
Beberapa hari setelah peristiwa itu, aku tak pernah pulang ke rumah reyot milik ayahku. Aku tidur di rumah nenek. Bahkan siang pun, aku tetap di rumah nenek. Pagi hari, nenek selalu membuatkan sarapan untukku. Sederhana, tetapi itu membuatku bahagia.
"Rinayung, Nenek lupa belum juga menulis surat untuk Bu Lik kamu. Nanti malam ingatkan Nenek, ya!" kata nenekku sambil menungguiku sarapan di meja makan sederhana.
"Iya, Nek! Aku juga lupa mengingatkan Nenek kemarin-kemarin," ujarku. "Ayo makan bareng, Nek! Aku dari tadi nunggu Nenek ambil makan," lanjutku.
"Nenek belum lapar, lagian ini terlalu pagi buat Nenek untuk sarapan. Kamu makan yang banyak, biar bisa fokus di kelas!" ujar nenekku dengan senyum khasnya.
Aku tersenyum, membalas senyuman nenek. Sungguh, ini sederhana tetapi penuh makna. Sederhana, tetapi kasih sayang ini tak akan pernah aku lupa.
"Nek, nanti sepulang sekolah aku mau bikin pupuk kompos dicampur tanah. Buat menanam cabe seperti rencana Nenek kemarin," lanjutku.
"Baiklah! Biar Nenek ke ladang. Kamu bikin saja di rumah. Untuk potnya, coba cari di gudang. Nenek sudah lama mengumpulkan plastik bekas bungkus minyak goreng dua literan. Manfaatkan itu baik-baik!" ucap nenekku.
"Baik, Nek! Aku berangkat sekolah dulu ya, Nek." kataku sambil bersalaman dan mencium tangan nenek.
__ADS_1
Jujur, hal seperti itu belum pernah aku lakukan bersama ibuku. Ibuku kasar kepadaku, mungkin ketularan ayahku.
***
Kegiatan di sekolahku berjalan lancar. Aku termasuk siswi cerdas dan berprestasi di sekolah. Meski aku bukan anak gaul, tetapi aku mempunyai banyak teman. Bahkan, tidak ada bully sedikitpun terhadapku. Aku bersyukur, mungkin ini salah satu hadiah dari-Nya setelah kebaikan dan kasih sayang nenekku.
Pulang sekolah pun aku jalan kaki. Sendirian dan melewati jalan sawah yang lebih pintas. Namun, jika musim penghujan aku melewati jalan desa yang sudah diaspal. Lumayan jauh.
Sesuai rencana sampai rumah nenek, aku makan dan bergegas menyiapkan pelengkapan untuk menanam cabe. Sedangkan nenekku sudah pergi ke ladang untuk mencari rumput.
"Aku nyaman di sini. Makan pun bisa kenyang," jawabku dengan jujur.
"Pulang! Ayahmu sudah marah! Mau kamu dianiaya ayahmu lagi?" katanya kemudian.
"Tanya anak lain, Bu. Mereka diperlakukan seperti apa oleh orang tuanya. Apakah diperlakukan kejam dan didoktrin menjadi pencuri seperti aku?" lanjutku mulai menentang ibuku.
__ADS_1
Mata ibuku melotot. Pelototannya tak membuatku gentar, itu sudah biasa. Aku pun tak takut jika dipukul atau ditendang lagi. Menjambak rambutku? Ah, aku sudah potong rambut sangat pendek dan tersisa hanya tiga centimeter. Susah untuk dijambak, tak semudah waktu rambutku masih panjang dan kusut seperti sebelumnya.
"Ibu mau panggil ayahmu, kalau kamu gak juga pulang!" ancam ibuku.
"Bu, kenapa Ibu berpihak kepada Ayah? Kenapa Ibu tak pernah menolongku saat Ayah menganiayaku? Apakah itu Ibu lakukan, karena Ibu cinta sama Ayah?"
"Iya!" ibu hanya menjawab singkat pertanyaanku.
"Persetan dengan cinta!"
"Plakkk!"
Ibu menampar pipiku, tepat di mana ayah menamparku beberapa hari lalu. Ini sangat sakit. Tapi sakit luka ini, tak sesakit hatiku yang terus teriris.
"Bu, aku sudah biasa menerima ini! Ingat baik-baik, Bu! Aku akan mengingat ini seumur hidupku!"
__ADS_1
***