
...Bab 9...
...Rumor Siswa Pindahan...
“Hari ini akan ada siswa pindahan yang bergabung dengan kalian.”
Fukushima-sensei, yang memasuki ruang kelas terlebih dahulu, mengumumkan begitu.
Kemudian aku memasuki kelas, dan menyapa semua orang dari depan papan tulis.
“Aku Itsuki Nishinari. Senang bertemu dengan kalian.”
Tidak ada tepuk tangan atau sapaan balik, namun penampilan dan ekspresi yang ditunjukkan para siswa sangat ramah. Di SMA-ku sebelumnya, kami tidak pernah memiliki siswa pindahan, dan jika ada, itu pasti akan terasa menyenangkan, tapi siswa-siswi di kelas ini tampaknya tidak seperti itu..., entah bagaimana, suasana yang dewasa dan toleran tercipta di ruang kelas ini.
“Nishinari-kun, kau bisa menggunakan kursi kosong yang di sana. Anak-anak..., aku bisa mengerti kalau kalian penasaran dengan siswa pindahan, tapi pertama kita akan memulai pelajaran. Tolong tetap berkonsentrasi,” kata guru yang berdiri di podium dan melihat sekeliling kelas.
Aku duduk di belakang, baris kedua dari jendela, dan dengan cepat mengeluarkan buku teks dari tasku.
Pelajaran pertama adalah Matematika.
“Baiklah, ayo kita mulai pelajarannya. Kali ini, kita akan belajar tentang integrasi dengan metode substitusi.”
Di SMA-ku sebelumnya, kupikir kau baru akan mempelajari sesuatu seperti kalkulus substitusi pada akhir-akhir kau berada di kelas 3... Tapi di Akademi Kekaisaran, tampaknya itu akan dipelajari saat musim semi di Kelas 2.
---
“—Itu saja untuk pelajaran kali ini. Anak-anak, jangan lupa untuk kembali mengulasnya.” ucap Fukushima-sensei begitu bel berdering.
Setelah mengucapkan terima kasih, siswa-siswi segera bersiap untuk istirahat.
“...Aku harus berterima kasih pada Shizune-san.”
Aku berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan, tapi..., kontennnya masih terlalu sulit. Meskipun pelajaran pertama baru saja berakhir, aku merasa seolah-olah aku telah belajar sepanjang hari.
Nah—bagaimana kondisinya Ojou-sama? Mengingat tugasku sebagai pengurusnya, aku memeriksa kondisi Hinako.
“Konohana-san. Ada sesuatu yang tidak kumengerti di pelajaran barusan...”
“Kalau kau tidak keberatan, aku akan dengan senang hati membantumu.”
Saar dia berada di depan umum, Hinako mengenakan kulit Ojou-sama yang sempurna. Sejauh ini, tidak ada tanda-tanda kalau kulit itu terkelupas.
“Halo, anak baru!”
Dari samping, sebuah suara dengan tiba-tiba memanggilku. Saat aku menoleh, di sana ada seorang siswa laki-laki yang cukup besar.
“Padahal kau ini cuman anak baru, tapi sombong sekali kau sampai tidak memiliki niatan untuk menyapaku. Ayo, beri aku penghormatan.”
“...Eh.”
Pendekatan macam apa itu? Aku bahkan tidak tahu apakah dia lagi bercanda atau serius..., Saat aku kebingungan, seorang siswi pendek dengan cepat mendekat dari belakang siswa itu.
“Hei!
“Aduh!?”
Jitakan tangan gadis itu mendarat di atas kepala siswa itu.
__ADS_1
“Kau menakut-nakuti Nishinari-kun!”
“M-Maaf, barusan aku cuman bercanda kok.” Kata siswa itu sambil menundukkan kepalanya.
“Namamu Itsuki Nishinari, kan? Aku Katsuya Taisho.”
“Aku Karen Asahi. Senang bertemu denganmu~”
Saat mereka menyebut nama mereka, aku berkata, “Haa.” Tampaknya upeti yang baru saja siswa itu sebutkan hanyalah candaan.
