revertiato

revertiato
#17


__ADS_3

Kami berdua diam dalam perjalanan pulang, Nayra memutarkan lagu untuk mengusir sesuatu yang sebenarnya masih memuncak diantara kami. Ada ketegangan yang mengambang membuat kami merasa sesak. Tapi anehnya kami tak ingin mencari cara untuk mengurangi ketegangan yang ada ini.


Aku menunggu moment yang tepat untuk memulai, tapi bingung harus mulai dari mana. Aku yakin Nayra juga merasakan hal yang sama, bisa jadi dia masih memiliki senjata yang akan membuat aku lebih sakit lagi.


Tanganku mengecilkan volume music yang terasa mengusik “nay.. tolong berhenti sebentar” Nayra menurunkan kecepatan dan segera menepi dibahu jalan. “mari kita bicara” kataku keluar dari mobil, menyalakan sebatang rokok. Nayra menyusulku mencomot rokok dari bungkusan ditanganku. Aku menatapnya bingung, sejak kapan dia merokok?


“kamu merokok?” tanyaku pelan saat ia mulai mengambil rokok yang sudah terbakar diantara jariku untuk menyalakan miliknya.


“hanya saat stress” kata Nayra singkat. Aku berusaha mengabaikan hal yang sebenarnya tak kusukai ini karena ada hal yang lebih penting sekarang.


“aku ingin kita jujur satu sama lain, jangan ada yang ditutupi. Please…” aku menatapnya dengan seluruh kesungguhan yang aku punya. Nayra mengangguk menyetujui syaratku.”bagaimana perasaanmu padaku sekarang?” aku memulai bagianku tanpa butuh kata pengantar.


Nayra mengangkat bahunya “cinta… terlalu cinta sampai semuanya terasa sakit setiap melihat kamu” matanya kabur oleh air mata yang tak bisa lagi ia sembunyikan. Ada kesenangan untukku saat mendengar jawabannya, Ia masih memiliki perasaan untukku. Aku membuang rokokku juga rokok yang ada dimulutnya, menarik Nayra dengan paksa kedalam pelukanku.


“bukankah kita masih punya kesempatan?” tanyaku berbisik berusaha membujuknya.


“ada hal yang tidak bisa kamu paksa Rey.. termasuk hubungan ini” aku mengeratkan pelukanku. Berusaha membujuknya agar memilih denganku


“kita belum terlambat.. untuk lari sekarang”


“Rey.. kita sudah membicarakan ini sebelumnya dengan konsekuensi yang akan terjadi”. Nayra melepaskan pelukanku. “apa yang terjadi dengan kita dahulu adalah kesalahan yang membuat kita harus belajar untuk tidak mengulanginya. Bukan berarti denganku, tapi dengan Mila yang sekarang ada untukmu”


Nayra diam membiarkan air mata mengalir sambil menatapku “tolong jangan kecewakan dia, kamu bertahan sampai saat ini karena dukungan dari dia” aku menggeleng, tidak ini tidak benar. “biar apa yang terjadi diantara kita sudah menjadi masa lalu Rey.. jangan sakiti dia seperti kamu menyakiti aku”


“Nayra… aku cinta sama kamu.. aku tidak mau yang lain selain kamu”


“kamu juga mencintai dia Rey.. pilihlah dia.. demi aku” seketika itu aku merasakan marah sama Nayra, apasih mau dia? Dia jelas – jelas mencintai aku tapi tak ingin bersamaku.


“kamu jelas – jelas masih cinta sama aku. Apa yang kamu tunggu?”


Nayra berusaha mengatur nafasnya “rey.. cinta tak harus bersama bukan? Aku sudah merelakanmu untuk dia yang mencintai kamu lebih besar dariku” aku menarik Nayra dipelukanku. Dasar bodoh..


“yang harus kamu tahu kalau aku selalu cinta sama kamu, dan itu  tidak akan berubah”


“hal yang tidak akan berubah juga adalah kamu juga punya perasaan itu sama Mila. Kamu bahkan tak bisa memutuskan memilih dia atau aku” kami masih berpelukan untuk beberapa saat terdiam, aku tahu kesalahan terbesarku tak bisa memilih salah satu diantara mereka berdua disatu sisi aku ingin memiliki Nayra tapi tak tega menyakiti hati Mila.


