru saja aku ledakkan disiang bolong ini.
__ADS_1