
Hari ini aku pulang sekolah lebih lama satu jam dari biasanya. Karena aku sudah kelas 3 SMP, jadi mulai diadakan les untuk persiapan menghadapi UN. Nenekku sudah mengetahui akan hal itu. Jadi, bekal nasi dan air minum tidak boleh sampai ketinggalan seperti beberapa hari yang lalu.
Sesampainya di rumah nenek, warung tutup. Nenek sudah pergi ke ladang untuk mencari rumput. Tadi pagi nenek sudah memberi tahu kepadaku, kunci rumah dan kunci warung di taruh di mana. Jadi, aku tetap bisa buka dan jaga warung.
"Semoga hari ini rezeki nenek baik, aamiin!" gumamku saat mulai membuka warung.
Menunggu warung itu hal yang menyenangkan. Meskipun ada TV, tapi aku jarang menyalakan. Kadang aku mengerjakan PR atau belajar di sela-sela waktu menjaga warung. Sehingga, malam hari aku tak perlu belajar lagi.
"Rinayung!" panggil ayahku tepat dari depanku.
Aku tak mengetahui kedatangan ayahku, karena aku sedang konsentrasi dengan buku yang aku pegang. Setelah panggilan itu, aku tak menyahut. Hanya memandang mukanya, yang khas dengan roman kemarahan dan keberingasan.
"Bagus, warung sudah buka! Ambil satu bungkus rokok!" kata ayahku kemudian.
__ADS_1
"Bayar ya!" ucapku sambil beranjak dari dudukku.
"Lancang!"
"Ini dagangan, kalau mau ambil ya bayar!" kataku kemudian, tanpa rasa takut maupun gemetar.
"Dasar anak durhaka! Mana rokok satu bungkus! Ambil cepat! Atau kuracuni kambing-kambing nenekmu itu!" bentaknya mulai mengancam.
Aku diam, tak mau menuruti apa kata ayahku. Si setan lelaki calon penghuni neraka itu rupanya mulai mengancamku. Aku kira sudah taubat dan sudah dibimbing oleh Pak Dio. Ternyata ayahku itu benar-benar biadap, jahat dan beringas.
Aku terjatuh, namun aku berusaha bangkit untuk mengejar dan menahan ayahku supaya tak mengambil dagangan nenekku lagi.
"Kalau mau ambil, bayar! Nenek sudah bersusah payah memulai usaha warung lagi dari nol. Kenapa mau kamu hancurkan lagi? Taubatlah sebelum ajal menjemputmu!" teriakku dengan suara keras.
__ADS_1
"Oh, kamu ingin ayahmu ini meninggal? Eh, aku ayahmu. Tanpa aku, kamu gak akan ada di dunia ini!" katanya sambil memyumpal mulutku dengan kain lap yang ada di warung.
Aku kesal, namun sekuat tenaga aku mengambil sumpalan kain itu dari mulutku.
"Aku pun tak sudi lahir jadi anakmu! Lebih cepat kamu mati, itu akan lebih baik!" ucapku kembali tanpa memikirkan akibat.
"Taaarrr!"
Sebuah tamparan mendarat lagi di pipiku. Kepalaku terasa pusing. Rahangku terasa sakit. Meskipun hal ini sudah sering aku dapatkan sebelumnya, namun ternyata aku belum kebal. Aku masih bisa merasakan sakit. Aku benci ayahku. Tanpa merasa berdosa, ayahku pergi meninggalkan warung dengan membawa sebungkus rokok.
Aku bingung, harus bagaimana lagi. Harga sebungkus rokok itu dua puluh ribu rupiah. Aku tak punya uang sama sekali untuk mengganti. Itu artinya, nenekku akan merugi hari ini. Pikiranku kacau, sungguh kacau. Nenek menyuruh aku untuk mencatat apa saja dagangan yang laku hari ini. Kemudian malam harinya saat warung mulai tutup, nenek mencatat sisa stok barang. Aku tak bisa dan tak akan berbohong lagi kepada nenek.
Aku buru-buru mencuci mukaku, supaya bekas air mata tak nampak lagi di wajahku. Tapi saat aku mengaca, pipiku bengkak. Ada memar yang cukup lumayan. Aku mencari masker, untuk menutupi memar itu. Aku tak mau orang lain tahu, apalagi nenekku. Tapi bagaimana aku menyembunyikan dari nenek, sedangkan nenek selalu bersamaku dan memperhatikanku. Ah, semoga nenek tak sedetail itu khusus malam ini. Aku tak mau melihat nenek bersedih.
__ADS_1
***