Rinayung

Rinayung
Kehangatan Rumah Bu Tia


__ADS_3

Aku terlambat lima belas menit ke rumah Bu Tia. Tapi hal itu tidak menjadi masalah bagi Bu Tia. Pekerjaan memang selalu ada, karena Bu Tia memiliki balita aktif yang hobi melukis. Ya, kadang aku merasa kesusahan untuk membersihkan lantai dari ceceran cat air. Kadang aku juga menjumpai banyak noda cat air di baju yang aku setrika. Tapi kata Bu Tia, itu tidak masalah. Nanti saat anak dewasa, pasti tidak akan berbuat seperti itu lagi. Masa-masa seperti itu hanya ada dalam usia anak-anak. Sungguh, Bu Tia orang tua yang baik. Aku sih, tidak iri atau berharap punya orang tua seperti Bu Tia, tetapi setidaknya aku bisa memperlakukan anakku nanti seperti Bu Tia memperlakukan anaknya. Sudahlah, takdir saat ini cukup hanya untukku saja!


"Rinayung! Benar nih, kamu tidak ada kendala belajar? Kalau nilaimu jelek karena kamu bekerja di rumah saya, saya tidak enak sama orang tuamu nanti," kata Bu Tia sambil mendekatiku.


Aku tersenyum, kemudian menghentikan pekerjaanku untuk menjawab pertanyaan Bu Tia.


"Tidak, Bu. Alkhamdulillah, aku tetap bisa mengikuti pelajaran seperti biasa."


"Sudah try out?" lanjutnya.


"Minggu depan, Bu."

__ADS_1


"Kalau begitu, saya ingin tahu nilai try out kamu. Oh iya, saya ada beberapa buku latihan. Sudah saya siapkan. Bisa kamu bawa pulang untuk belajar di rumah," lanjutnya, yang membuat hatiku berbunga-bunga.


Hatiku benar-benar berjingkrak. Bertemu Bu Tia, adalah anugerah terindah yang aku miliki saat ini. Selama ini, aku hanya membaca buku yang dipinjamkan oleh sekolahan. Teman-temanku selalu fotocopy jika ada buku latihan soal, sedangkan aku tidak ikut fotocopy karena keterbatasan biaya. Tapi hari ini, Bu Tia sangat berbaik hati kepadaku.


"Terima kasih, Ibu. Saya senang sekali. Selama ini saya belum memiliki buku latihan soal sama sekali," ucapku dengan girang.


"Tapi ingat ya, saya ingin melihat nilai try out kamu!" lanjutnya.


"Baik, Bu!"


"Saya susah membersihkan, Rinayung! Saya juga tidak sabar mencuci pakai tangan. Jadi biarlah mesin yang bekerja. Yang penting saya tetap bisa mengawasi dan memperhatikan Dizky. Tidak boleh meleng sedikit pun. Dizky sangat aktif!"

__ADS_1


Suara Bu Tia mengagetkanku. Aku tidak sadar, jika apa yang aku lakukan juga diperhatikan Bu Tia.


"Bu, bagaimana kalau Dizky dikasih alternatif lain untuk mengganti cat airnya? Tentu yang mudah dibersihkan, aman dan harganya relatif murah," usulku yang sedikit lancang.


"Ada memang?"


"Ada, Bu. Jika Ibu berkenan, bisa mengganti cat air dengan pewarna makanan. Itu aman, Bu. Nodanya juga mudah dibersihkan. Tapi mungkin hasilnya tak akan sebagus cat air kalau untuk melukis."


"Wah, boleh juga! Hasilnya tak bagus juga tak mengapa. Nanti kalau Dizky sudah mulai mengerti, baru diganti cat air."


Aku sangat senang, Bu Tia menerima usulku. Aku ingat, pelajaran seni rupa waktu kelas 6 SD dulu. Alternatif pengganti cat air adalah pewarna makanan.

__ADS_1


Sungguh, kehangatan keluarga aku rasakan di dalam rumah Bu Tia. Seorang ibu yang dengan sabar membimbing anaknya, seorang ibu yang tetep membiarkan anaknya berkreasi dan seorang ibu yang lebih memperhatikan psikologis anaknya. Semua ini, akan menjadi obsesiku saat aku dewasa nanti. Akan aku catat dalam benakku, begitulah cara memperlakukan anak yang baik dan benar.


***


__ADS_2