Rinayung

Rinayung
Semakin Tersiksa


__ADS_3

Ibuku pergi, aku pun tak memikirkan apa yang akan terjadi kemudian. Aku semakin bersemangat dan asyik membuat persiapan menanam cabe. Pekerjaan kotor, yang mungkin tak biasa dikerjakan oleh anak seusiaku.


"Byuurrrr!"


Satu guyuran air seember mendarat di tubuhku, hingga membuatku gelagapan. Aku segera membuka mata, sesaat setelah guyuran air itu hilang. Aku melihat ayahku berdiri di belakangku, dengan mata yang melotot tajam.


"Pulang!" bentak ayahku sambil menyeret tanganku.


Aku belum sempat berdiri, hingga akhirnya aku terjatuh karena seretan itu. Ayahku tak melepaskan seretan itu, tetap menyeret meskipun tubuhku dalam keadaan tengkurap.


"Sakit!" rintihku sambil menahan sakit karena seretan itu. Banyak bebatuan dan kerikil kecil yang melukai tubuhku. Tanah pun banyak yang menempel pada bajuku yang basah.


Sungguh, ini bukan perbuatan manusia. Ini perbuatan setan! Setan yang benar-benar akan menjadi penghuni neraka abadi.


"Sakit! Tolong, lepaskan aku! Aku berdiri dulu dan aku akan pulang ke rumah berjalan kaki!" teriakku sambil menangis.


Aku sengaja mengencangkan suara tangisanku, supaya warga mendengar dan segera menolongku.

__ADS_1


"Seret terus! Jangan lepaskan! Kalau niat pulang, sudah dari tadi kamu pulang tanpa dipaksa!" teriak ibuku, yang ternyata ikut andil juga di sini.


Sungguh, ibu yang kejam dan tak berperasaan. Aku anak perempuannya, mengapa memperlakukanku seperti ini? Kenapa tak pernah membelaku?


"Rinayung, cucuku! Lepaskan cucuku!" teriak nenekku sambil menangis tersedu.


"Diam, perempuan tua! Jangan ikut campur urusanku!" bentak ayahku kepada nenekku dengan kasar.


"Tolong! Tolong! Tolong!" teriak nenekku sambil lari meminta pertolongan warga sekitar.


"Diam kalian! Ini caraku mendidik anakku! Ini hakku, jangan ikut campur kalian!" gertak ayahku sambil menginjak kepalaku.


"Itu bukan mendidik! Tetapi menganiaya! Tolong, Pak! Lepaskan, jika kamu tak mau dipenjara!" ucap salah satu warga, yang suaranya sudah sangat aku kenal.


"Dipenjara? Ini anakku! Aku berhak mendidik dengan cara apapun! Aku memperlakukan seperti ini, supaya tidak jadi orang cengeng nantinya! Kalian tahu kan, dunia ini kejam!" ucap ayahku yang tak mau mendengarkan warga yang datang.


"Kenapa kalian tetap di sini? Atau anak ini akan mati di depan mata kalian? Cepat pergi! Jangan ikut campur urusan keluarga kami!" hardik ayahku kembali kepada warga.

__ADS_1


"Kami mau pergi, tapi tolong lepaskan Rinayung! Tolong, Pak! Lepaskan!" ucap salah satu warga.


Tangisan nenekku semakin menjadi. Aku pun dengan samar mendengar banyak warga yang menenangkan nenekku.


"Iya, aku lepaskan!" kata ayahku sambil melepaskanku.


Salah satu warga mendekatiku, kemudian memberikanku minum. Belum sempat aku meneguk minuman itu, ayahku sudah merebut dan melempar jauh-jauh gelas itu.


"Aku sudah melepaskan! Cepat pergi kalian! Atau Rinayung akan mati!" hardik ayahku kepada warga untuk kesekian kalinya.


Aku tak mendengar lagi warga berkerumun, mereka satu persatu mulai meninggalkan aku dan ayahku. Aku kecewa dengan warga, kenapa jumlah mereka yang banyak itu tak mampu mengalahkan ayahku? Kenapa, apa memang sudah takdirku hidup menderita?


"Rinayung, berdiri!" ucap ayahku dengan pelan.


Aku sudah berusaha berdiri dari tadi, tetapi aku masih terhuyung. Kepalaku sakit dan sekujur tubuhku perih. Aku pun menggigil karena guyuran air seember tadi. Tanah pun banyak yang menempel di tubuhku. Sungguh, ini penyiksaan yang akan aku ingat seumur hidupku.


***

__ADS_1


__ADS_2