
Suasana hati Ardya sangat bagus. Setelah aku mandikan pagi, Ardya buru-buru pulang untuk segera memakai seragam sekolah. Aku pun senang lihat Ardya semangat sekolah.
"Mbak, besok aku tidur di rumah nenek lagi ya!" ucapnya dengan girang.
"Izin ayah dan ibu dulu! Ingat ya, Ardya harus patuh."
"Ok, Mbak!"
Aku melihat tingkah Ardya yang lucu. Tubuh kecilnya hanya dibalut handuk, sambil berlari-lari kecil tetapi agak kesusahan.
Setelah Ardya berlalu, aku pun langsung berangkat ke sekolah. Jalan kaki seperti biasanya, mengambil jalan pintas yaitu melewati sawah. Jalannya masih berbatu dan belum ada aspal sama sekali. Tetapi, suasananya menyenangkan. Sejuknya angin yang meniup pelan pohon padi, suara gemericik air irigasi dan juga udara tanpa polusi membuatku tetap nyaman melewati setiap hari.
Teman-temanku tidak ada yang melewati jalan itu. Karena mereka rata-rata sudah membawa sepeda motor sendiri, tentunya melewati jalan yang sudah beraspal dan memutar lebih jauh.
__ADS_1
Di sekolah aku tidak pernah mengalami masalah. Bullying tidak pernah terjadi padaku, bahkan ke teman-teman lainnya. Sekolahku adalah sekolah favorit yang tetap menjunjung tinggi norma dalam segala aspek. Suatu keberuntungan, aku bisa bersekolah di sekolah tersebut dan mendapatkan beasiswa prestasi.
***
"Nenek, hari ini aku jaga warung ya! Aku belajar kelompoknya nanti hari Sabtu dan Minggu. Tetapi hampir seharian!" ucapku sambil menghampiri nenek setelah makan sepulang sekolah.
Mulai hari ini hingga empat hari ke depan, aku tidak bekerja paruh waktu di rumah Bu Tia, karena Bu Tia sedang liburan bersama keluarganya. Tetapi Sabtu dan Minggu aku diminta Bu Tia untuk datang dari pagi. Pasti pekerjaan banyak!
"Baiklah kalau begitu! Nanti jangan lupa dicatat pemasukannya ya! Sudah sebulan lebih kamu tidak jaga warung. Jangan-jangan kamu lupa!"
***
Seperti biasa, nenek berangkat ke ladang mencari rumput untuk pakan kambing seusai sholat ashar. Artinya, warung aku ambil alih seusai ashar hingga menjelang maghrib. Aku berharap, kali ini warung lancar dan tetap laris.
__ADS_1
Sambil menunggu pelanggan, aku belajar buku latihan soal yang diberikan oleh Bu Tia. Menyenangkan, aku mengerjakan soal satu bab terlebih dahulu. Kemudian mencocokkan jawaban dengan kunci jawaban. Setelah itu, aku beri nilai sendiri. Lumayan, nilainya diatas 90!
"Sudah dapat belum sertifikat tanah nenekmu?" suara pelan itu mengagetkanku yang sedang asyik mengerjakan latihan soal.
"Aku tidak mencari dan tidak mau mencari!" kataku dengan tegas kepada ibuku, yang baru kemarin lusa berbaik hati kepadaku.
"Awas, nanti ayahmu murka lagi! Jadi anak berguna kalau mau selamat dari kemurkaan ayahmu!" ancam ibuku dengan suara pelan.
Aku tidak tahu, sebenarnya ibuku orang dengan karakter seperti apa. Ada kalanya baik, tetapi ada kalanya durjana ketularan ayahku. Ah, mungkin ibu sebenarnya orang baik, tetapi karena tertekan saja. Sehingga beginilah jadinya!
"Biarin ayah murka, Bu! Kan sudah dari dulu ayah begitu kepadaku!" sambil menutup buku soal latihan, aku menanggapi ibu dengan nada yang pelan.
"Sudahlah, mati saja kamu! Daripada hidup bikin ibu stress! Ibu juga gak mau ada di tengah-tengah keluarga seperti ini. Ibu bertahan hanya demi anak-anak. Kalau tidak, ibu sudah pergi cari kebahagiaan sendiri!" kata ibu yang mulai mengiba.
__ADS_1
Jika aku di posisi ibu, itu adalah hal yang sulit. Tetapi tetap diam dan mengikuti ayah, adalah sebuah kesalahan fatal. Lantas, bagaimana aku bisa mempengaruhi ibuku untuk tidak menuruti ayahku? Ah, seharusnya ibuku lebih terbuka terhadap saudara-saudara ibu yang bisa dipercaya. Sehingga bisa diketemukan solusi.
***