
Aku tetap menyapu halaman sampai selesai. Tak peduli lagi dengan ocehan setan lelaki calon penghuni neraka itu. Aku serba salah. Maju masuk jurang, mundur pun masuk jurang.
"Rinayung! Cepat jalankan perintahku atau kamu mau mati ditanganku sekarang!" teriaknya dari dalam rumah reyot tanpa ckasoh sayang itu. Rumah reyot, yang menjadi saksi bisu si setan lelaki itu mengajariku trik mencuri dan mencuci otakku.
Aku pura-pura tak mendengar. Tetap menyapu dedaunan kering di halaman rumah. Sampah dedaunan kering menggunung sangat tinggi. Sebentar lagi, akan aku bakar. Apinya pasti besar dan panas, hingga aku berhalusinasi tentang neraka. Neraka yang hendak dihuni ayahku kelak.
"Rinayung!" bentaknya dengan suara yang keras.
Aku menoleh setelah api menyala. Ternyata ayahku sudah tepat berada di belakangku.
"Cepat curi emas nenekmu! Masuk rumahnya sekarang juga sebelum nenekmu pulang dari ladang!" katanya dengan suara pelan, sambil menjambak rambut panjangku yang kusam.
Setiap hari bisa berkali-kali rambut panjangku yang kusam ini dijambak ayahku. Aku berniat memotongnya besok siang, ke salon tetangga yang harganya masih bersahabat. Aku ada sedikit uang, cukup untuk ke salon.
"Anak durhaka!" bentaknya.
__ADS_1
"Siapa yang anak durhaka?" kataku sambil menatap tajam muka ayahku. Aku sudah sangat lelah untuk menuruti perintah bejatnya. Aku muak!
"Kamu! Paham?"
"Heh! Setan! Bukannya kamu yang anak durhaka?" balasku dengan penuh kemarahan. Baru kali ini aku berani memberontak kepada ayahku.
"Berani kamu jawab? Bodoh! Jangan ceramahi aku. Kalau bukan karena aku, kamu gak bakalan ada di dunia ini!" katanya sambil mendorong kuat badanku.
Aku bisa menahan dorongan kuat itu. Jika tidak, pasti aku sudah masuk ke dalam api pembakaran dedaunan kering itu.
"Taaarrr!"
Ayah menampar pipiku dengan keras, sakit! Sakit sekali, hingga air mataku tak kuasa aku tahan. Darah pun perlahan mengalir dari sudut bibir kananku. Sungguh, sakit ini luar biasa. Aku melihat dengan samar, ibuku menyaksikan peristiwa ini. Tapi, tak ada niatnya untuk menolongku sama sekali. Adikku pun hanya diam, tapi aku makhum karena adikku masih terlalu kecil untuk memahami semua ini.
***
__ADS_1
"Rinayung! Kenapa lagi kamu!" kata nenekku dengan panik saat melihat mataku sembab dengan pipi yang bengkak.
"Nek! Maafkan aku ya, tak seharusnya aku begitu! Aku dipaksa, Nek! Aku mau karena aku menghindari semua ini!" kataku sambil menangis.
"Ayo, masuk!" kata nenekku sambil menjatuhkan rumput yang ada di gendongannya, kemudian menggandengku masuk ke dapur.
"Kamu minum dulu," ucap nenekku sambil memberikan segelas air dingin dari dalam kendi.
"Terima kasih, Nek!"
"Nenek akan kompres lukamu pakai air hangat. Besok biar hilang bengkaknya. Kalau belum hilang, besok jangan sekolah dulu! Teman-temanmu pasti akan mengolok-olokmu!"
Kasih sayang dan kepedulian nenek terhadapku semakin membuatku merasa bersalah dan tak bisa memaafkan diriku sendiri. Sungguh bejat sekali aku ini. Tapi bagaimana caraku mengakui kesalahanku? Bagaimana caranya untuk jujur? Jika aku jujur, apakah nenekku akan memaafkan aku? Ya Allah, tolong beri petunjuk kepadaku apa yang harus aku lakukan? Atau tolong kirimkan Malaikat-Mu untuk menolongku, untuk sekedar membisikkan dukungan dan semangat kepadaku.
***
__ADS_1