Rinayung

Rinayung
Hari-hari Bersama Nenek


__ADS_3

Sudah dua minggu aku tinggal bersama nenek. Selama dua minggu juga ayah dan ibuku tidak menemuiku sama sekali. Padahal jarak rumah ayah ke rumah nenek hanya dua ratus meter saja. Ibuku sama sekali tak menanyakan kabarku.


Tepat hari ini, sudah lima hari warung nenek buka kembali. Aku yang menjaga sepulang sekolah. Seperti yang diajarkan nenek, aku harus mencatat setiap barang yang terjual, termasuk harganya. Malam hari setelah aku belajar, nenek anak menghitung dan mencocokkan dengan uang yang diterima. Selalu cocok dan nenek sangat percaya padaku.


"Rinayung, pencatatan seperti ini harus rutin dikerjakan. Supaya modal tidak tercampur uang pribadi. Alkhamdulillah, lima hari warung buka dan untung sangat lumayan," ucap nenekku dengan bahagia.


Senang sekali rasanya melihat nenek bahagia. Semoga hal ini akan terjadi selamanya dan ayahku tak akan lagi memaksaku untuk mencuri dagangan nenek. Semoga ayahku sudah sadar dan bertaubat. Dorongan dari hatiku sangat kuat untuk mengakui kesalahan dan segera meminta maaf kepada nenek. Tapi mulutku masih canggung untuk terbuka. Aku juga takut, nenek akan mengusirku dan tak mau lagi menampungku. Kalau sampai hal itu terjadi, mau ke mana lagi aku tinggal? Tinggal bersama ayah dan ibuku lagi, itu artinya aku akan semakin hancur.


"Rinayung, ini uang buat kamu. Buat jajan di sekolah, kalau sisa ya ditabung. Kamu sudah kelas 3 SMP. Sebentar lagi ujian. Nenek berharap, beasiswamu berlanjut. Jadi bisa lanjut ke SMA. Syukur-syujur bisa kuliah," kata nenek sambil menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan kepadaku.


"Tidak perlu, Nek! Aku kan sudah bawa bekal nasi dari rumah," tolakku secara halus.


"Tidak apa-apa, lagian kamu kan sudah jaga warung Nenek," lanjut nenek.


"Nenek simpankan saja uangnya," tolakku dengan halus.

__ADS_1


Nenek beranjak pergi dari tempat duduknya, kemudian masuk kamar dan mengambil sesuatu. Ternyata itu celengan ayam jago yang terbuat dari bahan plastik.


"Nenek beli tadi di pasar. Sehari sisihkan dua puluh ribu buat kamu sekolah nantinya," ucap nenek sambil membelai lembut kepalaku.


Spontan aku memeluk nenek. Nenek begitu menyayangiku, melebihi kedua orang tuaku. Sungguh, aku telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku menyesal, sangat menyesal jika selama ini aku hanya menuruti perintah busuk ayahku.


***


Keesokan harinya, aku menjalankan rutinitas seperti biasa. Memasak nasi sebelum berangkat ke sekolah, sedangkan nenek memasak sayur. Sayuran sederhana yang dipetik dari kebun.


***


"Nenek, tadi Pak Narto beli rokok. Belum ada kembalian sama sekali. Uangnya seratus ribu, sedari pulang sekolah tadi, yang belanja pakai uang besar. Tadi Pak Narto belanja menjelang maghrib. Kata Pak Narto gapapa kembaliannya besok pagi," kataku kepada nenek setelah selesai sholat maghrib.


"Jangan menahan-nahan uang kembalian, apalagi menunggu besok. Usahakan secepatnya dikembalikan. Nenek ada receh. Kamu antar ke rumah Pak Narto ya," kata nenekku yang selalu jujur kepada pelanggannya.

__ADS_1


"Baik, Nek!"


Aku pun segera ke rumah Pak Narto, mengantar uang kembalian. Rumah Pak Narto tidak jauh dari rumah nenek, jadi walaupun malam gelap karena minimnya lampu penerangan, aku tetap berani sendiri.


"Ah, kenapa buru-buru? Besok pagi juga gapapa," kata Pak Narto.


"Kata Nenek sekarang saja, Pak. Kebetulan Nenek punya uang receh!"


"Rinayung, kamu sudah baikan? Kalau ayahmu begitu lagi, kamu teriak-teriak saja minta tolong. Supaya warga mendengar. Setidaknya jika warga berdatangan, ayahmu akan menghentikan tindakan konyolnya," kata Pak Narto, yang membuatku sedikit malu.


"Iya, Pak. Lukaku sudah baikan. Ya sudah, Pak. Saya pamit dulu ya, Nenek sudah menunggu untuk makan," pamitku.


"Iya, Rinayung! Semoga semuanya akan baik-baik saja," ucap Pak Narto sesaat setelah aku berpamitan.


***

__ADS_1


__ADS_2