revertiato

revertiato
#23


__ADS_3

Kupingku yang terasa lebih dingin kini membangunkanku, waktu dilayar monitor menunjuk pukul 4 pagi yang berarti sekitar 3 jam lagi aku akan mendarat di Melbourne. Tanpa terasa aku telah melewati 10 jam perjalanan ini dengan lebih banyak tidur karena kelelahan mengerjakan beberapa proyek yang tertinggal karena kondisi kesehatanku. Aku bahkan membuat dokter yang mengobati kakiku marah karena aku sangat sibuk bekerja dan mengabaikan fakta bahwa aku harus bergerak hati – hati karena baru saja sembuh yang mengakibatkan timbul nyeri lagi dikakiku. Dan lebih terkejut lagi saat aku berkata akan berangkat keluar negeri sendirian dalam waktu dekat,aku ingat persis bagaimana  dia mengataiku gila saat itu.


Maka disinilah aku berbekal beberapa pereda nyeri yang akan menemaniku apabila tiba – tiba terserang sakit, berusaha terlihat sehat dengan mengkonsumsi vitamin dan mengurangi intensitas merokokku yang sering meningkat dikala stress.


Akhirnya aku memutuskan untuk menonton film yang disediakan maskapai penerbangan ini karena sudah tidak mengantuk berharap waktu akan cepat mendekati jam pendaratan.


Waktu menunjukkan pukul 9 waktu Melbourne saat aku memutuskan untuk keluar dari hotel mencari alamat yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat aku menginap. Berdasarkan informasi yang kudapatkan dari ayah Nayra, restaurant sahabatnya akan buka disore hari, yang berarti Nayra dan sahabatnya akan berangkat kebih cepat mungkin siang hari untuk memantau segala persiapan. Makanya aku merasa ini adalah saat yang tepat untuk menemuinya, aku tak mungkin menunda lebih lama karena takut kakiku tiba – tiba terserang nyeri.


Setelah berjalan beberapa blok aku sampai dialamat yang diberikan oleh Om Syah, sebuah gedung apartemen baru yang bernuansa minimalis. Aku memencet bel nomor apartemen tersebut sedikit cemas takut mereka sudah pergi.


“hey… who is that?” suara seorang pria terdengar menjawab, membuatku menjadi bingung. Apa Nayra tinggal bersama pacarnya?


“hmm.. is Nayra Sudirman live here? I need to see her” kataku sedikit ragu takut aku salah alamat


“and who are you?... aku menatap cctv yang terpasang didekatku, aku tahu mereka sedang memantauku dari dalam “oh my god….” Jeritan itu mengagetkanku “are you Rayhan?” aku menatap cctv mengangguk


“yes.. I’m Rayhan, can I meet Nayra here?” aku berusaha membujuk agar mereka mengijinkanku masuk


“of course.. come in?!” jawab suara tersebut diikut bunyi bel pertanda pintu terbuka aku segera menuju lift naik ke apartemen mereka yang berada dilantai 5. Tanpa sabar aku mengetuk pintu yang dibuka oleh seorang pintu yang nampak tidak asing bagiku.


“welcome” katanya mempersilahkanku masuk, didalam ada seorang perempuan berambut blonde sedang duduk menyeduh teh tersenyum kepadaku.


“hi.. I’m Rayhan” kataku memperkenalkan diri pada mereka berdua dan cukup bingung karena tidak melihat Nayra disini.


“I’m Bradley, she's Anna” kata lelaki yang nampak kemayu itu memperkenalkan perempuan berambut blonde yang berada diseberang kami “Nayra.. still sleep.. have a seat please” katanya sambil tersenyum menarikkanku sebuah kursi mengisyaratkan aku untuk duduk.


Aku mencuri – curi pandang pada Brad yang menurutku tak asing, Anna memberikanku secangkir teh membuatku seketika teringat bahwa aku pernah melihatnya.


“are you dating Nayra?” tanyaku kepada Bradley yang duduk disebelahku itu seketika memecah tawa mereka berdua.


“why would you think like that?” Bradley dan Anna kini makin penasaran denganku


“hmm.. few years ago.. I’ve seen  you two holding hand.. in front of the office building” mereka berdua masih tertawa dengan senang mendengar perkataanku


“oh Rayhan.. we always like that, everytime.. wait.. is that the reason  you not back together with her?” aku mengangguk membuat Anna dan Bradley akhirnya mengerti alasanku menolak Nayra beberapa tahun yang lalu.