“rey.. jangan ulangi kesalahan – kesalahan yang buat hubungan kita jadi rusak seperti dulu, selama ini Mila sudah ada disisimu melewati segala hal sulit yang kamu temui. Aku tak ingin jadi benalu diantara kalian berdua. Masa akan berlalu begitu pula dengan kita berdua, waktu akan melewatkan semuanya termasuk perasaan kita”


“aku selalu cinta sama kamu” kataku memeluknya denga erat. Ini bukan akhir yang aku cari, aku tak ingin kami berdua berakhir seperti ini.


***


Kulewatkan pagi dengan perasaan linglung, semua terjadi dengan cepat dan entah kenapa masih terasa menyakitkan seperti biasa. Nayra Sudah berapa kali menolak kembali denganku tapi entah mengapa aku tak pernah terbiasa dengan perasaan ini.

__ADS_1


Aku tahu sudah menjadi egois karena tak ingin melepasnya maupun Mila. Seolah takut akan menjadi sendiri ketika mereka berdua meninggalkanku, jika Nayra memilihku aku akan melepaskan Mila dan ketika Nayra menolak aku masih memiliki Mila. Ah.. betapa jahatnya aku pada Mila selama ini.


Membiarkan ia mengambang tanpa kejelasan akan diseriusi atau tidak. Mila yang dulu berusaha membuatku melupakan Nayra sekembali dari Australia, hingga membuat kami menjadi begitu dekat pada akhirnya Mila mengatakan perasaannya padaku dua tahun lalu. Hubungan yang bertahan lebih lama dari hubungan – hubunganku sebelumnya bahkan dengan Nayra yang hanya bertahan setahun.


Mila yang memberi begitu banyak perhatian berbeda dengan Nayra yang cuek bukan main, Mila yang akan diam ketika aku marah berusaha membujukku berbeda dengan Nayra yang akan mencari pembelaan dan berdebat tak ada habisnya denganku.


Dan saat ini ketika aku berusaha melarikan diri dengan segala kesibukan yang sengaja kubuat untuk melupakan Nayra, Mila masih tetap berada disisiku meski seperti ada jarak diantara kami berdua.


Ketukan dipintu membuyarkanku Diana muncul dengan nafas terengah – engah seperti baru saja lari


“pak.. ibu Mila pingsan” aku dengan sigap segera berdiri kemudian menuju ruangan Mila, dari informasi Diana mereka masih membaringkannya disofa


“Mila…” aku membuka pintu dengan kepanikan. Kemudian kembali lega karena ternyata dia sudah sadar. “kamu tidak apa – apa?” tanyaku segera duduk disampingnya yang baru saja meneguk segelas air.


“mungkin aku kecapekan” kata Mila sambil tersenyum mengambil tanganku kemudian menaruh dipipinya membuat aku jadi sadar bahwa berat badannya kini sedikit menyusut.


“kamu sudah makan?” aku mulai khawatir dengan berat badannya


Mila menggeleng “akhir – akhir ini aku tidak begitu berselera” kata Mila menahan tanganku agar tetap berada dipipinya.


“rey..” pandanganku kini focus padanya “kita bisa memulai lagi hubungan ini kan? Memperbaiki kesalahan kita, aku siap berubah jadi apa yang kamu mau” katanya dengan lembut terlihat matanya menyimpan harapan. “tolong kasih hubungan ini kesempatan”


Melepaskan tanganku kemudian memeluknya. Sudah tidak ada jalan kembali sekarang, aku tahu bukan ini yang aku inginkan jauh didalam sana, tapi Nayra ada benarnya. Aku pernah gagal karena dengan berbagai macam alasan dengannya, tapi aku tidak harus melakukan hal yang sama dengan Mila kembali menjadi laki – laki yang selalu mematahkan perasaan semaunya.


“aku minta maaf” kataku saat melepaskan pelukanku dengan Mila “beberapa waktu ini aku menjadi sibuk sendiri” kataku berusaha menghiburnya, Mila mengangguk senang dan menciumku.


***


Tanpa terasa hari pernikahan Rena tinggal sehari lagi, rumah orang tuaku yang tadinya sepi kini menjadi ramai dengan keluarga yang datang untuk membantu masak dan lain – lain. Rena ingin akad nikahnya dilaksanakan dirumah dan memilih hotel untuk resepsi. Aku pun ikutan sibuk mengurus segala sesuatu termasuk berdiskusi dengan pamanku karena akan menjadi wali yang menikahkan adikku.


