
Hari ini, aku sampai rumah lebih cepat sepuluh menit dari biasanya. Aku membawa banyak buku latihan yang dipinjamkan oleh Bu Tia. Kata Bu Tia, itu bekasnya Bu Tia saat sekolah dulu. Meskipun kurikulum pelajaran sudah berbeda, tetapi soal-soal itu pasti masih berhubungan.
"Buku siapa itu? Banyak sekali?" nenek mengagetkanku ketika aku sedang berjalan menuju pintu.
Sebelumnya aku tidak melihat nenek. Atau mungkin karena aku sangat gembira sehingga tidak memperhatikan jika sebenarnya ada nenek di samping pintu dapur.
"Ini buku kakak kelas, Nek! Boleh dipinjam katanya," kataku sambil mendekati nenek dengan senyum sumringah, namun berbohong.
"Bagus, rawat jika kamu dipercaya untuk dipinjami!"
"Pasti, Nek! Aku mandi dulu ya, Nek!" masih dengan hati gembira, aku pun berlalu meninggalkan nenek.
Hari ini hari yang sangat menguntungkanku. Saking girangnya, sakit gigiku tidak terasa sama sekali. Berharap jika sakit itu sudah sembuh dan tidak akan kambuh lagi. Memang benar sih, kata pepatah. Lebih baik sakit hati daripada sakit gigi. Aku sudah merasakan, soalnya.
***
"Mbak Rinayung! Aku tidur sama Mbak, ya?" ucap adikku, Ardya yang tiba-tiba menyusulku ke kamar sambil membawa tas sekolah dan selimut kesayangannya.
Aku kaget, kenapa Ardya mencariku? Apakah sembunyi-sembunyi dari ayah dan ibu? Kalau iya, ini pertanda tak baik.
"Ardya, kenapa bawa tas sekolah dan selimut?"
"Aku mau tidur sama Mbak. Tapi belajar dulu ya! Aku sudah belajar membaca loh, di sekolah. Bacanya tidak dieja. Tapi langsung dibaca per suku kata," lanjut Ardya dengan suaranya yang khas.
__ADS_1
Aku meminta tas Ardya, kemudian membuka dan melihat bukunya.
"Ardya pintar ya! Tulisannya sudah rapi!" pujiku.
"Iya, Mbak. Aku rajin belajar!"
"Ardya belajar sama siapa?" lanjutku yang selalu ingin menanggapi kelucuannya.
Ardya sedang lucu-lucunya saat ini. Tapi sayang, aku tidak bisa selalu bercanda untuk saat-saat ini. Rindu sekali sebenarnya.
"Sama Bu Guru di sekolah. Kalau di rumah, belajar sendiri. Mbak gak pernah lagi tidur di rumah, sih!"
"Kan ayah sama ibu bisa mengajari."
"Tapi aku gak mau. Aku maunya sama Mbak!" sambil memelukku erat, Ardya meneteskan air mata.
"Ardya, ayo belajar! Katanya ke sini mau belajar. Tapi setelah selesai belajar pulang, ya! Nanti Mbak antar sampai depan pintu!" bujukku supaya tidak ada lagi keributan antara aku, ayah dan ibu.
"Aku mau tidur sama Mbak. Aku sudah bilang sama ayah, ibu dan nenek. Katanya boleh!"
"Oh, begitu! Ya sudah, ayo mulai belajar!"
***
__ADS_1
"Mbak, kenapa ayah selalu memukulmu?" ucap Ardya saat menjelang tidur dan lampu sudah dimatikan.
"Ardya, tidur! Tadi kan sudah berdoa!" kataku sambil membenarkan selimut Ardya, untuk mengalihkan pembicaraan.
"Aku mau tahu, kenapa ayah suka memukul Mbak? Apa nanti kalau sudah besar seperti Mbak, ayah juga akan memukulku?"
Aku terdiam sejenak, tak tahu harus menjawab apa. Ardya melontarkan pertanyaan, yang seolah-olah dirinya sudah terancam dan membuatnya merasa ketakutan.
"Tidak! Ayah tidak akan pernah memukul Ardya! Ardya anak baik, Ardya anak pintar. Ayah tidak akan pernah memukul Ardya!"
"Mbak juga anak baik, Mbak juga anak pintar! Tapi ayah selalu memukul Mbak!" balasnya yang semakin membuatku bingung untuk menjawab.
Ardya masih terlalu kecil untuk tahu masalahku. Makanya, aku berusaha menjawab dengan bahasa ringan yang bisa dimengerti oleh Ardya. Tentu aku berusaha mencari jawaban yang tidak akan membuat Ardya tertekan.
"Ardya, ayah memukul Mbak karena Mbak melakukan kesalahan. Mbak tidak patuh sama ayah. Makanya ayah marah dan memukul Mbak!"
"Mbak sudah memperbaiki kesalahan?"
"Sudah! Makanya ayah jarang memukul Mbak kan, sekarang!" lanjutku sambil memandangi muka Ardya yang imut dan lucu. Muka polos yang sudah sekian lama tak kuajak bercanda.
Rindu! Aku rindu dengan Ardya. Ardya pun tampaknya juga rindu kepadaku.
"Mbak, ayo dongeng donk! Aku rindu dongeng dari Mbak! Ayah sama ibu tak pernah membacakan dongeng untukku kalau aku mau tidur!" rengeknya.
__ADS_1
Aku semangat sekali membacakan dongeng untuk Ardya. Sungguh, hal seperti ini yang sangat aku rindu. Mumpung bersama Ardya, aku mau menuruti kemauannya.
***