“Ray.. fyi.. I rather date you than her” aku mengangguk mengerti kemudian terdiam, what the f*ck dia gay?! Aku menatapnya tercengang mengetahui fakta betapa tololnya aku mengira dia adalah kekasih Nayra waktu itu


“ I’m really sorry for made you misunderstand on us” aku menggeleng berusaha menimpali Bradley bahwa semua itu adalah kesalahanku


“No.. it’s all my fault.. I never asked her who’s that guy and jump into conclusion that I made” mereka berdua kembali tertawa, Bradley beranjak dari tempat duduknya membuka pintu kamar dan berteriak membangunkan Nayra


“NAY.. GET UP!! Someone looking for you” kata Bradley memasuki kamar Nayra yang menjawab dengan ogah – ogahan seperti dia masih mengantuk “get up.. someone from embassy needs to talk to you.. “


“what? Why?” Nayra yang sepertinya terkejut dengan perkataan Bradley barusan segera bangun mengecek diluar kamar dengan penampilan yang membuatku terkejut kemudian menjadi gemas karenanya


Dengan rambut yang masih acak – acakan Nayra keluar dari kamar tidurnya masih mengenakan piyama sambil menggaruk kepalanya sesekali ia menguap dan seketika berhenti ketika menyadari bahwa aku bukanlah orang kedutaan yang mencarinya.


Nayra berdiri mematung sambil mengedip – ngedipkan matanya seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat “kamu.. Ray.. han..”


“selamat pagi Nayra” sapaku yang membuat Nayra terkesiap seketika berbalik menuju kamar namun gagal karena menabrak kusen pintu saking buru – burunya. Ia menggosok keningnya kembali melihatku yang tersenyum menahan tawaku


“one minute” kata Nayra sambil mengacungkan jari telunjuknya kembali masuk kekamar.


“so.. what make Rayhan come to Melbourne?” tanya Anna yang suaranya terdengar berat seperti perokok ini.

__ADS_1


“there’s some kind misunderstand between us.. so.. here I’m” Bradley memberiku sepiring choux yang persis dengan choux yang pernah kumakan di café depo bangunan ayah Nayra.


Aku ingin menanyakan beberapa hal kepada mereka saat terdengar pintu kamar terbuka Nayra yang sudah terlihat rapi keluar sambil meneteng jacket tebalnya


“kamu sudah sarapan?” tanya Nayra yang kini berjalan menghampiriku. Aku memperlihatkan choux yang kupegang pertanda aku sedang sarapan.


“tadi sudah makan dipesawat” kataku lanjut mengunyah kue kecil itu. Nayra yang terkejut kini berkacak pinggang dengan wajah yang tak percaya dengan kelakuanku. Dimana aku harusnya beristirahat dulu dihotel untuk menghindari jetlag


“Rayhan… “ ia mencubitku karena kesal dengan kelakuanku “kamu.. bukannya istirahat” Bradley dan Anna berusaha mencoba menghentikan Nayra


“biar cepat beradaptasi dengan waktu.. aku kesini, supaya malam aku bisa tidur” Nayra masih menggeleng tak percaya kemudian mengajakku keluar dari apartemen.


Kami berdua  menyusuri taman yang daun pepohonannya kini berwana kuning dan coklat. Merasa de javu teringat saat aku kesini juga dimusim gugur.


“kamu kesini untuk liburan?” aku berhenti membalikan badanku menghadap Nayra yang juga ikut menghadap aku. Angin bertiup menggugurkan dedaunan yang sebagian berterbangan menerpa kami, aku mengambil daun yang jatuh dikepala Nayra kemudian menggeleng


“aku kesini untuk menemui kamu” kataku dengan tatapan yang begitu focus kepadanya.


“maksud kamu?” Nayra tidak mengerti atau pura – pura bodoh sih.


“iya.. ada beberapa hal yang harus kita luruskan” kataku memasukan tanganku kedalam saku jacketku


“hal… hal yang seperti apa?”


“banyak hal, termasuk hubunganku dengan Mila…” aku menarik nafas berusaha menenangkan diriku “aku tahu Mila mengancam kamu agar menjauh dariku” Nayra menatapku terkejut seolah tak percaya dengan perkataan barusan


“Rey.. aku..” aku menghentikan Nayra yang ingin berbicara dengan menaruh telunjukku dibibirnya


“aku tahu.. kamu melakukannya untuk melindungiku.. tapi semuanya sudah berakhir sekarang, kamu tidak perlu melakukannya lagi”


“maksud kamu?”


