
Aku kepikiran dengan apa yang dikatakan ayahku tadi pagi. Jika aku menuruti, itu hanya akan menjerumuskan aku ke dunia gelap lagi. Padahal aku sudah niat bertaubat. Pak Dio tak berhasil memediasi ayahku. Mungkin, menjauh dari rumah itu dan rumah nenekku adalah cara yang tepat.
Aku sudah mulai sibuk dengan les-les yang diadakan di sekolah. Tapi aku merasa tak memerlukan les itu. Aku bisa belajar sendiri, selama ini prestasiku juga gemilang di sekolah. Peringkat satu umum sudah sering aku raih, kalaupun turun pasti di peringkat dua. Aku merasa masih di zona aman.
"Bu Tutik, mohon maaf. Apakah saya bisa bicara sama Ibu sebentar?" tanyaku kepada Bu Tutik, wali kelasku.
"Boleh. Mau di mana? Di ruang guru atau di ruang BP saja?" balas Bu Tutik dengan senyum ramah.
"Di ruang BP boleh, Bu?" pintaku dengan sopan.
"Boleh, ayo sekarang saja sebelum les dimulai."
"Baik, Bu."
Aku berjalan beriringan dengan Ibu Tutik menuju ruang BP. Tidak ada teman yang melihatku, kalau pun ada teman yang melihat mereka tak akan berpikir macam-macam kepadaku. Aku siswi berprestasi dan banyak teman walaupun tidak pernah ikut gaul dan nongkrong. Aku sering mengajari teman, bahkan mengerjakan PR bersama. Kadang mereka yang mau menyontek PR pun aku kasih. Tak apalah PR dicontek. Toh, nilai yang sebenarnya ada di ulangan harian dan ujian sekolah.
"Silahkan duduk, Rinayung!" kata Bu Tutik.
"Baik, Bu!"
"Ceritakan, ada apa?" lanjutnya.
"Begini, Bu. Bagaimana jika saya tidak mengikuti les rutin untuk menghadapi UN? Apakah diizinkan?" kataku yang tak mau basa-basi karena aku tahu Bu Tutik ada jadwal mengajar les lima belas menit lagi.
"Kenapa?" tanya Bu Tutik sambil memandangku.
__ADS_1
"Saya tidak bisa membayar les, Bu. Saya juga harus kerja sepulang sekolah. Orang tua saya hanya kerja serabutan. Keadaan itu memaksa saya untuk ikut mencari nafkah."
"Kamu masih di bawah umur," lanjut Bu Tutik.
"Iya Bu, saya tahu. Tapi pekerjaan yang saya lakukan tidak berat. Saya hanya menyapu, mengepel atau menyetrika."
Bu Tutik mengernyitkan dahinya sambil memandangiku. Aku tertutup selama ini dengan siapapun, karena aku ingat pesan nenekku untuk tidak curhat kepada orang yang tidak tepat.
"Apa kamu bisa belajar sendiri?" lanjut Bu Tutik.
"Tentu bisa, Bu."
"Maksud Ibu, setalah kamu lelah bekerja sepulang sekolah apakah kamu sanggup untuk belajar?"
"Akan saya usahakan, Bu. Yang penting saya makan dan tidur cukup, Insyaallah belajar pun akan mudah," kataku.
"Terima kasih, Bu. Saya pamit dulu ya, Bu!" kataku berpamitan sambil bersalaman dengan Bu Tutik.
Bu Tutik menepuk pelan punggungku. Aku tahu Bu Tutik wali kelas yang sanggup mengayomi dan memotivasi anak didiknya.
***
Sesampainya di rumah nenek, aku izin untuk tak menjaga warung. Alasanku karena ada tugas kelompok di rumah teman. Nenek mempercayaiku dan terpaksa menutup warungnya saat ditinggal ke kadang mencari rumput.
Dengan baju sopan dan bertas sekolah, aku berpamitan kepada nenek. Tujuanku sebenarnya untuk mencari kerja. Aku dengar di dusun sebelah yang penduduknya mayoritas orang berada sering meminta pekerja harian untuk menyapu halaman atau menyetrika pakaian. Semoga hari ini aku beruntung dan mereka tidak mempermasalahkan usiaku yang masih di bawah umur.
__ADS_1
Perjalanan yang aku tempuh lumayan jauh. Waktu yang aku butuhkan untuk berjalan kaki kurang lebih empat puluh lima menit. Letih aku tahan, jika haus minum air putih yang sudah aku siapkan dari rumah.
Aku melihat rumah besar yang berantakan dengan mainan anak kecil. Aku beranikan diri untuk memencet bel.
"Ada apa?" kata seorang ibu muda yang membukakan pintu.
"Mohon maaf, Bu. Apakah ibu perlu orang untuk membantu menyetrika atau menyapu halaman?" kataku dengan sopan.
"Iya, saya sedang butuh untuk menyetrika pakaian. Siapa yang mau mengerjakan?"
Jawaban ibu muda itu membuatku senang.
"Saya sendiri, Bu!"
"Lho, kamu bisa?"
"Bisa, Bu."
"Ayo masuk! Nama kamu siapa? Biasanya dikasih upah berapa? Per jam atau bagaimana?"
"Saya Rinayung, Bu. Untuk upah, Ibu lihat dulu hasil pekerjaan saya. Saya tidak mematok besarnya upah, Bu."
"Oh, baiklah kalau begitu!"
Ibu muda tersebut mengajak saya masuk, kemudian menyiapkan dan mengeluarkan semua pakaian yang hendak aku setrika. Aku melihat yang hendak disetrika adalah pakaian biasa, bukan pakaian pesta atau pakaian kerja yang harganya mahal dan perlu tehnik untuk menyetrikanya. Aku sangat senang dan bersemangat mengerjakan pekerjaan ini. Aku berharap, dengan bekerja paruh waktu seperti ini, akhlakku akan menjadi lebih baik. Ayahku tidak akan menyiksa dan menyuruhku mencuri lagi. Serta nenekku tetap bisa buka warung tanpa harus merugi.
__ADS_1
***