
"Nek, ini minus dua puluh ribu ya. Tadi ada yang beli rokok satu bungkus, tapi belum bayar. Katanya besok baru mau bayar," kataku dengan berbohong.
Aku bohong sama nenek, berharap besok aku ada pekerjaan yang bisa menghasilkan dua puluh ribu rupiah untuk mengganti rokok yang diambil paksa oleh ayahku tadi.
"Siapa?" tanya nenekku.
Aku diam, bingung untuk menjawab. Ah, kacau sekali pikiranku saat ini.
"Em em, Pak Yatno!" jawabku asal-asalan.
"Ya, catat saja. Semoga nanti tidak berlama-lama bayarnya," ucap nenekku dengan santai.
Aku merasa lega, setidaknya satu masalah teratasi malam ini. Tinggal memikirkan lagi, bagaimana caraku besok mendapatkan uang dua puluh ribu rupiah secara halal.
"Kamu kenapa pakai masker?" tanya nenekku kemudian, yang sedari tadi melihatku memakai masker kain.
__ADS_1
"Kayaknya gejala flu, Nek! Makanya pakai masker. Kalau kena debu sedikit, bersin-bersin," aku berbohong lagi kali ini, karena aku tak mau nenek melihat luka bekas tamparan di pipiku.
"Minum air jahe, ada jahe di tempat bumbu."
"Tadi sudah, Nek!" ucapku untuk melegakan hati nenek.
Setelah warung tutup, kami segera tidur. Aku tidak belajar malam ini, belajarnya sudah tadi siang sambil menjaga warung. Untungnya nenek tak banyak bertanya kepadaku malam ini, kamarku pun pisah dengan kamar nenek. Aku juga berniat mengunci pintu kamarku dari dalam, supaya nenek tidak melihat memar di pipiku jika aku sudah tertidur.
***
Rutinitas pagiku lancar seperti biasanya. Aku hampir lupa. Selama dua minggu lebih aku tinggal di rumah nenek, aku tak pernah bertemu dengan adikku Ardya. Mungkin orang tuaku melarang Ardya untuk ke rumah nenek. Itu tak masalah, orang tuaku menyayangi Ardya sebagaimana mestinya. Nasib Ardya sungguh beruntung, tak semalang nasibku yang terlahir perempuan di tengah-tengah keluarga bubrah.
"Ini waktu sudah mepet! Aku takut terlambat nanti!" jawabku tak bersemangat.
"Ayo pulang sebentar!" kata ayahku sambil menarik tanganku.
__ADS_1
Kali ini aku terpaksa mengikuti. Aku takut jika aku menolak, ayah akan memaksa dan seragam sekolahku akan kenapa-kenapa.
"Duduk, sini!" punya ayahku dan ternyata ibuku sudah menunggu di dalam ruang tamu rumah reyot itu.
Aku segera duduk dengan muka lesu. Ternyata, ibuku tak suka melihat ekspresiku.
"Rinayung! Bukannya senang kamu ketemu orang tua! Malah cemberut begitu! Bagaimana orang tua mau senang melihatmu!"
"Cuih! Aku juga tak berharap kalian senang melihatku!" gumamku dalam hati.
"Rinayung! Mulai hari ini, kamu harus menuruti orang tuamu! Kalau kamu tak mau dicap anak durhaka!" kata ayahku dengan suara pelan.
Aku tetap tertunduk lesu. Aku kira, Pak Dio mampu menghentikan KDRT yang aku alami di rumah ini. Ternyata, itu isapan jempol belaka. Ah, tak sepantasnya aku berharap kepada manusia. Hanya aku sendiri yang bisa merubah nasibku ini. Hanya aku sendiri yang mampu memilih jalan yang hendak aku pilih.
"Kalau tidak, siap-siap saja kamu mati ditanganku!" lanjut ayahku. "Sudah, berangkat sana ke sekolah! Jangan cerita sama siapapun! Apalagi sama si polisi brengsek itu! Paham!"
__ADS_1
Aku tak mengucap satu katapun untuk ayah dan ibuku. Langkah pun aku percepat untuk keluar dari rumah reyot itu. Deg! Serasa aku melihat nenek di samping rumah ayahku. Aku berhenti untuk mencari dan memastikan lagi, ternyata tak kulihat. Mungkin ini hanya halusinasiku yang terlalu mengkhawatirkan nenek.
***