“maafkan aku.. “ kata Nayra yang membuatku kebingungan kenapa dia jadi meminta maaf


“kenapa kamu minta maaf?”


“aku merasa bersalah karena turut andil dengan kecelakaan kamu, dan tidak menceritakan tentang Mila yang mengancamku semata – mata hanya ingin melindungi kamu”


Aku menarik Nayra kedalam pelukanku, memeluknya dengan begitu erat. Ah.. betapa aku merindukan perempuan ini.


“Nay..”


“hmm?”


“aku sangat rindu” kataku membenamkan wajahku di rambutnya yang kini sudah berubah menjadi hitam kembali. Badan Nayra yang tadinya seperti kaku karena terkejut dengan kelakuanku kini mulai relax, dia membalas pelukanku yang seketika ikut membuatku merasa lega.


“aku rindu kamu juga” kata Nayra dalam pelukanku


Angin musim gugur yang lumayan kencang itu kembali menghempas kami,aku mengeratkan pelukanku.


“Nay.. sarapan dihotelku aja yah.. dingin” kataku membuat Nayra mengangguk sekaligus tertawa. Sepertinya dia tahu kalau sekarang aku sudah merasakan sakit kepala karena penerbangan panjang. Kami pun berjalan menuju kehotel sambil bergandengan tangan.


“Nay.. “ aku melihat hotel yang sudah dekat ingin memulai lagi pembicaraan kami


“ada apa?” tanya Nayra serasa ia khawatir denganku yang wajahnya sudah mulai tak enak. Aku tak bisa menjawab karena kepalaku mulai terasa pening “rey… kamu… kenapa?” Nayra terlihat panic. Segera menarikku masuk kedalam hotel.

__ADS_1


Nayra berhasil membawaku masuk kedalam kamar segera mungkin memesan room service dan menyuruhku untuk berbaring.


“sorry… kita tidak jadi sarapan bersama” kataku melihat Nayra yang kini sedang merapikan isi kamarku, miss perfekionis yang sepertinya menderita ocd ini tak suka melihat ruangan yang berantakan menurutnya.


“it’s okay.. sebentar lagi room service datang, kita masih tetap bisa sarapan disini” Nayra mendekat kemudian membelai rambutku. “jadi berapa lama kamu akan berada disini?” tanya Nayra yang kini sudah duduk ditepi ranjang membelakangiku.


“sampai kamu mau menerimaku kembali” kataku yang sudah tak ingin lagi basa – basi dengannya segera kembali duduk kemudian memeluknya dari belakang. “please Nay… aku ingin kamu kembali kedalam hidupku”


“bukannya selama ini aku sudah ada didalam hidupmu?”


“tapi Nayra yang aku inginkan ada didalam hidupku ialah Nayra kekasihku, Nayra yang akan tetap bersamaku sampai tua nanti, Nayra yang akan menjadi istriku, Nayra yang tak menyerah denganku” aku mengeratkan pelukanku terasa mulai mabuk oleh wangi parfumnya.


“Rey.. aku… aku takut jika nanti orang – orang membicarakan kamu dan keluarga kamu. karena kamu dan Mila belum lama putus”


 “kamu tidak perlu takut merebutku dari siapapun karena aku bukan milik siapapun, kamu tidak perlu takut dihujat karena merusak hubunganku karena aku selalu akan melindungi kamu sekuat yang aku bisa, dan kamu tidak perlu takut perkataan orang lain tentang keluargaku karena mereka tahu mana yang benar dan salah. Jadi aku mohon.. berhentilah mencari alasan Nay.. karena aku masih belum berhenti mencintai kamu”


Nayra terdiam, aku masih terus memeluknya. “atau yang kamu katakan dirumah sakit waktu itu bohong? Aku ingat dengan jelas kamu bilang kalau selalu mencintai aku” Nayra yang tadinya tak ingin menatapku kini berbalik dengan wajah heran


“kamu.. bagaimana kamu tahu?”