“Nishinari, kau kesulitan untuk mengikuti pelajaran sebelumnya, kan?”
“......Bagaimana kau bisa tahu?”
“Hahaha! Jangan khawatirkan itu. Setiap siswa pindahan pasti akan mengalami hal yang seperti itu.”
“Setiap siswa pindahan? Apa ada orang lain selain aku yang juga siswa pindahan?”
“Tentu. Mereka mungkin tidak dipindahkan pada saat yang sama, tapi perpindahan itu sendiri bukanlah hal yang aneh. Siswa-siswi yang menghadiri akademi ini terkadang terlambat masuk sekolah karena alasan keluarga, dan sebaliknya terkadang ada juga yang lulus lebih awal. Kau yang baru saat ini dipindahkan pasti karena alasan keluarga, kan?”
“Yah, kurang lebih begitu.”
Tampaknya para siswa menyadari fakta bahwa sekolah ini unik.
“Cuman, aku belum pernah mendengar nama keluarga Nishinari. Apa pekerjaan keluargamu?”
“Keluargaku menjalankan perusahaan IT. Yah, tapi itu tidak terlalu besar...”
Mengingat pengaturan cerita yang Shizune-san buatkan untukku, aku menjawab pertanyaan Asahi-san. Keluargaku memiliki perusahaan IT menengah, dan aku adalah pewaris perusahaan tersebut.
Saat Asahi-san dan Taisho-san mendengar jawabanku, mereka saling memandang dan mengangguk.
“...Begitulah,” aku menegaskan kepada Asahi-san, yang tersenyum menggodaku.
“Kau tahu, yang namanya siswa pindahan itu memiliki dua pola. Pertama adalah seseorang yang telah belajar dengan baik di sekolah lain untuk lebih meningkatkan keterampilannya. Dan yang kedua adalah orang yang tidak banyak belajar, tapi karena alasan keluarga, mereka terpaksa menghadiri akademi ini. Dalam kasus pertama, sebagian besar siswa berasal dari keluarga yang relatif kaya, sedangkan dalam kasus terakhir, kebanyakan dari mereka berasal dari masyarakat biasa.”
“Tapi, bagi mereka yang menghabiskan seluruh hidupnya bersekolah di sekolah biasa, akan sulit untuk tiba-tiba mengikuti kurikulum sekolah ini, kan? Karenanya, para siswa yang berada dalam situasi yang sama berkumpul untuk saling mendukung. Aku dan Asahi adalah siswa yang lebih seperti orang biasa. Aku yakin kami dapat membantumu Nishinari.”
“Jadi begitu...”
Setelah mendengar penjelasan dari mereka, aku menganggukkan kepalaku.
Singkatnya, sebagai sesama orang biasa, mereka bermaksud untuk mengajariku yang merupakan siswa baru tentang berbagai hal. Seperti yang bisa diharapkan dari siswa-siswi Akademi Kekaisaran..., mereka sangat baik hati.
“Terima kasih banyak. Aku sangat menghargainya.”
“Gak usah menggunakan bahasa yang formal. Kita ‘kan teman sekelas.”
“Karena alasana keluarga, aku harus berbicara seperti ini.”
“Oh, yah, apa boleh buat... Lagian itu adalah cerita yang umum.”
Dalam hatiku, aku sudah memanggilnya Taisho.
Aku diberi tempat tinggal di mansion, makan tiga kali sehari, dan dibayar 20.000 yen sehari. Untuk itu, aku akan memainkan peran pewaris.
“Ngomong-ngomong, aku mau nanya nih, Nishinari,” kata Taisho, dengan ekspresi penasaran di wajahnya.
__ADS_1
“Kau——Hubungan macam apa yang kau miliki dengan Konohana-san?”
Mendengar pertanyaan itu. Aku merasa seolah-olah udara yang ada di dalam kelas membeku dengan suara yang menusuk.