Terlihat beberapa tim dari perusahaan Nayra mendekor kamar, tempat akad nikah dan beberapa bagian rumah. Nayra yang ternyata juga ada disana nampak menghindariku. Aku tahu dia sedang berusaha menjaga jaraknya, demikian denganku yang sudah bertekad ingin memperbaiki hubunganku dengan Mila.


Aku sedang makan saat Nayra menarik kursi yang ada didekatku, duduk sambil memegangi kepalanya, salah satu timnya mendekat memberi obat pereda sakit kepala untuknya.


“are you okay?” akhirnya aku memulai pembicaraan karena sedikit khawatir takut dia kembali sakit seperti sebelumnya.


“migraine..” kata Nayra kemudian meminum obat “kayaknya aku harus ke rumah nenekku untuk istirahat sebentar” Nayra segera berdiri dan terjatuh seketika membuat semua yang ada didekatnya bergerak cepat termasuk aku yang segera melepaskan peralatan makan dan berusaha mengangkat tubuhnya membawa masuk kedalam kamarku, satu – satunya tempat yang bisa ia pakai istirahat, karena kamar ibu dan Reza digunakan oleh sanak keluarga yang menginap, sementara kamar milik Rena sedang didekor.


“nay.. nayra” aku terus memanggil namanya sambil meminta orang – orang mengambilkan minyak kayu putih agar membuatnya lebih cepat sadar. Nayra mulai bergerak siuman aku tetap memanggil namanya berusaha membuatnya focus dengan suaraku.


“oh **..aku pingsan lagi yah” aku menatapnya heran karena ia seolah sudah terbiasa dengan keadaan ini.


“apa benar kamu Cuma kelelahan?” tanyaku menarik tangannya meraba denyut nadi.

__ADS_1


“low blood pressure” kata Nayra duduk dengan bersandar bantal dibelakangnya


“istrihat dulu disini yah..” Nayra yang mulai sadar dengan keadaan disekililingnya kini melihatku dengan was – was.


“bukannya ini kamar kamu?” tanya Nayra yang kujawab dengan anggukanku. “is it okay?! Bagaimana kalau pacar kamu kesini?” Nayra berusaha berdiri namun segera kutahan.


“ada alasan yang lebih masuk akal kalau dia melihat kamu disini. Keadaan kamu lebih penting”


“tapi Rey.. “ Nayra yang masih berusaha melawan itu akhirnya menerima sentilan jariku didahinya.


“keras kepala, kepala batu, suka melawan” kataku mencari - cari istilah yang tepat untuk kelakuannya yang suka memulai perdebatan denganku “tidak ada tapi – tapi.. istirahat.. kalau sudah bisa berdiri baru kamu boleh kerumah nenek kamu” Nayra akhirnya mengangguk setuju dengan tawaranku barusan.


“aku tidak keras kepala tahu” kata Nayra sambil menarik selimut kembali berbaring


“iya.. Nayra kan anak manis dan penurut” kataku membuatnya tertawa, jelas – jelas dua kata itu sangat berlawanan dengan kelakuannya yang sangat suka membantah apa saja yang aku katakan.


Aku masih duduk memperhatikan Nayra yang mulai kembali tertidur, tak tahan aku pun maju membelai rambutnya yang ternyata bagian belakangnya diwarnai hijau. Membuatku seketika tertawa dengan kelakuannya yang terkadang nyentrik itu.


Setengah jam berlalu aku kembali mengecek keadaan Nayra yang kutinggalkan untuk istirahat itu kini mulai tidur dengan gelisah, dia terlihat berkeringat, kuturunkan suhu ac kamarku, tak lama ia bangun duduk menutup mulutnya dengan tangan menatapku yang sedang berdiri diambang pintu


“mual” kata Nayra bergegas berlari keluar kamar menuju kekamar mandi dan gagal, ia muntah didepan kamar mandi karena tak bisa lagi menahannya. Ibuku yang juga melihat kejadian itu segera memberikan handuk karena bajunya kini terkena sebagian muntahnya. Menyuruhku membawanya kekamar agar bisa mengganti baju juga tak lupa ibu meminta kepada salah satu sepupuku untuk membuatkan bubur.


