
Upah harian dari Ibu Tia selalu aku tabung. Jumlahnya lumayan selama seminggu aku bekerja. Sebelumnya, aku belum pernah mempunyai uang sebanyak ini. Sungguh, aku sangat bersyukur.
Tapi hari ini, aku pulang sesudah maghrib. Pekerjaan bertambah sedikit. Itu tak masalah buatku, karena aku tak takut gelap. Aku tak takut setan, hehehe! Aku sudah menghadapi setan setiap hari. Yaitu, setan lelaki calon penghuni neraka yang selalu mendoktrin dan menyiksaku.
"Rinayung! Pulang!" kata ayahku yang mengagetkanku.
Baru saja aku omongin dalam hati, eh muncul orangnya dari belakangku.
"Iya!" kataku sambil tetap berjalan pelan.
"Pulang!" kali ini, bentakan ayahku sedikit bertambah volumenya.
"Aku tetap mau di rumah nenek," kataku sambil menghentikan langkahku, tetapi tak memandang wajah ayahku.
"Pulang! Kalau tidak, barang-barangmu yang masih di rumah mau Ibu bakar semua!" timpal ibuku yang ternyata sudah di samping ayahku.
__ADS_1
Ya Allah, seperti inikah seorang ibu? Kenapa tidak ada belaian lembut dan sayang sedikitpun kepadaku? Oh, ibuku pernah menuturkan kepadaku bahwa aku anak yang tidak diinginkan. Bukan karena aku anak haram, tetapi karena aku terlahir sebagai perempuan. Ok! Bebas kok, bicara! Tapi ini zaman emansipasi perempuan. Mau aku lihat saja nanti, bagaimana anak lelaki yang diharapkan itu. Kalau pun sukses, aku juga berharap sukses. Anak lelaki orang tuaku itu ya adikku, tentu aku berharap yang terbaik untuk adikku. Semoga adikku benar-benar menjadi anak yang diharapkan dan tidak akan diperlakukan seperti aku.
"Ayo!" sambil menarik lenganku, ibuku mengajakku pulang ke rumah.
Aku menuruti saja. Entah, apalagi yang mau dilakukan kepadaku? Ah, suka-suka mereka saja lah! Anak itu titipan Allah. Bagaimana cara menjaga titipan-Nya itu, ya itu urusan orang tuaku dengan Allah. Tapi, aku tak mau munafik. Aku memang sering bersumpah serapah untuk orang tuaku seusai mereka menyakitiku. Karena aku hanya manusia, sehina apapun aku, aku masih punya hati yang bisa sakit.
Sesampainya di rumah, ibuku mendudukkanku di kursi rotan tua. Kemudian ayah menutup pintu.
"Rinayung, apa kamu masih mau melanjutkan sekolah?" sambil menggeser sebuah kursi rotan, kali ini nada bicara ayahku lumayan enak didengar.
"Kalau mau lanjut, silahkan! Tapi daftar sekolah itu pakai biaya. Walaupun kamu sekarang dapat beasiswa, belum tentu nanti berlanjut!" timpal ibuku.
"Iya, Bu! Aku paham itu."
"Bagus, kalau paham! Besok, ambil sertifikat tanah nenekmu. Tidak harus besok, tapi sebelum pendaftaran sekolahmu. Itu artinya, kamu hanya punya waktu lima bulan. Cari sampai ketemu di rumah nenekmu itu!" ayahku kembali menyuruhku melakukan hal yang tak terpuji lagi.
__ADS_1
Sungguh, aku tak habis pikir. Pencuri yang sesungguhnya saja tidak mau jika anaknya menjadi pencuri. Tapi bagaimana dengan ayahku?
"Untuk apa sertifikat tanah itu?" dengan menggeser sedikit posisi dudukku, aku bertanya balik kepada ayahku tanpa sedikit pun memandang wajahnya.
"Jangan banyak ngomong! Lakukan saja!" bentak ayahku.
"Aku gak mau!" lanjutku sambil berdiri, berniat hendak keluar rumah dan meninggalkan mereka.
Aku muak dengan keluarga ini. Aku bakal hancur jika tetap berdiri di tengah-tengah keluarga kurang waras ini.
"Rinayung! Mau ke mana kamu! Dasar anak gak tau diuntung!" kemarahan ibuku semakin menjadi, hingga satu tamparan pun mendarat di pipiku.
Biadab! Aku tak akan menangis. Tapi aku akan mengingat selamanya.
***
__ADS_1