
Pagi ini, aku berangkat ke sekolah dengan tidak bersemangat. Matahari pun tak menampakkan diri, karena terhalang mendung. Tapi aku berharap hujan turun saat aku sudah di sekolah dan reda sore harinya. Jika hujan turun aku sedikit kerepotan untuk menuju rumah Bu Tia, untuk bekerja paruh waktu.
"Kenapa, kok seperti tidak semangat sekolah?" nenekku pun menyusul aku hingga di bawah pohon mangga tepi jalan dekat rumah.
"Tak apa-apa, Nek! Gigiku agak nyeri saja," ucapku.
Gigiku nyeri sejak semalam. Bolong sih, tidak. Mungkin ini efek karena aku sering ditampar sama orang tuaku.
"Minum obat dulu, atau ditetesi getah pohon jarak. Itu analgesik alami, kata Bu Bidan Lisa!" lanjut nenekku sedikit panik.
"Jangan obat, Nek! Aku gak mau, takut ngantuk di kelas nanti! Getah pohon jarak saja, itu di pagar ada. Aku petik dulu," kataku sambil berjalan menuju pagar kebun nenek paling pojok.
Kebun nenekku sangat luas. Konon katanya, itu peninggalan kakekku dulu. Kakekku rajin dan ulet bekerja, sehingga bisa membeli tanah seluas itu. Ini contoh yang pantas aku tiru.
"Hati-hati, getahnya jangan sampai menetes di seragammu! Susah dibersihkan!"
"Baik, Nek!"
***
Di sekolah, aku lebih diam dari biasanya. Aku hanya bicara jika ditanya. Rasa nyeri gigi ini semakin kuat.
__ADS_1
"Rinayung, kenapa kamu diam? Pucat pula!" Indah pun menyadari jika aku tak seperti biasanya.
"Gigiku nyeri. Rasanya tak kuat, deh! Izin saja aku habis istirahat pertama," kataku yang tak sanggup lagi menahan nyeri dan sakit kepala.
"Oh, iya istirahat saja dulu. Di rumah atau di UKS?" lanjut Indah.
"Di rumah saja, deh!"
Indah mengurusi izinku, gak ribet kok! Karena guru BP juga tahu, aku siswi berprestasi dan tidak mungkin berbohong dengan alasan sakit.
***
Betapa kagetnya aku, saat di perjalanan menuju pulang aku bertemu dengan ibuku. Ini sebuah kesengajaan atau tidak, aku tak tahu.
"Iya!"
"Ibu mau ke sekolah, antar obat nyeri ini. Tapi kamu malah mau pulang, ya sudah ayo pulang. Minum obatnya di rumah," ibuku sungguh baik, tidak seperti biasanya yang selalu bernada tinggi dan tidak jarang main tangan.
Mungkin karena ibuku kemarin malam yang menamparku, jadi ibuku merasa bersalah.
"Di rumah ya! Bukan di rumah nenekmu!" lanjutnya.
__ADS_1
"Di rumah nenek saja, Bu! Aku juga sakit kepala. Di rumah nenek aku akan merasa lebih tenang," tolakku dengan baik.
Ibuku diam sejenak, kemudian memandangi wajahku dengan sinis.
"Rinayung! Kamu tak perlu memihak ke nenekmu. Yang salah itu nenekmu, bukan ayahmu. Nenekmu sudah memeras ayahmu untuk membiayai adik-adiknya sampai lupa dengan dirinya sendiri. Ayahmu cuma jadi kerja serabutan, karena putus sekolah. Tahu gak kamu? Ayahmu putus sekolah itu karena demi adik-adiknya dan demi meringankan beban nenekmu yang menjanda dengan anak yang masih kecil-kecil. Tapi setelah adik-adiknya bisa sekolah lebih tinggi dengan jerih payahnya ayahmu dan lebih sukses, mana ada yang ingat sama ayahmu? Tidak ada, kan? Bahkan tanya kabar ayahmu pun tak pernah!" nada bicara ibuku kali ini sungguh enak didengar.
Ini info terbaru dari ibuku. Jadi, awalnya seperti itu. Mungkin ayahku juga merasa kecewa, kasih sayang orang tua dan saudara kurang. Tapi harusnya ayahku tahu dan memutus tali terburuk itu dengan menyayangi dan mengasihi anak-anaknya.
"Bu, ayah gak ikhlas bantu ya?" lanjutku.
"Bisa jadi! Karena kebaikannya diabaikan!"
"Tapi seharusnya ayah gak kasar begitu. Sudah berkeluarga ya sudah, bina keluarganya! Jangan menyusahkan nenek! Apalagi menyuruhku menjadi pencuri! Sudah dosa, makin dosa nanti!"
"Rinayung! Jangan lancang kamu! Diam di depan ayahmu, kalau kamu tidak mau disiksa lagi sama ayahmu! Beban ayahmu itu berat, makanya ayahmu jadi kasar begitu!" bentak ibuku dengan nada yang masih pelan.
Aku tak habis pikir, jika ternyata ayahku memiliki pengalaman tak baik di masa lalunya. Tapi seharusnya ayahku lebih bijak menyikapinya.
"Ya sudah! Ibu kan istrinya. Nasehati saja, Bu. Biar merubah sifatnya! Karena apa? Karena aku sudah terlanjur membenci ayah. Bisa jadi adikku pun nanti akan membencinya. Karena apa? Karena adikku tahu aku sering disakiti ayah di depan matanya. Aku anak perempuan, selain tanggungjawab seorang ayah, aku juga menjadi tanggungjawab saudara lelakiku. Tapi tenang saja, Bu! Aku tak mau berharap kepada manusia, entah itu orang tua atau saudara!"
Aku tak bermaksud menggurui ibuku, tapi memang itulah keadaan dan yang seharusnya. Jika kali ini ibuku menamparku lagi, aku sudah pasrah. Tak akan pernah keluar kata ampun dari mulutku. Masalah keluargaku tak akan pernah aku lupakan. Tapi aku pun tak mau melewatkan masa remajaku yang seharusnya.
__ADS_1
***