“rey aku bisa pinjam baju Rena” kata Nayra yang dari tadi menolak perlakuan ibu karena merasa tidak enak dan meminta untuk diantarkan kerumah neneknya saja. Namun sama sepertiku, ibu juga menolak karena dia harus benar – benar istirahat, ibu juga yakin dirumah neneknya tidak ada yang bisa mengurus dirinya karena neneknya sedang pergi menginap dirumah tante Nayra yang berada di daerah yang lumayan jauh.


“atau anterin aja Rey.. rumahku tidak begitu jauh” Nayra masih belum berhenti membujuk. Aku segera membawanya menuju kekamar “Rey.. “ aku mendengus karena mulai tidak sabar menghadapi sikeras kepala ini.


“Nay.. kamu bisa pergi ke rumah nenek atau rumah kamu, asal kamu istirahat lebih dulu. Kasihan mereka sudah masak bubur untuk kamu. Nay.. bisa mengerti maksudku dan ibu kan? Please.. istirahat dan makan dulu.. aku yang akan antar kamu pulang nanti.. tapi tolong istirahat dulu, kamu sudah terlihat pucat Nay” dengan lemas Nayra mengangguk mengikutiku masuk kekamar.


Aku membuka lemari dan segera menarik baju kaus yang ada disana, aku sebenarnya ingin meminjamkan baju milik Rena, tapi jadi teringat kalau dia sedang dipingit. Jadi kuputuskan untuk memberikan bajuku.


“Rey.. itu kan?!” Mata Nayra sedang memperhatikan sebuah kalung berliontin bulan sabit tergantung didalam lemari. Kalung yang ia kembalikan bersamaan dengan buku - buku yang ia carikan untuk keperluan skripsiku. kalung yang selalu jadi pengingat bahwa hubungan yang pernah kami jalani itu begitu indah, dan aku selalu ingin mengembalikannya seindah dulu. Dimana hal yang bisa kami lakukan hanyalah saling mencintai.


Kuanggukan kepalaku pertanda ya. Nayra memintaku keluar kamar agar ia bisa berganti pakaian. Aku sedang berdiri diluar ketika Nayra membuka pintu kamar dan berbisik ditelingaku.


“bisa aku minta kalungnya?” kata Nayra ditelingaku dan aku terdiam kemudian berubah kesal karena ia keluar lagi dari tempatnya ditawan


“boleh.. asal kamu istirahat” tawaranku langsung disambut dengan senyum lebarnya. Aku memberinya isyarat dengan mataku yang melirik kearah kamar, Nayra yang kini sadar sedang berada diluar kembali masuk kekamar dan segera beristirahat.


Nayra tertidur pulas setelah beberapa saat, aku yang menyadari bahwa handphoneku tertinggal dikamar kembali dan melihat dia sudah terlihat mendingan dari tidur yang sebelumnya. Dan kini aku duduk disampingnya yang tertidur pulas itu mengambil tangannya lalu mencium jemari miliknya dengan perlahan agar tak terkejut dengan kelakuan kurang ajarku ini. Aku segera berdiri meninggalkannya.


Dadaku terasa sesak seketika, ada sakit yang tidak bisa aku jelaskan ketika melihatnya. Tuhan.. aku sangat mencintai perempuan yang ada dihapanku ini. Perempuan yang jelas tak menginginkan aku kembali kedalam hidupnya.


Perempuan yang merubah hari – hariku sejak pertama kali melihatnya, membuat setiap saat yang kulewati jadi sangat berkesan karena ia selalu ada dikepalaku seakan – akan mengikuti kemanapun aku pergi, seolah tahu rahasia kecilku. Perempuan yang menjadi sebab mengapa aku ingin menjadi hidup dengan layak, ingin menjadi seorang lelaki yang pantas bukan dimata semua orang, bukan dimata kedua orang tuaku tapi dimatanya. Terdiam.. aku mulai menyadari sesuatu, aku sangat mencintai perempuan ini bahkan Mila pun tak bisa dibandingkan dengan betapa besar perasaanku padanya. Tuhan.. aku telah salah membuat keputusan

__ADS_1


***


__ADS_2