Rinayung

Rinayung
Usaha Nenek Untukku


__ADS_3

Semalam, aku tidur nyenyak sehingga tak merasakan sakit dan perihnya luka. Tetapi saat bangun tidur pagi ini, sekujur tubuhku terasa kaku. Aku juga banyak melihat memar pada tangan, kaki dan badanku. Bangun untuk sholat subuh pun aku tak sanggup.


"Ya Allah, ampuni aku. Aku tak sanggup untuk bangun. Aku tak sanggup untuk menjalankan kewajibanku pagi ini. Luka ini sungguh menyiksa. Tapi jika ini takdirku, aku akan merubahnya. Aku tahu, Kau memberi cobaan kepadaku, karena Kau yakin aku pasti bisa melewatinya. Tapi jika ini adalah ganjaranku sebagai seorang pencuri, hukumlah aku dan aku akan menerima itu!" rintihku dalam tangis.


Aku memutuskan untuk tidak masuk sekolah lagi hari ini. Bukan karena aku malu dengan guru dan teman-temanku. Tetapi karena luka ini yang membuatku tak berdaya. Jika aku mampu untuk bangun dan berjalan ke sekolah, aku pasti akan datang ke sekolah walaupun luka di sekujur tubuhku terlihat. Walaupun mataku bengkak hingga penglihatanku sedikit terganggu. Aku tidak akan malu, justru aku berharap pihak sekolah dan teman-temanku bisa membantuku untuk menghentikan kekerasan yang dilakukan oleh ayah dan ibuku.


***


"Rinayung, kamu sudah makan? Ayo ke rumah Nenek. Kamu pasti lapar dan lukamu biar nenek obati!" bisik nenekku dari luar bilik kamarku yang terbuat dari gedhek itu.


Nenek bisa mengintipku dari celah gedhek. Namun, aku terlambat mengambil selimut untuk menutupi kaki dan lengan tanganku yang memar dan penuh luka. Aku tak mau nenekku melihat lukaku. Karena itu hanya akan membuat nenekku sedih dan terpukul.


"Rinayung! Ya Allah, kenapa lukamu sampai begitu!" aku kaget, tiba-tiba nenekku teriak histeris.

__ADS_1


"Nek, tenanglah! Aku gak apa-apa. Ini cuma kelihatannya memar, tapi aku tak merasa sakit sama sekali. Sudah Nek, tenang ya!" ucapku, supaya nenek tak semakin histeris dan membuat si lelaki calon penghuni neraka itu kembali beringas.


"Nenek tidak terima semua ini! Nenek mau panggil Pak Dio!" lanjut nenekku.


"Nek, Pak Dio pasti sibuk. Jam segini pasti sudah pergi ke kantor. Apalagi Pak Dio itu polisi, pasti banyak urusan," ucapku.


Nampaknya, nenek tak menghiraukan ucapanku dan segera pergi dari rumah reyot milik ayahku. Aku khawatir, jika nenek benar-benar nekat meminta bantuan kepada Pak Dio. Itu artinya, ayahku akan semakin memusuhi nenek. Walaupun sejujurnya aku sangat mengharapkan bantuan orang lain dalam KDRT yang aku alami ini, tapi aku tidak mau berimbas buruk pada nenekku.


***


"Bu, tenang! Biar saya yang memanggil Pak Priyo!"


Aku hafal suara berat dari lelaki itu. Khas sekali, itu suara Pak Dio. Bintara Polisi yang disegani masyarakat. Aku senang, setidaknya kedatangan Pak Dio akan meringankan penderitaanku. Tapi aku berharap, nenekku akan tetap terlindungi dan akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Berisik pagi-pagi!" balas ayahku dengan suara yang tak kalah keras.


"Aku sudah ceritakan semua kepada Pak Dio. Warga jadi saksi dan luka di tubuh Rinayung adalah bukti! Tolong Pak Dio, urus anak durhaka dan kejam ini! Kalau perlu penjarakan seumur hidup!" ucap nenekku dengan penuh emosi.


Aku tak mendengar lagi suara ayahku. Entahlah, mungkin ayahku segan atau hendak marah juga kepada Pak Dio.


"Bu, biarkan saya bicara sama Pak Priyo! Ibu lihat Rinayung. Jika lukanya terlalu parah, saya akan menyuruh Hendri anak saya mengantar Rinayung ke dokter," kata Pak Dio dengan suara khas.


Aku berusaha bangun sebelum nenekku sampai ke kamar. Namun untuk berjalan, aku belum bisa lancar. Kakiku terasa kaku.


"Rinayung! Bagaimana keadaanmu. Ayo ke rumah nenek. Pelan saja jalannya, nenek akan menggandengmu," ucap nenekku dengan panik dan air mata mengalir.


Semakin melihat air mata nenekku, hatiku semakin hancur. Bagaimana bisa, aku tega menghabiskan uang modal warung nenek hanya demi ayahku si lelaki calon penghuni neraka itu? Bagaimana bisa aku tega melukai hati nenekku, sedangkan nenekku selalu berusaha berbuat yang terbaik untukku?

__ADS_1


***


__ADS_2