
Aku sudah lumayan baikan setelah minum obat nyeri dari ibuku, kemudian tidur nyenyak. Aku pun sudah menyetel alarm jam weker pukul 14:30. Sehingga aku tetap bisa bekerja paruh waktu di rumah Bu Tia. Saat aku bangun, warung nenek sudah tutup dan nenek sudah tidak di rumah. Seperti biasa, nenek ke ladang untuk mencari rumput dan mengurusi tanaman kacang hijaunya.
Aku juga sudah hafal jika aku atau nenek pergi, kunci rumah kami taruh di tempat yang sudah kami tentukan dan pastinya tersembunyi.
"Rinayung, mau ke mana? Sudah baikan?" tanya ibuku saat aku mengunci pintu rumah nenek.
"Aku mau belajar kelompok, Bu. Tadi aku kan pulang duluan. Pasti sudah ketinggalan pelajaran," kataku dengan berbohong, karena aku tidak mau jika ketahuan kerja paruh waktu.
Khawatir saja, uang akan diminta dan aku disuruh berhenti. Sedangkan saat ini, aku lagi butuh uang dan mencintai uang.
"Minum lagi obat nyerinya. Tapi setelah makan, ya!" perhatian ibuku kali ini sedikit membuatku tersentuh. Entah itu sebuah ketulusan dari hati seorang ibu, atau ada sesuatu di baliknya. Aku tak tahu. Yang pasti aku tetap ada di pendirianku.
"Sudah barusan, Bu!"
Aku pun berpamitan kepada ibuku. Kemudian, aku berjalan cepat supaya tidak terlambat. Tapi sial. Baru berjalan beberapa langkah aku berjalan, ayahku memanggilku. Walaupun kali ini panggilannya dengan nada normal layaknya seorang ayah memanggil anaknya. Tetapi aku merasa kesal dan terganggu.
__ADS_1
"Iya!" sambil berhenti, aku pun menyahut panggilan ayah.
"Kamu gak pernah jaga warung?" lanjut ayahku masih dengan nada yang enak di dengar.
"Gak pernah. Aku mau belajar kelompok," lanjutku.
"Ingat ya, kalau kamu mau lanjut sekolah! Lakukan perintahku!"
"Bagaimana kalau aku gak mau?" dengan santai dan tanpa ragu, aku berani menjawab perkataan ayahku.
"Berarti jangan harap untuk lanjutkan sekolah!" katanya dengan pelan dan mengancam.
Aku tak takut dengan ancaman itu. Aku sudah pikirkan baik-baik, bagaimana caranya supaya aku bisa sekolah.
"Aku mau lanjut sekolah atau tidak, keputusan itu bukan ditanganmu!" kataku menentang sambil berlalu meninggalkan ayahku beberapa langkah.
__ADS_1
"Dasar anak durhaka!" sambil mengejar dan menarik tanganku, ayahku sepertinya mulai marah. Tapi aku tak gentar menghadapinya. Aku tak takut sama sekali. Yang aku takut saat ini, hanya kehilangan pekerjaan dan uang. Karena uang yang aku cinta saat ini.
"Kalau aku anak durhaka, kamu anak apa!" balasku.
"Berani kamu sama orang tua!"
"Kamu, bagaimana dengan orang tuamu?" lanjutku tanpa memperhatikan siapa yang aku ajak bicara. Aku sudah lelah menghormatinya. Semakin dihormati, semakin aku ditindas untuk menjadi pencuri. Jadi, hilangkan hormat itu! Itu pilihan yang sangat tepat.
"Rinayung! Suatu saat kamu akan tahu, kenapa ayah begitu kepadamu!"
Yup! Aku sedikit tahu dari ibu tadi pagi. Tapi tak seharusnya ayahku berbuat seperti itu.
"Iya, lalu suatu saat nanti kamu juga akan menyesal! Karena aku juga tidak akan pernah menghormatimu sebagaimana mestinya seorang anak menghormati orang tuanya. Kecuali kamu merubah pola pikirmu!" lanjutku dan sudah siap jika tamparan mendarat lagi.
Nyeri gigiku bisa diobati, kok! Jadi aku gak akan takut. Justru aku lebih takut jika aku mengikuti kemauan ayahku, yaitu membenci nenekku dan membuat nenekku rugi dengan segala cara.
__ADS_1
***