Rinayung

Rinayung
Bos yang Pengertian


__ADS_3

Sore ini, seperti biasa aku datang ke tempat kerja paruh waktu. Kebetulan, setiap hari ibu muda itu memintaku datang. Jadi, aku tak perlu keliling untuk mencari pekerjaan lain.


"Rinayung, besok-besok bisa tidak datang ke sini agak pagi?" tanya ibu muda, bosku yang baik hati.


Aku kaget. Jika aku jujur kalau aku masih sekolah, apakah aku masih bisa diperkerjakan di rumahnya? Tetapi jika aku tidak jujur, ke sananya aku akan bingung menjadi pengarang cerita bebas.


"Maaf, Bu. Saya tidak bisa. Waktu saya hanya sore hari," jawabku tanpa memberi alasan. "Oh iya, nama Ibu siapa? Aku selalu lupa kalau mau bertanya," lanjutku.


"Panggil saja saya Ibu Tia. Oh, kenapa tidak bisa lebih pagi? Ada kerjaan di tempat lain?"


"Bukan begitu, Bu Tia. Tapi..." kataku seketika menghentikan ucapanku.

__ADS_1


"Tapi kenapa? Minta tambahan gaji? Boleh kok! Kerjamu bagus!" lanjut Bu Tia, bosku yang baik hati dan cantik serta masih muda.


Usia Bu Tia jauh di bawah usia orang tuaku. Tapi bijaksananya jauh melebihi orang tuaku. Ah, sudahlah! Tak perlu lagi membicarakan orang tuaku. Aku bekerja juga untuk menghindar dan melupakan mereka.


"Tidak, Bu! Tapi pagi hari saya sekolah," kataku dengan jujur.


"Sekolah? Sekolah di mana? Kelas berapa?" tanya Bu Tia dengan penasaran.


"Saya kelas 3 di SMP 4, Bu."


"Karena saya dari keluarga tidak mampu, Bu. Jadi saya mau bantu orang tua saya juga. Untuk UN, insyaAllah saya bisa mengikuti," lanjutku.

__ADS_1


"Kamu tidak kelelahan? Lalu kapan kamu belajar?" tanya Bu Tia yang masih penasaran dengan aku.


Aku akan menjawab jujur, tetapi tidak memelas apalagi memohon. Jika Bu Tia tidak lagi memperkerjakan aku, berarti itu bukan rezekiku. Kemudian aku akan tetap mencari pekerjaan lain. Karena aku butuh uang. Karena uang memberiku harapan dan untuk mendapatkan uang, aku harus terus berusaha.


"Tidak, Bu. Saya belajar cukup di sekolah saja. Kalau malam, cukup mengerjakan PR. Kadang sambil menunggu warung nenek, saya juga belajar. Kalau ada waktu saja saya belajar, Bu. Lagian belajar kan tidak harus pelajaran sekolah, bekerja itu juga belajar!" kataku kemudian.


"Saya salut sama kamu, Rinayung! Baiklah kalau begitu, kamu tetap bekerja sore hari. Sebenarnya saya butuh orang yang mau menginap di sini. Pekerjaannya sih, tidak berat-berat amat! Tapi kadang saya kuwalahan kalau anak sedang rewel," lanjut Bu Tia yang ternyata tidak mempermasalahkan statusku yang masih pelajar.


"Terima kasih, Bu. Untuk cari orang yang menginap, Ibu kan bisa cari di agen penyaluran," lanjutku.


"Saya tidak mau, Rinayung! Sudah berkali-kali saya kecewa dengan agen penyaluran. Sudahlah, kalau kamu bisa bantu saya setiap hari di sore hari saja, saya sudah bersyukur. Pekerjaanmu baik, kamu tidak grusa-grusu. Tidak banyak meminta. Saya suka itu!" puji Bu Tia kepadaku, yang membuatku semakin berbesar hati.

__ADS_1


Sungguh, masih ada orang baik yang berpihak kepadaku. Jika suatu saat nanti aku menjadi orang sukses, aku takkan melupakan kebaikan Bu Tia kepadaku. Allah masih menyayangiku, walaupun aku ini sudah berpredikat pencuri. Allah Maha Penyayang dan Maha Pengampun, akan mengampuni dan memaafkan makhluknya yang bertaubat. Tapi apakah aku yang hanya sebagai makhluk, akan memaafkan ayahku yang telah mendoktrinku menjadi pencuri? Itu tergantung sikap ayahku kepadaku nanti.


***


__ADS_2