Rinayung

Rinayung
Kesedihan Nenek


__ADS_3

Rumah nenekku hanya berjarak sekitar 200 meter dari rumah orang tuaku. Nenekku adalah orang tua ayahku, tetapi hubungan mereka kurang baik. Aku tak tahu apa penyebab hubungan mereka kurang baik. Yang aku ingat waktu aku masih duduk di bangku sekolah TK, ayahku pernah mengamuk dan hendak membakar rumah nenekku. Banyak tetangga dan sesepuh desa yang mengutuk tindakan ayahku. Tetapi sayang, tidak ada yang berani melapor ke polisi.


Nenekku tinggal sendirian. Ketiga anaknya yang lain hidup merantau. Hanya ayahku yang dekat dengan nenekku.


"Rinayung, besok warung tutup dulu. Modal sudah habis. Perasaan, barang dagangan selalu habis setiap hari. Tapi uang ke mana? Terutama rokok. Setiap hari rokok habis. Tapi pemasukan zonk. Apa ada pembeli yang masuk warung?" kata nenekku kepadaku.


Deg! Hatiku berdetak kencang. Aku tak bisa menjawab pertanyaan nenekku. Sungguh, aku kasihan sama nenek. Usianya sudah begitu senja. Tapi untuk hidup sehari-hari, nenek harus mencari sendiri. Kadang, nenek mempercayakan aku untuk menjaga warung di sore hari. Karena nenek harus ke ladang, mencari makan untuk kambing-kambing peliharaan nenek.


"Rinayung, besok tolong kirim surat buat Bu Lik. Bilang, kalau nenek butuh uang untuk modal. Bu Lik kamu sudah dua tahun ini tidak pernah kirim uang buat nenek," lanjut nenek dengan suara pilu.


Aku masih tetap diam, berusaha menahan air mata. Sungguh, ini kesalahan besar dalam hidupku. Saat ini, aku harus berani memberontak. Aku harus berani untuk berubah dan membuang sifat burukku.


"Baik, Nek! Besok aku yang kirim lewat kantor pos. Tapi nenek yang nulis suratnya, ya?" kataku dengan suara pelan dan muka tertunduk.

__ADS_1


"Iya, nenek yang tulis suratnya. Sementara warung tutup dulu. Blas, gak ada sisa uang buat belanja!"


"Iya, Nek! Kalau begitu aku ikut ke ladang ya, Nek! Aku mau ikut Nenek cari rumput buat kambing," pintaku.


Nenek bangun dari duduknya, kemudian mengambil secangkir teh tawar tubruk kesukaannya. Teh tubruk itu aku yang membuatkan setiap hari, hingga aku hafal ukuran dan takarannya.


"Di ladang itu tak enak, Rinayung! Lebih baik kamu di rumah saja. Lagian kamu sudah capek, setengah hari di sekolah," ucap nenekku sesaat setelah menyeruput teh tubruk kesukaannya.


Iya, aku tahu di ladang itu tak enak. Panas, kotor dan gatal. Tapi aku ingin sekali meringankan beban nenekku. Aku tak mau selamanya hanya akan jadi duri dalam daging.


***


"Rinayung! Masuk!" panggil ayahku.

__ADS_1


Suara ayahku kali ini tak terlalu menggelegar. Aku pun menuruti, kemudian masuk rumah. Aku pikir, kali ini akan lebih baik.


"Kenapa kamu malah nyapu, bukannya di warung nenekmu?" tanyanya dengan suara sedang.


"Warung nenek tutup sementara. Nenek belum punya modal lagi untuk jualan. Uang nenek habis!" jawabku dengan santai.


Aku mendongak ke atas untuk melihat muka ayahku. Tampaknya kini terlihat marah, tak setenang tadi saat pertama kali memanggilku.


"Persetan! Masuk rumah nenekmu. Cari emasnya yang disimpan!"


"Rumahnya dikunci," kataku dengan pelan.


"Heh! Jangan bodoh kamu! Bukannya kamu dulu sudah ambil kunci duplikatnya? Ayo cepat cari emas nenekmu yang banyak itu. Kami ambil satu yang terkecil!" bentak ayahku si setan lelaki calon penghuni neraka itu sambil menjambak rambut panjangku yang kusut.

__ADS_1


Aku hanya diam, tak mau mencuri lagi. Aku kasihan dengan nenekku yang sudah berusia senja, yang seharusnya di usia segitu hanya digunakan untuk beristirahat dan beribadah. Yang seharusnya di usia senjanya itu sudah tidak memikirkan lagi, apa yang hendak dimakan untuk esok hari.


***


__ADS_2