Ada apa...?
Barusan, untuk sesaat, aku melihat pemandangan di mana aku baru saja dipenggal.
“Tadi pagi kalian pergi sekolah bersama-sama, kan?”
“Y-Yah..., orang tuaku dengan orang tuanya Konohana-san memiliki hubungan, jadi kami sudah saling mengenal sejak lama. Karenanya, aku memintanya untuk membimbingku berkeliling akademi.”
Aku akan menggunakan alasan yang Hinako gunakan untuk menanggapi guru pagi ini.
Saat itu, ada ketegangan misterius di udara.
“Apakah itu benar-benar semuanya?”
“Ya, cuman itu saja...”
“Itu tidak seperti kalian bertunangan atau semacamnya, kan?”
“Bertunangan...? Tidak, sama sekali tidak.”
Bagiku yang merupakan orang biasa, keberadaan yang disebut tunangan adalah sesuatu seperti urban legend.
Saat aku mengangkat bahu, Taisho menggigil dan tersenyum lebar.
“Astaga, kau sangat membuatku takut, tahu!!”
“Whoa!?” aku mengerang saat dia menepuk pundakku.
Aku jadi bingung terhadap Taisho yang tiba-tiba menjadi sangat ramah. Dan pada saat yang sama, aku bisa merasakan bahwa ketegangan yang kurasakan sebelumnya telah menjadi lebih rileks, dan teman-teman sekelasku sekali lagi mengobrol dengan damai.
“Yah, itu sungguh momen yang menegangkan.”
“Apa maksudmu Asahi-san...?”
“Begini..., Konohana-san itu orang yang sangat terkenal di akademi kita. Bagaimanapun juga, dia adalah putri dari Grup Konohana, memiliki nilai terbaik di akademi, dan memiliki penampilan yang cantik jelita.”
Ini sesuai dengan apa yang Shizune-san katakan padaku.
Aku mengangguk dan mendesaknya untuk melanjutkan ceritanya.
“Hanya saja, Konohana-san tidak pernah memiliki cerita romantis dengan siapapun sebelumnya. Jadinya kupikir, dia memiliki seorang tunangan di luar sekolah ini... Kemudian tadi pagi. Nishinari-kun datang ke sekolah bersama dengan Konohana-san, ‘kan? Itu sebabnya, [Apa dia itu tunangannya Konohana-san?] semua orang berpikir seperti itu.”
“...Semua orang?”
“Iya. Tapi sekarang kesalahpahaman tersebut telah diselesaiakan. Sekarang kau pasti akan aman.” kata Asahi-san, sambil melirik teman-teman sekelas di sekitarnya.
“Aku tidak tahu di akademi ini ada yang namanya tunangan.”
“Begitulah, aku sih tidak punya. Tapi jika itu adalah keluarga setingkat keluarganya Konohana-san, wajar saja jika mereka memiliki tunangan.”
Kalau dipikir-pikir, pecakapan itu mengingatkanku bahwa aku belum pernah mendengar apakah Hinako memiliki tunangan atau tidak. Yah, karena dia sedang dalam proses mempertimbangkan siapa yang akan dia nikahi, kurasa dia tidak punya. Tidak..., mungkin perihal memiliki tunangan mengganggunya.
“Ngomong-ngomong, aku juga tidak memiliki tunangan. Di masa depan, kalau kau bertemu dengan seorang gadis cantik, tolong perkenalkan aku padanya ya, Nishinari.”
__ADS_1
“Akan kuusahakan.” aku hanya tersenyum dan menjawabnya begitu.
Saat aku berbicara dengan Asahi-san dan Taisho, aku jadi merasa sedikit santai. Pada awalanya, aku bertanya-tanya apa yang akan terjadi ketika aku memutuskan untuk pindah ke Akademi Kekaisran. tapi... secara tidak terduga, kurasa aku bisa melakukan segala sesuatunya dengan lebih baik dari yang kupikirkan.