Rinayung

Rinayung
Obat yang Tak Menyembuhkan


__ADS_3

Ayahku perlahan menjauhiku, meninggalkan tubuhku yang kotor, penuh luka dan lunglai tak berdaya tergeletak di tanah. Aku berusaha bangun dengan susah payah, tapi masih gagal. Ibuku tampak mendekatiku, kemudian membantuku berdiri. Aku tak sudi berucap terima kasih kepada ibuku. Bagaimanapun, ibuku ikut terlibat penyiksaanku sore ini.


"Kalau kamu nurut sama Ibu untuk segera pulang tadi, hal ini tidak akan terjadi. Ini ganjaran yang pantas kamu terima! Mandi sana, ganti baju dan makan. Kalau perlu, Ibu akan mengobati lukamu!" kata Ibuku yang tak membuatku tenang, tetapi hanya membuatku semakin runyam.


Dengan langkah lunglai dan sempoyongan, aku berusaha mengambil pakaian ganti dan handuk di kamarku. Kemudian membersihkan tubuhku di kamar mandi. Perih sekali luka di sekujur tubuhku ini saat terkena air. Tapi lebih baik tetap aku bersihkan, daripada tanah-tanah kotor itu tetap menempel di tubuhku hingga membuat lukaku semakin melebar dan parah.


***


Selesai mandi aku di kamar dengan langkah sempoyongan, kemudian aku hanya bisa terduduk lemas. Badanku menggigil karena air di kamar mandi terlalu dingin. Mataku berasa berat untuk dibuka, mungkin karena bengkaknya semakin membesar.

__ADS_1


"Mbak, ini makananmu. Kata ayah suruh habisin," kata Ardya, adik lelakiku yang masih balita dan begitu polos.


Aku tersenyum, kemudian mengucapkan terima kasih kepadanya.


"Mbak, lukamu itu sakit ya? Bekas berdarah? Aku obati ya?" ucap Ardya sambil berlari meninggalkanku.


Aku makan dengan lahap kali ini, untuk memulihkan tenagaku. Aku tak berpikir untuk esok hari. Jika esok hari aku masih hidup, aku berharap hidupku akan semakin lebih baik.


"Siap! Sudah, kamu bobo sana. Sudah jam tujuh malam, lho! Besok sekolah kan?" kataku kemudian.

__ADS_1


Setelah selesai makan, aku ke dapur dan mencuci piring. Berjalan ke dapur itu butuh perjuangan, karena lukaku semakin perih terasa. Kaki dan sekujur tubuhku terasa pegal dan kaku.


"Rinayung, ini obat untuk lukamu. Biar Ibu yang oleskan ke tubuhmu yang luka," kata ibuku dan aku tak menolak tawarannya.


Aku hanya diam, saat ibuku mengoleskan obat itu. Rasa perih pun aku tahan, sehingga tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutku.


"Rinayung, ini tak sebanding dengan apa yang sudah ayahmu lakukan terhadapku. Karena kamu lahir perempuan. Sedangkan ayahmu menginginkan anak laki-laki. Setiap hari ayahmu memukul ibu. Bahkan ibu sampai pendarahan dan tak dibawa ke dokter oleh ayahmu. Ibu hampir mati. Itu karena kamu! Karena kamu lahir sebagai perempuan! Ayahmu tak butuh anak perempuan! Ibu pun juga tak sudi punya anak perempuan! Anak perempuan tak bisa diandalkan! Anak perempuan itu hanya beban dan ujung-ujungnya cuma di dapur! Tak akan bisa menghidupi orang tua saat orang tua sudah renta nanti!" kata ibuku dengan suara pelan, namun menyayat hati.


Aku tak menangis sedikitpun, tak juga keluar kata-kata dari mulutku. Hatiku sudah beku dan membatu. Jika aku adalah ular berbisa, aku pasti sudah menggigit dan mencabik-cabik ayah dan ibuku. Tapi sayang, aku hanya manusia biasa. Tak punya kemampuan untuk membalas saat ini, entahlah jika saat nanti aku masih hidup dan diberi umur panjang.

__ADS_1


***


__ADS_2