Rinayung

Rinayung
Terbebas Sesaat


__ADS_3

Genap seminggu aku tidak masuk sekolah, hingga perwakilan beberapa teman sekelasku datang menjenguk ke rumah. Waktu itu si Hendri, putra Pak Dio memanggil dokter untukku. Dokter memberikan obat luar dan obat minum untukku. Sekalian dibuatkan surat keterangan izin tidak mengikuti kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Kata nenekku, surat keterangan itu diantar ke sekolah oleh Hendri. Sungguh, aku berterima kasih kepada Hendri.


Saat teman perwakilan kelas menjengukku, nenek yang menyambut. Sejak jauh-jauh hari, nenek sudah memesanku agar tidak mengumbar masalah pribadi kepada orang lain. Cukup kepada orang yang tepat saja, karena itu aib keluarga yang harus ditutupi.


"Pilah dan pilih, Rinayung! Mana yang bisa diomongkan ke orang lain mana yang tidak, karena itu aib keluarga. Ayah dan ibumu yang biadab, tapi jangan pernah asal bercerita ke orang lain. Cerita saja kepada orang yang tepat! Kalau salah ngomong ke orang, akan berimbas negatif ke kamu atau adikmu. Mental adikmu bisa terganggu. Interaksi sosial adikmu tak akan berkembang dengan baik, karena perundungan dan lain hal!" nasehat nenek waktu itu.


Aku setuju dan sependapat dengan pemikiran nenek. Sangat masuk akal dan masuk logika.

__ADS_1


***


"Rinayung, besok Nenek mau jual emas. Buat modal jualan lagi. Bu Lik kamu belum merespon surat yang Nenek kirim enam hari yang lalu. Kalau warung tutup terlalu lama, Nenek khawatir para pelanggan akan pergi," kata Nenekku sambil mengelus rambut pendekku.


"Apa gak ada alternatif lain Nek, selain menjual emas? Sayang kalau emas Nenek dijual," ucapku memberi saran.


Nenek menghela nafas panjang, kemudian menuang air putih dingin dari dalam kendi. Air kendi ini sejuk dan dingin, alternatif pertama bagi yang belum memiliki kulkas untuk menikmati air dingin.

__ADS_1


Nenek pernah bercerita, bahwa Kakek meninggal dunia saat keempat anaknya masih kecil-kecil. Ayahku yang paling dewasa dan sudah sudah lulus SMP waktu itu. Kata nenek, ayahku yang membantu nenek mencari nafkah untuk adik-adiknya. Dulunya ayahku itu penurut dan bertanggungjawab.


"Baik, Nek! Semoga warung tetap jalan dan lancar!" kataku dengan hati teriris.


Aku sedih, menyesal dan rasanya pengen jedotin kepala ini keras-keras di ubin. Aku bersalah, aku yang menyebabkan warung nenek bangkrut. Aku yang menyebabkan nenek sedih, padahal nenek sudah baik kepadaku. Nenek menyayangi aku sepenuh hatinya. Tetapi aku, malah membuat beban hidup nenek semakin berat.


Aku bingung, bagaimana caranya aku jujur kepada nenek. Bagaimana caranya aku mengakui kesalahan dan bagaimana caranya aku menebus kesalahanku itu.

__ADS_1


Jujur, selama beberapa hari tinggal dirumahnya nenek, aku sedikit lega. Karena ayah dan ibuku tak melukaiku fisikku selama beberapa hari ini. Tetapi hatiku teriris saat melihat nenekku yang begitu tulus menyayangiku dan aku malah membuat warungnya hancur.


***


__ADS_2