“aku dengar semuanya.. semua yang kamu sampaikan” wajahnya yang memerah membuatku semakin gemas kubalik badannya membuat kami jadi berhadapan “ah.. tadinya aku ingin mengajak kamu makan malam romantic kemudian mengatakannya semua disana” ia yang tadinya malu kini jadi tertawa karena aku tak pernah menemukan momen yang tepat untuk mengatakan segala hal – hal romantic kepadanya


“kamu bisa mengatakan semuanya tanpa perlu menciptakan momen romantic apapun Rey.. setiap saat yang kita lewati terasa romantis, kamu tak perlu memaksakan diri. Karena yang terpenting adalah apa yang keluar dari mulut kamu”


Aku mengangguk setuju dengan pemikiran sederhananya yang selalu membuatku kagum sejak dulu itu “semuanya sudah kukatakan, aku menunggu jawaban kamu” kuletakkan jidatku ke jidat Nayra berusaha menenangkan diriku yang sudah tidak sabar menuggu jawaban darinya itu sambil menutup mataku.


Seketika terkejut saat bibir Nayra menempel kebibirku, mataku segera terbuka tanganku dengan reflex menahan wajahnya berusaha mencari isyarat melalui tatapannya kepadaku


“apa ini berarti iya?” tanyaku yang dijawab anggukan kepalanya “tolong katakana dengan jelas Nay”


“Reyhan.. aku bersedia untuk kembali memperbaiki hubungan ini” tak kuasa menahan euphoria yang meledak dalam diriku, aku mencium Nayra tanpa ampun. Dengan nafas yang memburu kami berdua seakan mengungkapkan segala sesuatu yang tak bisa disampaikan dengan kata – kata. Kini tanganku mulai memeluknya tanpa melepaskan bibir kami yang masih bertaut kadang dengan berbalas dengan pelan kadang dengan kasar. Aku menjadi mabuk dengan aroma parfum Nayra yang sepertinya mulai melumpuhkan segala pikiran rasional dikepalaku.


Aku sudah mendorong tubuh Nayra diatas pembaringan, dan mulai naik diatasnya saat bel pintu berbunyi. Sialan… room service.. aku yang baru tersadar dengan apa yang telah terjadi segera mencari kaus yang sudah terlepas dari badanku, memakainya segera membuka pintu membiarkan pelayan yang membawa pesanan kami masuk.


Aku mengusap wajahku merasa tak percaya aku kehilangan control atas diriku, dan membiarkan nafsu menguasai. Aku menatap Nayra yang menutup badannya dengan selimut, aku tahu dia sedang merapikan bajunya dari balik selimut itu.


Pelayan pun segera permisi setelah kuberi tips beberapa dollar, aku kembali menatap Nayra yang sudah kembali dengan posisi duduk ditepi ranjang. Tatapan kami bertemu membuat tawa Nayra pecah, aku tahu dia mentertawanku yang tiba – tiba terkaget karena kedatangan room service tadi. Merasa gemas, aku kembali mendekatinya kemudian kembali mencumbunya namun tak seintens tadi. Ah.. aku masih punya banyak waktu bukan?! Aku berusaha memperingatkan diriku agar menahan libido ini.


“Nay.. “ kataku yang kini menarik ia agar berdiri dan masuk kedalam pelukanku “bisa aku minta sesuatu?” Nayra terdiam sejenak kemudian menganggukan kepalanya tanpa memandangiku “abis kita makan… bisa tidak kamu pulang?” Nayra yang sedang memelukku kini melepaskan pelukannyamenatapku kebingungan dan curiga


“kenapa memangnya?” pandangannya mulai menyelidikku


“aku takut… aku melakukan hal yang lebih dari tadi” bisikku pelan membuat Nayra tertawa


“you’re playing virgin now?!” kata Nayra seolah meledekku


Aku menggeleng berusaha menahan malu yang sepertinya sudah mencapai ubun – ubunku ini “aku hanya ingin… menjadikan momen itu special.. itu pantas untuk ditunggu bukan?” ia mengangguk seolah setuju dengan perkataanku barusan


“tapi kenapa kamu tak melakukan apapun waktu aku menginap dirumahmu?”


“waktu itu aku masih punya benteng pengahalang, Mila maksudku.. tapi sekarang… kamu jadi kekasihku.. aku rasa tak bisa menahannya lebih lama saat ini… kamu terlalu memabukkan” kataku perlahan membuat mata Nayra melebar saat mendengar kalimat terakhirku, kuyakinkan ia dengan anggukan kepalaku seketika membuat wajahnya memerah karena malu. Ah… aku harus berusaha lebih keras untuk menahan diriku mulai saat ini.


Berusaha mengalahkan nafsuku, aku meraih tangan Nayra menuntunnya kemeja segera memulai sarapan kami dipagi menjelang siang yang begitu indah ini


###

__ADS_1


__ADS_2