
Aku senang, hari ini mendapat upah yang lumayan. Uang itu bisa aku pakai untuk mengganti sebungkus rokok nenek yang diambil paksa oleh ayahku kemarin. Tapi, bagaimana cara kasih ke nenek ya? Aku kan bilangnya kalau Pak Yatno yang hutang. Sedangkan hari ini, aku tidak menjaga warung nenek.
"Ah, aku berharap dapat ide berbohong nanti setelah mandi," gumamku dalam hati.
***
"Rinayung, kamu belajar kelompok di mana? Kok, maghrib baru sampai rumah? Nenek kira kamu di rumah ayahmu," kata nenek kepadaku saat hidangan makan di meja makan sederhana sudah tersaji.
Hanya sayur bayam hasil petik di kebun, empat biji tempe goreng dan sambal bawang yang cabenya juga hasil petik di kebun. Sederhana, tetapi nikmat. Unsur makanan empat sehat terpenuhi.
__ADS_1
"Di dusun sebelah, Nek! Belajar sih, cuma dua jam. Tapi waktu perjalanan hampir satu setengah jam. Aku kan jalan kaki, Nek!" ucapku dengan berbohong.
Aku berbohong, bukan tanpa alasan. Aku berbohong karena demi kebaikan bersama. Aku tak mau nenek tahu kalau aku bekerja paruh waktu, bukannya belajar kelompok. Bekerja paruh waktu, supaya aku terhindar dari hasutan ayahku untuk tetap mencuri dagangan nenek. Kalau tetap menuruti ayahku, sudah pasti dosa yang aku lakukan. Aku tahu, mencuri itu larangan. Dalam ajaran agama mana pun, mencuri itu larangan. Kalau aku terus mencuri, nenekku mau makan apa nanti? Usia nenek sudah senja, tak ada anak-anak nenek yang menanggung biaya hidup dan makan nenek sehari-hari.
Selain itu, aku bekerja paruh waktu supaya aku punya uang. Aku tahu orang tuaku sangat mengabaikan aku. Aku bisa bersekolah sekarang ini karena beasiswa. Nah, untuk melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi, aku pun mikir. Bersyukur jika beasiswa itu tetap berlanjut. Tetapi jika tidak, setidaknya aku punya tabungan untuk membayar sekolah lanjutanku nanti. Walaupun sekolah negeri, tetap saja ada biaya.
"Rinayung, tadi Pak Yatno beli rokok di sini. Nenek ingatkan untuk membayar hutangnya. Tetapi, katanya tidak ada hutang di sini?" lanjut nenek dengan pertanyaan yang mengejutkan aku.
"Oh, tadi aku ketemu Pak Yatno di jalan saat mau belajar kelompok. Pak Yatno sudah kasih uangnya tadi. Uangnya ada di tasku, Nek! Aku ambil, ya!" kataku sambil berlari mengambil uang di tas.
__ADS_1
Untung bohongku lancar hari ini, sehingga tidak ada kecurigaan sedikit pun dari nenek. Untung juga uang upah dari kerja paruh waktuku cukup untuk membayar sebungkus rokok. Itupun masih ada sisa dan wajib aku tabung. Aku tak bernafsu menggunakan uang itu untuk jajan atau membeli barang yang lagi trend di kalangan pelajar SMP seusiaku. Bodo amat, dengan fashion! Yang penting aku bisa makan, sekolah dan mulai punya tabungan.
"Ini, Nek! Untuk Nenek bilang sama aku. Kalau tidak, aku bisa lupa! Aku gak enak juga sama Pak Yatno. Untung tidak ada kesalahpahaman antara Nenek dan Pak Yatno!" kataku sambil memberikan uang dua puluh ribu rupiah kepada nenekku.
"Alkhamdulillah, tak ada kesalahpahaman. Nenek ngomong baik-baik, kok!" ucap Nenek.
***
Seperti biasa, selesai makan aku langsung belajar. Tak jarang nenek juga menemaniku belajar. Aku selalu menyambut dan tak pernah menolak jika nenek ingin menemaniku belajar. Mungkin nenek merasa kesepian.
__ADS_1
Aku juga merasa senang dan semangat malam ini. Bekerja paruh waktu untuk pertama kalinya, tidak membuatku lelah dan pegal-pegal. Yang membuatku lelah dan pegal itu, siksaan ayahku dan ocehan ibuku yang pedas dan menyakitkan. Aku berharap, hal apapun yang menyakitkan aku akan segera berlalu dengan segala usahaku.
***