
Seperti biasa, hari ini aku tetap ke sekolah. PR matematika yang rumit itu sudah selesai aku kerjakan. Jam pertama kebetulan adalah pelajaran matematika. Tidak heran, jika mayoritas teman sekelasku berangkat lebih awal. Demi apa, coba? Demi PR matematika!
"Rinayung, kamu kurang pagi berangkatnya. Mana PR kamu, pasti sudah selesai dikerjakan?" pinta Fitri, teman sebangkuku.
"Iya, sudah. Kenapa? Mau nyalin?" kataku sambil meletakkan tas di laci meja.
"Yup!" kata Fitri singkat.
Aku pun segera menyerahkan buku PR matematika kepada Fitri. Banyak teman yang menyalin, tetapi ada pula beberapa teman yang mengajakku diskusi. Aku sih, silahkan saja! Aku gak pelit ilmu. Lagian, aku gak punya sesuatu yang bisa dibagi selain ilmu.
***
"Rinayung, kamu tahu gak?" tanya Fitri kepadaku saat istirahat pertama.
"Gak tahu," jawabku asal, karena pertanyaannya Fitri belum jelas.
"Danang itu suka sama kamu," lanjutnya.
__ADS_1
Aku menanggapinya dengan santai, tak menganggap serius bahkan tak berpikir yang macam-macam.
"Aku juga suka sama teman-teman. Gak cuma sama Danang, tapi semua. Teman-teman sudah baik sama aku," kataku dengan santai.
"Danang itu naksir kamu, mau jadiin kamu pacar, gitu!" lanjut Fitri.
"Sudahlah, jangan ngebahas pacar. Gak mudeng aku!"
Aku memang tak sesemangat teman-temanku kalau membicarakan soal pacar, cinta atau kekasih. Apaan, sih? Aku saat ini gak butuh semua itu. Aku hanya butuh makan, sekolah dan uang.
"Rinayung, banyak perempuan yang mengejar-ngejar Danang. Tapi ditolak sama Danang. Kamu malah begitu! Ayolah, Rinayung! Terima Danang, setidaknya kamu ada yang antar jemput ke sekolah, gak perlu lagi jalan kaki!" bujuk Fitri kepadaku.
"Setidaknya ada yang melindungi kamu, Rinayung!"
Ah, aku gak mau panjang lebar ngomongin tentang itu lagi sama Fitri. Fitri teman sebangkuku sejak kelas 1 SMP. Tapi aku tak pernah sekalipun menceritakan masalah pribadiku kepada Fitri. Aku tahu, masalah pribadiku adalah aib keluargaku.
"Melindungi aku? Dari apa?" lanjutku dan berusaha menghentikan obrolan tentang ini, tetapi tak membuat Fitri tersinggung.
__ADS_1
"Ya, melindungi! Kan pacar! Masa sih, gak mau manja-manja atau bermesraan sama pacar gitu!"
"Aku belum berpikir soal itu, Fit! Fokusku cuma sekolah dan belajar. Sudah, itu saja!"
"Kamu gak kepengen ya, ada yang ngapelin pas malam Minggu?" lanjut Fitri.
"Gak kepikiran, Fit! Orang tuaku pekerja serabutan, nenekku buka warung. Malam Minggu sih, aku biasa jaga warung. Kalau orang tuaku ada kerjaan yang perlu bantuanku, ya aku bantu orang tuaku. Jadi, aku belum bisa mengikuti trend masa kini. Bahkan untuk punya pacar atau berpacaran pun, jauh dari pikiranku!" kataku kemudian.
Fitri terdiam, kemudian menghela nafas panjang. Fitri tak habis pikir, kenapa kesempatan bagus untuk dipacari Danang itu tak disambut baik oleh Rinayung.
"Kamu pasti kutu buku ya di rumah?" lanjut Fitri dengan tema bahasan lain.
"Gak juga! Aku kan jaga warung sepulang sekolah. Paling sambil nunggu pelanggan, aku baca-baca buku pelajaran!"
***
Di masa remaja, aku belum berpikir tentang pacar, apalagi cinta. Untuk apa sih, cinta? Seperti orang tuaku, yang awalnya mereka saling mencinta kemudian pacaran. Akhirnya menikah dan punya anak. Tapi sayang, ekonomi orang tuaku morat-marit. Pendidikan minim. Jadi, hanya keegoisan yang ada dalam kesehariannya. Pikiran pun tak dipakai secara logis. Lalu, aku adalah korbannya. Korban kebodohan dan kebiaadapannya. Mungkin kalau ekonomi orang tuaku baik dan pendidikan orang tuaku memadai, tak akan ada KDRT yang menimpaku setiap hari. Tak ada doktrin negatif untukku.
__ADS_1
So, aku hanya butuh makan, sekolah dan uang untuk saat ini. Aku tak butuh pacar, dalam khayal pun tak terpikirkan.
***