Rinayung

Rinayung
Prolog


__ADS_3

Hariku hanya penuh kepura-puraan. Apa yang aku lakukan, sungguh tidak sinkron dengan hatiku. Ya, semakin hari aku semakin seperti robot jahat yang dikendalikan oleh setan lelaki calon penghuni neraka.


"Rinayung! Mana hasil curianmu?" bentak ayahku tepat di belakang telingaku.


Suara itu menggelegar, membuat telingaku sakit. Namun, sakitnya telingaku tak sesakit hatiku yang lemah. Air mataku, juga tak bisa diajak kompromi. Selalu keluar saat setan lelaki itu membentukku. Air mata itu membuatku semakin tampak lemah dan membuat hati si setan girang.


Iya, aku menjuluki ayahku dengan sebutan setan lelaki calon penghuni neraka. Julukan itu sangat tepat menurutku. Kelakuannya tak mencerminkan sebagai orang tua yang dominan dengan tugas mulianya, yaitu mendidik dan membesarkan anak-anaknya dengan penuh iman dan kasih sayang.


"Aku, aku tidak mau mencuri lagi!" kataku dengan muka tertunduk dan tangisan pelan.

__ADS_1


Aku melirik ke atas, mata setan calon penghuni neraka itu terbelalak memerah. Aku pasrah, entah apa lagi yang akan dilakukan kepadaku. Aku lemas dan lemah, perutku belum terisi apapun selain air putih dari kemarin sore.


"Apa katamu! Mau mati secepatnya di tanganku!" teriaknya sambil menjambak rambut panjangku yang kusut.


Aku hanya bisa menangis, tak mau melepas kata ampun dari mulutku untuk setan lelaki calon penghuni neraka itu.


"Dasar anak durhaka! Aku ini ayahmu. Orang tuamu. Karena aku, kamu ada di dunia! Ayo pilih salah satu! Nurut atau mati di tanganku!" bentaknya dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.


Aku tidak sepenuhnya menyalahkan ibuku yang tidak mau membelaku sama sekali. Aku tahu, ibuku juga korban keberingasan dari setan lelaki calon penghuni neraka itu. Mungkin ibuku lelah memberontak, ibuku lelah memohon. Sehingga memutuskan untuk menurut dan melayani.

__ADS_1


"Sungguh bodoh ibuku! Kenapa tak berani meminta pertolongan untuk diri sendiri maupun untukku? Saudara ibuku banyak! Dengan bukti dan saksi, seharusnya ibuku berani mengadu. Entah mengadu kepada saudara-saudaranya ataupun tokoh masyarakat setempat. Owh, apakah ibuku begitu karena cinta? Cinta yang dalam terhadap setan lelaki calon penghuni neraka itu? Apa yang membuat ibuku jatuh cinta? Bodoh! Sungguh bodoh!" gumamku dalam hati di sela penyiksaan ini.


"Rinayung! Jalankan perintahku! Jika besok kamu tak dapat hasil curian lagi, siap-siap saja kamu mati di tanganku!" lanjutnya.


Aku sudah siap mati sekarang. Dibunuh sekarang pun aku sudah siap. Buat apa aku hidup, jika hanya dosa yang aku perbuat? Bukankah itu hanya akan menyiksaku dan membawaku ke neraka kelak?


"Makan ini! Hari ini jatah makanmu berkurang. Cukup satu kali makan untuk hari ini! Buat apa kamu dipelihara kalau tak menghasilkan!" bentaknya sambil memberiku sepiring nasi dengan telor dadar.


Aku melirik ke arah mukanya. Semakin jijik, semakin benci dan semakin aku ingin cepat mati. Tapi aku harus mati dalam keadaan bertaubat, hatiku memberontak jika aku harus mati saat ini. Sungguh besar dosaku. Aku ingin segera menghabiskan makanan ini. Supaya aku kuat bangkit untuk berlutut, meminta maaf kepada Allah, Tuhanku. Setelah itu, aku rela mati. Rela mati daripada hidup hanya untuk berbuat dosa.

__ADS_1


***


__ADS_2